blankhand holdme598andrewshould have used a narrower DOF...hah

Ini..TNI kita!

TNI

Tiga hari lalu saya berkesempatan ikut menonton sebuah rekaman film dokumenter tentang satu setengah tahun suka dan duka Tentara Nasional Indonesia yang tergabung didalam pasukan UN atau PBB dalam misi perdamaiannya di Lebanon . Padahal tentara dari negara lain hanya berjadwal per-empat bulan , lalu berganti .

Konon film tersebut belum selesai diedit untuk dipertontonkan juga pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Tak mungkin saya ceritakan secara detail apa yang saya lihat dan saya rasakan didalam hati . Namun sebagai gambaran singkat akan saya coba tuangkan disini, mudah-mudahan mewakili realita yang terjadi .

Pertama , pancaran semangat dan sikap kesatria yang sudah lama buram (dimata saya) semenjak berbagai peristiwa di tanah air kita , kini tampak perlahan muncul diwajah-wajah personal TNI kita.

Mereka berhadapan dengan dua lawan , pertama kaum perusuh (gerilyawan dan sniper) kedua , kerasnya medan atau cuaca dan alam .

Keterbatasan fasilitas penunjang dasar yang disediakan (spt. kemah s/d bangunan) sebagai posko atau disebut Indobatt singkatan dari Indonesian Battalyon , harus dibangun sendiri dibawah tekanan suhu yang mencapai -4 derajat celcius.

Patroli disetiap 4 jam silih berganti dengan resiko dua juta cluster bomb warisan Israel yang belum ditemukan / dijinakkan dan sewaktu-waktu bisa meledak , membunuh siapa saja .

Sudah menjadi kewajaran apabila kita dihadapkan pada tontonan betapa keras dan kejinya kehidupan dan perilaku manusia dimedan peperangan , walaupun saya sendiri juga sebatas hanya dari menonton ditelevisi atau dalam film-film saja .

Namun ada yang luar biasa bagi saya saat menonton film tersebut , sebuah dahaga padang pasir yang sudah terlalu lama jauh dari ramah hujan kini seolah jatuh dari atas langit membasahi bumi bahkan menjadikannya sebuah telaga yang berpengharapan panjang

~

Kekaguman tentara-tentara Spanyol dan Italy kepada sikap disiplin dan kuatnya mental / fisik TNI kita , mereka apresiasi dengan tinggi , mereka katakan , mereka ceritakan dalam rekaman video yang jelas tak mungkin berpotensi bahwa ini adalah hasil dari sebuah dongeng yang direkayasa.

Sambutan luar biasa dari warga sipil Lebanon terhadap TNI yang dimata mereka sangat jauh lebih manusiawi dan menghormati hak-hak asasi dibanding dengan tentara-tentara dari negara lain , yang tak peduli dengan paradigama budaya lokal Lebanon apalagi ikut memelihara mesjid-mesjidnya . Sedangkan tentara Indonesia bahkan sampai turut menyapu dan membersihkannya (mungkin disebabkan karena sesama Muslim) Mereka bahkan tampak sering kerkumpul bersama-sama seperti layaknya satu bangsa.

Seorang anak lelaki kecil berusia 12 tahunan bahkan memberikan komentar panjang lebar tentang keinginannya pergi ke Indonesia (spt yang dia lihat di peta) Wilayah yang sangat luas dalam imaginasinya dengan 200 juta jiwa lebih penduduknya , dan semuanya pasti seperti tentara-tentara ini ramahnya , kurang lebih seperti itulah dalam pikirannya.

Tahukah anda yang membuat bulu kuduk saya bergerak dan mata terasa mengambang seketika.

Tentara-tentara itu , TNI kita itu , yang selama ini terekam kejam karena menembaki anak-anaknya sendiri , yang selama ini sering kita temui ‘petantang-petenteng’ dijalanan seperti cowboy yang mau menang sendiri.

Mereka jadi saksi sejarah bagi warga dunia yang terukir di Lebanon , mereka menunjukkan jati dirinya sebagai pengawal sebuah wilayah kedaulatan dengan identitas budaya yang beragam dan berbagai bentuk namun “SATU”

Dari warga sipil (baca:rakyat) Lebanon hingga tentara-tentara dari negara-negara lain , berdecak terkagum melihat TNI kita menggelar tarian “Hanoman Obong” lengkap dengan tarian kecaknya . Kegiatan tersebut rutin dilakukan disaat-saat ada waktu jeda untuk beristirahat , disaat bergantian dengan kontingen lainnya untuk bergiliran berpatroli .

Sebuah wilayah humanis yang tak tersentuh oleh disiplin militer negara-negara lain yang ada disana .

Sebagai warga-negara saya melihat dengan jelas sosok / fungsi dan tugas tentara kita sebagai pembela bangsa dan tanah air Republik Indonesia .

Tentara Rakyat adalah tentara yang mengawal dan melindungi rakyatnya , melindungi rakyatnya adalah melindungi bangsa-bangsa yang hidup di Nusantara . Melindungi bangsanya adalah melindungi juga wilayah budaya masing-masing bangsanya .

Indonesia , sebuah kesepakatan mulia yang belum selesai mentuntaskan jatidirinya , karena itu pula ketika tentara rakyat diletakkan sebagai pembela/pelindung pemerintah dan penguasa maka dia berhadapan dengan anak-anak bangsanya sendiri .

Darah anak-anak mereka sendiri masih terasa membasahi Trisakti / Semanggi dan lain-lain , luka akan pulih dan kering ketika si “busuk”sang dalang diseret kemeja hijau dan dijatuhi hukuman dengan seadil-adilnya oleh hukum yang adil . Bukan oleh hukum dadakan yang dibuat mendadak untuk sekedar memenuhi kebutuhan senang sendiri .

Saat ini Tentara telah berhasil melepaskan dirinya dari jebakan “Dorna-Dorna” politik . Saatnya bagi rakyat untuk segera berdaya , ber-inisyatif , dan melanjutkan rencana mimpi-mimpi “bangsa-bangsa” di Nusantara dahulu.

Sejak malam itu kebanggaan saya kepada kegagahan Tentara Nasional Indonesia terhimpun kembali . Semoga Tentaraku adalah bapakku .

About the Author

jsop

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara.... wong cuman seniman . Ibarat sebuah cermin , cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa . Jangan membaca tulisan seniman bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

13 Responses to “ Ini..TNI kita! ”

  1. Pada dasarnya militer/TNI itu organisasi yang bagus kok. Di Indonesia, TNI mungkin organisasi yang paling rapi dan jelas aturan mainnya secara internal.

    Kalo ada citra negatif, itu kan dilakukan oleh oknum prajurit atau kesatuan. Stratanya mungkin sama dengan agama manapun yang memberi pedoman hidup positif buat pemeluknya. Kalo ada yang negatif, itu salah pemeluknya kan, bukan agamanya.

  2. Namun tingkat kompleksitasnya berbeda kan , mas hedi.

    Kalau dalam masjid Imam melakukan kesalahan , maka makmun bisa melakukan koreksi seperlunya .

    Kalau dalam struktur kemiliteran , bila jendralnya “sableng” (ucap:ws.rendra)
    Apa iya kopral bisa teriak : Siap..Dan! tapi sampeyan ngawur dan ngga pake otak! masa saya suruh nembaki anak-anak saya sendiri.

    Maka DOooRR!….PlletuuKk…AAoww..! benjollah jidat sang kopral , ditembak pake peluru karet sang jendralnya sendiri.

  3. Alhamdulillah…
    Informasi dan pandangan mas JSOP bagai oasis di genggaman hati saya.

    Mudah2an pandangan ‘rumput tetangga lebih hijau’ (hijau untuk bersikap santun dan ksatria) bisa kembali kepangkuan negri sendiri oleh TNI…perlahan tapi pasti, memangkas rapih kehijauannya lewat seragam hijau, untuk hijaunya rumput sendiri, bukan milik tetangga.

    Bravo Hijauku !

  4. Membaca tulisan mas JSOP ini saya merasa terharu sekaligus bangga melihat persepsi bangsa lain terhadap negara kita dengan wakil-wakil TNI disana, apalagi selama ini bangsa kita sering dianggap negara korup,miskin dsb dan malah di negara tetangga kita sendiri seperti Malaysia para TKI disana mereka selalu menyebut ‘INDON’(terus terang kalau TKI itu sendiri mendengar kata ‘INDON’ pasti akan marah dengan istilah itu, tapi mau dibilang apa, Hiks!). dan kadang nasionalisme yang tinggi itu selalu muncul pada saat kita keluar dari lingkungan kita sendiri (boleh tanya kepada rekan atau teman-teman kita yang kuliah atau belajar di sana).

    Begitu juga dengan TNI kita, Nasionalisme mereka yang kuat tentu lebih tertanam didada mereka dan saya yakin kalaupun selama ini mereka kadang petantang-petenteng seperti koboy hal ini tentu disebabkan lingkungan mereka yang menciptakan seperti itu dan ini pun hanya segelintir oknum saja, tapi bagaimanapun mereka masih bisa dikendalikan karena adanya unsur organisasi yang kuat dan terstruktural, dan saya juga berharap di ulang tahun Negara kita tercinta ini yang ke 62 tahun menjadikan TNI lebih baik dan profesional! Wassallamm, MERDEKA!

  5. Maaf baru muncul lagi Mas … cuti terus kena DB terus sibuk luar biasa.

    Kalau untuk saya, tentaraku adalah bapakku. Lha saya memang anak kolong.
    Alhamdulillah Bapak saya sampai tua sekarang tetap memegang nilai-nilai agama dan ketimuran, nggak pernah punya masalah dengan HAM, tetap berpangkat rendah dan tetap *miskin*.

    Saya bangga menjadi anak tentara, dan kalau ada tingkah laku ngawur dari tentara, itu kemungkinan besar karena kesablengan jenderalnya, atau masalah psikososial personal.
    Kalau pakai idiom Candil, ‘tentara juga manusia’.

    Salam,
    JS

  6. Wah saya juga sudah empat hari ini meringkel terus :(
    Pake’ baju kaos lima lapis plus selimut tebel ..
    Tadinya saya juga khawatir DB mas, mau check up / periksa darah ngeri liat jarum setan hehehe ..

    Alhamdullilah hari ini agak mendingan , sepertinya cuman kena radang tenggorokan .., rokok sudah jauh berkurang tapi masih belum bisa lepas dari jari tangan..sebel!
    (ternyata saya memang orang primitif juga..udah tau racun masih disedoti & diciumi terus)

    Soal tentara , bapak saya juga mantan polisi hehe generasi pak Hoegeng , sekarang bencinya setengah mati gara-gara ngurus sengketa tanah miliknya ngga digubris sama polisi , ternyata yang punya duplikat surat tanahnya anggota polisi juga , komplit deh..

  7. apakah setuju dgn dwifungsi lagi bung??

    tapi kok dulu itu gak ada pemberontakan, gak ada teroris ya??

  8. tiba-tiba sy ingin menangis tapi malu di tengah-tengah warnet. :-) sy rasa sy akan buat kategori khusus mengenai bangsaku dgn judul ‘bangsaku’ di blog sy :-) makasih

    Banyak orang sudah menangis , seperti yang anda rasakan mas.

  9. Dwi fungsi kalau ditujukan untuk mengawasi gerak-gerik rakyat supaya bisa ditaklukkan dan ditekan jelas saya tidak sependapat.

    Namun Dwi fungsi untuk mengembalikan tentara sebagai bagian dari rakyat dan pengawal rakyat , saya setuju (mekanisme ini yang blm ditemukan rumusannya)

    Kembali lagi pada sistim per-undangan kita , politikus Indonesia bersuka-ria memanfaatkan celah kesenjangan yang ada.

  10. sangat indah cerita dari sebuah realitas belahan lebanon bung,…akan sangat indah ketika TNI baik secara individu dan lembaga bisa menaggalkan muke seremnya ketika turun di bumi indonesia…..peristiwa 65 sampai reformasi dan mungkin lainnya tetep aja bagian dari sejarah kelam bangsa ini.saya masi belum 100 persen melepaskan ke”curiga”an akan militer…..
    tugas kemanusian dan memelihara “kekuasaan” beda jalan nya
    salam…..

  11. sayapun sependapat dengan tema besarnya :
    Harapan , dan kecurigaan (kewaspadaan yang sangat tinggi) harus tetap seimbang dan jangan sampai berat sebelah.
    Itulah makna kontrol sosial yang lengkap.

  12. [...] Bangsaku — sebuah pengakuan Artikel Tentang TNI [...]

  13. mendengar penuturan anda, saya jadi tertarik dengan video tersebut
    dimana kira-kira bisa saya dapatkan, apakah hanya untuk internal TNI???
    sebagai orang sipil saya ingin merasakan kebanggaan prajurit negara yang sedang bertugas.
    oh iya, lokasi saya tidak terlalu jauh dari jakarta

    email saya ok
    makasih

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>