Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara.... wong cuman seniman . Ibarat sebuah cermin , cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa . Jangan membaca tulisan seniman bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.
Bicara masalah Dodol, kebetulan tgl 17 agustus 2007 kemarin saya berkunjung ke salah satu tempat Tarekat Naqsabandiah, Babussalam, Langkat. nah didaerah ini sangat terkenal dengan home industrinya Dodol nya (apa hubungannya ya he..he..).
btw saya mo nanya sama mas JSOP (jangan marah lo), mas JSOP giginya belum ada yang palsu kan, saya khawatir kalau sering2 makan dodol gigi palsunya lepas ha..ha..(maaf mas canda, habis lagi gak mood neh!)
Hahaha.. ada gigi palsu tapi inplant udah dari 15 tahun lalu (tanam ke tulang) jadi ngga bakal lepas .
Saya punya temen untung ekonomi agak kaya , sewaktu kecelakaan mobil menimpanya , maka giginya rusak semua lalu operasi inplant 18 buah gigi a’ 15 jt , kalikan aja ..lumayan juga .
Kalau ada yang mau cepat jadi kaya , masuklah fak.kedokteran gigi masa depan cerah
Pak SBY bilang : koq tega2nya duit yang ngetem di pemda-pemda sampek 96 trilyun , wuihh… pantesan makin susah nyari rupiah lha wong duitnya parkir dikantong kiri lalu masuk kantong kanan pemerintah lagi
Yang aku ngga mudeng , Pak SBY itu kan presiden toh? jadi artinya kan kepala pemerintahan kan? nah..pemda-pemda itu kan ibarat organ tubuh kaki atau kepanjangan tangan pemerintahan kan ya..?
Lahh..koq kaya ngga ada hubungannya antara kepala dengan kaki atau tangan sih?
Apa otonomi daerah lantas bisa diterjemahkan dengan putusnya hubungan syaraf antar pusat otak dengan organ tubuh ? waalllaahh….
Karena sistem ekonomi yang amburadul kali ya..makanya pemda takut mencairkan dananya untuk pembangunan dsb. (salah-salah bisa dipelototin KPK)
Apapun alasannya , yang bikin hati kecut dana tersebut disimpan lagi di BI dengan bunga , lalu masuk kembali lagi ke kas pemda , jadi persis seperti pindah kantong dari kiri ke kanan saja .. lalu kapan rakyatnya bisa berharap ada pembangunan dan perbaikan kualitas hidup kalo gini terus ?
Persis seperti judul posting ini , kepala dan kaki serta tangan sudah ngga ada hubungannya.
Presiden sudah harus bertindak dengan tegas , kalau perlu ‘keras’.
Pilihannya: gagal atau berhasil , yang aman-aman saja sudah tidak ada lagi.
Ayo mas, bisikin sampai kekuping SBY , jangan takut bertindak!
sudah..! sudah tak bisikin malahan saya marahin , dia bilang : “baik..baik..baik mas saya mendengarkan..dsb”
ee…ternyata yang saya telpon itu “Si Butet Yogya” , pantesan koq nrimo saja … tiwas aku wes rumongso gagah..he!
kalo begitu berarti mereka2 yg disana mungkin otaknya error, konsleting. kebanyakan makan dodol ngunyahnya pake tenaga extra jadinya otot rahang menekan saraf di otak (nyambung ndak sih?)
sekalian mau nanyak, dodol itu ada gizinya ndak ya?, trus yg bikin enak apa karena kecampur keringet yg ngudek2? hehehe… dodolisme
ah..jaman saiki wes gak penting ngimongin gizi mas..sing penting wareg..(tanek makan dodol , usus’e megal-megol)
Sebagai seorang lapangan, saya memang bisa melihat bahwa sekarang lebih banyak orang cari aman. Untuk melakukan sesuatu yang baru (atau yang sudah rutinpun) ada ketakutan nanti malah dituduh korupsilah, atau apalah. Akhirnya, daripada pusing, lebih baik tiarap dulu. Tidak melakukan apa-apa. Itulah sebabnya dana yang sudah disediakan tidak terserap. Tidak ada yang mau jadi pimpro proyek. (Tidak seperti dulu yang berebut.) Semuanya mandheg. Uang disimpan saja di bank, dan kemudian ke BI. Akhirnya siapa yang menanggung bunganya? Ya kita semua. Semua rugi …
Jadi bandul sudah berada pada titik ekstrim paling kanan (atau kiri?).
Mungkinkah karena tidak tercukupi kelengkapan dan persyaratan yang ditentukan untuk membiayai sebuah proyek baru maka dana tersebut hanya mengucur untuk proyek besar yang sudah ada atau kalangan-kalangan pebisnis tertentu yang dianggap kredibel oleh pemda . (contoh kalangan etnis tionghoa)
Karena itu dijaman sekarang hampir semua kegiatan usaha yang muncul dipermukaan hampir semuanya dikelola oleh etnis tersebut.
Bila dugaan saya tersebut memang beralasan , maka wajar bila ruang ketegangan sosial di negeri ini semakin mendekati batas toleransi .
Sangat masuk diakal bila hukum dan perangkat keadilan tidak segera dibenahi , maka kondisi kehidupan akan melahirkan srigala-srigala jalanan yang liar karena lapar .
Lalu akankah kita menyalahkan atau menuding “rasialisme” sebagai biang keladinya?
Saya buka-bukaan lagi ya. Ambil contoh penelitian kami di perguruan tinggi. Usulan penelitian sudah dimasukkan dan sudah disetuji, tetapi uangnya sampai sekarang belum turun. Bagaimana penelitian bisa kami lakukan? Mau menggaji peneliti dan mahasiswa dari mana uanganya? Mosok kami mempekerjakan mereka tanpa digaji? Itu rodi atau romusha namanya.
Nah, tiba-tiba kami sudah ditagih laporan progres penelitian. Bagaimana ini? Kalau tidak ada laporan dianggap tidak mengerjakan penelitian (yang sudah disetujui). Salah! Kalau memberikan laporan, akan ditanya darimana dananya (kan belum turun)? he he he. Pusing. Maju kena, mundur kena.
Saya dengar hal yang sama juga terjadi di pembinaan atlit olah raga kita. Duit pelatihan turunnya lambat. Mana bisa atlit kita bertanding dengan puasa. hik hik hik.
Ini semua mengajarkan kita untuk tidak usah berusaha saja. Status quo saja. Itu yang paling aman. Sebab, mau berusaha malah disudutkan (dengan kesalahan administratif).
Bagi yang sudah tidak tahan, pindah ke luar negeri merupakan alternatif yang paling masuk akal. Jangan salahkan mereka.
sepertinya memang seperti itu keadaannya , orang malas pulang ke Indonesia kalau cuman disuruh jadi tumbal sia-sia.
Sepertinya jualan dodol membawa masa depan lebih jelas hehehe..
Saya juga mengamati banyak orang pinter ngga mau balik ke tanah air karena lingkaran dodol ini susah diputus. Gimana caranya mutus 1 mata rantainya itu biar dodolnya morat marit?
Sudah lama saya ndak nyambangi rumah sejuk ini, dos pundi kabar’e mas? Saya butuh dodol nih buat sangu mulih
Satu sangkar dari besi-Rantai kasar pada hati-tidak merubah Rajawali-Menjadi burung nuri-Rajawali-Rajawali-
Satu luka perasaan-Maki puji dan hinaan-Tidak merubah sang jagoan-Menjadi mahkluk picisan-Rajawali-Rajawali
Rajawali-Rajawali-Burung sakti di angkasa-Lambang jiwa yang merdeka-Membela kaum yang papa-Menggugah
jiwa lara-Rajawali-Rajawali-Rajawali-Rajawali-Jiwa anggun teman sepi-Jiwa gagah pasti diri-Sejati-Bertahan pada
godaan-Prahara atau topan-Keberanian-Setia kepada budi-Setia pada janji-Kegagahan-Menembus kabut malam-
Menguak cadar fajar-Mendatangi matahari-Memberi inspirasi-Mendaki-Mendaki-Meninggi-Meninggi-Bersemi-Bersemi [Kantata-WS.Rendra]
jsop : @tom , udah saya jawab ya mas , di artikel ..
Tom_EmersonLP : hai...mas JSOP... kapan bikin album prog lagi?
jsop : wah mbahsangkil..nasibmu koq merana sekali ya
jsop : @kuke : ucapan nggak penting....amflof yang penting . Awas jangan keliatan KPK! ntar disangka korupsi lagi
Mbah Sangkil : absen dulu Pak, maap saya terhambat koneksi di surabaya semrawut, buka blog gak bisa, MP apalagi, cuma bisa buat YM itupun kadang terputus. Pake 3,5G yg keluar cuma gprsnya, apes dah
Mbah Sangkil : Met Ultah Pak.... Semoga Panjang Umur dan diberi rahmat dan berkat serta kekuatan untuk merubah indonesia ini menjadi lebih ber nurani.
kuke-yg-ngantuk : o iya.. kelupaan.. blm ngucapin met ultah maaf.. maaf.. Mas met ultah ya.. meski telat..
nak Dodol Dowel piye kuwi?
enak apa ngga…
Bicara masalah Dodol, kebetulan tgl 17 agustus 2007 kemarin saya berkunjung ke salah satu tempat Tarekat Naqsabandiah, Babussalam, Langkat. nah didaerah ini sangat terkenal dengan home industrinya Dodol nya (apa hubungannya ya he..he..).
btw saya mo nanya sama mas JSOP (jangan marah lo), mas JSOP giginya belum ada yang palsu kan, saya khawatir kalau sering2 makan dodol gigi palsunya lepas ha..ha..(maaf mas canda, habis lagi gak mood neh!)
Hahaha.. ada gigi palsu tapi inplant udah dari 15 tahun lalu (tanam ke tulang) jadi ngga bakal lepas .
Saya punya temen untung ekonomi agak kaya , sewaktu kecelakaan mobil menimpanya , maka giginya rusak semua lalu operasi inplant 18 buah gigi a’ 15 jt , kalikan aja ..lumayan juga .
Kalau ada yang mau cepat jadi kaya , masuklah fak.kedokteran gigi masa depan cerah
Dodolibret..! itu namanya
“Terpaksa geli padahal ngga lucu”
Pak SBY bilang : koq tega2nya duit yang ngetem di pemda-pemda sampek 96 trilyun , wuihh… pantesan makin susah nyari rupiah lha wong duitnya parkir dikantong kiri lalu masuk kantong kanan pemerintah lagi
Yang aku ngga mudeng , Pak SBY itu kan presiden toh? jadi artinya kan kepala pemerintahan kan? nah..pemda-pemda itu kan ibarat organ tubuh kaki atau kepanjangan tangan pemerintahan kan ya..?
Lahh..koq kaya ngga ada hubungannya antara kepala dengan kaki atau tangan sih?
Apa otonomi daerah lantas bisa diterjemahkan dengan putusnya hubungan syaraf antar pusat otak dengan organ tubuh ? waalllaahh….
Karena sistem ekonomi yang amburadul kali ya..makanya pemda takut mencairkan dananya untuk pembangunan dsb. (salah-salah bisa dipelototin KPK)
Apapun alasannya , yang bikin hati kecut dana tersebut disimpan lagi di BI dengan bunga , lalu masuk kembali lagi ke kas pemda , jadi persis seperti pindah kantong dari kiri ke kanan saja .. lalu kapan rakyatnya bisa berharap ada pembangunan dan perbaikan kualitas hidup kalo gini terus ?
Persis seperti judul posting ini , kepala dan kaki serta tangan sudah ngga ada hubungannya.
Ini baru DODOL yang sama sekali engga enak!
Presiden sudah harus bertindak dengan tegas , kalau perlu ‘keras’.
Pilihannya: gagal atau berhasil , yang aman-aman saja sudah tidak ada lagi.
Ayo mas, bisikin sampai kekuping SBY , jangan takut bertindak!
kalo begitu berarti mereka2 yg disana mungkin otaknya error, konsleting. kebanyakan makan dodol ngunyahnya pake tenaga extra jadinya otot rahang menekan saraf di otak (nyambung ndak sih?)
sekalian mau nanyak, dodol itu ada gizinya ndak ya?, trus yg bikin enak apa karena kecampur keringet yg ngudek2? hehehe… dodolisme
Sebagai seorang lapangan, saya memang bisa melihat bahwa sekarang lebih banyak orang cari aman. Untuk melakukan sesuatu yang baru (atau yang sudah rutinpun) ada ketakutan nanti malah dituduh korupsilah, atau apalah. Akhirnya, daripada pusing, lebih baik tiarap dulu. Tidak melakukan apa-apa. Itulah sebabnya dana yang sudah disediakan tidak terserap. Tidak ada yang mau jadi pimpro proyek. (Tidak seperti dulu yang berebut.) Semuanya mandheg. Uang disimpan saja di bank, dan kemudian ke BI. Akhirnya siapa yang menanggung bunganya? Ya kita semua. Semua rugi …
Jadi bandul sudah berada pada titik ekstrim paling kanan (atau kiri?).
Hanya dugaan ,
Mungkinkah karena tidak tercukupi kelengkapan dan persyaratan yang ditentukan untuk membiayai sebuah proyek baru maka dana tersebut hanya mengucur untuk proyek besar yang sudah ada atau kalangan-kalangan pebisnis tertentu yang dianggap kredibel oleh pemda . (contoh kalangan etnis tionghoa)
Karena itu dijaman sekarang hampir semua kegiatan usaha yang muncul dipermukaan hampir semuanya dikelola oleh etnis tersebut.
Bila dugaan saya tersebut memang beralasan , maka wajar bila ruang ketegangan sosial di negeri ini semakin mendekati batas toleransi .
Sangat masuk diakal bila hukum dan perangkat keadilan tidak segera dibenahi , maka kondisi kehidupan akan melahirkan srigala-srigala jalanan yang liar karena lapar .
Lalu akankah kita menyalahkan atau menuding “rasialisme” sebagai biang keladinya?
Saya buka-bukaan lagi ya. Ambil contoh penelitian kami di perguruan tinggi. Usulan penelitian sudah dimasukkan dan sudah disetuji, tetapi uangnya sampai sekarang belum turun. Bagaimana penelitian bisa kami lakukan? Mau menggaji peneliti dan mahasiswa dari mana uanganya? Mosok kami mempekerjakan mereka tanpa digaji? Itu rodi atau romusha namanya.
Nah, tiba-tiba kami sudah ditagih laporan progres penelitian. Bagaimana ini? Kalau tidak ada laporan dianggap tidak mengerjakan penelitian (yang sudah disetujui). Salah! Kalau memberikan laporan, akan ditanya darimana dananya (kan belum turun)? he he he. Pusing. Maju kena, mundur kena.
Saya dengar hal yang sama juga terjadi di pembinaan atlit olah raga kita. Duit pelatihan turunnya lambat. Mana bisa atlit kita bertanding dengan puasa. hik hik hik.
Ini semua mengajarkan kita untuk tidak usah berusaha saja. Status quo saja. Itu yang paling aman. Sebab, mau berusaha malah disudutkan (dengan kesalahan administratif).
Bagi yang sudah tidak tahan, pindah ke luar negeri merupakan alternatif yang paling masuk akal. Jangan salahkan mereka.
Sepertinya jualan dodol membawa masa depan lebih jelas hehehe..
Saya juga mengamati banyak orang pinter ngga mau balik ke tanah air karena lingkaran dodol ini susah diputus. Gimana caranya mutus 1 mata rantainya itu biar dodolnya morat marit?
Sudah lama saya ndak nyambangi rumah sejuk ini, dos pundi kabar’e mas? Saya butuh dodol nih buat sangu mulih