Mindset

stop

Kualitas Sekolah serta sarana pendidikan diukur dari kemampuan bisnis iklan .

Keimanan serta kesalehan dilihat dari kemampuan melengkapi ujud penampilan .

Kecerdasan mengelola intelegensia ditampilkan dalam menguasai berbagai ilmu dan tehnologi meskipun berkesenjangan dengan urgensi .

Globalisasi diterjemahkan hanya dengan menjadi distributor ekonomi asing dan menguasai bahasa global untuk berkomunikasi .

Semua ukuran nilai-nilai hanya selesai ditataran simbol dan lambang yang diberi label legitimasi.

Ada apakah semua ini .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

12 Responses to “ Mindset ”

  1. standarisasi-nya udah di tangan manusia semua Mas..

  2. Pejabat banyak yg jual diri…
    – Menebar pesona melalui spanduk dan menjadi pahlawan bangsa, tapi sepihak

    – Dibelakang meja hakim & aparat hukum…tawar menawar…harga pas…tanjap gassss

  3. Ideologi tanpa isi ,
    cita cita tanpa usaha
    makanya semuanya hanya seperti suara berisik yang merusak telinga kita..capeee deehhhh

  4. dari dulu pak koentjoroningrat udah menyatakan salah satu kekurangan bangsa indo ya itu mental menerabas maunya semuanya serba instan golek gampange.ga mau kerja keras dan cerdas.mungkin karena kita udah kehilangan panutan yg jadi suri tauladan .jangan 2 aku termasuk gol mereka kalau sikonnya udah sejauh itumas.mengerikan……..

  5. Nampaknya sudah terjadi pendangkalan esensi dan nilai-nilai, sehingga terjebak dalam kekosongan hakikat dan menjadi formalisme saja.

  6. salah satu kekecewaan saya :

    harus ngeluarin biaya yang tak masuk akal untuk bisa melanjutkan keinginan anak saya masuk perguruan tinggi

    Sementara outputnya sudah bisa saya tebak mau kemana? dan harus jadi seperti apa.

    “Seperti apa” dan “kemana” itu adalah = anak-anak saya masuk “perangkap” dan melanjutkan sistem yang salah kaprah.

  7. Inilah salah satu bentuk struktur penjajahan neoimperialis pada bangsa Indonesia.

    koq banyak orang masih pada diam saja!

  8. Memang pusing ngurusin pendidikan :( hik hik hik. Pengambil keputusan biasanya kurang paham dampak yang terjadi.

    Sebagai contoh, di tempat saya ada aturan apa bila mahasiswa terlambat menyelesaikan studi, maka ada penalti dengan bayar uang sekolah yang lebih mahal (2 kali?). Saya menentang berat. Ini TIDAK MASUK AKAL! Menurut saya lho. Aneh, mengapa mahasiswa yang sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Ini tidak mendidik. Tapi apa boleh buat, keberatan saya tidak didengar.

    Di kampus mahasiswa bukan sekedar belajar ilmu (bidang studinya), tetapi juga belajar bersosialiasi, belajar berorganisasi, mengeluarkan pendapat, berbeda pendapat, dan seterusnya. Sayangnya dengan adanya pembatasan waktu studi, mereka akhirnya hanya belajar ilmu khusus mereka saja. Lihat saja, setelah mereka lulus nanti mereka menjadi orang yang tidak peka terhadap lingkungan. Kami mendidik anak-anak untuk menjadi robot! Maafkan kami …

  9. Saya setuju dengan statement Pak Budi, “mereka akhirnya hanya belajar ilmu khusus mereka saja.” Begitu masuk ke dunia kerja / masyarakat, banyak yang masih plonga-plongo, ndak tau mo ngapain, kecuali disuruh sana sini kayak robot. Sistem pendidikan kita tidak mau (?) mengadaptasi sistem pendidikan yang lebih manusiawi / memanusiakan manusia karena sebagian besar petinggi pendidikan OGAH belajar “sesuatu yang baru” dan kalo kita mbalelo dengan sistem itu alamat susah keluar (lulus), saya pernah mengalami di almamater saya yang notabene banyak berkecimpung dengan gombalisasi.
    Potret bangsa yang perlu di-lap lagi bingkainya :D

  10. Oleh sebab itulah saya sebut sebagai gerakan budaya.
    Gerakan budaya yang saya maksud bukan seperti “gerakan budaya” sebatas iklan-iklan yang sering dipakai banyak orang untuk mencari dukungan .

    Namun memberdayakan seluruh sendi-sendi penopang kehidupan dalam berbangsa dan bernegara . Seperti kita ketahui bersama , bangsa ini ada bukan karena lagu , tari-tarian dan hiburan semata , atau karena kesepakatan politik pragmatis , atau bahkan ekonomi yang selalu bergantung pada bangsa lain atau juga karena hanya satu keyakinan dalam beragama.

    Semoga semakin banyak orang yang memahami maksud saya yang sebenarnya.

  11. Bos..
    ada tuntutan untuk pendidikan gratis ??
    mungkinkah? hari gini minta gratisan kalo sekolah??

    trus kalo mau nglamar kerjaan..nah syaratnya harus minimal S1, udah gito diutamakan yg dari universitas ternama…

    berarti orang miskin dilarang sekolah..trus gak bisa dpt kerjaan dan penghasilan layak..

    perangkap jugakah?

    benar bung Ben,
    Pekerjaan : seniman musik (antara lain hidup dari penghasilan bermain musik ) disaat tak ada ruang kejujuran dan terhormat untuk bekerja , pada siapa mereka akan berteriak-teriak dan menuntut haknya . Itu bukan baru terjadi 1 atau 2 tahun saja , namun semenjak 1989 . Artinya sudah berjalan dalam hitungan 18 tahun . Disanalah saya berada diantara yang lain-lainnya .
    Apakah saya terlihat mengemis dan tak berdaya? lalu menjadi nista ? atau saya berpaling pada profesi / keyakinan yang berbeda? (sekedar menjual & menjajakan lagu cinta)
    Alhamdullilah bung Ben , saya masih bisa berdiri dengan tegak menghidupi keluarga saya . Karena saya merasa Allah mendampingi kami , semoga Dia akan seterusnya dan tak meninggalkan saya .

  12. “Apakah saya terlihat mengemis dan tak berdaya”

    Kalimat yang berharga bagi generasi yg lebih muda!!!

    Saya jg ngga menduga , akan anda ucapkan!

    Tabah Yok teruskan apa yg sdh kau lakukan.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara