Politik busuk

bung-karno.JPG

Mencari jejak Soekarno!

Hari ini koq saya tiba-tiba kepikiran soal mahkluk yang namanya politik. Orang sering bilang “bullshit” atau (maaf) “tai kucing” bagi istilah politik dan berbagai kata umpatan lainnya. Tentu termasuk saya sendiri juga sebal kalau melihat perilaku orang-orang politik negeri ini

~

Tapi semakin lama kita menjalani hidup atau semakin kita memahami persoalan hidup , stigma tersebut memang secara perlahan-lahan agak menjadi berubah , tidak seperti kita memahaminya lewat kesimpulan yang dirumuskan berdasarkan asums-asumsi diawal awal perjumpaan.
Dari sudut pandang yang sederhana mungkin juga berbeda , kita bisa menyimpulkan bahwa politik menjadi ‘ada’ menjadi diperlukan manusia , karena memang dibutuhkan untuk mengelola manusia yang terlahir dalam bentuk dan cara hidup yang tidak sama. Seandainya isi dunia ini adalah orang jawa semua misalnya (*koq jadi Jawa?*) okelah orang Padang semua misalnya . Dengan bahasa yang sama , agama yang sama , gaya hidup yang sama (kultur) . Mungkin kita semua setuju sama John Lennon.

~

Tapi ternyata perbedaan itu nyata , kepentingan “bagi sesama golongan” itu nyata , atau kalau dibahasa verbalkan lagi “rasialisme” itu ada. Kita boleh tidak suka dengan istilah tersebut , tapi itu nyata dan sekali lagi ada.

~

Mungkin karena itu diperlukan “politik” agar masing-masing golongan tersebut bisa terhindar dari benturan “rasialis” yang selama ini satu sama lainnya saling berusaha menindas . Atau tepatnya , yang lemah pasti selalu diposisi tertindas.Masyarakat kita acapkali meletakkan persoalan penindasan-penindasan ini kedalam bingkai “kemanusiaan” yang bersandar pada nilai-nilai spiritual.

~

Sudah jadi pelajaran yang selalu berulang-ulang , bahwa agama tidak dalam konteks dan kapasitas untuk dilibatkan dan digunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan duniawi berkaitan dengan perbedaan perbedaan “nyata” tadi.
Buktinya sudah jelas , kurang apa himbauan Paus sebagai pemimpin spiritual , kurang apa banyaknya orang-orang beribadah haji ke Mekah , belum lagi berbagai upaya yang dilakukan berbagai Agama yang lain.
Jadi selama ini tokoh-tokoh politik yang selalu tampil ditempat-tempat ibadah seolah berceramah soal agama padahal untuk kepentingan politiknya….? iya.! , menurut saya sungguh orang-orang itu “sangat keji dan biadab” . Karena berupaya berkedok topeng “nabi kecil”untuk mengelabui masyarakat yang masih belum melek politik .

~

Satu hari saya berbincang panjang lebar dengan seorang warganegara asing. Sebagai warga orang sipil mereka sangat memahami betapa penderitaan masyarakat negara berkembang seperti Indonesia. Ingin mereka tulus membantu dengan segala daya kemampuan yang dimiliki agar bisa berbuat sesuatu bagi sesama manusia. Sebagai warga sipil merekapun sungguh muak , dan “mencerca habis-habisan” kebijakan pemerintahnya yang berdampak menyengsarakan kehidupan umat manusia lainnya.

Kalau kasihan sih , rasanya semua orang juga kasian sama kita .. :(

~

Tapi akhirnya kita harus maklum , bahwa mereka bisa mencapai taraf hidup yang lebih sejahtera dari kita karena sistem politik negara yang melindungi kepentingan mereka sendiri . Orang bule’ tersebut tidak akan menjadi lebih sukses dari bangsa kita , andai sistem politik mereka juga acak-adut seperti kita. Jadi..?

~

Sekarang ini yang kita perlukan sepertinya bukan bantuan materi atau apakah itu tehnologi atau apakah itu “superduper soft loan” atau apakah itu akses pertumbuhan ekonomi jangka pendek semata. Apalagi bantuan yang menghasilkan ketergantungan .

~

Saya percaya koq, bangsa kita ngga takut melarat demi mengejar cita-cita . Masyarakat kita yang sudah terlanjur mengecap modernisasi nggak akan bunuh diri gara-gara ngga bisa makan ayam goreng Kentucky atau Mc Donnald , toh ada mbok Berek dan lainnya . Ngga bisa sarapan kentang rebus atau goreng , toh ada singkong dan umbi-umbian .

~

Saya tidak bermaksud tendensius untuk anti produk asing . Tapi saya sangat “tendensius” untuk berkata pada anak-anak saya:“emang kalau ngga ada steak dan kentang goreng kamu bisa mati?”

~

Mengambil sample yang singkat dan sederhana tadi , saya berpikir agak “stone!”
Artinya dibutuhkan sebuah masyarakat berkesadaran politik yang kuat dari Negara yang namanya Republik Indonesia ini (seperti jamannya Bung Karno) agar bangsa ini bisa berdiri sama tinggi & duduk sama rendah dengan orang-orang yang berbeda tadi. Artinya Indonesia yang mewakili sebuah golongan berbeda mustinya tampil “gagah” , bila hadir di arena berbagai golongan yang “berbeda-beda” lainnya . Saya ingat “BERDIKARI” seruan Bung Karno saat itu, dan seruan itu bukan slogan pepesan kosong..
itu konkrit man!

~

Pertanyaan saya juga hari ini: Benarkah kita sudah menjadi sebuah golongan yang satu atau “IKA”?. Bhineka bukan hanya milik kita , dunia ini juga dihuni oleh berbagai orang-orang yang bhineka.Sebelum kita melangkah menuju “Bhineka” yang global , sudahkah bhineka kita yang lokal ini tuntas? hingga aman untuk disebut “Tunggal Ika”.

~

Kembali pada posisi “politik” yang sering kita sebut busuk tadi. Ternyata yang bisa menyelesaikan persoalan “bhineka-bhineka” tadi ya itu…si busuk yang namanya sering kita sebut-sebut , dia lah sijahanam “POLITIK”.
Hanya dia satu-satunya mahkluk yang bisa mentuntaskan persoalan ini , bukan agama , bukan adat , bukan juga sekedar toleransi sesama .

~

Lalu dimanakah gerangan posisi bangsa Indonesia apabila kita teropong dari kaca pembesar atau bandul pendulum politik? wuuih..ngga bisa ngebayangin saya ….betapa amburadulnya .

~

Lalu bagaimana dengan demokrasi yang digembor-gemborkan , Hah..? demokrasi? makanan apa lagi itu..?
Lalu apa yang bisa dilakukan ? masa’ kita hanya terus-terusan mengeluh sepanjang jaman?

Rasanya memang “per-ngeluhan” harusnya dari kemaren-kemaren sudah dihentikan . Dan kesadaran individu harusnya sudah dibangunkan dari kemaren-kemaren juga . Politik itu “tools” , satu-satunya tools yang bisa menyelamatkan hidup bersama dalam pergaulan dunia . Kalau selama ini bangsa kita selalu gagal dan gagal lalu gagal lagi .. itu akibat perilaku “politikus busuknya” . Bukan ilmu politiknya sebagai tools itu sendiri.

~

Kapan politikus-politikus busuk tersebut akan mati dan tidak akan tumbuh yang baru lagi?

“KALAU MASYARAKATNYA UDAH MELEK POLITIK”

Menengok perkembangan sikap kritis masayarakat pada masalah korupsi , sudah cukup untuk dijadikan indikator bahwa ada keinginan nyata , masyarakat kita ini sudah capek’ dibodohin terus . Tapi bila dilihat dari laju kebutuhan dunia yang global , proses tersebut jalannya masih teramat menyedihkan lambannya . Ibarat mengadu balapan antara kuda lawan kambing . Ya pasti menang kambing dong.!
(*kambingnya dinaikin colt*), sementara kita kudanya digelandoti orang sekampung .

~

Darimana mulainya…?, dari membangkitkan kesadaran akan hak-hak individu masing-masing. Siapa yang harus memberi contoh?, tidak ada yang bisa diharapkan memberi contoh-contohan , semuanya harus dimulai atas kesadaran dan kemauan sendiri-sendiri.

~

Bisakah masyarakat kita diharapkan seperti itu ? jangan tanya saya , saya bukan Tuhan.

(wong sudah dibilang cuman seniman)

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

10 Responses to “ Politik busuk ”

  1. Bos, politik dan politisi..masih jauh dari bayangan orang awam. Walaupun sebenarnya merak sudah menjalankan politik itu sendiri..
    Politik sering dianggap berhubngan dgn partai, pemerintahan, urusan negara, dan kita sering males kalo udah ngomong politik apalagi terlibat di dalemnya.
    padahal yg gak kalah penting adalah sebenarnya kita ini udah jadi korban dari politik ekonomi..baik itu dari negara maupun para konglomerat..

    memang semuanya harus dari diri sendiri.. tapi gimana mau bergerak, lha wong belum sadar politik je.. ??

    ~memang semuanya harus lewat partai , tapi dinamis berani beda , tidak berbondong-bondong berbaris dan seragam . Itu barisan ketoprak massa namanya.

  2. Bener bos,

    Sekarang ini kalau ada orang nakut2in atau jelek2in politik berlebihan, jangan2 dia agen status quo.

    Yang pengen orang jadi bodoh terus,biarmasyarakat masih lama o’on nya dan gampang dikibulin..

    Bravo!!

    ~hm..ya dan yang ngibul-ngibulin itu income usahanya dari perusahaan raksasa-nya yang di sono.., gaji sebulan bisa buat hidup setahun di Indonesia . Gimana ngga dibilang “surga” ?

  3. Saya pernah baca tulisan pak Satjipto Rahardjo, beliau nulis : “50 tahun yang lalu para politikus di Indon masih ‘bener’ ….”.
    Mungkin kira2 jaman pemilu 1 th 1955 ya….. ?

    ~Yang bikin perut kita mual “Para politikus itu menjalankan politik tanpa mempedulikan fungsi dan esensi dari Ilmu Politik itu sendiri . Mereka terlihat terang-terangan berpolitik untuk mencari penghasilan . (kayak orang kantoran) . Diperburuk lagi dengan mental yang dibawah standar (padahal gelar akademisnya ..aje’ gile’..) . Bukti nyata bahwa sekolah dijaman sekarang ini hanya proyek untung rugi yang bertugas mendelegitimasi nilai kemanusiaan . Percaya ndak? ..kalo ada satu atau dua orang dari mereka yang membaca posting ini , pasti berguman “mampus aje’ elu..” hehe .. saya sudah tau , jadi ngga perlu sakit hati :)

  4. iya, bangsa ini akan lebih santai saat dhadapkan dengan kenyataan bernama ‘kemiskinan’ itu. tapi ketika kemapanan terlahir dan beranjak-merangkak, wah.. semakin bermunculan kepentingan politis. kesuburannya pun berbanding lurus dengan lahirnya bentuk-bentuk kemiskinan lainnya.. akhirnya, benarkah politik itu sama dengan topeng, jalan, dan kendaraan?

  5. Pertanyaan yang mendasar sekali mbah ,

    saat saya masih kanak-kanak rasanya tidak sekomplikasi sekarang , mengapa?.
    Mungkin karena lokalitas masih berdaya untuk mengatasi segala persoalan. Persoalan ekonomi lokal masih mandiri , persoalan sosial kemasyarakatan , kearifan adat mengatasi.
    ~
    Bukan berarti dunia belum “garang” seperti sekarang , namun menurut hemat saya ‘perang dingin’ antara si beruang dan je’nggo juga menciptakan keseimbangan . Karena mereka dua-duanya saling mengawasi . Kita sebagai “pelanduk” ditengah bisa bermain “cantik”.
    ~
    Namun jaman kan ndak berhenti , apalagi setelah si beruang ke’ok. Posisi si pelanduk sudah harus berpihak atau melawan . Tragisnya boro’boro kita punya peluru untuk melawan , ibarat macan kita mungkin pantas disebut macan ompong . (jumlahnya buanyak tapi cuman bisa nyeruduk-nyeruduk kaya kancil , ngga bisa nggigit hehe) :(
    ~
    Hari ini jangankan mempertahankan kebersamaan antar kearifan lokal yang dulu memayungi “ibu” kita . Mempertahankan internal lokal aja persoalan yang menghadang ndak kira-kira.
    ~
    Dulu saya memang ngga perlu tau politik , karena hukum adat masih dihormati untuk mengatur tata cara berperikehidupan . Sekarang kalau kita benci membabi buta berpolitik, konsekwensinya jadi budak nggombalisasi. Hukum adat masih berkuasa , sayangnya hukum adat itu bukan yang seperti punya kita , tapi punya mereka yang kuat dan kaya .
    (lagi-lagi Global warming , sebuah contoh kasus : kita ngga tau apa-apa tiba-tiba pulau kita lenyap / tempreatur semakin tinggi / penyakit semakin banyak / dimana-mana gempa bumi) Masih kita mengatakan bahwa ini hanya urusan Tuhan semata? (koq Tuhan ngga kasian sama kita ya? begitu orang-orang dikampung-kampung dalam hati bertanya.)
    ~
    Kita muak setengah mati..karena leluhur kita mengajarkan segala sesuatunya diadili oleh hati nurani . Hukum adat mengawasi.
    ~
    Sekarang .., hari ini kalau pohon mangga kita dahannya sudah melewati pagar tetangga , mereka otomatis berhak atas buahnya.
    Ya….dan buahnya namanya simalakama . (*sangking keselnya kadang2 bisa nyumpah2 “biar mampus elo*) Tapi begitu dia minta maaf …”oohh ndak apa-apa…silahkan diambil saja…”
    (*dengan gaya di ikhlas-ikhlaskan*) Padahal aslinya muanggkel..!

    Artinya sistem berpolitik sudah menjadi bagian kehidupan kita , walaupun pada tetangga .

  6. Hanya orang-orang yang masih hidup dengan alam ‘primordial’ lokal , yang bisa lepas dari jerat politik . Misalnya orang-orang seperti Mbah Maridjan yang hidup dilereng bukit gunung Merapi . Yang lepas dan mungkin tak akan pernah mau memikirkan globalnya dunia manusia yang katanya modern dan sebagainya.
    ~
    Kita yang tinggal dikota besar dan yang sudah mengadopsi peradaban global adalah mahkluk-mahkluk politis . Mari kita berkaca , apakah politik yang kita berlakukan terhadap istri kita masing-masing sudah sesuai dengan kebutuhan lokal rumah tangga kita .
    ~
    Jangan naif bersandar pada nilai leluhur semata , sementara hidup kita sehari-hari ada didepan televisi sambil menikmati spagethi dan coca-cola. Kalau merokokpun marlboro pula .
    ~
    Istri anda menuntut kebebasan privasi ? hah… tidak ada itu rumusan tuntut-menuntut dalam paradigma ‘primordial’ kita .
    Kalau kita gagal mengelola politik internal rumah tangga , maka silahkan mendaftarkan diri ke BPP atau langsung ke Pengadilan Agama.

  7. Bung Benny,

    Sistem politik antar warga masyarakat diperlukan agar keharmonisan bisa dijaga , dengan menghormati hak-hak individunya . Politik tersebut sering disebut dengan “Politik Kebangsaan”
    ~
    Sedangkan politik dalam berpartai , urusannya untuk menciptakan birokrasi yang baik dalam Tata-Negara . Nah.ini politik lima tahunan :-(
    ~
    Kita sedang menjalani sebuah transisi ber-perikehidupan dengan menemui berbagai aspek kesulitan , bukan hanya pada salah satunya , namun kedua-duanya .

    ~
    Jadi ..menurut saya , saat ini politik lima tahunan diatas tidak ada urusannya dengan politik kebangsaan . Bahkan kalau Tata Negara ini bangkrut sekalipun , mungkin ngga akan “ngaruh” di level masyarakat .., yang gaduh ngga keruanan adalah mereka-mereka yang ada diatas langit . Yang berpijak diatas bumi mah’.. mungkin “cuek” aja . Selama politik kebangsaannya bisa dikelola dengan baik , kalau tidak? .. ya bubar dua-duanya . Sayonara……… kata encik Jepang .

  8. Mas Yockie Yth,
    Saya bukan loyalis Suharto tetapi kalau kita mau merenung sejenak, memang benar pendapat beliau bahwa membenahi Ekonomi itu jauh lebih baik daripada politik yang buktinya sekarang ternyata bisanya cuma bikin intrik intrik dan gonjang ganjing!

    Salam

    ~Kalau opini saya diruang publik ini,
    Kesalahan era-nya pak Harto adalah ketika repelita demi repelita sudah berjalan baik , tapi pendidikian politik masyarakatnya di ‘mampat’-kan. Seandainya sejarah bisa diulang melalui “Time Tunnel” , selesai repelita beliau mengundurkan diri dan diganti dengan tokoh revolusioner yang bisa menghadapi arogansi global . (pada saat itu masalah perut relatif sudah aman)

  9. Entah kenapa begitu mendengar kata “politik”, yang muncul adalah rasa mual, geram, marah, dan akhirnya tutup telinga (alias tidak peduli). Baca koran pun saya sudah jarang. (Paling-paling kalau baca pun yang terkait dengan dunia bisnis dan teknologi.) Akibatnya sudah bisa dipastikan, saya bukannya melek politik melainkan malah makin bodoh. Nah, orang yang seperti saya ini rasanya banyak, mas.

    Ketika PKS muncul, ada perasaan bahwa masih ada harapan di dunia politik Indonesia. (Saya bukan supporter PKS atau partai politik apapun. Jadi jangan anggap ini sebagai dukungan terhadap mereka. Saya adalah orang yang tidak ingin terkait dengan satu partai politik – meskipun tawaran banyaaak sekali.) Namun, nampaknya merekapun belum sanggup mengubah kondisi di Indonesia.

    Mas, saya masih nggak ngerti visi (pemikiran) dari mas Eros Djarot – mengapa dia terjun ke partai politik. Saya tidak menyalahkan atau mendorong, hanya ingin tahu curious saja. Sekali-sekali ajak dia untuk nulis dong mas. Kalau perlu ajarin dia supaya buat blog. he he he. Seriously, supaya orang paham pemikiran-pemikiran dia.

  10. Mas Bud, pemikiran anda dalam konteks “HAKI” itu kan juga visi politik anda . Anda sedang memperjuangkan hak-hak politik anda :)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara