Globalisasi

map.JPG
Kekhawatiran bahwa globalisasi hanya bermanfaat bagi bangsa-bangsa dunia yang sudah maju , kian hari semakin terbukti .

Bagi negara-negara yang ‘sigap’ dan cekatan untuk segera membenahi sarana dan segala sesuatunya , segala langkah-langkah yang diperlukan segera mereka lakukan . Kita dapat melihat bagaimana kelompok negara-negara diwilyah terdekat (Asean) seperti Malaysia , Taiwan dan lain sebagainya mengalami perubahan perbaikan dengan pesat .

Apa yang terjadi pada negara-negara berkembang yang tidak juga membenahi aspek infrastruktur-nya? Saya tak mau mengomentari negara lain , karena bukan urusan saya .

Oh.Indonesia-ku :

Adakah korelasi antara rakyat yang masih miskin (petani didesa , pedagang tradisional , buruh serta karyawan industri kecil ) dengan nama yang megah tersebut diatas .

Satu hari saya berada disebuah restaurant biasa , saya memesan segelas es jeruk tanpa gula . Setelah habis saya minum dan hendak membayar maka muncul pertanyaan dalam hati yang tak perlu saya utarakan pada si kasir
(*ngga ada gunanya*)

Segelas es jeruk tadi berharga 20 ribu rupiah , sementara didepan restaurant tersebut juga berdiri sebuah toko buah modern yang cukup lengkap , yang juga berdampingan dengan kios buah-buahan tradisional yang hanya betatapkan selembar terpal , atau biasa disebut tenda.

Saya merenung dan mencoba mencari jawaban bagi pertanyaan yang muncul dalam benak saya seketika itu , sungguh betapa sombongnya kondisi sosial yang tercipta akibat ulah si “global” ini . Orang dengan penghasilan ekonomi seperti rakyat yang saya sebutkan tadi diatas , jelas tidak memiliki “hak” untuk bisa menyentuh minuman yang saya minum tadi , dan persaingan “kasar” secara terbuka yang sering dimanipulasi beberapa kalangan dengan menyebut “pasar bebas” , benar-benar semakin memuakkan .

Saya mengumpat dalam hati , saya tujukan pada siapa saja yang seharusnya mampu mencegah hal ini untuk tidak semakin menjadi-jadi . Tapi…, sesampainya dirumah saya melihat televisi (bukan lokal) . Perseteruan antara negara besar yang selama ini berkuasa dengan negara-negara yang sedang bergerak maju untuk bisa melepaskan diri dari hegemoni kapitalis global semakin tampak nyata .

Dalam skala internasional , saya meraba ada perlawanan sengit yang sedang terjadi .

Dalam skala nasional , saya masih menatap kepasrahan dan ketidak-berdayaan rakyat kecil untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-harinya seperti makan , minum , pelayanan kesehatan , sekolah dan lainnya.

Jangan kan “EKSPANSI DIRI” mengembangkan nilai kesejahteraan .

“DISTRIBUSI” ke perut dan otak saja masih terhambat !

Disebut “Globalisasi” yang di impi-impikan kah ini , banggakah kita dengan menyebut diri kita “masyarakat global”. Siapakah si Global itu.?

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

9 Responses to “ Globalisasi ”

  1. Global adalah mereka yang besar. Saya pikir siapapun yang merasa besar akan dengan mudah menggilas yang kecil. Menyedihkan sih :(

  2. Menyedihkan mas , sekaligus juga menjelaskan betapa pilunya hati manusia apabila sudah kekeringan tetesan air , yang bertugas mendinginkan pelupuk mata . (sudah ludes airmata)

    Semalam sepulangnya dari negara-negara di wilayah Eropa , Erros Djarot mempertegas posisi kemiskinan negeri kita hari ini .

    Harga sebuah kemeja ( kualitas sedang) : EUR 150 , sedangkan sepotong daging panggang yang disebut steak : EUR 185 .

    Saya konversikan dengan nilai kurs mata uang kita 1 : 12,822.72

    Artinya sehelai baju yang harus dibeli oleh orang Indonesia adalah +/- RP. 1.800.000 per-helainya , dan sepotong daging yang berhak dimakan oleh orang Indonesia +/- RP. 2.220.000 per-potongnya .

    Masih kurang lengkapkah “julukan” bagi kita.

  3. ‘Globalisasi’ sa’djane yo pance’n suatu model penjajahan baru sing dikembang-ke negaro2 kapitalis kanggo ndjadjah negoro mlarat.
    Asil-e : negoro sugih sangsoyo sugih sing mlarat sangsoyo mlarat…..
    Tugas pemerintah mestine yo ngupayake’ ….kalah yo kalah nanging ojo kebangetan kalah-e …..kiro2 mbok isolah nglindungi kepentingan rakyat-e’…ora koq ndjur ngladeni terus kepentingan negoro2 kapitalis iku.

    Akhli antropologi Ind. Alm. Prof Koentjaraningrat jauh2 hari (th 1970-an) sudah ngramal, Negara Ind. akan kalah terutama dari sisi ilmu pengetahuan, teknologi dan modal …nggak akan bisa ngedjar sampe kapanpun.
    Kalau mau eksis….. ? masuklah ke ruang ‘kesenian’ dan ‘olah raga’.
    Nah…itu pitutur-nya Pak Koen…….. Boleh percaya boleh ndak…monggo ke’mawon …

  4. Globalisasi adalah usaha2 utk memberikan akses pasar bagi pemenang perang ekonomi dalam melestarikan hegemoninya. Bercermin dari Cina…..mereka sudah menciptakan, membuat dan memelihara infrastruktur (baca: budaya, pendidikan, ekonomi dan politik) sebelum masuk pada wahana globalisasi (baca: WTO)…Caranya adalah :
    1. Pendidikan yang Murah bagi semua orang.
    2. Mendahlukan produk dalam negeri.
    3. Menjadi plagiator yang pintar (Smart Copy Cat) semua bidang teknologi (misalnya: perangkat lunak dan keras), politik dan ekonomi.

  5. Bung Dasmr,

    Pertanyaan saya , dengan kondisi realitas yang ada sekarang , mampukah kita mengejar semuanya demi Globalisasi tsb.

    Saya personal tdk mempersoalkan cara yg akan ditempuh.(Baca: Cina / India / Iran )

    Salam,

  6. tapi bagi ABG dan anak muda..
    globalisasi adalah kebanggaan..dimana udh bisa keminggris, udh dandan trendy seperti britney..udh bisa chating dgn seantero dunia dll..
    udh bisa beli peralatan canggih serba komputer..

  7. Pertanyaan saya adalah … mengapa globalisasi dimusuhi? (dan dipisuhi?) Tak adakah yang bagus dari globalisasi? Apakah globalisasi selalu dikonotasikan dengan buruk?

  8. he :) mas Budi , anda tidak membaca topik posting yang membuat tulisan komentator muncul disini .

  9. Sebetulnya saya mau mendukung mas indrayana, bahwa kita bisa “menunggangi” globalisasi via kesenian misalnya. Mengindonesiakan dunia? hi hi hi …

    Melenceng dikit (jauh gak papa ya?), sekarang pun banyak orang Indonesia yang tercekoki oleh “Intelectual Property Rights” atau HaKI yang notabene juga produk dari globalisasinya orang sono. Seorang pakar komputer dari Amerika pernah bicara begini, mengapa kok orang Indonesia yang mau membantu tetangganya (dengan meminjamkan softwarenya) terus diberi label pembajak? Sangat tidak adil demikian katanya. Tentu saja dia dimusuhi oleh konglomerasi dunia. Banyak yang tidak paham bahwa ini juga cekokan globalisasi yang bukannya membuat kita tambah sehat, tapi tambah sakit.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara