Lompatan budaya

lompati jurang

Sungguh sebuah upaya yang tak boleh mengenal kata menyerah untuk menciptakan ruang-ruang komunikasi yang berdimensi kebangsaan pada generasi muda dikota-kota besar di Indonesia sekarang ini .
Dalam sebuah klinik musik bertema “pembekalan” bagi pemusik muda Indonesia agar mampu mempertegas wajah ke-Nusantaraan-nya saya mengangkat sebuah tema yang saya beri judul “etika dan rasa” .

Saya tidak menyentuh wilayah-wilayah disiplin ilmu akademisi (karena saya anggap banyak rekan-rekan senior lain dari IKJ yang sudah berpartisipasi disana) Pendekatan saya adalah “aplikatif dan kontekstual”

Saya menggaris bawahi pentingnya kita mengenali dan menguasai aspek-aspek diluar unsur bunyi-bunyian musik sebagai sebuah media berekspresi . Bahwa seorang seniman musik yang ‘serius’ wajib mengenali , apa itu sosiologi , psychosocial , Anthropologi untuk bisa memahami identitasnya sebagai seniman yang berwawasan Nusantara atau kebangsaan bagi kebutuhan berekspresinya.

Kesulitan yang saya temui rata-rata adalah , generasi tersebut dari semenjak “jebrol” lahir hingga beranjak remaja dan mampu memainkan alat musiknya , tidak mendapatkan informasi yang lengkap tentang hal tersebut . Sebaliknya informasi sehari-hari yang mau tidak mau terpaksa dijejalkan dalam kepala dan disantap adalah sebuah informasi ciptaan “mesin budaya” yang jauh dari “membumi” dan selebihnya hanya menciptakan ekspresi kesenian yang berdimensi semu .

Rendra mengatakan bahwa hal tersebut hanya menimpa segelintir kaum urban-modern atau remaja dugem saja , sementara hal serupa itu samasekali jauh dari realita perilaku anak muda Indonesia yang terdapat di daerah-daerah . “Tak perlu terlalu dikhawatirkan namun wajib diwaspadai..ujarnya” , agar tidak membenarkan perilaku-perilaku yang salah

Benar saja sekalipun di Jakarta yang ibukota , dan bukan golongan kota di daerah , setelah saya bedah cakrawala berpikir untuk mengelaborasi “past tense dan sentence” (asal usul keberadaan kita sebagai orang Indonesia” kemarin hari ini dan masa depan”) maka dialog / klinik musikalpun berjalan lancar dan sangat partisipatif.

Saya kembali optimis , masih banyak cara untuk mengkoreksi sesuatu yang salah agar tidak menjadi sebuah “kerusakan” yang tak bisa lagi diperbaiki .

Dan upaya-upaya seperti ini seyogyanya sudah saatnya dilakukan serentak atau secara bersama oleh seluruh elemen seniman yang ada di Indonesia .

Dalam sebuah pameran lukisan disebuah hotel berbintang lima yang didatangi oleh cukup banyak seniman dan para penikmat seni yang berdomisili di jakarta , usulan saya ternyata adalah usulan yang ada didalam hati dan pikiran mereka semua , yang juga ternyata adalah kegelisahan bersama .

Idealnya ada Gerakan Budaya di seluruh penjuru Nusantara ini .

Saya yakin , Insya Allah direstui bila untuk segala sesuatu yang bertujuan baik .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

16 Responses to “ Lompatan budaya ”

  1. Masih banyak lho mas yang memahami ‘budaya’ sebatas Retjo, wayang wong, wayang kulit, wayang golek, djaran kepang, buto tjakil, upacara2 adat, museum, kerontjong, etc……

  2. begitulah outputnya , saat toleransi sosial tidak lagi diajarkan dan dianggap penting . Semisal “budi pekerti” dari semenjak sekolah dasar hingga sampai pada taraf terdidik dengan disiplin teknologi tinggi. Semuanya diserahkan pada paradigma masyarakat yang sedang berlaku .

    Sementara paradigma didalam kehidupan masyarakatnya sendiri semakin terombang-ambing dalam mencari bentuk sosialnya karena pengaruh “mesin budaya” yang dijadikan lambang globalisasi .

  3. Revolusi Kebudayaan , itu mungkin kata yang pas bagi kebutuhan masyarakat Indonesia .

    selamat berjuang

  4. Gembira sekali mengetahui masih adanya ide dan kesadaran “gerakan kebudayaan” yang luas.
    Semoga menjadi perintis kesadaran dan identitas buat bidang yang lain!
    Semoga berhasil, Mas dan teman-teman sekalian.

  5. dulu pernah ada departemen pedidikan dan kebudayaan.. skrg kebudayaan mjd pariwisata, seni, budaya..

    bung Yockie, apakah budaya hanya menjadi produk komoditi saja?..budaya hanya menjadi obyek dan tontonan saja?

    dari kecil kami sudah jauh dari nilai budaya, tahuny budaya yg diajarkan di sekolah dan produk budaya fisik saja..
    siapa yg salah ? harus belajar dari mana?

  6. itulah yang terjadi hari ini ,

    orang bisa bermain musik lalu merasa sudah berbudaya.
    orang bisa menari tradisional merasa sudah berbudaya.
    orang bisa bikin film merasa sudah berbudaya.

    sampai-sampai orang yang bisa menciptakan lapangan kerja merasa sudah berbudaya , padahal lapangan kerjanya adalah ekspansi produk asing yang hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar belaka .

    Sudah hampir tak ada bedanya dimata mereka , membangun kekuatan ekonomi bangsa sendiri dengan menjadi pelayan ekonomi bangsa asing .

  7. Amien…
    Semoga gerakan budaya bisa mengembalikan jatidiri bangsa kita dan yang gak kalah penting (menurut saya) adalah konsistensi.

  8. “Bangsa yang belum selesai”

    Mengapa bisa disebut demikian , karena semenjak memproklamirkan kemerdekaannya , dialog budaya antar lokalitas memang tidak “konsisten” dilakukan untuk memaknai sebuah konstitusi yang menampung semua aspirasi dan kearifan masing-masing lokalitas itu sendiri.

    Konstitusi Indonesia mengusung Undang-Undang yang “bopeng” dan benturan kepentingan antar bangsa lokal.

  9. Gerakan budaya, memang selama ini banyak orang mengatasnamakannya dalam media apapun yang penting bisa di bilang budaya, butuh pembedahan dan terjun sendiri menjadi pelaku budaya.
    pengalaman yang saya alami diatas pedukuhan gunung merapi membuka mata saya bahwa alam dan perilakunya lebih baik kita hormati dari pada budaya ciptaannn di wilayah kapital dan global….
    hati saya jadi miris melihat perbandingan ini…..tapi ya piye yoo ….jenenge menungso…..opo yooo wes ijin karo mbahe bumi iki nek arep nguyuh?…dan moga moga di beri keselamatan….

  10. Gerakan budaya harus menyentuh “kearifan lokalitas” , tak bisa dibangun hanya lewat pendekatan struktural politis apalagi ekonomis .

    Artinya, selama gerakan tersebut tak bersinggungan langsung dengan “hukum adat” namanya “gerakan populis” , bukan gerakan budaya .

    Apakah kita mampu menuju kesana ? tidak ada jawaban yang pasti . Namun yang jelas sudah tak ada lagi pilihan yang sekedar menyiasati .

    Apalagi dengan mekanisme politik hari ini , orang sudah muntah dengan omong kosong politikus yang seperti sekarang ini .

  11. mas jsop,

    ibarat jenjang pendidikan dalam sekolahan. Apakah benar ibarat kita melompat (akrobatik) dari SD (sekolah dasar) langsung ke perguruan
    tinggi , tanpa menyel
    esaikan smp dan smu?

    he.. :) ya tidak bisa dikatagorisasikan seperti itu mas .

  12. rasanya hanya persatuan yang bisa gerkan itu berkekuatan.
    setuju dengan gerakan budaya, lalu kapan kita berkumpul untuk membicarakannya.
    shg ide itu bukan hanya omong kosong.
    saya dukung sepenuhnya dan saya siap berjuang untuk itu. selamat berjuang. MERDEKA!!!

  13. MAAF maksud saya yang bisa menjadikan gerakan itu berkekuatan. dan yang jelas tekad dan kemamuan. oke

  14. Sangat setuju , bahwa hanya persatuan yang dapat membuat sebuah gerakan mempunyai kekuatan .

    Namun kesadaran untuk menempatkan posisi serta kepentingan juga haruslah disadari secara bersama , artinya bahwa:

    Ada perbedaan yang signifikan antara gerakan praktis dengan gerakan kultural atau kebudayaan .

    Gerakan kebudayaan adalah gerakan pikiran , ibarat membuka kembali lembaran “buku putih” atau “buku babon” atau bisa juga diartikan sebagai cetak biru dari sebuah rencana besar yang memuat kesepakatan ber-peri-kehidupan secara menyeluruh .

    Sama seperti apa yang selama ini berusaha saya lakukan lewat blog ini , membuka ruang-ruang bicara agar dapat melahirkan seberkas cahaya walau redup sinarnya namun berguna bagi kegelapan yang terjadi diantara kita semua. Keberhasilan dan kegagalan gerakan budaya bukan berupa fisik yang bisa diidentifikasi namun perilaku sebagai bentuk dan akibatnya . Sama dengan ajaran didalam Agama , seorang yang beriman didalam agama Islam tidak diukur dari gelar Haji , harta dan nama besar yang disandangnya . Namun perilaku kehidupannya .(seksualitas antara lainnya!)

    Dalam tataran ini gerakan tersebut harus steril dari kepentingan pelaksanaan yang bersifat praktis , seperti organisasi atau kelompok-kelompok yang ter-identifikasi dalam bentuk masa yang ter-struktural .

    Mengapa demikian? karena kemurnian untuk memperjuangkan nilai-nilai yang disepakati , harus terbebas dari tekanan kepentingan jangka pendek yang seringkali terpaksa memanfaatkan jalur “penyiasatan” untuk mengatasi deadlock atau kebuntuan-kebuntuan dilapangan.

    Bila kondisi tersebut bisa berlaku maka akan melahirkan “Manifesto Kebudayaan” yang baru , yang akan berfungsi sebagai “ruh” atau visi bagi gerakan-gerakan praktis , itulah representasi dari kehadiran partai-partai politik beserta para politikusnya nanti.

    Jadi Gerakan Budaya adalah menata ulang peta rute perjalanan yang akan ditempuh , sementara gerakan praktis (partai dan organisasi) adalah mesin beserta bensin dan roda dengan segala perniknya agar bisa berjalan nantinya.

    Saat ini membangun gerakan budaya justru harus menghindar dari kelompok-kelompok apapun namanya . Namun memperkuat dan membangun networking antar individu-individu yang berkualitas untuk kembali duduk bersama menuju kearah tema besar tersebut .

    Artinya bisa saja terlibat didalamnya sesepuh adat yang beragama berbeda lalu seorang jendral yang tak membawa pangkatnya , seorang direktur yang tidak membawa perusahaannya dan lain sebagainya.

    Manifesto Kebudayaan akan melahirkan sebuah aturan main yang konkrit dan jelas bagi bangsa Indonesia untuk membuka jalan yang lebih terang bagi para : “pelaksana politik / ekonomi / hukum” dan lain-lainnya dilapangan .

    Dan dalam perjalanannya nanti para pelaksana tersebut akan terhindar dari berbagai hal yang dapat mencederai perasaan rakyatnya seperti yang terjadi saat ini , karena bekerja tidak sesuai dengan apa yang dirasakan oleh rakyatnya sendiri.

    Serasa sudah berbakti pada rakyat dan negara , padahal “baktinya” menguap dan disamber “dedemit” yang beterbangan diangkasa. (eh’ mereka juga yang memelihara..)

    Akhirnya saya ingin menyampaikan sebuah kenyataan yang ada , bahwa :

    Rasa cinta untuk menjadi orang Indonesia masih mayoritas tersebar dimana-mana . Manfaatkan momentum tersebut agar tidak semakin banyak anak-anak kita yang terombang-ambing dilautan kaum “perantauan” yang ingin ngga usah lagi diperjelas darimana asal-usulnya. Sangking frustasinya :(

    Saya percaya kita semua ingin “bencana politik” ini segera berlalu , namun tanpa belajar dari pengalaman masa lalu maka kitapun sedang mempersiapkan sebuah “Pergelaran Bencana Indonesia Yang Baru Lagi”

    Merdeka juga mas!

  15. Tapi masyarakat banyak yang ngga ngerti aturan dalam hukum , dan juga ngga mau tau , kan susah juga .

  16. Masyarakat itu terdiri dari berlapis strata sosial dan kompetensi , tidak harus semua orang memahami teks hukum atau aturan perundangan yang tekstual.

    Tapi yang paling penting adalah output yang ditimbulkan dari sistim hukum tersebut,sudahkah membuat semua orang merasa nyaman , dilindungi dan punya hak yang sama.

    Petani konsentrasi disawah misalnya , begitu harga gabah anjlok sementara problem lainnya datang bertubi-tubi , maka masyarakat di-strata atasnya lah (kaum pedagang) yang harus berinisyatif bertindak turut menyelamatkan dengan segala upaya yang bisa.

    Lalu kaum pedagang semakin banyak yang gulung tikar karena suply yang terhambat menyebabkan harga melonjak , maka masyarakat dilapis atasnya lagi yang mustinya segera bertindak kritis pada penguasa lokalnya atau (bisa mahasiswa bisa intelektual lainnya)

    Begitulah seterusnya jenjang kepedulian sosial direkatkan lagi seperti dulu.

    Artinya : benar semuanya saat ini ditangan pemerintah , namun masyarakat sendiri daya kreasi dan daya hidupnya serta toleransi pada lainnya juga jangan sampai mati seperti sekarang ini.

    Sulitnya saat ini semua itu diukur dengan uang , saya bisa peduli sama nasib anda kalau anda bisa menguntungkan saya dan sebagainya , judul tipuannya sismbiosis mutualism katanya .

    Karena itu jangan mau lagi dibohongin dengan slogan-slogan tempe , saya heran genee’ heree’ masih ada yang kampanye dijalan kaya jaman kuda gigit besi.

    Sejak merdeka pemerintah cuman meresin keringat kita , padahal jaman dulu sebelum merdeka kakek dan nenek saya diperesin belanda. Karena kita cuman segelintir orang maka ngga bisa berbuat apa-apa , tapi paling tidak saya masih inget terakhir nusuk tanda gambar parpol (pemilu) pada tahun. 1975’an

    Sejujurnya seringkali saya belum merasa sebagai orang Indonesia , namun lebih “tebal” rasanya sebagai orang jawa yang berkawan baik dengan bangsa lainnya.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara