Masih Ilusi

diparangtritis

Hari ini setelah sekitar enam bulanan saya ngeblog saya mencoba untuk mengevaluasi dimana ya posisi saya hari ini . Penting untuk saya mengenali ruang lingkup kehidupan saya agar ngomong dan mendengar bisa punya arti dan kontekstual dengan realita hidup saya sendiri . Setidaknya saya memahami dunia maya ini bukan alam mimpi disiang hari.

Disana ada orang berbicara , berdiskusi tentang masa depan dari perspektif masing masing profesi . Ada beberapa forum-forum yang ditekuni oleh beberapa orang yang memang ahli dibidangnya , dan menghasilkan bacaan menarik sebab alur bicara yang ilmiah dan konstruktif .

Namun keberadaan forum-forum diatas tersebut terbatas untuk dialog bagi para pakar dan intelektual terhadap sesama profesinya sendiri . Sementara disudut-sudut ruang browsing lainnya yang dihuni oleh banyak kelompok menengah , lebih banyak saya temui acara kumpul-kumpul “gaul” model radio amatir , 15 meter’an (cb) atau 2 meter’an (orari) jaman (1970’an)

Karena sifatnya lebih kepada sekedar kumpul-kumpul maka semua pembicaraanpun tak banyak yang bisa disimpulkan sebagai omongan serius . Jangan menilai saya tidak memahami paradigma blog dan sebagainya . Ini Indonesia bukan Amerika maupun Eropa saya hanya ingin memahami skala prioritas yang diperlukan bersama .

Mengapa jarang saya temui di dunia maya ini topik-topik mengenai kultur dan budaya . Hampir sebagian besar blog yang dipenuhi dengan komentator2nya , topiknya nggak jauh dari tema cinta lagu-lagu Indonesia . Kalau pun ada satu dua yang saya temukan , sungguh jauh dari perhatian kita semua (mungkin ngga menarik , katanya) Ada beberapa pembenaran mengatakan bahwa blog memang media: bebas , curhat , sangat pribadi seperti diary (buku harian pribadi)

Artinya kalau anda suka silahkan ngomong sekenanya , kalau ngga suka ya jangan ikut ngomong . Masa bodoh omongan anda bermanfaat atau tidak , pokoknya partisipasi yang mendekati gaya “rating” tv kita menentukan kualitas obrolan disana-sini .

Kita seolah menikmati rontoknya satu demi satu penyangga kehidupan kita ini dari panggung blog , sambil terus berteori tentang cita-cita yang tinggi dan sesekali kita ucapkan kalimat turut bersedih atas bencana dan musibah yang terjadi , sambil duduk didepan layar monitor yang menjadi teman berkhayal didunia globalisasi.

~

Ah persetan dengan modernisasi yang hanya melahirkan tempat untuk ngomong dan ngomong dan ngomong lagi yang nggak cuman di internet , enggak dialam realita sehari-hari . Hari ini “internet” tahun depan “ontornot” sepuluh tahun lagi “antarnat” , ya sama saja . Semua media teknologi yang ditemukan mustinya punya manfaat untuk bisa mencerdaskan dan membuat kita menjadi semakin jadi pintar . Bukan sok pintar seperti segelintir masyarakat yang sudah merasa high tehknologi yang kalau berteori serasa berada dipuncak menara paling tinggi , padahal mandinya masih nimba sumur (istilah:alm.Benyamin) dan listriknya juga byar-pet mati . Saya sarkastik ? mungkin juga dalam kondisi yang ngga waras seperti ini saya heran kalau masih ada orang yang suka berbasa-basi .

[ Evaluasi yang saya lakukan ini tidak melibatkan dan tidak mewakili blog yang memang sarana remaja berekspresi , seperti frienster dan lain-lainnya , itu hal yang berbeda]

~

Menjadi pintar itu artinya apa yang diomongin dan dibicarakan oleh orang lain bisa diaplikasikan secara nyata dan bermanfaat bagi kita semua . Jangan karena kita saling tidak tahu sebenarnya kita sedang bicara dengan siapa (nickname a sampai z) maka semua topik hanya berhenti “menggantung” pada tatanan wacana “debat kusir” selebihnya ramai dengan dongengan yang mengeksplorasi khayalan-khayalan absurd .

Tambah lagi semuanya itu semata dipahami sebagai konsekwensi globalisasi yang menuntut keterbukaan dalam berilusi mengeksplore naluri fantasi . Dan wajar untuk diikuti berapapun biaya pengorbanan harga diri yang harus dibayar oleh anak-anak kami nantinya .

Saya seniman bodoh , sama seperti mayoritas atau kebanyakan masyarakat yang tersebar dipelosok dan penjuru desa . Bedanya hanya saya punya komputer dan internet dan fasilitas lainnya sementara mereka sama sekali tidak memiliki .

Saya nggak “mudeng” dengan globalisasi versi pedagang atau tehnokrat industri . Yang kami minta globalisasi jangan meluluh lantakkan tradisi dan rumah kami dan yang kami pahami bila globalisasi merugikan dan hanya merampas hak-hak kami maka darah dan nyawa berjuta orang diluar sana , akan kami pertaruhkan bersama .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

17 Responses to “ Masih Ilusi ”

  1. mas JSOP ,

    Empuk..mentul-mentul alot..watos..!
    Empuk lagi..mentu-mentul lagi alot lagi..watos lagi..!

    Kalau musik itu irama “gayeng” yo mas.. :)

  2. Bagaimana ngga mau jengkel , sudah berapa lama reformasi ini berjalan ditempat . Dan mau sampai berapa tahun lagi jongkok terus ? Dari pengalaman yang sudah kita petik selama delapan tahun ini , semua orang juga sudah tahu kan seperti apa problem kita sebagai bangsa .

    Mau ganti presiden seratus kalipun , atau ada sepuluh orang seperti SBY ditambah sepuluh orang seperti Gus Dur ditambah lagi sepuluh orang seperti Mbak Mega masih ditambah lagi sepuluh orang seperti Habibie “pun” , juga tidak akan mampu menyelesaikan problem kita kalau masyarakatnya sendiri masih seperti ini. Problem utama kita kan ada di level kemauan masyarakat secara bersama untuk mau “merdeka” dalam pengertian yang sesungguhnya. Kecuali ada seorang lagi seperti Pak Harto dengan tangan besinya , apa memang harus setback seperti itu lagi?

    Apa bisa dengan kondisi penuh ketimpangan seperti ini segelintir orang dibiarkan menjadi kaya raya atas nama demokrasi misalnya , bukankah jurang kesenjangan sosial yang akan semakin lebar tercipta?

    Apa bisa segelintir orang berpolitik mengatasnamakan rakyat yang ngga tau apa-apa , kecuali hanya sekedar diberi kaos seragam dan uang jalan perlima tahunan sekali? Dan itu semua dibiarkan terus berlangsung tanpa kita tau kapan berhentinya .

    Apa bisa atas nama tehknologi dan globalisasi mengikuti alur pikiran segelintir orang yang berkehendak bahwasanya kita harus berpikir seperti orang Amerika misalnya? agar kita menjadi masyarakat global . Lalu mayoritas orang miskin dan yang masih ngga tau apa-apa itu mau di kemanakan nasibnya? suruh mati saja?

    Sekali lagi saya bukan siapa-siapa , mungkin satu dari sekian banyak orang tolol di Indonesia ini . Namun saya merasa mengerti hak-hak saya sebagai warga-negara , bahwa Bangsa saya akan bisa keluar dari kemelut besar ini apabila dilakukan secara bersama-sama .

    Bagaimana caranya supaya bisa bersama-sama?
    Otak dan jalan pikiran untuk maju harus dilakukan bersama juga. Disini pendidikan adalah faktor terpenting untuk membuat manusia bisa merasa merdeka dan mempunyai hak hidup serta tanggung jawab kepada sesamanya .

    Kalau hanya dengan pendekatan pragmatis , yang pintar akan semakin pintar namun dia akan kesepian dibelantara ilmunya , dan akhirnya ngga berguna bagi bangsanya kecuali bermanfaat bagi orang lain . (kerja di perusahaan asing)

    Demikian juga yang kaya akan tambah semakin kaya , namun juga akan memicu berbagi sorot mata dendam yang sedang menunggu waktu kapan “aksi” akan segera dimulai .

    Hari ini saya sebal bukan kepalang ! juga pada diri saya sendiri karena merasa memiliki keinginan yang juga tak terpenuhi .

    Kita semua disini (dibeberapa forum diskusi2) adalah barisan kaum elite yang seolah merasa mampu bisa mengentaskan kemiskinan dan kebodohan tanpa melibatkan persoalan sehari-hari yang konkrit dimasyarakatnya .

    Sebuah hipotesa yang “nonsens”

  3. INDONESIAKU.

  4. Ya, Indonesiaku juga mas

    Sekarang ini perilaku individualistik sudah semakin menjadi-jadi.

    Lalu-lintas semerawut , dibilang kelakuan orang lain
    (padahal kita sendiri juga sering terpancing berbuat serupa)
    Meningkatnya angka kecelakaan dijalan secara beruntun dibilang diluar dugaan .

    Bencana alam dibilang kodrat malahan mungkin kehendak Tuhan .

    Televisi dan infotainmentnya dibilang hanya ulah oknum jurnalis yang nggak jelas.

    Koruptor dan aparat negara yang nyeleweng juga dibilang segelintir perilaku oknum yang menyeleweng .

    Politikus busuk dibilang “biasa.. ini proses belajar berdemokrasi”
    Kalau proses belajarnya cuman merugikan keluarganya sendiri sih ndak apa-apa.

    Mas , itu semua yang diatas sudah bukan “oknum” atau “sekedar-sekedar” saja ,
    itu adalah POTRET WAJAH KITA sendiri. Karena sudah menjadi seperti sebuah sistem dalam hidup kita .

    Sudah bukan saatnya lagi untuk berpaling ngga mau tahu serta menutupi borok yang busuk disekujur tubuh kita .
    Waktu semakin menipis untuk bisa digunakan berobat dan saling mengobati , sebelum benar-benar mati. Kalau ada yang masih nanya caranya gimana ya semua orang diajak untuk berani menatap cermin dirinya sendiri.

    Dan semua orang itu ya seluruh masyarakat Indonesia “pendidikannya” dipenuhi . Karena orang bodoh tidak akan tau dan menyadari kalau dia sedang sakit . Tahunya kalau lapar dan dihina .. pasti mereka akan mengamuk!

  5. Lho mas ,

    Jangan marahi aku..
    sing sabar atuh..

  6. hehehe , anda merasa dimarahi ya?
    Padahal saya sedang memarahi diri saya sendiri mas!

    Ada gempa di Jogya saya ngga bisa berbuat apa-apa , ada lumpur di sidoardjo saya juga ngga membantu apa-apa ,
    ada anak-anak ngga bisa sekolah sampai bunuh diri saya juga ngga berbuat apa-apa …Apalagi satu demi satu teman-teman seusia saya sudah ngga ada . Saya merasa masih memiliki waktu untuk lebih berguna tapi kenyataan dan kesempatan yang diharapkan rasanya semakin hari semakin sulit ditemui. Saya dihadang dengan arogansi dan kecongkakan materi .

    Sementara saya melihat yang berkemampuan membantu mereka (yang punya duit dan fasilitas) adalah “mereka-mereka” yang punya kepentingan dibelakang harinya . Nasib orang-orang yang tertimpa bencana kini digiring masuk kemulut “buaya”

    Kalau ngomong saja saya sudah tidak peduli , entah seperti apa siksa neraka untuk seniman seperti saya , yang sering mengatakan ingin mewakili keberadaan mereka.

    Maaf mas, bukan marah ke sampeyan . Cuman berusaha mengurangi beban dalam diri saya sendiri .
    (*eh siapa tau ada juga dosa saya yang diampuni*)

  7. Kemarahan yg ber-tubi2 …..blog ini seperti katup pelepas.
    Surat kabar ‘Koran Tempo’ hari ini ada judul berita
    “Kemarahan Sujiwo Tejo”, isinya….? Dia sudah tidak percaya pada demokrasi. Demokrasi tdk ubahnya seperti klenik atau hal yg mistik di Indonesia.

  8. Ya. mungkin akhirnya bisa dipahami menjadi seperti demikian . Bagi saya demokrasi itu seperti petuah atau nasehat yang dilakukan ibu kita semasa kita kecil .

    “Sudah jam 14.00 nak , ayo..bobok siang,jangan kluyuran”

    Padahal maksudnya supaya kesehatan kita terjaga dan kita tidak melantur bergaul ke-mana-mana .

    Sebuah aturan yang memuat filosifi kesehatan bagi jasmani juga. Jadi selama aspek filosofinya terpenuhi maka aturan tersebut menjadi baik .

    Tetapi bila aspek filosofinya tidak ada , ya..itu cuman perintah dari ibu kita yang semaunya sendiri .

  9. Sebuah aturan yang bisa dijelaskan alasan serta manfaatnya , (dipertanggung jawabkan-lah istilahnya)

    Kurang lebih seperti itu kan mas, kalo demokrasi hari ini apanya yang bisa dipertanggung jawabkan mas. Rame2
    pawai dijalanan dengan baju yang seragam.

  10. 1. Berseragam rame-rame turun kejalan , ini sudah sesuatu yang aneh dari pemahaman demokrasi .”Demokrasi koq ditampilkan dalam bentuk yang seragam?” . Supaya rapi? lho.. kerapian koq dilihat dari simbol , demokrasi bukan barisan simbol yang bisa dikoordinasi , tetapi pemahaman akan sebuah kesepakatan demi tujuan yang baik bagi bersama . Bukankah adanya didalam ruang-ruang kesadaran manusianya? Pernah ngga sampeyan lihat diseluruh dunia , dinegara-negara yang lebih maju partainya berbondong-bondong dijalanan berseragam seperti yang terjadi di Indonesia. (warna-warni kaya pawai sirkus) Bahkan ada yang matanya melotot “galak” kalau ngga diberi jalan .

    2. Maaf, tapi yang sudah-sudah “dipertanggung-jawabkan” itu maksudnya , kalo kita menang pemilu pasti bisa dijamin posisi serta jabatan sampeyan nanti. (lha.. ini kan seperti orang nyari pekerjaan?)

  11. wah mantep tulisannya, bener-bener melukiskan gambaran yang ada. salut. saya menikmati tulisannya.

    terimakasih mas freddy

  12. Ketika pendidikan elite lebih menjadi pujaan, bagaimana bisa tercipta pendidikan massal yang baik ? Kampus/sekolah yang mencoba melakukan pendidikan massal yang murah malah dicibir, kampus/sekolah yang memberikan pendidikan elite malah dipuja.

    Jadi ndak heran kalau tetep masyarakat jadi botol :-) Pendidikan baik hanya ada untuk kaum elite (minimal itu yang dicita-citakan, lha cita-cita aja udah seperti ini gimana lagi pelaksanaanya).

    Sedih ya bung JSOP ?, Maaf lagi sibuk jadi tidak bisa ikut-ikutan sedih dan marah.

  13. he..ngga apa apa bung IMW , jangan semua orang yg marah2 , udah bagus jujur ngga bisa ikutan comment “quota partisipasi”.

    Dulu swasta diharapkan mempercepat menciptakan ruang pendidikan yang merata , sekarang?

  14. Dengar , ada suara terkekeh-kekeh mentertawakan sesuatu yang dianggap lucu .

    Ada jeritan meraung-raung dari sanak keluarga yang salah satu saudaranya didakwa hingga masuk penjara.

    Masih mending daripada sejumlah lainnya yang sudah tidak kebagian ruang untuk berekspresi serupa .

    Sudah terlalu banyak orang tertawa , sudah terlalu banyak orang bersedih dan akan semakin banyak lagi jumlah yang sudah tak mampu memiliki kedua-duanya.

    Lalu hari ini sebuah media terkemuka dalam tulisan “Budaya” mengupas ramalan Jayabaya . Sebuah tanda-tanda kebangkitan kembali bangsa kita , ujarnya .

    “Semakin lesu aku membuka kolom lain dibuatnya”

  15. Swasta, jadi perahan :-) Bung JSOP. Masyarakat sekarang makin meminta kampus itu jadi lembaga kursusan. Tak perlu pelajaran budaya utk orang teknik, tak perlu pelajaran bahasa untuk orang teknik. Katanya kalau belajar teknik ngapain diajarin pelajaran sosial.

    Jadi kampuspun dalam posisi sulit. Diberikan nanti dikecam membebani mahasiswa, tidak diberikan sebetulnya juga kurang lengkap.

  16. Seperti yang diucapkan Rendra :

    “Industrialisasi atau tehnologi yang dilakukan tanpa melibatkan humaniora hanya akan menciptakan ketegangan-ketegangan”.

    Rupanya kebijakan yang meruntut dari perjalanan peradaban manusia itu sendiri , tidak pernah dipikirkan . Seolah-olah kita bisa menciptakan kualitas-kualitas genius seperti bangsa-bangsa eropa atau amerika dengan metoda “jalan pintas” made in Indonesia.

  17. Bung IMW ,
    Kalau pelajaran sosial budaya memang sudah muncul serta terjaga dengan sendirinya , mulai dari perilaku kita didalam sebuah keluarga , lalu keluar rumah dan menjadi perilaku masyarakatnya , lalu keluar kampung menjadi perilaku bangsanya .

    Maka memang terasa membebani mahasiswanya bila masih dijejali lagi dengan pelajaran ilmu sosial . Dinegara maju pelajaran sosial memang cukup disandarkan pada paradigma perilaku masyarakatnya yang dijaga oleh undang-undang , dan semua itu sebuah proses panjang yang akhirnya dirumuskan dalam konstitusinya .

    Sangat keblinger kalau Indonesia sekedar mengadopsi metoda kurikulum pendidikan masyarakat modern tapi tanpa mengabaikan makna sosial didalam kandungannya.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara