Framework

Opini yang terbentuk dari realita yang ada dalam kehidupan kita .

Kaca yang buram begitulah saya mencoba meng-analogikan keadaannya dan tentu saja ini adalah subyektivitas saya berdasarkan apa yang saya pahami dan apa yang pernah melintas dalam kehidupan saya.

Hidup , saya ibaratkan sebuah Framework yang membentang lebar memuat berbagai komplikasi persoalan dan menuntut kemampuan otak manusia dengan basis niat baik untuk meng-katagorikan masalah demi masalah kebutuhan demi kebutuhan bagi terciptanya sebuah rencana jangka panjang yang disebut “Grand design” kehidupan.

Design besar sebuah Negara adalah sebuah rencana besar dari hasil olah pikir & kesepakatan yang besar demi kemaslahatan hidup serta kesejahteraan masyarakat dengan jumlah yang juga relatif besar .

Itu juga pulalah yang membedakannya dengan rencana bapak Rt maupun ibu Rw, dimana jumlah masyarakatnya relatif jauh lebih kecil atau sedikit -)

Namun ternyata tidak semudah seperti dibicarakan , merencanakan sebuah rencana besar bila tak mampu meng-identifikasi dan meng-inventarisasi rencana-rencana kecil sebagai basis tempat berpijak atau sebagai landasan pendukungnya . Yang juga lengkap dengan tahap / skala prioritas yang diperlukan masing-masingnya.

Disisi yang lain , dalam konteks spiritual saya memahami dan menghayati Islam sebagai ALLAH SWT Yang Maha Kuasa serta Maha Segalanya . Dialah sang pencipta alam semesta beserta seisi-isinya . Yang tak akan secuilpun kita mampu untuk mencoba menelusuri rencana besar-Nya atau jejak ke ESA-annya .

Dia tak bisa dikatagorikan dia tak bisa digolongkan atau apalagi diibaratkan.
Oleh karena itu pula DIA tidaklah sebatas diwilayah ruang arabian , europian atau american atau asian sekalipun yang bisa kita wakilkan jejak keberadaan-Nya .
Dia adalah “Allah” , Maha Luas Maha Besar yang mewujudkan manifesto kesempurnaan dan kesucian yang tercermin dari seluruh ciptaan-Nya dan seluruh ajaran-ajaran-Nya . Sebagai umat dan makhluk miliknya tentu saja kita wajib tunduk patuh serta menghindari semua apa menjadi larangannya.

Memahami ‘framework’ ke-Tuhan-an tak bisa hanya dilakukan dengan menjalankan ibadah ritual serta menghafal ayat-ayat dalam kitab sucinya saja .
Namun seyogyanya mampu mensyukuri keniscayaan dan keberadaan alam semesta beserta se-isinya lengkap beserta segenap mahluk bernyawa lainnya , serta selalu sadar untuk memohon pengampunan atas daftar panjang catatan dosa-dosa yang telah kita lakukan.

Mungkin itulah salah satu makna dari bulan suci Ramadhan…bagi kita semua , diberikannya ruang dan waktu agar kita bisa saling memaafkan antar sesama mahluknya.

Mengenal dan mencintai Allah juga tidak bisa hanya ditampilkan dengan sekedar melengkapi berbagai accessories yang membalut sekujur tubuh kita .

Mensyukuri dan memberdayakan segenap indra yang dianugrahkan adalah prasarana mutlak bagi terciptanya rencana-rencana kecil sebagai pendukung terciptanya rencana-rencana yang lebih besar .

Apakah rencana besar manusia dalam perspektif spiritual ?
Tentu saja adalah Surga atau rumah Allah sebagai tujuannya .
Namun framework Ke-Tuhanan berbeda dengan framework Kenegaraan .

Kita tak diijinkan mencampuri seperti apakah gerangan rencana-Nya kemudian .
Kita hanya wajib menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam konteks framework berjudul Indonesia , seperti apakah gerangan design besar bangsa-bangsa tersebut terbaca lalu sudah seberapa jauhkah dia berjalan menuju cita-citanya .

Kita wajib mengetahui , kita wajib merencanakan dan wajib pula memperjuangkan untuk merebutnya . Karena Tuhan tidak akan turun menghampiri rumah kita masing-masing untuk membantu umatnya yang congkak dan hanya mau ‘terima jadinya’ saja , yang sambil komat-kamit membaca doa meminta , seolah sudah memenuhi syarat untuk berbisik di jendela rumah-Nya berharap sebentar lagi DIA pasti akan segera mengabulkan semua permintaan kita .

Kita semua sepakat ber-ikrar dengan segenap jiwa dan raga untuk berani menghadapi berbagai rintangan serta hambatan menuju rencana besar tersebut .

Namun sudahkah kita tuntas menata rencana-rencana kecil dan mengerjakannya atau sudahkah secara konsekwen kita menjalankan dan menghadapi segala tantangannya.

Rasanya hingga detik ini dari berbagai fakta perjalanan 62 tahun bangsa Indonesia . Rencana-rencana kecil tersebut tampaknya saling tumpang saling menindih , bukannya menjadi barisan penguat yang memperkokoh tembok-tembok berbangsa , namun justru men-degradasi keutuhan dan berpotensi meruntuhkan tatanan pilar-pilar satu dengan pilar yang lainnya.

Dalam contoh yang sederhana misalnya , kita temui dikolom-kolom berbagai mailling list atau blog yang tersebar didunia maya kita . Betapa sulitnya berbagai kelompok intelektual membangun pilar-pilar budaya untuk berkomunikasi dengan kelompok yang berlatar belakang disiplin berbeda . Ini salah satu contoh soal sebagai bagian dari upaya membangun “rencana-rencana kecil” bagi tujuan besar .

Seringkali terjebak dalam argumen-argumen ‘spesifik’ ke-ilmuan yang dengan sekejap menciptakan dikotomi “kaku” yang memproduksi hawa arogansi yang menyesakkan ruangan lalu defensif dibalik dalil-dalil dari wilayah kompetensinya masing-masing.

Entah…bahasa dewa dilangit atau bahasa menara gading yang tak mau menjangkau mengulurkan tangan , atau mungkin juga bahasa ‘dilevel lainnya’ yang berbeda , yang tak mampu atau enggan memahami manfaatnya apalagi untuk mencari solusi bagi titik temunya .

Belum lagi pada jajaran media cetak dan elektronik lainnya , sebagaimana kita dengar dan lihat dengan mata kepala kita sendiri . Politisi kita saling berdebat beradu pintar mencoba mendesign makna dengan mempermainkan kata-kata .

Seakan-akan menerbitkan gagasan besar yang sarat rencana yang matang , padahal sesungguhnya hanya sebatas tontonan sirkus yang berkadar pesona se-kejapan mata.

Retorika dan perdebatan yang akhirnya tak menghasilkan kreativitas apa-apa sebagai satu persyaratan untuk menciptakan perilaku ‘budaya’yang diperlukan bagi bergeraknya sebuah “rencana-rencana kecil” guna terciptanya kerangka rencana yang lebih besar .

Didalam dunia kesenian terjadi hal yang serupa . Betapa peliknya membangun ruang komunikasi dan kerja antar pelakunya agar kepentingan apapun termasuk kepentingan ekonomi sejalan dengan “rencana-rencana kecil” untuk mendukung rencana rencana besar dan berfungsinya agen-agen kesenian sebagai salah satu unsur mesin budaya bagi masyarakatnya .

Acapkali semuanya dibenturkan pada konflik kepentingan berjangka pendek yang sebetulnya justru seharusnya kita dibutuhkan untuk saling bergandengan tangan menyusuri jangka panjang .

Yang pada akhirnya , semua hal tersebut diatas mencerminkan betapa kita sebagai sebuah bangsa , baru mampu merencanakan sebuah “Rencana Besar”, namun masih mengabaikan atau gagal menyusun , men-definisikan serta mem-prioritaskan berbagai masalah-masalah agar terciptanya bingkai pekerjaan yang mendukung terlaksananya “rencana-rencana kecil”secara berkesinambungan dan bersama .

Dibulan suci Ramadhan bagi umat Islam juga bagi umat-umat ber-iman lainnya , mari kita berharap bersama memohon kepada Yang Maha Kuasa .

Agar segera muncul kepermukaan diberbagai ranah disiplin dikehidupan kita , bangsawan-bangsawan negara .. bukan bangsawan dalam perspektif primordial lokal dimasa lalu .

Namun “Bangsawan” , yaitu orang-orang yang memiliki kepekaan serta kapasitas berpikir , berwawasan dan berperilaku yang diberikan sepenuhnya bagi kepentingan bangsanya .

Pada saatnya nanti diantara merekalah akan muncul PEMIMPIN-PEMIMPIN yang mampu mengurai serta menata berbagai aturan agar “rencana rencana kecil” pekerjaan kita semua dapat berjalan secara massive bagi tegak berdiri dan kokohnya pilar-pilar kebangsaan kita .

Insya Allah , framework INDONESIA yang ada dihadapan kita bisa dirumuskan lalu diuraikan menjadi “job description” yang ber-agenda dalam sebuah “network” demi kepentingan bangsa yang sama , bangsa Indonesia .

Kita semua sedang menanti , bukan menanti seorang kekasih .
Namun menanti Bangsawan-Bangsawan bagi lahirnya tokoh-tokoh berkarakter NEGARAWAN , bukan sekedar berorientasi “penganan” dalam bakul yang berjalan .

Jangan sampai juga terjadi , mampu mengelola Rt/Rw lantas merasa bisa memimpin sebuah Bangsa , atau sebaliknya merencanakan sesuatu yang besar namun rencana yang kecilpun tak juga dikerjakan ….. apalagi diselesaikan !

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

3 Responses to “ Framework ”

  1. Alhamdulilah masih terus diingatkan Agama adalah urusan pertanggung jawaban yang vertikal,sedangkan ibadah urusan kepada yang lebih horizontal .

    semoga tidak dipolitisir oleh negara.

    Dimuka Tuhan masing-masing menuai pahala.

  2. Zaman kita memang krisis orang besar. Atau, kemungkinan lain, yang saya percayai, setiap zaman pasti melahirkan orang-orang besar. Namun orang-orang ini tidak kita temui di pusat-pusat kekuasaan atau poros media. Mereka ada di antara kaum marjinal.

    Tentang komunitas yang kesulitan komunikasi, menurut saya ada kaitannya dengan kedewasaan/cara berfikir. Jika masing-masing masih mengedepankan ego, baik ego personal maupun ego ‘gangster’ (mengedepankan kelompok atau gangnya), maka yang ketemu adalah perdebatan tak bersolusi apa-apa. Tak apalah. Bicara itu murah.

  3. Demokrasi bukankah cara untuk mencapai kesepakatan yang ber-keadilan bagi berbagai pihak yang terlibat?

    Artinya demokrasi bukan sekedar bebas berpendapat kan?

    Dimana pada akhirnya nanti , pasti ada pihak yang menang dan ada pihak yang harus mengalah demi kesepakatan tersebut.

    Sepertinya memang mentalitas ‘gangster’ masih kuat bercokol , hingga demokrasi hanya melahirkan hiruk-pikuk perdebatan tak berkesudahan .

    Atau seperti celoteh Gus Dur “taman kanak-kanak”.
    Mungkin memang ngga perlu malu-malu lagi untuk introspeksi bahwa memang kita masih kelas taman kanak-kanak , yang muridnya tuek-tuek ..ndableg lagi mas..

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara