Yang bener..

anak singkong

Adakah bedanya :

  • Ketika pake’ stelan jas atau cukup pake stelan sarung dan sebagainya.
  • Ketika makan pake’ sendok/garpu/pisau atau cuman pake’ tangan saja.
  • Ketika ber cas.cis..cus dan gojek ngampung halaman anda
  • Ketika ngga perlu ada nasi dengan harus ada nasi.
  • Ketika (maaf) cebok cukup pake kertas tisue atau harus pake air dan sabun.
  • Ketika bercinta adalah sekedar naluri biologis atau aktivitas yang ‘sakral’
  • Ketika tidak perlu disunat atau disunat karena memang banyak faedahnya

Yang beneerrrr..

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

7 Responses to “ Yang bener.. ”

  1. Cuma karena kesempatan/waktu, kebiasaan/tradisi, kegunaan, rasa bersyukur dan kontrol diri aja kok, Mas :D

  2. Yang pasti pake’ sarung isis bos,kalo makan ikan asin plus sambel tempe & trasi masak pake sendok sama pisau..haha.

    Wuihh..kalo abis buang hajat besar cuman pake kertas doang mah.. seumur-umur kaga pernah bos..amit-amit.

    Dua yg terakhir, kayanya huubungannya dng kenakalan deh.. no comment :)

  3. Benar ini hanya masalah dimana , kapan , dan siapa .

    Persis seperti bunyi iklan coca-cola .

    Kalau saya tidak terbiasa dengan cara-cara diatas , pastinya saya bukan orang yang terlahir dengan pola-pola dan kebiasaan-kebiasaan seperti tersebut diatas.

    Jika setelah saya sadari kemudian hasilnya berujung pada rasa kecewa atau tak suka , akankah kemudian saya juga merasa terpaksa mengaku sebagai anak Indonesia karena merasa dipaksa oleh sang Pencipta .

    Mengapa juga harus dilahirkan ditengah-tengah masyarakat yang miskin dengan kebiasaan-kebiasaan seperti diatas . Apalagi saya tau ada pilihan menjadi masyarakat lain yang lebih baik (*menurut saya*)

    Bila ada alternatif untuk menentukan keinginan supaya lahir dinegeri sebelah yang lain dari bagian dunia yang beraneka warna ini atau makhluk yang lain selain menjadi manusia , pastinya saya juga akan secara demokratis menggunakan hak pilih tersebut .

    Setelah saya dapati tak ada katagori demokratis versi Tuhan untuk masalah ini , apakah saya boleh merasa “sial”
    Lalu bila demikian , apa makna hidup bagi saya..? menanggung beban “kesialan semata?”, sambil terus berkelit mencari kalimat & bahasa yang lebih tepat untuk mencoba menyalahkan Dia . Tentu saja dengan selalu ta’at berdoa , namun sebenarnya dimata-Nya saya tak bisa menyembunyikan dusta untuk terus mencoba berupaya mengikari kehendak-Nya.

    Ini juga cara tradisional dan cara primitif untuk kembali mengenali diri , bagi yang agak-agak setengah lupa atau kita yang tidak bisa menerima kenyataan harus menghadapi sesuatu yang bukan sesuai impian & cita-cita yang dibayangkan .
    Cobalah sesekali kita lakukan , dari pilihan yang paling sederhana hingga bila perlu yang ter-ekstrim maka kita akan terkejut sebab ada bisik suara berkata lirih tepat diatas letak jantung kita berada.

    Dialah nurani , yang selama ini kita anggep sepi. Tentu saja Nurani tidak hanya sebatas persoalan ini , namun dia bisa diajak pulang kembali mudik kehati hanya dengan cara sederhana seperti ini , ngga perlu “mengejar sampai kenegeri China” kalau hanya untuk masalah seperti ini .

    Bila tak juga kita dengar suara itu , maka ini sebuah peringatan ..Nurani sudah setengah hampir mati , walaupun sudah tujuh negeri China kita kuasai . Namun kalian bukan anak-anak yang bisa kubanggakan lagi .

    Ini hanya bagian doa saya sebagai seorang ayah kepada empat orang anak-anaknya , bila kau semakin tambah dewasa kelak jangan kau lupakan akar serabutmu . Karena sesungguhnya engkau tetap “anak singkongku” . Berdirilah dengan gagah anakku!

  4. gajah mati meninggalkan gadingnya , macan meninggalkan belangnya.
    Manusia meninggalkan karyanya.

    Sayang mas, dijaman ini banyak orang merasa pintar , namun tak meninggalkan apa-apa. Buku bertumpuk memenuhi rak namun ilmu hanya behenti dikepalanya.

    Bagaimana pendapatmu mas.

  5. Saya tak ingin seperti lagunya Bang Rinto Harahap :

    Menambah “Hati yang luka” menjadi semakin terluka .
    Atau malahan bisa “Pulangkan saja aku pada ibuku” .

    Ibu saya orang jawa , ibu sampeyan orang aceh berarti kita bukan saudara dong!

    Kalau sekarang banyak terlihat orang pintar yang tak berdaya seperti yang anda lihat , maka dosanya harus dibebankan pada sistim yang mengungkung hidup mereka.
    Dan sistim tersebut kita juga semuanya yang terlibat dan turut bertanggung-jawab menciptakannya .

    Seperti saya singgung dalam posting saya tentang nasib pendidikan bagi anak-anak saya sendiri.

    Membiarkan “mengalir” berarti turut bertanggung jawab atas akibat buruknya , sementara melarang berarti melanggar hak-hak mereka sebagai generasi muda.

  6. bung Yockie..
    gimana kalo lagunya “ada pelangi di matamu….” biar gak hati yang luka terus hehe..

    btw, siapa yg menciptakan sistem seperti ini? apakah pendahulu kita??
    trus kalo generasi muda menciptakan sistem sendiri..apakah dianggap salah, lalu ditangkap??

  7. witzzz..perilaku yang diatas ..emmm perilaku yang menurut saya memanga antara budaya lam dan kekinian…
    nahh itu dia, ketika kita menempatkan pada perilaku maka yang ada adalah pilihan dalam bertindak..yang jelas budaya konsumerisme udahhh mendarah gitu bung…
    nahh ini yang kemudian muncul aliran konevensional dan modern..
    wehh…kgk nyampung ya bung jockie…yahhh udahhhh cuma sekedar menyapa aja kokkkk

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara