Hikmah krisis

Sebuah peluang emas serta gagasan cerdas biasanya akan muncul , karena keterbatasan fasilitas dan bebas dari segala tekanan maupun kepentingan.

~

Mengambil sebuah contoh dari kondisi dunia per-musikan Indonesia yang pernah terjadi pada tahun 70’an . Dimana hampir pada setiap bulannya saat itu , selalu ada kegiatan kegiatan musik ber-skala nasional yang bebas dari tekanan para produsen kepentingan dagang .

Memang betul industri belum maju , karena lemah dan belum berkembangnya itu maka juga mengakibatkan sistim distribusi yang terbatas jangkauannya . Hal tersebut juga menjadi kendala terpisah dan tersendiri bila ditilik dari sisi pemasarannya .

~

Namun satu hal yang tak dapat kita pungkiri , bahwa justru dari sanalah muncul dan lahir kreativitas-kreativitas yang terasa lebih original dan lebih memiliki nuansa lokal serta lebih berkarakter masing-masing.

~

Dari semenjak kegiatan yang bernama ‘summer 28′ , sebuah konser terbuka diareal lokasi sekitar Raguna Pasar Minggu yang bernuansa ala Woodstock (padang rumput & pohon terbuka) , hingga konser-konser rutin di lapangan Taman Ismail Marzuki (sekarang menjadi bangunan IKJ) . Belum lagi didaerah-daerah luar kota seperti Bandung , Malang , Medan dan banyak lagi lainnya . Semuanya memiliki agenda ‘underground’nya sendiri-sendiri .

~

Semua kegiatan yang dimotori oleh mayoritas kaum muda saat itu , telah menghasilkan sejumlah musisi dan penyanyi besar yang dikemudian hari mampu berdiri gagah dan terhormat dipelataran nasional , dunia musik Indonesia .

Sejumlah nama-nama besar tersebut telah juga mampu membuktikan perannya dan pengabdiannya secara profesional hingga banyak yang sampai pada batas akhir hayatnya , baik pengabdiannya kepada dunia seni musik , maupun pengabdiannya kepada masyarakat dan bangsanya sendiri .

Masih mudah bagi kita untuk mengingat dan menyebutkan satu demi satu nama penyanyi dan musisi yang terlahir di era tersebut .

~

Tahun-tahun belakangan ini , setelah hegemoni kapitalis industri global di Indonesia menemui tantangan dan hambatan baru sebab fundamen kesejahteraan ekonomi masyarakat kita ternyata tak mampu menopang keinginan mereka , maka perlahan demi perlahan menyusutlah daya kekuatan men-dikte pasar oleh mereka , ditandai seiring semakin sulitnya mereka , untuk memenuhi target penjualan yang ditentukan oleh holding company , yang sebahagian berada di Hongkong atau di wilayah Asia lainnya

Kerugian demi kerugian tidak berangsur membaik , ancaman semakin luasnya karya lagu yang dibajak lewat media temuan yang baru , seperti mp3 Ipod dan banyak lagi lainnya semakin menjadi-jadi dan mempercepat laju penurunan angka penjualan kaset , cd yang dibawah produksi mereka.

~

Gambaran predikisi yang cukup realistis bahwa dalam waktu dekat akan terjadi penumpukan defisit yang mengakibatkan tingginya hantaman gelombang kesulitan , yang membuat mereka terpaksa bersiap-siap mengangkat jangkar menuju pantai guna merapat darurat , menghitung bertumpuknya “raport merah” dan hitungan neraca rugi/ laba yang semakin tidak membuat toke’-toke’ asing itu bahagia . Belum lagi kondisi yang semakin terpicu oleh daya beli masyarakat yang juga semakin hari semakin ‘nelangsa’ .

~
Dan bila krisis besar ini suatu saat terbukti menghancurkan tatanan distribusi hasil design mereka , maka sebenarnya disana jugalah seyogyanya akan lahir kembali peluang-peluang baru , yang bukan tidak mungkin kembali mendekati sistem dan cara yang lebih tradisional seperti pernah terjadi pada era tahun 1960’an hingga 1990’an

Tak perlu disikapi dengan rasa khawatir yang terlalu berlebihan , bukankah seperti yang telah saya sebutkan diatas , sistem tradisional itu mampu melahirkan orang-orang besar , yang telah terbukti mengabdikan diri dan profesinya , dan bercita rasa juga yang bisa dipertanggung jawabkan sebagai karya anak negeri .

Bukan saya bermaksud mengatakan bahwa generasi sekarang tidak bisa dipertanggung-jawabkan .

(namun saya bicara dalam konteks pembuktian oleh waktu . Tidaklah cukup hanya dengan satu sampai sepuluh tahun mengeruk keuntungan materi dari profesi sebagai musisi atau penyanyi,lalu secara otomatis layak meng-klaim dirinya sendiri .)

~

Bila kondisi diatas benar-benar terjadi , maka ekspektasi tersebut memang tak langsung secara otomatis bisa sama terjadi seperti jaman dulu , karena: waktu / persoalan jaman , memang berbeda . Tapi bukankah ini harus nya juga bermakna “sebuah upaya” .

Dan juga tidak akan bisa lagi mendadak bisa sejahtera “luar biasa” dalam hitungan kejapan mata , seperti paradigma saat ini bila ada karya lagu yang meledak-ledak jutaan copy lakunya.

Namun keberadaan mereka dalam bermasyarakat , pasti akan terbukti lebih “konkrit” serta akan terasa lebih egaliter

~

Pertanyaan saya , maukah mereka yang sudah terdidik dan terbiasa menerima imbalan jasa profesi yang menggiurkan itu , lalu bersedia dengan tulus ikhlas , suka rela bersama rakyat miskin lainnya membangun dari “nol” dunia hiburan dan kesenian yang lebih nyata “bukan sekedar bakul mimpi” yang berjalan mengelilingi sepanjang deretan mall dan toko atau bergenit-genit ‘narsis’ sepanjang hari dilayar televisi .

~

Kalau ternyata memang keberatan dan tak ada yang rela , mari kita lihat bersama-sama , adakah pilihan lain yang lebih baik bagi mereka .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

5 Responses to “ Hikmah krisis ”

  1. Kalau yang belum terdidik dan yang bukan profesional boleh ikutan meramaikan nggak mas? Just for fun.

    Saya baru saja mendengarkan wawancara Steve Jobs dan Bill Gates. Menarik. Dalam kondisi mereka mlarat (dulu) dan kaya (sekarang), mereka tidak tergoda oleh uang. Dulu … karena mlarat, mereka berkarya karena suka (hobby, passion) dan tidak terpikirkan uang. Kalau sekarang mereka sudah kaya raya, berkarya juga bukan karena uang. Wah, asyik banget ya. Iri saya.

  2. he:) orang bisa pintar seperti anda , tapi kan tidak secara tiba-tiba Orang bisa kaya seperti Elton John juga tidak secara tiba-tiba , demikian juga Steve Jobs serta Bill Gates .

    Saya selalu percaya , bahwa “proses” akan meletakkan segalanya secara proporsional . Dijaman ini pembenaran yang diciptakan oleh kesempatan “jalan pintas” , bahwa tidak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk seperti Budi Rahardjo atau ngga usah repot-repot seperti Yockie (hehe bukan muji diri sendiri lho mas) , yang penting asal kamu “hoki” ikutin pasar atau lucu ikutin ‘tukul’ pasti “sukses”

    Definisi sukses adalah “banyak duit semata” bukan isi kepala.
    Betul , duit juga senjata yang dibutuhkan untuk menguasai dunia , tapi tidaklah cukup hanya sekedar berbekal senjata semata.

    salam,

  3. Kalau mas Budi “iri” dengan BG, dan SJ. Saya sering iri dengan para penerima kalpataru. Saya sering baca cerita dan perjuangan mereka. Salut saya, mereka bisa bekerja dengan dedikasi tinggi dan berguna bagi orang banyak dan ALAM. Seperti seorang yang menggali terusan air sendiri berkm-km hanya supaya desanya dapat memperoleh air bersih.

    Kesuksesan bagi mereka mungkin terdefinisikan cukup dengan senyuman terima kasih warga sekitar, dan alam yang tak menjerit karena rusak. Tak perlu mikirin berapa harga saham mereka, tak perlu memikirkan berapa pangsa pasar produk mereka.

  4. Bung JSOP, ada operator ponsel..yg mengajak musisi jalanan untuk “diangkat”. Apakah ini pertanda mereka benar-benar peduli? atau mencari komoditas baru untuk meningaktkan image bahwa peduli musisi jalanan..

    Trus bagaimana bisa membangun dari nol? Sementara yang namanya akar dari kesenian aja kagak ngerti.
    Hiburan rakyat bawah tentu beda dengan hiburan kaum gedongan.
    Akhirnya tercipta budaya kalangan mereka sendiri..

    Saat ini di Jogja sedang berlangsung Festival Kesenian Yogyakarta, dan sponsornya adalah perusahaan rokok raksasa… Apakah ini juga bukti bahwa rokok sudah men-support produk kesenian? Lha kalo gak ada sponsor juga gak bisa banyak event je.. dari APBD juga gak mungkin.. so what gitu lhoh?

  5. Tidak bijaksana menggunakan gunting tajam untuk mengurut benang yang sudah terlanjur kusut agar bisa diurai kembali .
    Harus ada ketekukan yang melatar belakangi sebuah keinginan .
    ~
    Setelah dua aplikasi tadi tersediakan (tekun dan ingin) maka dua aplikasi tadi bisa dijalankan kalau ada yang namanya kecerdasan .
    ~
    Kecerdasan yang diperlukan adalah kesadaran untuk mempertajam kemampuan , agar bisa membawa kita pada kondisi “posisi tawar” yang equal / sejajar.
    ~
    Bukankah mereka menyediakan fasilitas sponsor dan lainnya , karena memang tidak ada media lain yang lebih efektif guna dijadikan sarana promosi bagi produk mereka ?
    Artinya kalau hari ini mereka bisa memanggil Rolling Stones setiap saat (karena murah dan mungkin) maka apa iya…? mereka akan menengok kepada artis lokal atas nama rasa nasionalisme , kepedulian dsb?
    ~
    Bisnis di Indonesia adalah bisnis full “peluang kesempatan” yang mengabaikan empati dan rasa kesetiakawanan sosial , bohong besar itu kalau ada sponsorship yang bilang “demi anak negeri” kami bersedia sehidup semati , misalnya.
    ~
    Lalu jangan juga saya digiring ke sudut vetakompli , bahwa itulah nature nya bisnis , karena bisnis itu ya mencari keuntungan dsb .
    ~
    Nenek-nekek juga tau.., mereka ngomong demikian karena memang sistim hukum kita masih selalu memberi peluang untuk mereka bisa bermain “cilukba” kiri dan kekanan . Debat sampai level pengadilanpun selalu akan memenangkan pihak mereka , lha wong hukumnya sendiri lebih kuat berpihak ke mereka , pak Hakim bisa apa? wong nyatanya pedoman keputusan pak Hakim kita ya pedoman yang tertulis dalam kitab undang-undang , sama sekali tidak mewakili rasa keadilan berdasarkan kondisi latar belakang masyarakatnya yang bergerak dinamis . Jadi kalau hukum diatas buku bilang “A” ya “A” , nah …kalo hukumnya belum sempurna? atau bahkan ‘disordered’ ? ya tetep “A” itu yang kerap kali terjadi kan?
    ~
    Kalau ada sebuah kasus, lalu pak Hakim menggunakan hati nuraninya , dan berani memutuskan sesuai rasa keadilan yang seharusnya , maka kita tinggal menunggu saja bahwa tidak lama kemudian akan ada berita seorang Hakim yang dimutasikan atau bahkan dicopot hak-hak nya.
    ~
    Sama seperti maling kakap mau korupsi , dia bersedia kena sangsi dipenjara satu hingga 15 tahun misalnya , karena dia tau pasti , bahwa trilyunan yang akan segera dikantongi bisa membeli hukum demi kebebasan dikemudian hari , apa artinya takut apalagi malu..!
    ~
    Kembali ketopik bahasan tentang sponsorship , yang diperlukan adalah software guna mengisi ruang kepala masing-masing insan seni tentang penguasaan strategi bisnis , tapi tak harus berbisnis , strategi organisasi , tapi tak harus berorganisasi , strategi politik , tapi tak harus berpolitik .
    ~
    Jadi jangan lagi bangga dengan kenaifan yang dirubah namanya menjadi sebuah ketulusan atau keikhlasan .
    ~
    Kata “naif” dengan kata “tulus dan ikhlas” itu dua hal yang berbeda .
    Jadi memang harus belajar , belajar , belajar dan tekun belajar .
    Nyatanya..berapa banyak sih yang mau ? wong yang saya sering temui sekarang ini banyak orang ingin jadi pelaku seni , tapi takut miskin .

    Tadinya saya pikir punya kesadaran memiliki ‘manager’ adalah bagian dari keinginan untuk belajar.
    Ternyata…ya..hanya karena lagi-lagi sebatas takut miskin

    ~
    Ya wajar juga kalau buntutnya ….nggandolin lagi buntutnya sang sponsorship

    Desas-desusnya sih , Tuhan mereka namanya sudah ganti :(astagfirullah…’mudah2an saya ngga berdosa karena takabur ngomong seperti ini)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara