19-8-2007

bendera.JPG

Kalau kita mau menyederhanakan persoalan yang membelit negara kita , mungkin kurang lebih seperti ini :

Sebelum para pemimpin tersebut duduk di singgasana kepresidenan , mereka semua pasti berpola pikir serupa untuk men-sejahterakan bangsa dan rakyat Indonesia .

Tetapi pada saat sudah berada di istana negara yang sesunguhnya mereka dihadapkan pada sistem managemen negara yang urusannya dengan uang , yaitu APBN .

Anggaran belanja intinya ‘agak’ serupa seperti sebuah perusahaan biasa lainnya , yaitu cashflow .

Yang menjadi masalah adalah biaya maintenance dan operasional sudah tidak bisa ditunda , apalagi kewajiban membiayai sektor-sektor lain sudah berbaris mengantre diloket pembayaran .

Sementara sektor produksi yang seharusnya mendatangkan income semakin loyo dan impoten (sampai-sampai jualan babu dimuliakan)

Bila dalam kondisi serupa terjadi pada perusahaan swasta maka semua pemegang saham pasti diwajibkan menyetor dana untuk mengatasi masa-masa crusial tersebut .

Nah..dalam “konteks” Indonesia dana tersebut adalah dana BLBI yang ngga jelas ada dimana? dan juga dana-dana yang dikorupsi oleh eranya ORBA.

Sampai disini baru kita bisa berpikir dengan lebih jernih …..”Mau Kemana Indonesia…?”

Serta kemampuan seorang pemimpin seperti apa yang dibutuhkan agar bisa menyelamatkan Negara .

Yang sudah-sudah mereka selalu menyiasati dengan menggadaikan apa yang masih bisa digadaikan (sumur-sumur minyak baru) atau bahkan wilayah dan pulau-pulau untuk kepentingan negara lain.

Mengelola negara dengan strategi dan cara berpikir seperti : “PEDAGANG GROSIR KELAS TANAH ABANG! “

Dibutuhkan seorang yang mampu menggunakan TANGAN BESI untuk say NO! kepada kaum kapitalis asing yang hanya nyedotin darah bumi pertiwi serta hanya menjadikan kita hanya segerombolan para “pengguna jasa” serta pasar bagi kepentingan mereka sendiri dan menunjukkan contoh konkrit bagi masyarakat lainnya bahwa “Saya Orang Indonesia!” seperti slogan Bung Karno dimasa itu BERDIKARI diatas bumiku sendiri “Ini Dadaku mana Dadamu!”

Insya Allah .. rakyat akan menuruti bila masih ada pemimpin yang bisa diandalkan.

  

About the Author

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara....wong cuman seniman. Ibarat cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa. Jangan membaca tulisan saya bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

14 Responses to “ 19-8-2007 ”

  1. Ini kejadian waktu jaman ORLA,
    Maret 1963 BK mengatakan, “Saya berikan Anda (baca : Stanvac, Caltex & Shell/3 besar)waktu beberapa hari untuk berpikir .
    Apa tuntutan BK? Ia minta Caltex menyuplai 53 persen dari kebutuhan domestik yang harus disuling Permina. Surplus produksi yang dihasilkan harus dipasarkan ke luar negeri dan hasilnya diserahkan ke RI.

    Caltex wajib menyerahkan fasilitas distribusi dan pemasaran dalam negeri dan biaya prosesnya diambil dari laba ekspor. Caltex juga harus menyediakan valas yang dibutuhkan untuk belanja modal yang dibutuhkan Permina.

    Masih kurang, BK menuntut Caltex menyuplai kebutuhan minyak tanah dan BBM dalam negeri. Formula pembagian laba 60 persen untuk RI dalam mata uang asing dan 40 persen untuk Caltex dihitung dalam rupiah.

    Karuan saja Caltex panik dan minta bantuan Presiden John F Kennedy. Mereka menilai tuntutan BK tak masuk akal dan bisa membuat Caltex bangkrut.

    Tadinya Washington DC menganggap BK gertak sambal. Namun, waktu Presiden China Liu Shaoqi dan menteri Uni Soviet datang ke Jakarta membahas penjualan konsesi, mereka sadar BK tak main-main.

    Duta Besar AS di Jakarta Howard Jones pusing. “Jika Tiga Besar keluar, AS tak punya pilihan kecuali membatalkan bantuan ekonomi. Jangan mengancam, BK tak bisa ditekan,” lapor Jones ke Kennedy.

  2. Memang yang namanya pegadaian di Indonesia ini sangat populer dan laku keras para pelakunya mulai dari kaum duafa hingga orang orang penting negara ini dari mulai mengggadaikan radio kaset kain batik hingga menggadaikan apa yang masih bisa digadaikan seperti sumur-sumur minyak baru atau bahkan wilayah dan pulau-pulau untuk kepentingan negara lain ( seperti yang diungkapkan oleh mas Yockie).Permasalahannya ; para pemimpin kita itu masih sangat takut dengan AS tidak seperti Moamar Kadafhi, Bung Karno atau Fidel Castro yang terang terangan berani menentang hegemoni gedung putih.

    Salam

  3. Betul, nih, mudah-mudahan rakyat memiliki “elite” yang berkarakter . Saya yakin, kalau elitenya berkarakter,dapat diandalkan, dan dapat dipercaya, pasti rakyatnya ikut mendukung.
    Dari jaman awal-awal kemerdekaan, rakyat mendukung pemimpinnya yang berkorban untuk rakyatnya. Walaupun serba kekurangan, rakyat Indonesia itu termasuk mau berkorban dan mudah diatur.

    Salam

  4. Bung Jsop,

    Masyarakat memang sudah harus diberikan informasi yang cukup dan memadai tentang kondisi keuangan negara,agar kita semua tau dan sadar untuk menggunakan hak pilih kita. Ngga dibohongin terus2an.

    Mengapa setiap Pemilu ngga pernah diangkat topik2 ttg kondisi keuangan Negara.?

    salam.

  5. Masalahnya berani miskin ngga..? hehe saya ngga yakin!
    Kalo orang didesa sih ‘nothing to lose’ lha wong memang udah sehari-hari terbiasa hidup miskin.

    Tapi orang-orang (elite) di Jakarta dan kota-kota besar lainnya , yang sudah biasa menikmati fasilitas seperti sekarang ini , apa iya mau ber-korban mulai dari “awal” lagi?

    Tinggal pilih , pentingin masa depan diri sendiri demi hari ini atau anak dan cucu demi hari nanti .

  6. Ya harus mau (berkorban), mas. Setidaknya kami melakukan dalam skala kecil seperti berhemat air, menjaga kebersihan (sampah), meskipun semuanya ini menjadi lebih mahal. Tapi ini harus dilihat sebagai investasi untuk Indonesia.

    Mas, kok kalau ngomongin soal Indonesia, mas Yockie ini kelabu (galau) terus sih. hi hi hi. Kalau saya kayaknya lebih sering melihat kemilau (kejayaan), meski masih dalam bentuk harapan belum kenyataan. Semangat, semangat ah …

    Selamat pagi semuanya.

  7. realitas akan bisa dipertanggung-jawabkan bila ada “keseimbangan” . Ada orang suka memuji ada yang mencaci , ada orang bilang bagus ada yang bilang jelek ,ada yang kaya ada yang miskin .

    Indonesia,
    seberapa berbandingkah antara yang kaya dan miskin , berperilaku adil dan culas.

    Sebagai seorang seniman , berapa sih prosentasi yang setuju dan yang bertentangan dengan kondisi jaman.

    Sebagai seorang guru , berapa orang sih yang optimis karena berkedudukan (jabatan yang cukup) dengan yang menangis karena diabaikan .

    Sebagai seorang pengusaha , seberapa banyak yang diuntungkan dan dirugikan .

    Sebagai seorang ilmuwan , seberapa banyak pula yang setia pada pengabdiannya dan yang telah menyerah lalu profesinya berubah ikut-ikutan jadi pedagang .

  8. Melihat Indonesia dari kaca spion memang tidak sama dengan melihat dari kacamata sosbud&politik.

    Kapan masyarakat semua bisa belajar memahami kenyataan yang ada , tergantung seberapa tekun kaum budayawannya memberikan kontribusi pencerahannya..

  9. Iya sih mas. Emang bagus ada pro dan kontra (yang produktif, tapinya). Kalau kita melihat prosentasenya, memang yang misikin lebih banyak, yang tidak peduli lebih banyak, yang menderita lebih banyak. Kalau berpikiran negatif, saya gak balik ke Indonesia mas. hi hi hi.

    Sehari ini saja saya dikesalkan dengan berbagai hal / beberapa orang. Mungkin kalau saya lebih muda 20 tahun, ceritanya bisa lain mas. Bisa ngegamparin orang. he hehe. Setelah sholat, kekesalan berkurang dan sudah bisa menerima kondisi kembali. he he he. Ini adalah pilihanku.

    Alur pikir saya sih: ah, gak perlu semuanya harus positif, baik, dan seterusnya. Yang penting CUKUP orang yang waras. (*Enough* people to make the change, katanya.) Susahnya, gak tahu cukup itu berapa orang.

    Kadang malu juga melihat orang asing yang datang ke tempat yang terpencil (di Afrika, misalnya) dan membantu penduduk di sana, membuat perubahan di sana. Mungkin hanya 1 orang, tapi dia tetap semangat. Mosok saya gak mau melakukan hal yang sama terhadap tanah air sendiri sih. Ya sudahlah … nasib kita dilahirkan jadi orang Indonesia. Eh, tapi saya mau jadi orang Indonesia karena pilihan kok. Harus mau nanggung resikonya ya? …

    (Udah nggak sabar, pengen tahu yang dikerjakan mas Yockie akhir-akhir ini apa sih? Kok sibuk banget. he he he.)

  10. Setuju nih, jangan sampai seperti rekan kita ini (Forward email dari rekan lain)

    Rekans,
    Berhati-hatilah bila melihat mobil Ford Everest biru, dengan nomer polisi B 2708 CF. Ciri lainnya terdapat plakat DPR-MPR RI didekat nomor polisi bagian depannya. Pengemudinya berkulit hitam, berbadan tegap, berusia sekitar 30an , berambut cepak agak plontos.

    Adapun kronologis kejadian menurut adikku yang korban dan saksi setempat ,
    Pada tanggal 18-08-07, sekitar jam 10.45 terjadi serempetan antara mobil Ford dan mobil Avanza yang dikendarai oleh adik saya di kompleks perumahan Taman Permata, Karawaci.
    Akibat dari kejadian itu, bemper kanan belakang (tepatnya diatas roda belakang sebelah kanan) mobilku copot.

    Setelah tabrakan itu, pengemudi mobil ford biru itu turun dari mobil, langsung lari menghampiri mobil adik saya yang saat itu baru memberhentikan mobilnya.
    Pengemudi mobil ford itu langsung turun melayangkan tinjunya berkali-kali ke arah wajah adik saya. Setelah itu, dia langsung membuka pintu mobilku, mencabut kunci yang masih melekat pada kontaknya, mengambil dompet adik saya yang tergeletak di kursi penumpang sebelah kanan, dan pergi meninggalkan adik saya yang masih belumuran darah dan mobilnya di TKP begitu saja.

    Dengan dibantu oleh tukang ojek dan satpam, adik saya diantar pulang kerumah. Pada saat itu saya yang sedang berada dirumah sendirian sangat panik melihat keadaannya yang babak belur dan berlumuran darah diseluruh mukanya.
    Saat itu, saya ingin segera mengantarkan adik saya ke rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan pertama, saya baru teringat akan kunci mobil dan stnk yang masih ditahan oleh ‘jagoan bermobil biru itu’.

    Indetitas ‘jagoan’ itu yang akhirnya diketahui bernama Ilham dari petugas keamanan setempat, sehigga saya, dengan diantar oleh 2 orang satpam itu ke rumahnya utk mengambil kembali kunci mobil guna mengantarkan adik saya ke rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan.

    Apa yang terjadi kemudian, benar sangatlah diluar dugaan, Jagoan tersebut sudah menunggu kami didepan rumahnya dengan berkacak pinggang.

    Saat itu, saya yang masih kebingungan segera menanyakan kunci mobil dan dompet yang berisikan STNK, itu akan tetapi langsung dibentak oleh JAGOAN itu, supaya saya jangan menanyakan kunci dan STNK mobil itu, atau saya juga akan dipukul seperti adik saya.

    Sebagai seorang wanita, saya tetap bersikeras untuk meminta kembali kunci mobilnya, guna mengantarkan adik saya untuk mendapatkan pertolongan segera, karna darah semakin banyak mengucur dari luka adik saya.
    Bukan kunci mobil yang saya terima, akan tetapi tamparan dan tinju berkali-kali diarahkan JAGOAN itu ke muka saya, untung saja, ada 2 orang petugas satpam yang sangat sigap melindungi saya dari serangan brutal JAGOAN itu, sehingga hanya mata kanan saya yang memar dan pendarahan pada bola mata saya.
    Tidak puas karna saya berhasil diselamatkan oleh petugas satpam tersebut, JAGOAN tersebut mengancam akan MENGHABISI saya dan adik saya. ‘ Awas kamu, Saya TEMBAK kamu, saya matikan kamu berdua’.

    Melihat keadaan yang sangat tidak menguntungkan buat saya dan adik saya, petugas satpam tersebut segera mengungsikan kami kakak beradik berdua. Kunci mobilku masih enggan dikembalikan, akan tetapi setelah berulangkali petugas keamanan menasehati bahwa dia tidak punya hak menahan kunci mobil, dompet berserta STNK kami, baru dia mengembalikannya kepada pak satpam. Saat ini, kasus ini sudah saya laporkan ke kantor polisi setempat, untuk pengusutan selanjutnya, dengan nomor laporan polisi 683/K/VIII/2007/SEK.CURUG.

    Setau saya pernah dilakukan pemeriksaan dan penertiban terhadap mobil berplakat indetitas DPR MPR RI, bagaimana dengan JAGOAN ini???)

    Apakah memang benar dia adalah anggota DPR MPR RI dengan plakat identitas yang melekat di mobilnya????
    Apakah benar seseorang dapat seenaknya saja memukul orang????
    Benarkah seorang pria dewasa menganiaya seorang wanita yang sedang panik melihat darahnya mengucur semikian deras dari luka adiknya???
    Bisakah seenaknya seseorang menghabisi nyawa orang lain???
    Apakah fungsi senjata itu??? Jikalau memang dia punya?? Apakah benar kegunaannya untuk mengancam dan menembak orang lain????

    Masih adakah jaminan keselamatan dan perlindungan hukum di Negara Indonesia ini, disisi lain kita punya kewajiban untuk membayar pajak ke Negara???

    Tolong disebarluaskan email ini, supaya cukup kami saja yang mengalami hal seperti ini, jangan ada lagi kasus kedua dan ketiga yang mengalami nasib seperti kami. Kami mohon doa dan dukungan dari teman-teman sekalian, semoga keadilan dapat benar-benar ditegakan di bumi Indonesia ini, sehingga tidak ada yang namanya main hakim sendiri.

    Kejadian ini ada benar adanya…,rekan-rekan sekalian dapat mengeceknya langsung ke kantor polsek curug dengan nomor laporan yang sudah saya sebutkan diatas, atau dapat menghubungi email saya felyshia@hotmail.com

    Terima kasih,

    Felyshia@hotmail.com

  11. Ehm, biasanya kalo berita di media itu kan harus both coverside jadi kalo di blognya mas Yockie ini rasanya mbak kurang tepat. Mbak mengapa tidak melaporkan saja keatasannya lagi atau ke Komdak atau ke SBY sekalian, kan negara kita ini negara hukum menteri saja bisa diajukan kepengadilan apalagi orang orang biasa.

    Salam

  12. Halo, salam kenal semua…

    Halo mas Yockie, masih inget saya ngga ya?

    Kalo liat wajah .. pasti saya tau dan ingat .
    Di Sanggar kan buanyyaaak banget orangnya hehehe..:)

  13. bung Ns,
    Langsung aja , rekan anda tsb. keturunan Tionghoa ya?

    Naluri rasialis (purba) memang selalu melekat dalam diri semua orang selama makhluk tsb masih bernyawa ..tak terkecuali siapapun juga .

    Hanya naluri tersebut biasanya cenderung mampu dikendalikan bila orang tersebut memiliki standar pengetahuan wawasan yang cukup , apalagi bila berprofesi ‘khusus’ yang relatif bisa mengusai hal-hal yang bersifat duniawi.

    Dalam kondisi “penuh ketegangan” yang mencekam negeri kita saat ini , semakin banyak jenis naluri purba yang ‘terwakili’ dan siap meledak , bila kondisi sosial kemasyarakatan tak kunjung mampu diatasi oleh para pemimpin bangsa ini . (seperti pada tulisan saya “Trotoar” ).

    Saya sendiri sebagai etnis Jawa kalo kesel dng. sesama Jawir selalu nyari2 alasan seperti “dasar orang pesisir” hehe..
    Tapi secara reaktif segera terjawab bila tiba-tiba dihadapan saya muncul makhluk gemulai nan aduhai dari wilayah pesisir.. :)

    Di Amerika sendiri katanya warga east & west masih cenderung merasa ‘lebih’ dari yang dari selatan atau utara .

    Kembali lagi Hukum dan Keadilan sosial , dua intrument yang tidak bisa dipisah-pisahkan sebagai rambu-rambu untuk mengatasinya .

    Saya ikut bersimpati dengan rekan anda , dan terimakasih udah berbagi cerita di blog ini .

    Saya merasa sedikit berguna , karena untuk hal-hal semacam inilah “blog” ini saya buat .

  14. Sampeyan nulis “Jawir”, wah…tembung iki suwi banget aku ga tau krungu maneh. Rasane itu suatu ungkapan untuk orang jawa yg menjengkelkan, menyebalkan, betul gitu mas…?

    hehe..yang saya tau , itu sebutan untuk orang jawa yang klemar-klemer dan ngeyelan..!

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara