Judi

apes

Barisan panjang dari berbagai jenis persoalan , suaranya meringsek masuk melalui rongga telinga tanpa bisa dijaga , terpantau mata tanpa bisa dikelabui , menghantam kehidupan semua orang dan akhirnya menumpuk dalam ruang kalbu , seperti timbunan pekerjaan rumah yang kita tak pernah tau kapan akan mulai dikerjakan dan diselesaikan

Ada persoalan “kebejatan moral dan etika” yang dapat se-enaknya menginjak-injak kedaulatan harga diri dan mengobrak-abrik wilayah privat kita . (baca : industri informasi & infotainment dan sebagainya)

Ada persoalan kemiskinan dipelosok desa-desa yang sudah begitu banyak merenggut nyawa .(baca: orang-orang yang bunuh diri karena tak mampu memikul beban hidup)

Ada banyak korban setiap saat berjatuhan , akibat tidak adanya infrastruktur yang terjaga atau bahkan sama-sekali belum pernah ada.

Dan masih banyak persoalan-persoalan besar yang sedang menunggu dipintu masuk kehidupan kita . Ini persoalan nyata yang ada dipermukaan tanah , bukan diatas langit yang bisa dihadapi dengan wacana dan diskusi-diskusi berkepanjangan . Harus sabar ? Bukankah delapan tahun usia reformasi sudah menunjukkan bukti kesabaran masyarakatnya? Pada posting ini saya mewaspai datangnya sebuah bayang-bayang hitam yang sungguh tak kalah menakutkan , yaitu “kemiskinan absolute”.

Kecerdasan dan hati nurani/ke-iman-an , apa makna hidup menyandang predikat sebagai manusia apalagi sebagai sebuah bangsa , bila kita sudah kehilangan kedua-duanya.

Dan bagi kita yang masih memiliki daya tahan yang tersisa , tanpa kita sadari kita semua juga sudah dipaksa untuk melakoni hidup saling beradu , bersikut-sikutan antar satu dengan yang lainnya diruang-ruang perjudian nasib.

Sementara para pekerja yang kita percayakan dan kita gaji untuk mengelola negara ini , sepertinya merasa sebagai penguasa dan pemilik republik ini . Mereka masih sibuk dengan urusan pertikaian , pencitraan diri serta berlari-lari terpontang-panting memperagakan jurus “menangkis” perangkap korupsi.

Kita masyarakat ini , seolah-olah semakin sulit menemukan ruang pengaduan bagi perlindungan hak-hak sebagai warga-negara . Semua papan nama dengan judul-judul lembaga yang sah , ternyata lebih sering berfungsi sebagai kedok-kedok birokrasi “palsu” belaka.

Yang paling mendasar saja , anda kecopetan? silahkan lapor polisi , semua orang sudah tau jawabannya .

Hidup bukanlah judi yang sekedar bernasib baik atau bernasib buruk . Hidup adalah sebuah karunia yang harus dijalani dengan baik serta dijaga nilainya dan dipertahankan martabatnya . Menghargai hidup adalah mensyukuri akan keberadaan dan kekuasaan Sang Maha Pencipta .

Demikian juga sebaliknya bila tidak!

Saatnya untuk menengok kembali wajah kita didepan kaca , sudahkan anda berencana bagi tujuan hidup anda sebagai orang Indonesia ? . Saat pertanyaan ini saya tulis saya malu terhadap diri saya sendiri . Hati kecil berkata “saya seorang diri ..bisa apa saya” .

Diluar sana , berjuta-juta orang juga mempunyai jawaban alasan yang sama .
ahh..memble

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

5 Responses to “ Judi ”

  1. Memang begitulah keadaan kita. Tapi yang penting adalah tetap optimis untuk selalu berkarya. SEMANGAT!!!!!

    setuju! yukk semangat 45 mas ..(eh’ pake bambu runcing nggak ya?) :)

  2. Mas Yockie nulis:
    Saatnya untuk menengok kembali wajah kita didepan kaca , sudahkah anda berencana bagi tujuan hidup anda sebagai orang Indonesia ? .

    Kuke mikir:
    Jika aku menjawab, “YA..”.. efeknya mungkin masih butuh waktu panjang..
    Tetap OPTIMIS & SEMANGAT.. (seperti kata mr.Bambang).. begitulah semestinya, tapi ada satu hal.. minta ke TUHAN biar kita ga lelah sendiri d/ keadaan demi keadaan di sekitar.

    Dan aku pun mikir sebelum menjawab pertanyaan itu tadi.. apakah orang2 lainnya juga memikirkan tujuan hidup sebagai orang Indonesia?
    Bahkan sahabat-ku sendiri ga tau apa tujuan hidupnya selain.. “menunggu hidup adil menurut versi dia” :(
    *ceritanya lagi sedih sendiri*

    kuke, jangan terlalu banyak minta Tuhan . Dalam hati TUhan “nih..orang minta-minta melulu..!” :)

  3. Memang betul ‘optimisme’ ngga boleh pergi meninggalkan semangat kita Karena kalau sampai pergi kitapun menyalahi kodrat kita sebagai manusia.

    Point diatas adalah “masihkah ada diantara kita yang memikirkan rencana hidup dalam jangka panjang sebagai orang Indonesia? atau hanya sekedar pasrah mengalir mengikuti arus walaupun tak menentu arahnya , sambil berharap Tuhan akan segera mengirimkan tangannya untuk membantu kita?”

    [cobalah dengan hati yang tulus dan jujur kita tanyakan pada diri kita masing-masing , kalau anda berbohongpun anda hanya telah menipu diri anda sendiri.]

    Hukum alam mengajarkan bahwa arus sungai akan selalu mengalir menuju dataran yang lebih rendah.
    Apabila sekumpulan materi air diombang-ambingkan dalam sebuah bak besar , kemana harus mengikuti arah arus mengalir?

    Kembali saya setuju dengan optimisme , namun optimisme saat ini memerlukan sebuah gagasan besar untuk berani melakukan perubahan yang besar juga .

    Perubahan seperti apa? perubahan untuk kita berani keluar dari “bak besar” yang diombang-ambingkan tersebut.

  4. Mas Yockie nulis lagi:
    kuke, jangan terlalu banyak minta Tuhan . Dalam hati TUhan “nih..orang minta-minta melulu..!”

    Kuke nulis juga:
    :) ga sering2 kok..
    Aku kan ngerti.. Tuhan pusing d/ permintaan banyak orang..

  5. kadang lelah juga mendayung melawan arus … :( apalagi kalau sendirian, sementara melihat orang lain bisa leha-lehat di atas perahu yang mengikuti arus. perlu orang (meski di pinggir sungai) yang menyemangati.

    Mungkin maksud anda bukan melawan arus,ya mas . Karena arus kan tidak semuanya harus dicurigai berdampak buruk.
    Yang harus diwaspadai “jangan sampe’ kelelep” (baca:tenggelam) Lha gimana mau ngikutin? wong arusnya aja nggak menentu.
    (ngga ada arus , yang ada ombak liar)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara