ah..

Setelah dua kali dua puluh empat jam saya melek dan ngga tidur sama-sekali , lalu semalam jam.21.00 saya terkapar dan pagi ini jam . 04.00 saya terbangun Insya Allah sebentar lagi sholat subuh ,

Saya pengen bisa nulis artikel atau cerita keseharian yang menyenangkan hati dan yang layak untuk diletakkan di blog ini , tapi koq sulit sekali saya menemukan topiknya …ya

Karena itu pula kemaren saya berinisyatif agar bila ada rekan-rekan yang punya artikel menarik , saya harapkan untuk bisa berbagi disini .

Sebab kalau blog ini hanya sekedar menjadi “tong-sampah” keluh kesah , lama kelamaan tidak ada manfaatnya juga bagi saya sendiri dan kita semua . Idealnya harus ada kemajuan walau setapak demi setapak yang bisa dicapai.

Semakin ngga nyambung apa yang terbaca didunia maya dengan kehidupan nyata sehari-hari kita. Dijaman dulu ditahun 70’an hingga 80’an (pergaulan eksklusif radio amatir / sampai orari) kebanyakan hanya diisi oleh kalangan masyarakat “ngga gaul” kami menyebutnya “kuper”, kalau diudara seolah ramainya setengah mati , tapi begitu ketemu didarat… sepi dehh…ngga ada suaranya :) “Welcome to the jungle” masak sih jadi lebih baik..?

Mengapa saya menuliskan hal seperti diatas ? berikut ini alasan saya saat ini :

Akhir-akhir ini saya menemui sebuah realita baru lagi,bahwa memang sulitnya bukan kepalang menghubungkan masa lalu dengan kepentingan hari-hari masa kini .

Karena masa lalu lebih bersandar pada “rasa” yang diperkuat oleh semangat kebersamaan yang seringkali juga mengabaikan aturan tertulis sebagai kelengkapan rambu-rambu untuk dijadikan sandaran penyelesaian bila ada perbedaan pendapat. Semuanya lebih “diserahkan” kepada toleransi kebersamaan yang terbentuk secara alamiah . (kultural)

Sedangkan masa kini adalah masa dimana semuanya harus bisa diterjemahkan dan dipertanggung jawabkan secara lebih tekstual dan nalar yang konkrit . (non absurd)

Pada saat kita dihadapkan pada salah satu persoalan hidup diantara salah satu alam pilihan diatas , maka relatif tidak ada persoalan yang menjadi sedemikian sulit dan sedemikian penuh komplikasi .

Namun disaat kita berada ditengah-tengah dan ingin menggabungkan kepentingan masa lalu dan kepentingan masa kini , mulailah bermunculan pertanyaan-pertanyaan yang sering membingungkan kita sendiri . Ukuran dan parameter yang mana yang mau dipakai untuk membahasnya .

ah..ribet ya.. , saya yang ribet atau hidup di negeri ini yang ribet ? masak sih saya ribet sendirian .. ?

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

6 Responses to “ ah.. ”

  1. ikutan comment ah Bang ,

    langsung aja, biasanya emang sulit untuk menumpah ruahkan “sesuatu yang menyenangkan” nggak tahu kenapa? mungkin semua yg berbau kesenangan tuh enaknya cuma dirasakan pada saat itu saja , dan jadi basi atau kelihatan atau kedengerannya kurang enak buat diceritakan.

    Pepatah lama mengatakan ” masa lalu biar jadi pelajaran di masa kini” tp spertinya masa kininya terlalu jauh berlari jadi pelajarannya ya udah nggak sesuai.

    Saran lainnya ;
    dituangkan kedalam karya-karya aja Bang , udah lama nih nggak denger karya-karyanya. Saya termasuk pengagum lho , terakhir setelah “SUKET ” ( sialan… kasetnya diambil temen…) nggak pernah dengerin lagi.

    ditunggu deh karya2 lainnya

    Pendapat yang bermanfaat .

    Bahwa pengalaman masa lalu dihidup kita sebagai orang Indonesia pada kenyataannya tidak selalu sesuai dengan kebutuhan hari ini . Mungkin karena kita ibarat belum berjalan diatas jalur (rel) yang telah dibuat dan sepakat untuk dijalani bersama . Masih banyak jalur-jalur rel pilihan lainnya yang berseliweran menawarkan gagasan-gagasan baiknya.

    Pada akhirnya kita semua bingung , menentukan pilihan / domain rel hidup kita sebagai sebuah bangsa .

    Terimakasih atas komennya dan apresiasi anda pada suket . salam

  2. Mas Yockie, sebetulnya mungkin banyak yang mau urun rembug dengan tulisan yang bervariasi. Tapi mungkin keder sama mas Yockie, ha ha ha …

    Yang kedua, aura di blognya mas Yockie memang seperti ini: agak seurieus gitu. hi hi hi. Mungkin orang-orang menyadari bahwa mas Yockie itu orangnya (terlalu) serius. he he he.

    emberr..

  3. itulah mas Bud , seperti yang saya rasakan selama ini . Masalahnya didunia maya ini kita bisa berinteraksi menembus ruang dikotomi komunikasi , namun secara realita kita sering tidak mengenal satu dengan yang lainnya . Jadi komunikasi sering menjadi ‘mentah’ kembali karena ketidak cukupan suasana keterbukaan/keakraban yang harus terpenuhi . (persis seperti jaman cb dan orari)

    Setelah kita saling ketemu dan mengenal didarat (seperti saya dengan anda) maka kualitas “blak-blak’an” menjadi lebih terasa .

    Artinya saya bisa mengenal anda secara lebih utuh , demikian juga sebaliknya . Jadi kita semua bisa belajar secara bersma-sama untuk menerima kenyataan bahwa manuswia itu tidak sempurna . Kalau kita bisa menghargai dan menerima kelebihan seseorang seyogyanya kita juga harus bisa menerima segala kekurangannya . Dengan demikian ilmu kehidupan ini akan bisa kita lewati dengan saling bergandengan tangan.

    Perlu juga mungkin ya , kita bikin acara ngumpul-ngumpul & makan-makan bersama untuk lebih tau siapa sih sebenarnya si polan dan si siti itu , hehehe :)

  4. Setuju. Gimana kalau diadakan temu darat bersama JSOP (dan BR?). he he he. Bawa makan sendiri-sendiri. Supaya ngirit. hi hi hi. Atau … diadakannya di bulan puasa supaya gak perlu mengeluarkan suguhan. Ha ha ha. (dasar!)

    Kembali ke serius mode. Betul mas. Memang benar media elektronik ini tidak efektif untuk hal-hal tertentu. Untuk menyampaikan sebuah ide mungkin dibutuhkan waktu 1/2 jam. Padahal kalau ketemu, 5 menit selesai. Soalnya bisa langsung melihat (melototnya mata lawan bicara kita) dan merasakan (gamparan? he he he).

    Yang saya lakukan biasanya adalah melontarkan issues via elektronik, kemudian di-gong di darat. Itulah sebabnya saya masih sering ikut temu darat (meski sekarang agak jarang juga karena kesibukan).

    Kapan ngopi lagi mas? Topik bahasan?

    di Bandung? saya lagi sumpek nih di Jakarta .. jangan-jangan Bandung juga sumpek..

  5. Hm fenomena ini juga saya alami, kebetulan akhir2 ini sering. Memang rada susah mas, membawa dan mengaplikasikan yg telah lalu diperjalan kita ke depan. Saya ambil contoh aja soal kebersamaan. Knapa susah? Saya mengibaratkan perjalan masing2 dari kita ini seperti jalan lurus yang banyak tikungannya. Tarikan kiri dan kanan yang ‘menggoda dan lebih menarik’ perjalanan kita itu bisa datang kapan saja, dan misalnya dalam perjalanan ke depan itu kita bersama yang lain, knapa susah sekali terus bersama menjadi teman seperjalanan dengan tujuan yang sama? karena masing2 kepala itu juga mengalami tarikan kiri dan kanan seperti kita, jadi akan lebih banyak teman seperjalanan itu mampir kiri mampir kanan, sehingga makin lama teman2 seperjalanan kita itu makin habis, dan akhirnya kita jalan sendiri atau bahkan kita juga mampir ke ayam suharti karena capek mikirin teman2 seperjalanan yang mulai habis.
    Mungkin yang perlu ditekankan adalah, gimana meyakinkan teman2 seperjalanan itu agar tidak mudah tergiur tikungan2 yang ada walaupun itu hak individu dalam menentukan pilihan.. tp at least kita tetap pada tujuan semula, menyelesaikan perjalanan dengan bantuan kaca spion masa lalu. terlalu serius ya? hehehhee..

    Yuk ketemuan *kayak yang pasti dateng aja hehehhe…*

    Salam,

    meneng2 sikilku yo wes kroso pegel je’.. :(

  6. Bandung juga sumpek. Eh, nggak ding. hi hi hi. Kalau di rumah saya sih gak sumpek, malah cenderung kedinginan. Kalau di daerah “factory outlet” sama sumpeknya dengan Jakarta. hik hik hik.

    Atau … ketemuannya di Malaysia saja, mas. Eh, jangan-jangan nanti dibui seperti Koes Bersaudara. ha ha ha. Untuk yang itu, biar mas Yockie saja yang ambil tanggung jawab. Kan sama-sama gondrongnya. whua ha ha ha …

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara