Introsipkesi

jsoptiwie

[Saya hari ini 52 dan istri 48]

Pengalaman berharga sepanjang hidup adalah kemampuan untuk mengenali diri sendiri Sering hal tersebut tak terabaikan karena kuatnya dorongan untuk mengembangkan kapasitas yang sudah kita miliki sehingga melahirkan kabut ego besar yang menutupi mata hati.

Obsesi diri tersebut adalah sesuatu yang tak mungkin kita hindari sesuai hakekat kita dalam hidup yang dibekali kecerdasan untuk mengembangkan bakat dengan sebaik-baiknya.

Dalam perjalanannya manusia tetap manusia bukan mahkluk berkadar “Nabi apalagi Malaikat” , tak ada orang yang mampu menghindari kecacatan atau kelemahan kodrati tersebut . Suatu saat seorang ulama mencerahkan jiwa saya , dari pembicaraan yang menyangkut makna kehidupan duniawi ini dia memberikan berbagai pendapat serta ungkapan-ungkapan filosofis dalam ajaran agama tentang fungsi dan kewajiban kita memerankan tubuh (fisik) dan otak serta hati nurani .

Akhirnya ada beberapa kesimpulan yang dapat saya petik sebagai hikmah dari catatan perjalanan saya dari semenjak saya kecil hingga dewasa saat ini . Allah Maha Pengasih serta Maha Pengampun dan Penyayang , semua orang pasti terbiasa mendengar kalimat-kalimat tersebut , termasuk saya . Tapi sebenarnya baru beberapa tahun terakhir ini saja saya dapat memahami makna yang terkandung dalam kalimat tersebut .

Catatan perjalanan hidup saya : dimasa saya remaja dunia kelam adalah bagian dari kehidupan saya .Pada tahun 1970 an disaat anak muda baru mengenal Morphin untuk dihisap / dicampur dalam tembakau bersama rokok , saya sudah menggunakan jarum spet untuk langsung menyalurkan ke pembulu darah nadi saya (alat suntikannya adalah jarum suntikan untuk ayam sekali pakai dan dijual bebas di apotik2) .

LSD sampai cocain adalah teman akrab saya . Bukan hanya urusan stone dan fly me to the moon yang saya jalani , urusan dengan pihak berwajibpun sudah jadi langganan saya . Saya pernah dijebloskan dalam penjara gara-gara urusan ini , dan salah satu yang menjebloskan saya adalah keluarga Roesli yang notabene orang tuanya almarhum Harry Roesli sahabat saya sendiri .

Hal tersebut dilakukan karena rasa cinta mereka pada saya dan juga karena kejengkelan sebab “cincin” emas warisan Alm.Marah Roesli (kakeknya alm Harry Roesli) saya colong (tepatnya saya samber ketika diletakkan dimeja belajarnya Harry R) lalu saya jual dipasar(toko emas) untuk apalagi kalau bukan untuk begituan . Saya pernah benci dan dendam mati-matian pada Remisilado karena menulis kisah tersebut besar-besar dikolom Majalah Aktuil . Judulnya kira-kira “Yockie S mencuri cincin untuk Morphin” . Paling tidak satu kota Bandung membaca !
Namun sekarang kalau ketemu dia saya berterimakasih padanya karena kepeduliannya yang turut memperkaya pengalaman saya . Akhirnya ditahun 1975 saya mampu quit dari kesenangan tersebut dan pindah kealam kesenangan yang lainnya , Cognag . Saya mampu mengkonsumsi dua botol VSOP dalam sehari , anda tak percaya bukan? silahkan anda tanyakan pada orang-orang yang pernah menjadi bagian dari pergaulan saya disaat itu . (Insya Allah yang masih ada) .

Disaat itulah penjelajahan saya pada dunia “wanita” mulai digalakkan hehe.. maklum waktu jadi junkies ngga doyan perempuan . Tahun 1980 saya menikah , sayang pernikahan tersebut tidak mampu saya pertahankan , empat tahun selama itu lahir dua anak saya tercinta lelaki dan perempuan . Tahun 1987 saya menikah untuk kedua kalinya hingga Alhamdullilah sampai sekarang , lahir pula dua anak tercinta berikutnya lelaki dan perempuan juga.

Dongeng diatas saya ceriterakan pada semua yang mungkin mampir di blog ini semata-mata hanya bertujuan “introspeksi pada diri saya sendiri “ agar saya diingatkan dari naluri kesombongan , juga bahwa saya adalah manusia kotor seperti makhluk yang kotor lainnya . Karena itulah saya kemudian bisa memahami makna kalimat “Tuhan Maha Pengasih serta Maha Pengampun” . Sungguh saya merasakan Anugrah yang diberikan pada saya.

Berani berkaca melihat buruk rupa diri sendiri , berani menerima dengan ikhlas segala kelemahan diri sendiri dan berani kumenantang masa depan karena berbekal suatu keyakinan yang lebih pasti .

Itulah yang ingin saya lakukan bagi sisa-sisa hidup saya sekarang ini .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

23 Responses to “ Introsipkesi ”

  1. Mas saya pikir mau ikut2an narsis , majang potret guwede2 hehehe :)

    Oo..Wallahh semacam pengakuan tho ini.. “TABIK” mas.

    Mutiara adanya di keruhnya lumpur , bukan di etalase yang bening.

    Salut (tapi saya jng sampeyan minta kaya gitu ya, iso dipegat aku ambek ujub)

    jiancuk ane’..awak2 gek serius ‘ki.. mikirno negoro !
    (*gayane’ wes koyo pak SBY gurung)

  2. Blaass ora mas hehe..

    Tapi kulo tetep kagum ambek njenengan , ngga pernah jualan wangi2an justru yang busuk sampeyan obral :)

    Aku mau insap nanging isin hehe .. piye yo carane’ ajarono aku kang!

  3. haiyah..sopo sing wangi? kentut sampeyan toh yang wangi?

    nah kalo sampeyan mau diajarin carane’ insap ngene’ mas..:

    Waspadai perilaku lan lambe’ , begitu sampeyan dipuji dan ngrasa pinter itu artinya sampeyan sedang mengakui kebodohan sampeyan sendiri hehe, manjur deh..coba aja praktekin.

    Kalo saya? emang bodo beneran , bodo tapi jujur hehehe..daripada keminter marak’ake’ keblinger. Iso kejebur sumur muter-muter ..hhaaiss..!

  4. bos… sorry..emang jaman dulu.. rock itu dekat dgn drugs and sex ya??

    trus ..moment apa yg menjadi titik balik dan langkah awal memulai hal baru ??

    btw, salut ama samperyan !! gak cuman ngomong apik-apik tapi sing uueellekk jg dikupas..

    thanks

    sampeyan punya cerita busuk ngga yang istri belum pernah denger ..
    kalau ada ceritain deh.. asyik Ben , kita bisa “jebrol… kaya bayi lagi” hehe :)
    ngamuknya cuman sebentaran koq , abis itu serasa bulan madu dengan sapatu dari kulit rusa..hahaha
    (kaya lagunya Oom Rinto Harahap) asal jangan “pulangkan aku pada kedua ortu” :(

  5. Inilah yang membuat saya salut dan respect dengan mas Yockie. Terbuka. Luar biasa. (Makanya blog ini masuk blogroll saya.)

    Tapi … (kok ada tapinya?) saya masih ingin baca tulisan (atau pengalaman hidup) mas Yockie dalam sebuah buku. Saya yakin banyak yang menanti ini. Mungkin blog ini merupakan langkah awal?

    hahahaha… komporin terusss , bisa aje’ nih pak dosen , stock LPG masih banyak rupanya , kenceng deh’ nge “jos” nya. :)

  6. tuh mas, dukungan bikin buku semakin deras. Sudah waktunya dimulai… atau jangan2 malah sudah dalam proses???

    hehe dukung mendukung nih yeee’ ..kaya mau bikin partai aje Bung Syafiq.
    Apa kita bikin yuk .. parte’ imposibel , ketua umumnya Iwan Fals wahh..wess cocok temenan!

  7. @Benni , rock drug & sex ?

    Sampai 1973’an memang perilaku anak-anak band khususnya band rock memang demikian , tapi ada juga band rock yang ‘clean’, kelompok Benny Soebardja misalnya , juga beberapa lainnya .
    Soal free sex memang saya akui itu adalah impact negatif dari woodstock (flower generation)yang nular kemari.Dulu hal-hal semacam itu hanya kalangan elite yang terlibat , masyarakat bawah belum tertular . Lalu awal tahun 80’an baru saya lihat gejalanya sudah memasyarakat umum.

    Namun tetap ngga fair kalau hanya diidentikkan dengan anak band semata. “Anak gaul” lebih tepatnya , karena jaman dulu ngga ada infotainment maka kesan anak gaul hanyalah golongan yang dekat dengan musik saja. Padahal banyak juga groupis2 atau penggembira2 bukan musisi yang terlibat . Banyak yang sekarang jadi pejabat tinggi hehe kalau ketemu saya “main mata” . TST deh :)

    Tahun dimana album Huma diatas bukit dibuat , itulah moment saya mengucapkan selamat tinggal “spet”.
    Ben, anda kan pemeluk Nasrani ya? nah rasanya lega ya..bila sampeyan usai menyampaikan pengakuan . Mungkin seperti itu yang saya rasakan .. “plong” saya terbebas dari beban simbol-simbol yang diletakkan diatas pundak . Saya bisa bebas menyapa tukang sapu yang tiap pagi membersihkan jalanan kompleks didepan rumah , supir taxi sampai anak-anak muda yang kebetulan kenal saya bila ketemu di public place .

    @mas Bud, Berat kan rasanya kalau ada orang respect pada anda , dimana mereka menilai anda sampai berlebihan? (bisik hati kecil pada kita)
    Menjadi “nol” atau meng-nol-kan diri itu kenikmatan yang luar biasa . Kita bisa memetik pelajaran yang munculnya tak terduga-duga . Saya sedang menjalani proses belajar yang tak ada henti-hentinya .

    Tapi ya tetap saja , saya manusia yang ngga mampu sempurna mengatur lalu-lintas emosi dan kehendak nafsu . Apalagi bila bersinggungan dengan masalah kehidupan yang sedikit banyak saya sudah pernah melewatinya . Acapkali saya meletup-letup meskipun seharusnya tidak harus demikian caranya .

    Ulama yang saya ceritakan diatas mengatakan :
    Jangan sekali-kali kita berkeinginan berperilaku seperti Nabi atau Malaikat . Karena bukan untuk itu Tuhan menciptakan kita . Berbuatlah kebaikan katanya ,nah ..kebaikan itu sendiri bila ternyata kita salah dalam menterjemahkannya maka akan selalu ada “ampunan” disana , ujarnya .

    Jadi menurutnya : “jadilah manusia yang manusia” ,
    ngomongnya sih gampang ya mas , tapi ya harus dicoba terus.

    @bung Syafiq , wah saya kemaren mampir di blog sampeyan , baru tau ternyata anda dulu aktivis juga toh? :) (postingan anda “sahabatku yang hilang”)

  8. Sebenernya lebih efektif mana yah, menulis kisah hidup dalam blog (media pribadi) atau berupa buku yang dipublish dengan tetap memperhatikan unsur komersil (paling ngga kan biar balik modal kali…)

    Menyampaikan via blog kaya gini rasanya lebih bebas & ga ada yang ngatur.
    Kemungkinan besar, emosinya bisa dapet (halah, kaya apaan aja !)
    Tapi bukan berarti kalo dengan buku otobiografi ga bisa sih…
    (hehehe, kaga ngarti proses pembuatannya soalnya)

    BTW mas Jockie,
    pada periode hidup yang anda ceritakan, mungkin bagi sekelompok orang anda dianggap sebagai pahlawan mereka karena dapat merepresentasikan sikap yang “mereka” anggap benar.
    Sebagian dari mereka mungkin saat ini juga sudah “ber-introsipkesi” seperti anda.
    Tapi bukan tidak mungkin sebagian lagi “masih seperti yang dulu” (kaya lagunya sapa yah..)

    Contoh di era lainnya adalah Kurt Cobain.
    Bagi sebagian orang, ia tetap dianggap tokoh fenomenal yang terus di-elu-kan karena menjadi simbol anti-kemapanan tea-lah, tapi untuk sebagian orang lainnya dianggap sebagai loser karena akhirnya meninggal karna OD ;-)
    blom sempet introsikepsi dia… kasian yaaa…

    Jangan sampai ada yang membenarkan perilaku seperti saya remaja dulu , apalagi menjadikannya sebagai “pahlawan” . Wah bahaya mas…bukan itu tujuan saya . Saya pernah busuk , saya pernah asosial dan lainnya , kalau hari ini saya berbicara tentang nilai-nilai ideal bukan karena saya ngga berkaca dari masa lalu yang kotor tersebut . Justru karena saya ingin berusaha menjadi lebih baik dari masa lalu yang kotor. Nah.. agar saya tahu bahwa saya sedang menuju ruang yang lebih bersih .. maka saya harus menyadari juga ruang kotor yang pernah saya lalui .

    Kurt Cobain , sebuah tragedi kehidupan .., tokoh generasi setelah era saya yang saya kagumi .

  9. menjadi tua itu keniscayaan, muda itu pilihan… hehehe … selamat, sam. :D

  10. Sepertinya saya sedang melihat Frank Sinatra mempuisikan ‘my way’

    And now, as tears subside, I find it all so amusing…
    To think, I did all that, and may I say, not in a shy way
    Oh no, oh no not me, I did it my way

    haha..kalo anda merem bisa terbayang Frank Sinatra .
    begitu melek? Franky Sahelatua :)

  11. umumnya, hanya kita dan pecipta-NYA saja yang tahu kebobrokan diri.

    memang mas.. tapi “kita” juga sering lupa lhoo :)
    kalau “Dia” mah..ngga perlu memory apa ram / pentium berapa

  12. Wah enak kalau “Muda” itu adalah pilihan sementara “TUA” adalah kenisyacaan.
    [kutipan dari ndoro kakung]

    Kalau tau bisa begitu semua orang akan milih muda terus , selama peradaban kita selalu berpihak dan digerakkan oleh yang muda-muda saja . hehehe :)

    Kalau saya memahaminya , hidup adalah kumpulan dari lorong-lorong persoalan .

    Ada banyak persoalan lorong antara lain :

    lorong balita ,

    lorong kekanakkan ,

    lorong remaja ,

    dan lorong dewasa dan menjadi tua

    serta mungkin lorong-lorong celah diantaranya .

    Kita akan diwajibkan berfungsi optimal dalam menjalani lorong dimana kita sedang berada . Bukankah begitu ? (koreksi saya bila saya salah)

    Persoalan kita dewasa ini sebagai sebuah masyarakat atau sebuah bangsa adalah persoalan ”hidup” yang notabene akumulasi dari persoalan lorong-lorong diatas tersebut.

    Persoalan bangsa bukan hanya ”sepotong persoalan lorong balita” atau ”sepotong lorong persoalan orang tua” saja , tetapi persoalan lorong-lorong semuanya .

    Sebuah kesatuan lorong-lorong persoalan yang tak bisa dipenggal-penggal.

    Hari ini saat kita dihadapkan pada persoalan perut dan akal , disaat yang sama kapital atau materi seolah-olah menjadi satu-satunya yang bisa menjawabnya maka yang berdaulat atas kekuasaan penuh saat ini ya.. sang hegemoni global itu sebagai representasi dari orang-orang yang memang punya duit banyak alias ”kaya raya” .

    Mereka pasti bersuka cita bila menemukan ladang garapan baru yang ”fresh” dan menjanjikan prospek ekonominya , tidak cuman di Indonesia tapi ya dimana saja , diwilayah mana saja yang mereka bisa lakukan. Bukankah begitu?

    Apalagi ironisnya kewenangan kapital di Indonesia tidak disertai dengan rambu-rambu sosial yang memadai sebagai lembaga pengawas dan pengiringnya . Maka yang terjadi adalah kesewenang-wenangan kapitalis yang bergerak dengan leluasa dengan berlindung dibalik segala undang-undang yang sangat minim dan terbatas dengan segala pembenarannya .

    Pada saat kapital hanya menggunakan ”lorong remaja muda usia” sebagai pintu utama untuk menggerakkan roda ekonominya , maka masyarakat yang tercipta adalah masyarakat yang memahami bahwa : ”bayi , kanak-kanak serta orang yang sudah tua” tidak ada gunanya dan tidak punya peran apa-apa. Hanya bendera dengan pendekatan remaja muda yang boleh berkibar setinggi-tingginya.
    Hanya mereka yang masih ”sah” dianggap orang muda yang berhak mewakili jamannya .

    Tapi apakah persoalan hidup apalagi kalau melebar ke-persoalan sebuah bangsa , hanya sebatas persoalan ”lorong orang muda?” . Bukankah kita dengan sadar sedang menjalani proses ”keblinger” yang menyesatkan ?

    Bukankah begitu? Tolong koreksi saya bila saya salah .

    Pada posting ”Trotoar jalanan” sudah saya tulis dengan segala kenaifan dan kebodohan saya mengenai kesalahan fatal bangsa saya sendiri .

    Tidak pernah menghargai apalagi menempatkan sejarah masa lalu sebagai batu berpijak untuk menapaki langkah kaki menuju masa depan .

  13. Makasih mas sudah mampir ke tempatku. Dulu sempat nyerempet2 ikut ngamuk :). Cuma katanya agak kelewatan keras ngamuknya :(.
    Dan semakin tambah usia, kadang juga malu inget masa lalu. Kok rasanya umur2 segitu kita seperti jadi berani sekali ya? seperti jagoan :).
    Kalau sekarang mungkin malah kurang atau malah gak ada keberanian untuk melakukan seperti yg dilakukan pada masa lalu… apapun itu…

    hehe.. mungkin bentuk sikap perlawanannya yang berbeda , bukan ngga berani lagi.. :)

  14. selamat mas…

    maturnuwun

  15. aku salut ama mas yockie berani blak2an masa lalunya yan kelam, btw aku dah tahu krn aku dah baca di aktuil waktu itu.beliau masih bertemenan ama mas dedy stanzah yang juga junkies juga.masa lalu adalah sejarah yang harus disikapi untuk melangkah kedepan.kau masih punya album huma diatas bukit mas.apike pol dan bisa bikin awet muda.matur nuwun

  16. heheheh.. terimakasih mas “eyangebaby” wah hebat anda sudah punya dua generasi turunan ya… saya belum mas , masih lumayan jauh :)

    Album HDB versi kaset , baru dikirimi beberapa waktu yang lalu sama temen (kolektor) . Cengangas-cengenges dengernya mas..ingatanku langsung digiring pada orang-orang std. seperti Yongkie Mamahit , Alex Kumara dan juga Akwang (sekarang pemilik Mata Elang ya?) dijaman kuda gigit besi.

  17. :) Kata seseorang, tiap kejujuran itu justru membuat manusia jauh lebih bernilai, Mas..

  18. salut bgt ama Oom Jocky bs memberikan ceritanya ke masyarakat luas tenang hidupnya, jarang sekali musisi yang ingin meceritakan masa-masa kelamnya kecuali dalam keadaan darurat (ke sorot media maupun mau mati.. hehehehehe…), palingan walau pun ada yang membicarakan itu, tdk 100% mereka bicara yang real.. tapi aku yakin akan kehidupan Oom Jocky yg sekarang, berkarya tanpa henti… mati akan menjadi seniman… hahahahahaha… (norak ya bahasa ku Oom…)

  19. Beno! thanks ya , nah sekarang coba kamu ulangi lagi maksud dari tulisan comment kamu diatas , namun dengan gaya tulisan dan bahasa anak sekarang layaknya . Coba ketik ulang ..

    (Tren berkomunikasi jaman sekarang cenderung mengabaikan tatanan subyek/obyek/predikat dan lain-lain . Sebab itu saat harus menulis dalam ruang yang lebih formal terkesan kebingungan mencari kata-kata . Begitu juga pada saat berbicara dengan pihak lain yang berkesenjangan usia , garis dimarkasi sudah tercipta padahal kalimat belum tuntas terucap .)

    Sebuah introspeksi lain lagi bagi kita semua .

    Namun disisi lain , seperti kalimat dibawah ini :

    The important thing to remember is keep it simple by using every day words. There is no need to use clever words just because it’s a website, no more than it pays to use clever words in advertising, publicity or any other communication medium. Talk to your target audience as they’d expect to be spoken to…and remember…at the end of the day, we’re all human beings and not robots who expect some tech talk approach.[Tim Reid ]

  20. wahahahaha… okay… gw salut banget ama kehidupan sehari-harinya Oom jocky, coba aja sekarang liat artis yang lain, klu ke gap ama polisi klu nggak ama wartawan baru deh ngomong, yang sok punya temen nya lah klu nggak ngaku tapi yg langsung sok tobat.. yang ada bullshit doang mereka… paling-paling keluar penjara masih icip” walaupun dikit.. hehehehehehe…. apa lagi gw tau banget kehidupan Oom jocky yang sekarang kaya apaan… hahahaha.. 24 jam hidupnya cuma buat seni ama blog ini… wakakakakakakaka… dan gw yakin bgt neh Oom jocky bakal mati dengan titel seorang seniman handal… nggak kaya yg lain.. yg lain mah nothing… wakakakakakaka…

  21. hehe..begitulah , cara dia menyampaikan pendapatnya , terasa lebih lugas tidak seperti orang kebingungan . Yang bingung adalah kita , bila tidak memahami pola & cara mereka menganalisa permasalahan lalu mengeluarkan pendapatnya . Inilah mungkin yang dimaksud dengan perubahan nilai yang sedang terjadi . Saya memahaminya bukan sekedar gaya atau tren seperti jaman dulu saat ada istilah bahasa ‘okem’ , makan jadi mokan / malu jadi mokal / atau pulang jadi poskul dan lain-lainnya lagi .

    Penggunaan kata dalam sebuah kalimat se-hari-hari yang dulu ditafsirkan sarkastik , belum tentu saat ini dipahami serupa. Kalimat yang terbaca sinis / menuduh dan pesimistik belum tentu juga mencerminkan perilaku yang fatalistik . Dan belum tentu juga bermaksud kasar atau tidak hormat pada orang lain bila muncul bahasa-bahasa yang frontal & agresif , makanya sah-sah saja kalau dia menulis “klu om yockie mati….dst….dst..”

    Inilah hasil olah dari mesin budaya yang sedang berlangsung terus dijaman ini . Benarkah ini semua sebuah keniscayaan yang memang sudah harusnya terjadi? (menyingkirkan value yang dianggap hanya kelengkapan dari basa-basi ala timur serta dianggap hanya menghambat percepatan proses modernisasi )

    Belum tentu juga …*saya musti konsultasi ke sosiolog*

    Lalu apakah ini sebuah kekeliruan yang sudah pasti ? karena budaya urban sudah bergerak dengan cepat menyingkirkan nilai-nilai budaya tradisi (lokal) Karena merekapun memahaminya sebagai keniscayaan yang tak bisa dihindari ?

    Belum tentu juga…., kita tidak bisa menghakimi begitu saja proses yang sedang berlangsung dan sedang terjadi . Namun satu hal yang sudah pasti , mengapa kita tidak pernah merasa “peka” untuk mencermati segala sesuatu yang sedang terjadi ? Peka yang saya maksud adalah kepada lingkungan kita terdekat atau diri sendiri (anak – atau lain-lainnya) Saya justru melihat banyak orang-orang tua yang malahan berbicara dengan gaya yang dipaksa-paksakan seperti anaknya . (kompas hari ini menulis : “oke tengkyu ya….” dst.)

    Seolah-olah semuanya biasa-biasa saja , tidak ada yang perlu dirisaukan , tidak ada yang perlu dikhawatirkan , diamkan saja / biarkan saja padahal dihalaman dibelakang bolduzer semakin dekat menuju pagar rumah . Atau malah sekarang sudah diberandanya ?

    Kritis , peka , sensitif …rasa ini semua yang semakin menipis . Akibatnya seperti yang sering kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari . Bahasa komunikasi yang nggak nyambung antar dua generasi . Lalu bagaimana bisa saling berkonsultasi secara efektif bila kalimat sebagai bungkus sebuah kepentingan berbunyi tak sama .

    Selebihnya tulisan terakhir Beno yang terkesan memuji saya harap mohon dimaklumi , soalnya keponakan sendiri .. jadi wajar kalau membangga-banggakan om ya sendiri :)

  22. mas dia itu anakya mas Imran Prambors?

    biar dia yang jawab sendiri ,
    ayo Beno jawab tuh .pake’ bahasa Indonesia yang semua orang bisa ngerti / jelas , lugas dan tuntas hehe.. :)

  23. wakakakaka.. iya benar sekali Oom Sultan.. hehehehehe… salam kenal.. hoohohohohoho…

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara