Kooptasi

tangan

Dengan langkah sendat kutelusuri jalan berkerikil , hak-kubangunkan agar bisa lebih kuberdaya .

Lewat bahasa sederhana kusampaikan apa yang menurutku patut atau yang tak .. juga tak bermaksud mencari pembenaran selain keinginan agar semakin banyak teman untuk bisa diajak membicarakan hal-hal yang mendesak .
Semua itu seperti bisikan ditengah hingar-bingar kegaduhan pasar di kebon para binatang kekuasaan .

Tak mereka menggubris , hanya sesekali menengok . Bicara tentang hari ini adalah sesuatu yang jauh lebih menyenangkan serta lebih menjanjikan . Walaupun mereka tau semua hanya memabokkan .

Namun sekarang dibulan Juli 2007 ini ,

Disaat hari-hari kepalsuan tak lagi bisa ditutup-tutupi

Disaat kebohongan tak bisa lagi dilindungi

Disaat bayang-bayang ketakutan tak bisa lagi disuruh pergi .

Mereka .. para jahanam politik tersebut bergerombol untuk bermuslihat , bersiasat untuk masih berupaya menyusupkan kebusukannya lewat simbol-simbol hati nurani . Langkah persiapan sandiwara dua tahun kedepan , seolah jauh lebih berharga dan lebih penting daripada kepentingan harga minyak tanah , pengangguran , bencana sidoardjo , pendidikan anak-anak kami dan masih banyak lagi pertanyaan yang harus kami jawab esok hari, setelah lolos dari lubang jarum hari ini .

Mereka bicara tentang “bangsa-bangsa nusantara” yang se-olah sudah sangat mereka perhatikan selama ini .

Mereka bicara tentang “kearifan lokal” yang se-olah juga sudah amat mereka pahami .

Betapa semakin pengapnya udara untuk bernafas karena polusi dan racun yang akan mereka tebarkan diseluruh pelosok penjuru negeri .

Apa yang harus kulakukan….

Tak bisa kuberharap pada siapa-siapa , selain memperkuat pagar nuraniku sendiri . Menutup gendang telinga saat mereka pidato dan bicara yang bahkan ikut bernyanyi bersama kelompok / tokoh musik terkenal negri ini di televisi , di radio-radio , di koran-koran , berceramah di mimbar-mimbar mesjid , gereja , dan lain-lainnya .

Masih akan kutebar senyum sebagai tanda bagi mereka .. bahwa kita lebih beradab nyatanya .

Aku rindu suara rakyat yang bergema menjadi bisikan Tuhan , bukan kegaduhan dan berisiknya tetabuhan gendang irama setan .

Aku hanya setitik api .. tapi aku bisa membakar

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

8 Responses to “ Kooptasi ”

  1. Tuntunan jadi tontonan dan tontonan jadi tuntunan.
    Kepentingan pribadi dan golongan telah mensosialisasikan kebodohan menjadi absolut dibanding arti sebuah kemurnian nurani.

    Nusantara ada di genggamannya
    Namun nurani bagai air, mengalir jujur diantara lubang genggamannya.
    Untuk kemudian menetes jatuh…tuk dapatkan sanggahan lekuk jemari yang rapat, menadah dan memperlihatkan kejernihan bentuknya.

    Dimana ?
    Entahlah…

    menarik ,

    setetes yg lolos menitik dari berjuta celah jari merapuh , bersemayam dalam kubangan lumpur , terhisap keatas, menguapi angkasa .Alam mempertontonkan wajahnya , dalam himpunan berjuta embun dari langit memaknai kehidupan padi dan gandum umbi dan jagung bagi berlanjutnya sebuah evolusi .

  2. Mas, menarik membaca postingan ini.
    Saya sering terima email atau komentar langsung yg isinya ‘menasehati’ tentang isi tulisan2ku yg kadang juga bernada kritikan/sindiran. Pada intinya mereka bilang percuma kalau cuma nulis atau ngomong, tanpa tindakan nyata.

    Bahkan mereka nyinggung nama Iwan Fals dan Rendra hanya bisa ‘berkoar’ tapi tidak ada hasil nyata dari ‘koar-koar’ itu.

    Ketika saya tanyakan apa harapan dari orang2 yg berani bersuara kritis, mereka menginginkan agar bisa turun ke jalan, mendesak secara langsung pada penguasa untuk berubah, atau bahkan kalau perlu menggalang massa mereka yang banyak dan gampang dikumpulkan untuk bersama2 bergerak.

    Dan mereka mencurigai kalau sindiran2 lewat seni/tulisan itu bertujuan mengadu domba rakyat dengan penguasa…???

    Pada posisi semacam ini, saya pribadi berpikiran memang yg diharapkan adalah tindakan nyata. Tapi merasa kemampuan baru sebatas ini. Entah yang lainnya yang lebih berpengalaman saya tidak tahu.

    kalau ada orang mengatakan bahwa kami harus turun kejalan menggalang massa lalu berontak bersama ?
    itu adalah cara-cara orang “purba” yang sudah harus kita ajarkan pengertiannya pada mereka , bahwa sekarang jaman sudah berbeda dengan jaman nenek moyang kita dahulu.

    Rakyat dan pemerintah adalah hubungan pemilik dan pekerja , ngga bisa diadu domba . Karena tanpa pemilik ngga akan ada pekerja , sebaliknya tanpa pekerja juga pemiliknya mati karena ngga ada yang kerja untuk nyari makan .

    Memang masih banyak masyarakat kita yang “maaf” pola berpikirnya jauh tertinggal dengan peradaban Global ,
    nah..masih seperti itu koq mau bersaing diarena Globalisasi .

  3. Bung Syafiq,

    Terima kasih, akhirnya muncul juga pertanyaan seperti ini .

    Masyarakat yang tipis kesadaran sosialnya dan toleransi didalam kehidupannya , memang selalu melahirkan sikap-sikap yang sinis dan individualistis dan jelas sangat pragmatis . Melakukan apa yang terilhat (kasat mata) didepan , tanpa memperhitungkan ada apa dan siapa dibalik sana .

    Persis seperti ungkapan “mas Kumbang” , jago kereng-kerengan tapi takut perang , mengapa? . Karena kalau berantem fisik , lawan kita kelihatan , kalau dimedan perang apa kita bisa teriak-teriak agar musuh kita keluar dari bunkernya? supaya kelihatan dan jantan?

    Sedangkan hidup adalah sebuah proses kebersamaan yang melibatkan semua pelaku-pelakunya secara mutlak

    Tak akan ada air yang akan mengalir tanpa ada dataran yang berbeda tingginya . Saling berkaitan demikianlah hukum alam mengajarkan cermin bagi kita.

    Pada makhluk yang namanya manusia , hidup adalah saling bergantung dan tergantung pada sesamanya .

    Saya melihat seorang penyebrang jalan yang ditabrak lari atau saya melihat seseorang sedang mencuri sesuatu yang bukan miliknya .

    Apa yang akan saya lakukan sebagai sesama manusia?

    Pertama , saya harus berteriak keras (memanggil polisi bila ada) agar pelanggaran tersebut ditindak dan tak lepas dibiarkan berlalu begitu saja.

    Siapakah yang akan menindak? apakah saya yang seorang seniman atau anda yang seorang pedagang yang akan juga merasa berhak melakukan tindakan hukum apalagi hingga jauh mewakili kekuasaan pengadilan?

    Contoh sederhana kedua , sepanjang perjalanan karier saya sebagai pemusik misalnya , apakah saya bisa dengan sendirinya , menjadi bisa menulis lagu dan sensitif seperti sekarang ini tanpa peran orang yang awam diluar dunia musik lainnya?

    Apakah saya boleh mengatakan pada orang-orang yang mengkritisi karya seni saya supaya jangan turut campur karena mereka tidak bisa bermain musik seperti saya atau bahkan mungkin sama sekali tidak bisa . Lalu untuk siapa karya yang saya ciptakan tersebut akan saya persembahkan?

    Dalam sebuah tatanan bernegara , seluruh jajaran aparat adalah para pelaksana yang memikul tugas administrasi demi berlangsungnya sistim ke-tatanan tersebut .

    Pertanyaannya :

    1. Untuk melayani siapakah mereka bekerja dalam sistim tersebut?

    2. Siapakah yang berhak mengatakan mereka sudah bekerja sebagaimana harusnya dan sesuai jabatannya?

    Bila dua hal diatas: jawaban benar dan salah ada di tangan mereka semua bukankah berarti segalanya mereka yang punya? Negara dan seisi isinya?

    Lalu siapakah kita? para penumpang yang sekedar numpang hidup sementarakah kita?

    Tugas masyarakat mengkritisi aparat adalah kewajiban sebagai bagian dari konsekwensi menjalani hidup untuk saling ber-ketergantungan didalam sebuah negara yang beraturan .

    Namun semuanya tetap bertanggung jawab pada domain dan wilayah pelaksanaannya masing-masing .

    Polisi bertugas menjaga ketertiban dan menangkap maling .

    Tentara bertugas mengamankan wilayah perbatasan dalam kaitan kedaulatan negara .

    Politisi bertugas mengatur lalu lintas sistim administrasi bagi lancarnya sistim birokrasi .

    Masyarakat adalah “pemilik” negara yang harus dan berhak mengawasi berlangsungnya kerja mereka .

    Tidak harus bisa bermain musik untuk mengkritik seorang pemusik . Artinya jangan juga mengatakan komentator musik itu cuman bisa ngomong doang .

    “Ya memang tugasnya hanya ngomong doang” tapi ngomong doangnya itu dibutuhkkan agar pemusik tersebut jadi pintar , karena dia tidak bisa pintar dengan sendirinya tanpa orang yang ngomong doang.

    Soal kualitas “ngomong doang” (ASAL Njeplak) dan “ngomong doang” (agak pintar atau ilmiah) hal tersebut dikembalikan pada tingkat dan daya intelektualitas masyarakatnya sendiri . Masyarakat yang sudah pintar dengan sendirinya sudah tau kapan harus ngomong dan kapan harus diam ngga perlu ngomong .

    Namun semua itu harus dilewati , apapun juga konsekwensinya , karena tidak ada orang bisa menjadi pintar ngomong , tanpa melalui proses “bodoh ngomong”

    Disinilah peran politisi agar melahirkan undang-undang bagi peningkatan kualitas dunia pendidikan agar proses menjadi pintar tersebut bisa dipercepat .

    Agar orang Indonesia semakin cepat pintar ngomong dan pekerja administrasi negaranya juga cekatan dan bertanggung jawab men-sejahterakan pemilik negara nya . Pemiliknya RAKYAT kan? atau Raja? kalau Raja berarti kita butuh Kerajaan bukan gedung MPR dan DPR.

    Begitulah seterusnya pada hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan bersama untuk yang saling bergantung antar satu dengan yang lainnya.

    Persis seperti mata air yang mengalir dari dataran yang selalu lebih tinggi menuju muaranya . Maka terciptalah “keseimbangan”

  4. Maksudnya ngga perlu lagi demo turun kejalan ?
    Apa iya mereka bisa berubah hanya dengan harapan saja mas?

  5. mas Sultan,
    Tidak serta merta harus demikian . Yang saya maksudkan sesuai topik yang bung Syafiq ceritakan adalah turun kejalan dalam konteks “pasang badan” lalu adu otot kuat-kuatan .

    Satu hal sebelumnya yang perlu diketahui bersama bahwa “kekuatan dialog kolektif” dan “kekuatan massa” adalah dua hal yang berbeda. Sudah terbukti dalam sejarah manusia bahwa “massa” tidak akan membangun sistem menjadi lebih baik .
    Dia hanya akan hadir sebagai “buldozer” atau “tank mesin perang” yang bertugas menggilas tembok dan menghancurkan penghalangnya .

    Bukan untuk meratakan jalan supaya licin , apalagi lengkap dengan perangkat lalu-lintasnya .
    Karena sifat massa yang “natural” selalu condong pada hal-hal yang berhubungan dengan wataknya yang destruktif .
    Kekuatan besar yang tak bisa dkendalikan oleh siapapun , seporadis dan tak bisa diprediksi .

    Cobalah anda bayangkan , anda sedang menampung karyawan anda yang berjumlah 5 orang untuk berdialog mengenai tuntutan 500 teman-temannya (buruh pekerja) . Atau anda sedang berdiri didepan seluruh karyawan yang 500 orang jumlahnya tersebut.
    Bisakah dengan mudah anda mengusai keadaan , agar mereka tidak anarkis?

    Ini baru 500 orang , bagaimana dengan 5 juta orang seperti yang pernah terjadi di semanggi dan sekitarnya .

    Lain hal bila yang kita hadapi memang sebuah kondisi yang menghendaki runtuhnya sebuah sistim penjajahan. Seperti massa reformasi yang lalu (melawan rezim otoritarian) atau jaman dahulu kala melawan penjajah Belanda misalnya.

    Lagipula apabila sekarang ini yang kita hadapi memang masih sistim otoritarian , maka saya juga tak cukup hanya membawa bambu runcing saja. :( saya harus dilengkapi granat / M16 serta roket atau mortir untuk melawan TNI kita yang pakai panzer scorpionnya.

    Tetapi bukankah tidak serupa itu keadaannya? Kita berhadapan dengan sebuah sistem perundang-undangan yang tidak lahir dari kebutuhan kita sebagai bangsa.
    Sistim perundangan yang kacau tersebut lebih-lebih saat ini cenderung dimanipulasi untuk digunakan sebagai kendaraan bagi manuver-manuver politik sekelompok orang saja.

    Kita berhadapan dengan huruf-huruf dan abjad-abjad normatif yang semu karena banyak yang disordered . Seperti juga sejarah menceritakan berbagai contoh yang terjadi diberbagai wilayah dunia , bahwa perubahan yang baik (konstruktif) selalu dimulai dengan gerakan yang dimotori kaum intektualnya , bukan massa akar rumputnya .

    Dalam kasus Indonesia yang Bhineka dan multikultur (tradisional) ini , siapakah sebenarnya kaum-kaum intelektual yang harus bergerak untuk merubah keadaan?

    Menurut saya inilah bedanya kita dengan bangsa-bangsa lain . Kaum intelektual yang dimaksud tidak hanya orang-orang dengan disiplin ilmu akademisi yang hanya berlandaskan hukum-hukum formal internasional dengan pengaruh dan pendekatan pada gaya anglo saxon maupun continental saja .

    Tapi bukankah begitu banyak tokoh-tokoh adat serta sosiolog , budayawan dan lain-lainnya yang sekarang tersebar diberbagai perguruan tinggi , seperti rektor , guru-guru besar , dan para tetua adat wilayah .
    Mereka-merekalah yang saat ini ikut berkompeten untuk menata ulang serta me-redesign apa yang perlu dirubah.

    Bukan hanya kaum politikus yang di DPR , yang sekarang ini sudah jelas-jelas bekerjanya disamakan dengan membuka perusahaan pribadi atau perusahaan bagi kelompok partainya.

    Jadi singkat kata , perjuangan Indonesia hari ini bukan perjuangan dengan mengerahkan massa yang berjuta-juta banyaknya .
    Tapi perjuangan untuk mengerahkan daya pikiran dan kemampuan guna memperbaiki kemudian mengelola dengan sebaiknya .

    Diperlukan pemikir-pemikir kultural yang super cerdas dan (justru) Tentara yang tangguh untuk mengawal proses ini , agar langkah-langkah tersebut bisa berjalan dengan mulus , atau.. bila itu semua gagal total.. maka resiko jatuh kepada gerakan massa yang masive , yang hanya melahirkan jatuhnya korban kemudian disusul dengan kekosongan tatanan..… sudah jelas kan akhirnya kemana?

    Tinggal pilih : kita berantakan tak keruan atau menghamba lagi , kali ini bukan kepada meneer Belanda .
    Tetapi benua dibawah wilayah geografis kita , atas nama oom sam yang memang kaya raya , pinter nembak pula!

  6. “…setitik api .. tapi aku bisa membakar”, hmm..m.. saya sangat setuju dengan kalimat ini. tapi kalau kita lihat “negeri kita yang tercinta ini” kok kayaknya mereka-mereka yang di sana itu kok gak peduli ato gimana ya, melihat kondisi masyarakat yang seharusnya mereka lindungi kok ya tega-teganya minta fasilitas lebih,hik!

    Saya kalau liat acara di tv dulu, sewaktu awal2 jatuhnya order baru paling getol liat berita di tv membahas masalah bangsa ini, tapi sekarang, grrr.rrrr! sudah basi, gak mutu! apalagi kalau liat mahasiswa demo, ujung2 nya mo tenar sendiri!

    Makannya saya paling muak, huek! kalau ada pejabat yang kampanye masalah pendidikan gratis..tis, bapak JSOP percaya itu! mungkin samapai saya sudah punya cucupun saya kok pesimis! kalau memang kondisi begini-gini terus, wakil rakyat pada berantam! (walah kok ngelantur ya!he..he..)

    Saya pribadi sih punya prinsip kalau kita susah merubah keadaan lebih baik keadaan kita sendiri aja dulu dirubah, minimal dilingkungan keluarga, istri dan anak2 agar mereka bisa merasakan kebahagiaan dan keadilan di ‘negara kecil’ saya. dan kalau untuk negara yang besar ini yang gemah ripoh loh jinawi perlu sekali percikan2 api yang lain seperti pak JSOP, agar kuping mereka disana ikut terbakar dan orang2 yang tulus dalam menjalankan roda pemerintahan segera mengambil alih semuanya dan menjadikan negara ini menjadi lebih baik, amin!

  7. mas mari rapatkan barisan agar setittik api menjadi segunung api dan dapat membakar semua kemunafikan ,keserakahan,ketidak adilan.gak usah demo mas takut jadi anarkis.tapi kalo terpaksa karena mereka jadi batu yah apalagi kita harus hancurkan juga.mas kenapa gak tulisannya gak dipublikasikan ke mass media agar getarannya lebih meluas dan sekalian tebarkan api yang setitik biar cepat menggunung.salam

  8. Seperti menghadapi “bisul” , ada proses pematangan yang tak bisa dipaksakan .

    Saya hanya merasa berkewajiban membuka ruang-ruang penyadaran , bahwa:

    Orla runtuh lahirlah Orba
    Orba runtuh lahirlah reformasi
    Reformasi melahirkan petualang politik baru
    siapa kah yang salah… ?
    Sedemikian bodohnyakah seluruh orang Indonesia?

    Mau seratus kali menurunkan rezim , selama wilayah kesepakatan konstitusi dan undang-undang tidak di-reform … Kita memelihara mimpi berkepanjangan .

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara