Babu

-
Kalimat atau sebutan yang cukup sarkastik bagi sebuah profesi . Babu adalah sebuah profesi dengan konotasi “rendah” , atau serupa dengan “kacung” tapi paling tidak masih diatas jabatan “budak” lah.

Mengapa bisa demikian , karena sejauh pemahaman saya kondisi tersebut muncul karena tidak dilengkapinya sebuah kerjasama dengan menyertakan standar intelektualitas atau status sosial yang sepadan antar pihak satu dan pihak lainnya.

Saya memang setuju dengan kalimat iklannya Tantowi Yahya di televisi kita bahwa : “Kebodohan itu jaraknya tipis dengan kemiskinan” .

Mencermati bertubi-tubinya TKI Indonesia yang dianiaya dan diperlakukan seperti bukan layaknya manusia dibeberapa negara importir dari Indonesia , saya semakin geleng-geleng kepala .. (sampek pusing) . Koq yang diributkan oleh media dan juga pemerintah kita selama ini hanya masalah ketidak-adilan atau kesemena-menaan-nya negara-negara tersebut saja ?

Koq kita tidak pernah merasa rendah diri atau apalagi malu , memberdayakan sesama bangsa sendiri dengan embel-embel penghasil devisa negara tapi kualitas sekelas “babu” ke negeri seberang sana . Kalau yang dieksport orang-orang pintar sekelas dosen seperti Budi Rahardjo untuk ngajar di sana (kalau dulu kan mahasiswa mereka yang pada belajar disini) tentunya kita semua patut bangga dan bisa menepukkan dada .

Nah .. kalau yang dipekerjakan disana adalah orang-orang desa dari Indonesia yang relatif masih berjarak-jauh dengan pemahaman ilmu atau kehidupan yang lebih modern dan juga relatif masih sangat miskin . Tapi berniat mencari uang ditengah-tengah masyarakat yang lebih modern , lebih pintar dan lebih kaya praktis jadi lebih se-enak udelnya maka wajar saja bila ternyata TKI-TKI tersebut mungkin juga sering dianggap mengecewakan majikannya. Lha wong sekelas embok-embok dari desa yang masih berkerudung “naif” dan lugu. (sangking polosnya , dinegara lain mungkin orang-orangnya dianggap “lebih mulia kelakuannya ” padahal yang terjadi mungkin sebaliknya)

Saya kesal atau kalau toh bisa merasa marah bukan kepada bangsa peng-import tersebut saja , tapi lebih kepada bangsa kita sendiri . Koq tega-teganya menjual harga diri dibalut dengan “pemasok devisa negara”

Kapan kita bisa segera berdiri tegak dan dengan bangga mengaku sebagai bangsa besar dan punya harga diri , kalau masih dikenal dengan masyarakat pengeksport “babu”.

Jaman “budak” sudah lama berlalu , namun saudaranya si “babu dan kacung” masih berlangsung terus . Kapan berakhirnya ? tentu kalau pendidikan dan terciptanya lapangan pekerjaan yang layak yang membuat bangsa ini bisa lebih pintar dan bisa segera mewujudkan hak daulat hidupnya sesuai mimpi-mimpi tokoh-tokoh JADUL kita yang oleh generasi dijaman modern kini , jangan-jangan disebut “kuno” atau capeee deee..! ngurusin kenangan masa lalu .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

18 Responses to “ Babu ”

  1. Makanya mas, saya masih punya semangat yang menggebu-gebu untuk mengekspor produk seni Indonesia. Maaf kalau agak berbau kapitalis, tapi saya pikir ini lebih baik daripada kondisi yang ada saat ini (ekspor TKW).

    Terus terang, saya bangga dengan musik Indonesia yang masih bisa dijual di luar negeri. Setidaknya di Malaysia lah. Maaf kalau ini dianggap oleh seniman sebagai melacurkan diri. Setidaknya, orang semacam mas Yockie bisa menjadi salah satu penghasil devisa yang dapat digunakan untuk membangun negara ini. Mosok kita ndak malu sama TKW?

    (hi hi hi. “Kompor mode” on: Jadi kapan keluar produk seni yang bisa dijual ke luar mas?)

  2. Wah.. menjual lagu Indonesia kenegeri seberang bukan sebuah pelacuran kesenian mas . Masing-masing karya cipta mempunyai ruangnya sendiri-sendiri . Ruang industri jelas ruang perdagangan yang bisa digunakan bagi karya-karya mass product untuk mengais rejeki / ekonomi contohnya kerajinan bali dan lain-lain yang diekspor keluar negeri , itu kan juga seni . (lagu sy jg masih ada yang sekrg ini katanya masuk tangga nada di radio sana) misal:ressa herlambang .

    Saya sama sekali tidak anti dengan karya seni seperti tsb (kalau musik relatif karya anak muda) lha wong saya juga pernah muda koq. Yang saya anti itu hegemoni industrinya di negeri ini yang semena-mena. Bukan semangat mau menghancurkan …tapi kalau bisa merebut hehehe..(semangat aja kan boleh hehe..”emangnye gampang..”) jadi kita nanti bisa sejahtera rame-rame , saya traktir anda nanti ..bajigur segentong mas..!

  3. Makanya saya pingin Indonesia ga punya program pengiriman TKI ke manapun. Di sana dianiaya, pas pulang dipalak.

    Tapi ngga kemana-mana juga lapar .. gimana dong..

  4. Mas ,
    Babu masih eksis kalo si Ndoro jya juga masih lenggah mulyo.. hehe

    waktu saya kecil saya dipanggil ndoro oleh semua pembantu rt orang tua saya .
    sekarang mereka semua (dirumah ortu) cukup “mas” . Kalau dirumah saya sendiri sudah ngga jaman lagi ada babu . Ada juga tk.cuci dan bersih2 yang datang pagi pulang sore . Dan anak2 saya semua manggilnya “mbak”.

  5. Hem.. *yang baru turun gunung lagi..*

    Koq yang diributkan oleh media dan juga pemerintah kita selama ini hanya masalah ketidak-adilan atau kesemena-menaan-nya negara-negara tersebut saja ?

    :) bukannya itu “kelebihan” di Indonesia, Mas? untuk urusan publikasi & menilai apa2 yang tidak-adil? paling kencang kan menyuarakan ketidakadilan.. tapi keadilan didalamnya sendiri sangat.. sangat.. sangat.. dipertanyakan :|

    Koq kita tidak pernah merasa rendah diri atau apalagi malu , memberdayakan sesama bangsa sendiri dengan embel-embel penghasil devisa negara tapi kualitas sekelas “babu” ke negeri seberang sana .

    :( sebenarnya miris..
    dan sebenarnya lebih miris lagi karena belum bisa berbuat sesuatu..
    meskipun mau..

    Saya doain kamu ya..biar lancar langkah cita-citamu , siapa tau suatu saat jadi Menteri jadi kan bisa lebih berbuat sesuatu untuk bangsamu .

  6. Bener Kuke ,
    Menarik membaca tulisan Rieke Diah Pitaloka di Kompas hari ini (1 sept 2007 Kekerasan tak bersuara) .
    al: “Pahlawan devisa” , bahwa sebenarnya kalimat tersebut dalam kosakata bahasa politik bermakna “merendahkan”. Karena sebenarnya kata pahlawan adalah berdasarkan patriotisme , pengorbanan sekaligus keteladanan . Nah..dalam konteks perbabuan rasanya absurd deh.. Rieke juga menceritakan tentang terminal 3 di Bandara yang katanya adalah bukti nyata perilaku yang diskriminatif pada kelompok pekerja tersebut .(katanya sih mirip halte bus) sayang saya belum pernah liat.. , pengen liat juga sih .. semoga tidak harus jadi TKI dulu .

    Kembali pada istilah perbabuan saya nyatanya masyarakat dibuat agar semakin bangga dengan julukan tersebut.

    Satu lagi.. dan harus diingat bahwa mereka melanglang kenegeri seberang bukan dengan semangat ekspansi usaha atau mengembangkan ilmu dan mencari pengalaman , tapi mencari nafkah …karena dinegeri sendiri sudah semakin sulit mencari pekerjaan , pemerintah RI harusnya sudah malu sebelum diingatkan warganya sendiri .

    Bahkan konon pekerjaan yang haram saja sudah “habis” , apalagi yang halal .

  7. Bung…
    kalo di kmapung udah gak ada kerjaan, mau ngolah sawah males.. ya mendingan jadi TKI to ?

    modal tenaga gito..

  8. 1000 orang niat kerja dengan bener , 1 orang “bondo nekat” (nyolong , jual diri , menipu dsb)

    “Rusak susu sebelanga hanya karena nila setitik”
    Kalau dunia mendengar , taunya kan “Indonesia” .

    Indonesia bukan lagi Bali / Yogya / Rudi Hartono / Liem Swie King atau masyarakat yang ramah tamah , kaya raya dan lain-lain seperti dunia mengakrabinya jaman dulu .

    Sudah saatnya energi pecundang termotivasi oleh cermin diri yang buruk rupa , lalu berbalik menjadi energi perlawanan melawan kebodohan dan kemiskinan .

  9. Atau … cermin diri yang buruk rupa menghasilkan depresi, marah dan sedih akan nasib. Ahirnya malah menjadi lingkaran yang makin melemahkan diri.

    seratus persen setuju , bentuk konkritnya jangan pernah menyerah pada keadaan yang menjengkelkan . Kritik pada sesuatu yang buruk harus konsisten , namun jangan menjadi “tak berdaya” walau tak diberdayakan jaman yang “edan”.
    Bukan saya mau menepukkan dada , namun sekedar gambaran ilustrasi diantara orang-orang se-posisi (kalo ‘nasib’ koq kesannya kurang baik)

    Jangan pernah mengemis!
    Ciptakan sendiri lapangan pekerjaan diri sendiri!
    Walau belum atau tidak ‘segebyar’ iklan industri monopoli.

  10. Ini pengalaman…
    Saya & kel memperlakukan pembantu dirumah rasanya sudah sangat manusiawi sekali – mis. anak2 memanggil ‘Mbak’, apa yang saya makan persis sama dg yang dia makan, ada TV dikamarnya, kasur empuk, imbalan bayaran juga wajar, dll.Pokoknya saya semampunya ‘nguwongke’.Lha wong saya anggap sebagai mitra kerja. Tapi kok pada gak krasan ya….? ‘Alasan berhenti juga tdk jelas. Tapi lebih dari itu kami sekeluarga juga introspeksi, mengapa kok gak betah ?
    Banyak teman2 mengalami kejadian yang sama, sampai2 ada yang ngomong “itu memang bagian dari mentalitas dijajah, lebih ikhlas bekerja untuk bangsa lain ketimbang bekerja dinegerinya sendiri, walau konsekwensinya …disiksa!”

  11. Kasus yang sama yang terjadi dimana-mana mas , bahkan sekarang sudah ada sindikat maling dengan kedok suplier PRT. (saya salah satu korbannya)

    Mental PRT sekarang memang jauh beda dengan mbok-mbok jaman kita kecil dulu . Kalau dulu pengabdian mereka berkiblat pada “ndoro” , seperti kawula mengabdi “raja” . Jadi kesetiaan serta kejujuran dijamin 100% .

    Sekarang jaman global , mereka yang relatif kurang pendidikan pengen segera bisa tampil seperti artis dan selebritis kita yang di teve . Canggih / gonta-ganti istri atau suami , trendy , mau langsung open minded dan minimal handphone dan celana jengki , sayang.. udah ngga mode lagi rambut disasak kaya singa .

    Minusnya , jaman dulu kelakuan PRT relatif baik karena dipaksa hidup dalam sistem paternalis dan feodalistik .

    Jaman sekarang minusnya karena pendidikan yang tak juga berkembang membuat masyarakat tetap “bodoh” tapi hidup dijaman yang semakin pintar .

    Hasilnya ya itu , “sok tau” dan akhirnya menipu kiri dan kanan untuk membeli “sok tau”.

    koq membeli..?

    Karena “sok tau” adalah bagian dari status sosial yang diakui masyarakat “bodoh” selain harta yang konkrit .

    Coba anda dijaman sekarang berpegang teguh pada sikap “silence is golden” ditengah masyarakat ini , apalagi kalau anda bukan dianggap sebagai orang kaya . (yang mereka lihat dari minimal penampilan anda)

    Adakah yang menegur dan bersapa-sapa akrab dengan kita ?

    PRT tersebut setelah pulang dari perantauan minimal bisa bercerita tentang “wuih”nya naik pesawat terbang dan gambaran tentang kehidupan diluar negeri sambil bolak-balik melihat-lihat HP siapa tau ada sms baru yang masuk .

    (*hehehe .. saya juga sok tau*)

    Mas Indrayana menyebut jumlah angka yang bekerja disana 1,8 juta ? angka tersebut akurasinya tepat atau masih belum termasuk sample error nya mas?

    Plus yang “gelap” istilah mereka “imigran jadah/haram” ??????

  12. mas yockie aku ada beberapa teman yang boleh dibilang sukses sebagai tki ilegal di amrik dan jepang.mereka bekerja keras dan cerdas sehingga bossnya juga mengakui bahwa yki indonesia lebih handal dibading tenaga kerja dri philipina thailand india bangladesh turki rusia maupun dari amerika latin.tki lebih rajin pintar dan setia dan ga suka protes.pengusaan bahasanya juga lebih cepatdan mumpuni.jadi rasanya kok kurang pas kalo dibilang kita jadi kacung atau babu mas.jangan digebyah uyah dunk.

    wah..nyuwun pangapunten.. benar, saya ngga boleh gebyah uyah meskipun maksud sebenarnya juga bukan seperti itu mas , centre point saya ada pada tingkat PRT bukan TKI dalam pengertian pekerjaan yang lainnya yang lebih memfasilitasi kemampuan untuk mengembangkan intelektualitas serta harkat dan martabatnya .
    Mungkin saya ter-provokasi spesifik kasus disatu tempat saja . Matur nuwun sudah di ‘elingaken..

    Sekali lagi terimakasih atas “tegurannya” , dan semoga banyak TKI-TKI berkelas yang nular ketempat yang saat ini heboh tersebut.

  13. Salah satu pilihan dan cara spy tidak jadi ‘babu’

  14. Iyah. Saya juga curiganya, TKI-TKI disini diperlakukan semena-mena, krn mereka juga gak siap kerja.. Mayoritas polos2x, padahal kan si majikan itu udaha bayar mahal ke agent-nya… Jadi siapa yg salah? Si majikan yg kesel krn udah bayar mahal dgn janji dpt pembantu yg siap kerja, si TKI yang mengadu nasib ke negeri orang, agent yang janji2x palsu. Atau negara si TKI yang gak kondusif buat para TKI untuk berkarya dan dihargai karyanya sehingga dapat hidup? :D heheheehe

  15. Sangat menyedihkan memang,..Negara yang lumayan besar dan berpenduduk lumayan besar juga dan sudah lumayan lama berdiri semenjak memproklamirkan kemerdekaaanya 63 tahun yang lalu akan tetapi sampai saat ini sebagian besar rakyatnya belum mendapatkan hak kemerdekaanya, bahkan untuk mendapatkan kehidupan yang layak mereka harus merantau ke negeri orang dan berkhir dengan penganiayaan dan pemerkosaan,..sampai kapankah kebodohan dan kemiskinan ini akan terus tumbuh di negeri tercinta ini,..sangat menyedihkan,……

    Tp ini saya yakin bukan kesalahan si “Babu yang bodoh” itu tp ini adalah kesalahan para pemimpin negeri ini yang tidak mau memikirkan rakyatnya sehingga kebodohan terus merajalela karena tidak semua rakyat di negeri tercinta ini mampu mengeyam pendidikan karena mahalnya biaya pendidikan di negeri kita ini (ini khusus org miskin kl yg kaya ya murah aja),….”ini sok tahu jg kali ya heheh”

  16. “mari kita sama2 sok tau mas..” biar dibilang “pinter” hahaha

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara