Esensi hidup

pemulung.JPG

Hm..sungguh leluasa hidup dijaman ini , apalagi kalau punya blog . Bisa ngomong sesuka hatinya tanpa ada yang bisa melarang . Karena blog itu sendiri sebuah ruang kebebasan berekpresi yang terlepas dari norma-norma hukum positif yang berlaku (paling tidak untuk saat ini di Indonesia)

Artinya kalau saya menyesatkan jalan pikiran orang paling-paling “salahmu sendiri” kenapa percaya . “Dosa?”…, ah dosa engga benjol ini‘ .. Dan kalau ada yang protes lalu protesnya sudah kelewatan (*menurut saya yang menjadi pemilik blog ini*) , paling anda saya “banned” selesai persoalan . Wong saya yang jadi ‘imamnya’ , ya semua harus nurut apa kata saya , kurang lebih gitu kali ya?

Tetapi apa iya ..esensi hidup boleh diwakili dengan salah satu perilaku pembenaran pembenaran seperti itu . Dalam ajaran agama disinilah letaknya persoalan “Iman” yang harus dijaga . Karena Iman itu sendiri dihadapkan pada kenyataan yang selalu berbeda.

~

Jangan mencuri , karena kalau kamu mencuri selain merugikan orang yang kamu curi , juga keluargamu yang ikut menikmati hasil curian tersebut akan terbawa sengsara, misalnya .

Lha..nyatanya keluargaku ya seneng-seneng saja tuh…makan kue hasil curianku Orang yang kecurian menjadi susah dan sengsara? “emang gw pikirin” , gue juga udah susah karena dicolong sama orang kemaren-kemaren , emangnya gue harus melongo terus…

~

Malaikat tidak pernah tidur untuk mencatat laku manusia , apalagi Allah . Demikian ajaran tentang keimanan yang terus gigih dilakukan oleh mereka yang ditugaskan .

~

Kembali kebisikan nurani kita “apakah esensi dan makna hidup” dibiarkan bergulir seperti ini atas nama kemajuan jaman dan peradaban atau bahkan globalisasi misalnya . Saya bertanya , terserah anda masing-masing .. Sudah saya jelaskan diatas , semua orang hari ini punya berbagai cara untuk membenarkan segala sesuatu tentang perilakunya.

~

Ada satu hal lagi yang ingin saya angkat dalam topik ini , yaitu tentang posisi “materi” atau kebendaan .

~

Setiap hari saat anda menonton berita di Televisi , apakah anda juga memperhatikan sebuah perilaku atau kebiasaan yang menurut saya seharusnya tidak boleh dibiarkan.

Seorang penyiar sedang mewawancarai seseorang , guna meminta klarifikasi
tentang sebuah kejadian penting yang melibatkan persoalan serius dalam masyarakat.

Selagi nara sumber tadi menjelaskan secara hati-hati dan mungkin juga berjuta pemirsa dirumah atau diluar ruangan sedang mendengarkan , mengamati , karena ini persoalan penting .
Tiba-tiba penuturan nara-sumber di cut oleh penyiar , bunyinya biasanya seperti ini:

Maaf..pak , saya potong dulu nanti diteruskan karena ada yang mau lewat …“GRUSAAK”

(gambar wanita jualan kosmetik , atau merk elektronik model baru atau what ever lah..)

Konsentrasi kepedulian kita tentang kesadaran yang sedang dibangun …bubarrrr…!
Lalu pada saat dialog kembali dilanjutkan , kita sudah kehilangan “gut” yang dapat membimbing pikiran kita untuk lebih objektif dan jernih dalam memahami persoalan .

Semua itu dilakukan karena “materi” yang berkuasa , kalau ngga ada sponsor kan ngga bisa ditayangkan juga , sanggahnya .

Lhaaahh…ini lho..yang bikin saya itu bingung tujuh keliling , melakukan segala tindakan pembenaran sekarang ini boleh-boleh saja , asal punya uang . Banyak cara dan celah untuk berkelit melepaskan diri dari sergapan “etika , moral” dan lain-lainnya .

Persis sama seperti yang terngiang-ngiang dikuping kita :

Malaikat tidak tidur untuk mencatat , apalagi Allah .

Terserah anda mau pake’ pembenaran apa , urusan anda di kuburan nanti bukan urusan saya . Mungkin Tuhan anda memang beda dengan Tuhan saya .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

4 Responses to “ Esensi hidup ”

  1. Gusti Allah sampean mungkin memang beda dari Gusti Allah mereka, sam. Soale, jika sama, kenapa Gusti Allah sampean ndak nyuruh sampean ngepruki orang lain ketika atas nama Gusti Allah juga, mereka hobi mukuli orang lain, ngrusak, lan sapanunggalane. Aneh to, sam?

  2. Dari paragraf terakhir, lha ya kan bener. Pada akhirnya orang bawa hidupnya sendiri dan tanggung jawab sendiri. Ga ada yang belain kecuali malaikat yang ndak mau diajak kenalan itu kecuali cuma nyatet :D

  3. Mas Yockie Yth,

    saya sependapat dengan Hedi bahwasanya manusia itu adalah arsitek pada dirinya sendiri karena Tuhan telah memberikan dinamika pada manusia yaitu akal yang dapat dipergunaan untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan disamping itu pemahaman agama yang benar tentunya. What ever the religion is.

    Salam

  4. Apa y………….. Hidup Itu Yang paling seru Adalah disukuri….. misal dengan menikmatinya….

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara