Bah!..munak

ular

Berbagai persoalan didalam hidup yang sering tak mampu dituntaskan , acapkali mempengaruhi pikiran hingga mengganggu kondisi kesehatan , hasilnya “stress!”

Pikiran tersebut datang menjenguk lamunan saat sekujur badan rebah kurentangkan ditempat tidur , seiring tatapan mata yang nanar menerawang seolah hendak menembus langit-langit eternit diujung tepian malam.

Ini yang ingin kuceritakan ,
Menjalani ketergantungan pada orang-orang ajaib sungguh.. “bah!” .. bukan kepalang.

Tak usah kujelaskan panjang lebar persoalan yang hanya menjadi urusan privatku sendiri. Aku hanya ingin berbagi “kejengkelan” , tentang sebuah kelakuan yang sekarang ini memiliki pembenaran untuk biasa dilakukan , dimana-mana disekelilingku diseluruh penjuru sudut-sudut ruang kehidupan .

“You have my word..” demikian orang asing mempertaruhkan harga dirinya .
“Saya…!” demikian sepenggal kata yang bermakna “janji” dari seseorang pada kita , atau juga sebaliknya .
Kalimat-kalimat diatas kini sulit menemukan bentuk ketulusannya , keseriusannya dan kejujurannya. Semuanya kini berselubung kepentingan untuk menguasai , kepentingan untuk mengejar keinginan itu lagi . Yang ujung-ujungnya hanya taktik permainan atau games yang biadab , karena hanya mengelola nafsu kepuasan diri sendiri .

Pengingkaran pada janji bukan lagi urusan hati nurani . Dijaman ini banyak sekali berbagai alasan yang diselipkan dikolor mereka sebagai senjata pemakluman agar dimaklumi , seperti ; “maaf….karena saya kurang sehat” atau “soalnya jalanan macet ..” bahkan masih ada segudang lagi alasan instan yang disimpan dibalik celana dalam , yang siap untuk dipakai setiap saat dibutuhkan.

Menyedihkan .. “malu” sudah tak berarti apa-apa lagi , bahkan hypocrite sekarang ini juga sudah punya ruang khusus untuk diumpetin dibalik upacara ritual (bah! lagi)

Segalanya menjadi mungkin , tak ada yang tak mungkin .
Segalanya bisa jadi boleh . tak ada yang tak boleh .
Segalanya hanya urusan mengejar kebutuhan , tak ada yang tak butuh .
Segalanya hanya sebuah perubahan , tak ada yang tak berubah
Saya yakin masih banyak lagi “bernano-nano” kemungkinan yang belum terwakili disini

Aku masih menerawang menatap sudut tembok langit-langit eternit dikamar .
Oh Tuhan.. aku bukan mau minta tolong karena sedang resah dilanda cinta..

Aku tersesat .. dimanakah gerangan ini ?
(*ada..sayup…. bunyi cicak……………..*)

Bicara padakukah kamu ?
hm..bukan , dia hanya mau kawin……..

tersesat dibelantara tak bertuan .


  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

5 Responses to “ Bah!..munak ”

  1. mas, diperlukan panglima tertinggi untukmengendalikan budaya tak bertuan ini , sampai berapa tahun lagi ya menunggunya?

    salam.

  2. Didunia intternet kita bisa membangun impian2 sementara kenyataan didunia nyata , sayapun harus berurusan dengan abdi2 pemerintah yg ngga punya standar aturan.

    Kalau soal janji2 manis dibibir kita mah sudah kenyang, tapi ya dengerin terus…..mau tdak mau.

    Habis gimana lagi mas?

    ~Yuk.. memperkecil peluang luka yang bisa jadi borok yang busuk. Bukankah hanya itu yang bisa dilakukan ?

  3. Mending kalau hanya sekedar janji dilanggar. Yang lebih parah adalah bukan sekedar melanggar janji, tapi juga menusuk dari belakang. Kalau dikonfrontasi … banyak alasannya. Dan kalau di publik, mukanya ganteng / cantik sekali. Pengen sekali nabok itu muka.

    Hmm… mas Yockie ini mau menceritakan kehidupan saya? (The story of my life.) he he he. Kok ceritanya seperti itu alurnya. Atau ini juga cerita kehidupan mas Yockie?

  4. he :) Ternyata ini masalah klasik orang kita ”etika”.
    Saya pernah mencoba diam seribu bahasa , semua itu saya lakukan semenjak awal saya menggeluti dunia profesi saya .

    Sumbangan pikiran betapapun kecilnya atau apalagi gagasan yang kemudian menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat , hendaknya disandarkan pada ruang hati nurani dengan segala kejujurannya .

    Saya termasuk orang yang risih dengan pengakuan . (mungkin kultur yang menyebabkan) . Benar seperti anda katakan , setan atau iblis tidak akan hadir dalam buruk rupa , karena kalau menakutkan sudah pasti orang akan mudah mengenalinya . Mereka sungguh cakap dan terampil dalam urusan merias penampilan .

    Dan ironisnya , masyarakat begitu gampang terkecoh serta sulit membedakan persoalan yang sebenarnya . Semua diukur dari bentuk dan rupa yang rupawan .

    “Image” menjadi penting untuk meraih segalanya . Dan mereka yang tak pandai mengelola akan dengan mudah diperdaya. Untung nya dijaman ini juga ada “blog” yang walau terlambat saya menggunakan , tapi itu jauh lebih baik daripada tidak pernah ada . Saya disini bisa membantah atau menjelaskan segala sesuatunya menurut versi saya . Semua informasi dan berita tidak disunat atau diterjemahkan melalui kacamata pers yang bisa dibeli .

    Silence is golden sudah tak lagi punya makna .
    Alm.Harry Roesli pernah bercanda pada saya “kasian banget seh nasib elu” hehehe..,mungkin saat ini pula (diatas sana) dia masih tertawa melihat saya menulis posting ini.

    “Biarin nape’sih..biar kekenyangan mereka semua” , itu jawaban baginya (masih sama seperti dulu..Har!)

  5. Wah, saya masih menganut aliran silence is golden mas. Meskipun sudah ada blog, cerita yang menyakitkan bagi saya tidak muncul ke permukaan. Soalnya, kalau dikonfrontir bisa berabe. Urusannya bisa sama polisi.

    Bukan, ini bukan masalah takut, tapi optimasi waktu dan energi saja. Ngapain ngurusi yang kayak begitu. Kalau orang tahu bahwa saya yang benar, terus apa untungnya ya? (Bagi masyarakat dan saya.) Bukankah ini hanya sekedar menyenangkan ego saya saja?

    Atas dasar pemikiran seperti itu, saya memilih tidak menceritakan versi saya. Borok kok diobok-obok. Gitu mas.

    Oh ya, saya juga bukan orang yang diam :) Bahkan di kampus, saya dikenal dengan dosen yang terlalu kritis, sinis, dan tajam tulisannya. Bikin banyak orang merah kupingnya, karena tidak bisa menerima kenyataan. Nah, justru saya harus belajar lebih bijak dan santun dalam menulis. Tulisan saya terlalu “frontal”, ala orang Amerika. Ternyata ini tidak cocok dengan kultur Indonesia. Itulah sebabnya saya membuat blog, untuk belajar.

    Nah, saya perlu belajar dari mas Yockie untuk keberanian menulisnya. Kadang-kadang, tulisan mas Yockie ini “sadis” juga (dalam hal kejujuran). Ha ha ha. Tapi, gak buat orang sakit hati.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara