Indonesiaku


Tidak harus menunggu sampai semua orang menyadari kembali . Karena adanya persetubuhan budaya , yang mengakibatkan kehamilan dan dikemudian hari bersalin melahirkan jabang bayi bergelimang darah lalu akhirnya diberi nama Indonesia.

~

Seperti juga saya berupaya memahami kondisi pasca kelahiran tersebut diatas , tentang keberadaan lambang seekor burung Garuda , bagi angkasa bagi bumi bagi laut agar tercapai sebuah kesepakatan menuju alam ber-peri-kehidupan bersama yang berkeadilan dan berkesejahteraan .

Perjalanan waktu telah mengajarkan tentang banyak hal untuk direnungi , disikapi dan dijalani . Sebuah perubahan yang berjudul globalisasi seolah memaksa “Sang Burung” perkasa untuk sejenak hinggap kembali , bertengger disarangnya menyusun rencana bagi arah yang hendak dituju.

Agenda perjalanan panjang yang tak mungkin terhindar dari terjangan hujan dan badai , berliku terkadang tersedot dan dihadang pusaran angin yang mematikan , semua itu dengan keras diperjuangkan agar mampu memetik bintang dari batang langit nun jauh diatas sana , dari rasi sejahtera yang bernama galaksi “Sentosa”

~

Ini bahasa yang penuh dengan kiasan kata-kata , namun seyogyanya jangan dibaca serta dipahami sebagai kalimat dan tulisan dari seniman yang sedang ngelindur.

Politik adalah sebuah instrumen budaya , yang diharapkan berperan sebagai “Hakim Agung” , yang memutuskan sebuah perkara , lewat arah yang mana seharusnya Sang Burung Perkasa harus terbang mengepakkan sayapnya.

Dalam tekanan global dan himpitan kondisi kehidupan bersama yang terancam porak poranda , berharap dan menggantungkan nasib yang agak berlebihan pada sang hakim agung tersebut , tak bisa lagi terelakkan .

~

Dalam amanat konstitusi , hakim agung dipilih melewati sebuah mekanisme politik untuk bekerja dan bertanggung jawab hanya selama lima tahunan saja . Sebuah kurun waktu yang teramat singkat apabila dihadapkan pada akibat dan dampak yang ditimbulkan selama berapa hitungan generasi mendatang .

Kembali pada perjalanan waktu yang sudah kita lewati , jangan lagi mencoba-coba , yang dapat membuat kesepakatan antar bangsa-bangsa Nusantara dipertaruhkan keberadaannya .

Kembalikan kebudayaan sebagai IBU dari segala bangsa . Agar hakim-hakim yang ditunjuk dan dipercaya kemudian , terlepas dari jebakan pahitnya buah simalakama .
Tangan-tangan hakim agung seharusnya ada dimana-mana , ada disini ada diruang ini ada diberanda rumah anda dan melindungi ruang privasi kita .

~

Jikalau memang masih banyak hambatan fisik yang membuat tangan-tangan tersebut bagaikan tangan yang cacat kekurangan daya , maka harapan kita sebagai agen ‘bangsa-bangsa’ (rakyat) adalah:

Hakim mustinya bisa diajak bicara secara berkala atau bahkan setiap saat dibutuhkan  , sekali lagi ini bukan kalimat yang terucap dari  seniman yang sedang ng’lindur , tapi keinginan semua orang yang mengaku , yang juga menjalani kehidupan sehari-harinya , sebagai “Orang Indonesia”

salam,

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

12 Responses to “ Indonesiaku ”

  1. wah, bahasamu kuwi lo, sam. rendra sekali … :D

  2. Mas,

    Sungguh pilu melihat mereka yang terlanjur berharap , ternyata hanya mampu menatap helikopter di kejauhan.

    Birokrasi seperti itu koq masih dipertahankan , padahal ini tidak hanya menyangkut satu atau dua orang yang menjadi korban.

    Bangunlah Indonesiaku..!

    ~derita rakyat di sidoardjo :(

  3. ndoro kakung,

    Insya Allah menyusuri jalan setapak yang dirintis WS.Rendra , namun ada juga yang ngga perlu diikutin dari mas Willy :) (hehe maksudnya ambil yang baiknya aje’ , kalau jeleknya mah kita udah punya stock sendiri)

    Jadi menurut saya WS.Rendra dan mas Willy adalah dua persoalan figur manusia yang berbeda.

    Salam burung-burung kondor!

  4. Apakah seperti seharusnya kita meletakkan Bung Karno sebagai pejuang sekaligus juga sebagai seorang anak manusia,mas

  5. he :) kalau saya menyebut nama tersebut dihadapannya , kalimat yang diucapkan masih selalu sama :
    “Dia juga memenjarakan saya tanpa pernah ada pengadilan”

    Bagi saya itulah catatan panjang sejarah kita sebagai bangsa , ironisnya catatan tersebut dikatagorikan “usang” , oleh karena itu kita selalu terse’ok terjungkal-jungkal , wong ndak menengok masa lalu sebagai bagian dari ilmu untuk menempuh masa depan .

  6. Dan Perjuangan Adalah Pelaksanaan Kata-Kata.

    Paman Doblang/WS.Rendra

  7. jadi gregetan sendiri..
    rasa2nya pengen segera melakukan sesuatu buat bangsa ini…
    tapi opo ???…
    wong saya cuma orang biasa ndak punya power apa2.
    paling banter saya cuma bisa jaga kebesihan, ndak buang sampah sembarangan… ya baru cuma itu yang bisa saya lakukan buat bangsa ini. remeh banget nggih mas..

  8. mas rantangan,
    Siapa bilang jaga kebersihan itu remeh banget . Itu perilaku dasar yang diperlukan agar orang disebut beradab . ‘Ibu’ dari segala rasa ‘empati’ beranjak dari sana , empati pada alam dan empati pada sesama makhluk hidup termasuk didalamnya terhadap sesama manusia itu sendiri.

    Didalam wilayah masyarakat yang beradab , biasanya jarang kita jumpai tukang sapu dipinggir jalan yang memunguti puntung rokok hingga sisa-sisa bungkus makanan yang berserakan .

    Tak perlu ada larangan tertulis (yg malah memicu pelanggaran)
    Semua sampah dan kotoran terkumpul ditempat yang semestinya.

    kalau masyarakatnya beradab

    salam beradab

  9. apakah sekarang burung rajawali sudah menjadi burung nuri ?

    Burung Rajawali sedang ngeremin telornya , hingga hari ini belum netas juga.

  10. Saya memperolehnya dari teman, sajak yg menarik dari Pak TaufiK Ismail…………

    Oleh : Taufik Ismail
    Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
    Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
    Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
    Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
    Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
    Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
    Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
    Whitefish Bay kampung asalnya
    Kagum dia pada revolusi Indonesia
    Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
    Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
    Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
    Dadaku busung jadi anak Indonesia
    Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
    Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
    Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
    Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
    Mengapa sering benar aku merunduk kini

    ~maturnuwun sajaknya mas,saya kumpulin di page puisi.

  11. apa sih arti dari globalisasi dan apa dampak bagi masyarakat?

  12. ya sampeyan ajarin saya dong mas , mungkin emang saya blom tau. .

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara