Selera

van_gogh

Lagu adalah rangkaian dari nada-nada yang dibentuk dari pergaulan rasa orang dengan keadaan disekelilingnya .
Lirik disandingkan sebagai pesan eksplisit yang hendak disampaikan .
Musik bisa dipahami sebagai kumpulan dari berbagai jenis suara yang membentuk kesatuan harmoni nada .

Pendengar serta penikmat adalah kumpulan orang yang memiliki kemampuan membentuk sebuah citra.
Karena daya meng-apresiasi yang berbeda , maka layaklah jika “selera” dijadikan alasan yang cukup logis sebagai jawabannya .

Jika seseorang menyukai Beethoven dengan symphony no 9 dan tak ‘memahami’ harmoni “sms” dengan dangdutnya , misalnya .
Benarkah alasannya hanya karena masalah selera semata .

Jika seseorang menyukai karya Erich Segal dalam Love Story dan tak ‘memahami’ kisah-kisah cinta dalam sinetron kita .
Benarkah ini juga dikembalikan kepada yang namanya selera .

Seperti apakah definisi selera dan dimanakah tempatnya dia dalam sebuah peradaban yang ditandai dengan perjalanan intelektualitas manusianya.
Siapakah pula yang berperan membentuk selera , apakah dia datang hanya dengan (*sepelintiran ibu jari vs jari tengah*) .. ce’klik.. lalu muncul begitu saja….

Peradaban dan selera ..
Adakah korelasi antara yang satu dengan lainnya .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

10 Responses to “ Selera ”

  1. Heheh.. saya sih sama-sama sukanya baik Symphony no 9 maupun bang sms.. :D
    Btw, lagu sms itu bukannya dari Symphony no 40 nya Mozart?

    Salam, Pak VSOP ;-)

    hehe selamat ber ‘bang..sms’..pak Chen Hendrawan
    btw jsop inisial saya pak Chen, kalo vsop itu setau saya genre-nya cognag .
    Jamunya orang perancis..

  2. mas ,
    apapun kriterianya sejarah musik di Ind. pernah mencatat polemik perdebatan antar musisinya. Masih ingat kan kedua kubu musisi saling mencaci,yg satu bilang musik setan yg satu bilang musik tai kucing hehehe ;)

    Sebetulnya gimana sih dlm pandangan sampeyan ttg hal ini.?

  3. Pendapat gw? hahaha..yang pasti kita ngga bisa main terabas untuk memberikan penilaian pada sebuah karya yang bersinggungan dengan wilayah kesenian. Banyak parameter yang harus dilalui sebagai bahan pertimbangan.

    al; perannya dalam kebudayaan dimasyarakatnya.

    Saya sendiri tak pernah tertarik untuk membahas
    seni dalam konteks kualitas dan estetika .
    Namun tematik penting bagi saya untuk dibicarakan.
    Karena tema adalah sesuatu yang menghubungkan kita dengan jembatan masa depan .
    Lagipula seni bukanlah hasil karya yang bisa dinilai dengan hitungan eksakta , seperti 1+1=2 ,
    ini menurut saya…lho

    Tapi jujur aja, hanya dangdut satu-satunya musik yang saya belum bisa suka apalagi untuk memainkannya

    Karena ..ya itu.., dimata saya tematiknya cenderung begitu-begitu aja.(paha,dada dan sengsara) haha :)

    Suatu hari ada sebuah pesta dirumah teman saya, karena semua orang sekonyong-konyong pada joget semua dan saya bisa dianggap “asosial” bila tak turut serta , maka ..berjogetlah saya dengan gaya terpaksa..dan jelas..!’wagu..cing!’
    Tapi dalam kewaguan itu ada sesuatu yang menggelitik sanubari purba saya.

    Taukah sampeyan apa itu…? “cengengesan”
    Orang jawa mengenalnya dengan istilah “celelek’an”

    Ya…ada suasana celelek’an yang dalam sekejap mampu membebaskan penjara pikiran saya.
    Langsung seketika itu saya jadi lebih paham….
    Oooo… suasana celelek’an tho.. ..hehehe

    Jadi asumsi saya adalah :
    Celelek’an memang memberi hawa segar bagi pikiran yang sumpek.
    Dan pikiran yang menjadi segar membantu otak kiri jadi segar pula.
    Otak kiri yang segar akan semakin agresif melahirkan ide , angan-angan dan gagasan yang briliyan.
    Dan bila ide & gagasan yang briliyan tersebut bersambut-gayung dengan otak kanan ,maka
    Jadilah dia sesuatu yang bernilai “menghasilkan” .

    (*hmm…bermanfaat juga ..*)

    Nah..problemnya adalah , untuk mendapatkan kondisi tersebut hasil dari “celelek’an” harus ditindak lanjuti dengan ide/gagasan-gagasan yang segar kan? artinya tema dan persoalan juga harus berkembang sesuai permasalahan jaman , supaya segar .

    Sementara dimata saya , orang Indonesia dalam “jogetnya” itu seneng berkubang dalam “celelek’an terus menerus …:)

    Saya juga suka celelek’an , tapi emoh kalau disuruh jadi orang yang senengnya cuman celelek’an.
    Gitu lhoo..

    (mudah-mudahan tidak menyinggung perasaan ya.., karena memang bukan maksud saya untuk menyinggung perasaan orang)

  4. Bos, pengalaman nih.. kalo di radio..org usia dia atas 40-an pasti jarang yg memesan lagu2 top 40, dan sebaliknya anak2 ABG jarang bgt yg memesan lagu2 oldiest.
    Apakah ini bisa dikatakan bahwa kita mengenal dan menyukai lagu sesuai dgn umur dan selera ?
    Atau selera musik tidak bisa berkembang mengikuti jaman? Stagnan ?
    Kalo org tua, denger yg baru wah… berisik !
    Giliran yg muda, denger yg tua.. wah gak gaul !

    Thx comment-nya

  5. Kalau masalah pilihan dalam katagori usia aku memahaminya bukan dengan bahasa selera , bos.

    Tapi kepentingan yang berhubungan dengan rekam jejak peristiwa dalam hidup mereka.

    Anak muda bisa saja suka lagu beatles , padahal dia belum lahir dijamannya. Orang tua bisa juga keranjingan lagu-lagu dijaman anaknya kan? ..ini maksud saya bos.

  6. Tapi ada manfaatnya juga loh om Jockie kalau mendengarkan musik yang berlawanan dengan selera kita.

    Salah satunya adalah untuk para calon pengemudi mobil menjelang musim mudik nanti. Dengarkanlah musik yang berlawanan dengan selera anda, semoga rasa ngantuk bisa segera terusir dan tetap bisa terjaga dalam mengemudi (walaupun belum tentu bisa konsentrasi). :)

    setuju.., asal ati-ati aja om Yockie sering ‘keselek’ kalau lagi nyetir terus denger lagu yang ngga masuk selera kuping.
    Keselek bisa menimbulkan ‘cegukan’ lalu cegukan mengakibatkan kaki kanan nginjak pedal gas ‘njot-njot’an . Akibatnya mobil ‘ndut-ndut’an .

    Oh ya..btw splellingnya om yockie pake “Y” ya…, soalnya kalo pake’ “J” deket dengan merk …. (kolor)
    hehe

  7. Salero? Weleh, saya sering ndak peduli. Kalau karya visual enak di mata, maka saya anggap bagus. Kalau produk auditif enak di kuping, maka saya anggap apik. Ndesit ya, Bos? :D

  8. hehehe.. sampeyan bisa aje deh , aku yo ndesit mas . Gayane’ ae’ yak yak ‘o…hehehe

    (*ben dipikir koyo wong pinter*)

  9. Ambiguitas kata ‘selera’ ini yang kadang membuat sedikit polemik. Bermakna ‘kesukaan’ atau kah ‘cita rasa’. Kalo ‘kesukaan’, berarti ini tak berujung & tak bertepi kecuali punya masing-masing pribadinya. Sedangkan ‘cita rasa’ dibangkitkan dari pola ukur tertentu dalam lingkup perbandingan (tertentu juga).

    Tetapi keduanya (saya setuju) memang mengalir dari jejak hidup budaya dari tiap individunya, karena pengalaman memegang peranan penting buat menentukan rasa masa depannya.

    Nuwun.

  10. nah..sudah mengkerucut (*pinjam istilah soegeng saryadi*)

    Ini yang saya maksudkan , “ambigu” .
    Idealnya masyarakat yang sudah mengaku menjadi masyarakat modern memahami betul itu , hitam / putih dan abu-abu . Jangan merasa ekonomi mampu , bisa beli mobil sampai 5 tetapi…. seleranya celelek’an hehehe…

    Almarhum Benyamin S pernah bilang : “muke’kampung rejeki kota”

    Jadi dalam konteks membangun mesin budaya , “selera” harus dicondongkan untuk berpihak bukan? Tidak sehat juga kan kalau diserahkan pada mekanisme yang mengatas-namakan kesukaan , apalagi pasar .

    mas toni.radex , tengkyu

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara