Setia

“Demi TUHAN saya berjanji …..”
Masih adakah relevansinya berjanji dalam kehidupan saya sehari-hari , hingga berani-beraninya saya menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa untuk sebuah janji yang sekedar “janji”.

Makhluk seperti apakah saya ini ..

Saya berjanji setia pada ajaran yang diberikan oleh Tuhan , agar menjauhi dendam / sirik / dengki dan buruk sangka dan kasihilah sesama , karena kita semua adalah “Anak-Anak Adam”
Namun saya yang taat beribadah dan saya yang dikenal dengan tutur kata yang “Kitab Suci” tiba-tiba bisa meluapkan dendam yang mampu saya simpan selama bertahun-tahun . Bahkan saya juga menghalalkan cara untuk “menyakiti” yang lainnya yang tidak sejalan dengan kehendak pikiran saya atas nama keyakinan saya pada Tuhan juga .

Saya berjanji setia kepada partner kerja atau bisnis saya .
Namun demi nafsu menguasai keuntungan yang lebih besar saya ikhlas mengingkari kesetiaan yang diberikan oleh para pekerja bawahan saya , terutama menyangkut kesejahteraan dan hak ekonomi mereka. (bilang saja rugi terus .. bikin triple neraca)

Saya berjanji setia pada profesi saya sebagai seniman namun saya bersekutu dengan kelompok yang meluluh lantakkan nilai keagungan seni yang ditanamkan oleh kultur saya . (toh nyatanya goyang “kerawang” lebih diapresiasi “mulia” dibanding goyang latin atau samba yang lebih ber-etika , apalagi goyang lembut dewi Shinta .. ngga sexy deh!)

Saya berjanji setia pada negeri saya , untuk bekerja dengan potensi anak bangsa melakukan hal-hal apa saja demi kepentingan bersama , agar kelak suatu hari kita bisa bangkit dan sejahtera juga bersama-sama . Namun hari ini demi “keselamatan individu” dan dapur saya , saya terpaksa mengusung kepentingan bendera yang berbeda . Nanti saya akan kembali kalau diri saya sudah “terselamatkan” lebih dahulu . (masuk akal dan … *ngga janji*)

Saya berjanji setia mengelola / menyelamatkan dan melindungi asset kekayaan negara . Namun demi kelangsungan roda pemerintahan yang mendesak (BU = butuh cash) dan karena saya belum mampu mengelola sumur-sumur tersebut sebagaimana mustinya maka saya terpaksa harus merelakan pengelolaannya dikuasai oleh bangsa lain (sampai kapan ..ya mudah-mudahan ngga lama-lama , jadi bukan berarti saya tidak setia ..”saya masih dan selalu setia” tutur saya)

Saya berjanji untuk tidak mengkhianati pasangan hidup saya . Namun pikiran dan otak saya berkelebat terbang kemana-mana saat saya nonton goyang-pinggul nan menghasut nafsu birahi di media kaca / ditempat-tempat umum lainnya (mall / cafe / club & night live) .
Dan ketika dengan setengah tidak sadar (*ah..ya sadar juga koq*) saya terjebak dan terpeleset pada jebakan dunia virtual maupun nyata, maka sejauh tak ada yang melihat , saya masih berkatagori “setia”

Apakah “SETIA” itu hanya bermakna janji pada sesuatu yang bersifat “Rahasia” .

Rahasia artinya sesuatu yang tak bisa dan tak boleh terlihat . Lalu apa arti dan gunanya saya ber “Janji untuk Setia” , toh tak terlihat.. dan tidak untuk dilihat

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

5 Responses to “ Setia ”

  1. Parah ! kalau janji pada Tuhan saja sudah sekedar upacara ritual.

    Tapi sepertinya jaman sekarang orang lebih setia pada berhala .

    Ya Allah ampuni kami semua.

  2. Saya sarankan untuk mengusulkan “class action” pada departemen agama .

    Agar kalimat dalam “ijab kabul” berbunyi :

    Saya tidak berani janji , bahwa saya akan sehidup semati dan setia pada suami atau istri.

  3. sebenarnya.. kenapa sih kita mesti janji, Mas?

    demi apa?

  4. Pertanyaan sekaligus mewakili pernyataan tuh mas…’apa gunanya janji’
    Mungkinkah kebersamaan antar manusia bisa dilakukan tanpa lewat portal perjanjian?

    Karena ‘janji’memang sdh tak memiliki arti apa2..

  5. lho..bukannya udah dikabulin sebelum gw minta ?

    Ngga janji deh , sebelum elo sakit hati ..makanya cuman orang yang sok modern aja yang begitu ‘divorce’ ribut sampe pengadilan

    Eker’ekeran klonthangan rebutan balung .

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara