Problem

biayak’an

Orang menjalani sebuah sistem pendidikan yang cukup panjang supaya akhirnya menjadi pintar serta menyandang gelar akademis yang terhormat .
Namun acapkali gelar tersebut kini tidak mencerminkan realitas perilaku terhormat sebagai “orang pintar” yang bersandang gelar akademis tersebut .

Misalnya yang terjadi pada seseorang yang menduduki jabatan sebagai direktur sebuah perusahaan maskapai penerbangan . Kita semua tau begitu banyaknya kejadian demi kejadian yang cukup menghebohkan .

Maraknya berbagai kecelakaan udara ( tentu banyak faktor lain sebagai pendukung dan penyebabnya ) , namun ternyata dibalik itu semua resiko kecelakaannya juga tidak pernah diperhitungkan untuk diperkecil oleh peranan dari kompetensi sang direktur yang mengelolanya .

Setelah kita tilik lebih jauh , ternyata sang direktur adalah penyandang gelar ilmu kedokteran gigi yang praktis pasti buta dengan aturan-aturan standar dalam menjalani sebuah bisnis jasa penerbangan .

Baginya neraca laba dan rugi adalah satu-satunya tugas yang diembankan dipundaknya serta harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya . Oleh karena itu pendidikan singkat tambahan yang dibutuhkannya adalah ilmu managemen / atau gelar bidang ekonomi .

Cara apapun akan ditempuh dan kondisi apapun akan dihadapi agar cashflow dan provit terus diprioritaskan atau wajib diutamakan.. titik !
Begitulah normatif hukum ekonomi berbunyi , tentu itu sunguh sangat benar apabila semua sistem aturan tatanan hukum dalam undang-undang yang mengawal pelaksanaan ber-bisnis dan ber-usaha sudah berjalan sebagaimana yang ditentukan dan diharapkan.

Bagaimana bila pedoman serta semboyan normatif ekonomi tersebut kita letakkan didalam sistem berkehidupan kita , yang seperti sekarang ini …..?

Contoh kedua , seorang anak muda dengan rasa percaya diri yang sah (baca:”dong” istilah jogya untuk sesuatu yang make sense) patut bangga sebab telah menyelesaikan pendidikian musik di ISSI atau IKJ atau bahkan diluar negeri , dengan gelar cumlaude di Berkley school , misalnya

Begitu ingin mengaktualisasikan ilmunya dinegerinya sendiri menjadi “frustasi” karena ternyata untuk bisa berkarya , ibarat dia memainkan alat musiknya hanya diijinkan cukup dengan dua jari tangan saja . Kalau tidak bersedia ? pasti dianggap mahkluk sok idealis yang tidak bermanfaat bagi jamannya .

Sementara saat mereka tampil diluar negara-nya dalam berbagai event “berbagi budaya” selalu diakhiri dengan tepukan tangan serta decak kekaguman sambil berdiri oleh segenap penontonnya.

Tahukah anda sudah berapa banyak anak muda Indonesia menyandang gelar akademis atau yang cerdas walaupun tanpa embel-embel gelar dan sebagainya tersebut ? Dan dimanakah gerangan mereka semua kini menyalurkan aktivitasnya ? Lalu tengoklah musisi-musisi dadakan yang kini menjadi bintang dan dijadikan lambang kesuksesan dan impian yang bisa diraih seketika

Yang dengan bangga merasa sudah global internasional dengan menaklukkan pasar Malaysia dan sekitarnya . Maaf , bukan saya tendensius mau menghina Malaysia (dalam konteks bermusik) , tetapi alangkah benar-benar lebih pintar apabila bisa menguasai negara lain yang lebih intelektual , seperti Jepang misalnya atau Australia atau bahkan pasar Eropa misalnya . Kalau Amerika.. lupain deh’ , itu negara yang katanya ibunya demokrasi namun ehmmm…ngga perlu ditulis , lagi puasa!

Generasi tersebut juga seolah ingin membuktikan bahwa “sukses” bisa diraih tanpa perlu proses panjang apalagi kontemplasi pada nilai-nilai kehidupan .

Ini ruang industri , demikian bunyi “hantu” peraturan yang harus ditaati .

Tentu juga benar bahwa suply & demand adalah rumusan dagang , dan rumus tersebut muncul serta bertekuk lutut dibawah kekuasaan mekanisme pasar .
Apa yang terjadi bila semboyan mekanisme “hukum pasar” tidak dikawal dengan aturan yang melidungi kepentingan konsumennya , apalagi bila saya menyeret-nyeret dampak terhadap aspek sosial dan budaya bagi masyarakatnya … tapi tak perlulah .. anda sudah tau dengan sendirinya .

Yang jelas hukum dan aturan saat ini hanya concern untuk menjaga stabilitas produsennya . No wonder bila melihat mereka berjalan diantara para selebriti bak seorang Napoleon “sang Perkasa” . Bahkan dalam berbagai kesempatan sang produsen tersebut selalu mendapat fasilitas ekstra untuk dapat bersanding atau duduk bersama para penguasa , pejabat negara . Sebuah upaya legitimasi yang direkayasa oleh kapitalisme kita .

Sementara para artis-artisnya selebritinya mesam-mesem , senyam-senyum yang dipaksa-paksa seolah seperti sedang berhadapan dengan Bapak Presidan SBY atau Wapres JK yang memang dalam perspektif berbeda harus dihormati , tentunya . Karena bila tidak , apapun namanya sampeyan kurang ajar!

Refleksi sebuah ketidak berdayaan yang mengarah pada peng-hambaan dan akhirnya ….lagi-lagi “penjajahan”.

Saya ibaratkan seorang mahasiswa diakhir skripsi pasca sarjana yang melongo serta termangu-mangu melihat anak-anak smp memenuhi ruang sidangnya sambil bermain-main menggambar Doraemon sedang “bugil” dipapan tulis sambil juga sebagian lainnya tertawa-tawa riang dan duduk bercengkrama dengan dosen-dosennya .

Jelas ada yang salah dengan gaya dan cara mencari uang dalam hidup seperti ini , saya bukan pembuat solusi , problem solving .

Bagaimana pendapat anda .. kita mengalir saja ? seperti air ? atau seperti udara yang ada dimana-mana .

Tunggu…..udara adalah unsur berbagai zat yang berbeda-beda , bila udara yang anda semprotkan ke saya adalah gas racun kimia , maka saya perlu senjata untuk membidik anda dari jauh sebelum mendekati saya .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

11 Responses to “ Problem ”

  1. Sekedar sudut pandang lain. Mungkin orang yang mengecap pendidikan formal (katakanlah sekolah musik) tersebut justru yang tidak bisa mengamati kebutuhan sosial? Akibatnya, karya yang disampaikan menjadi terlalu “teoritis” untuk dimengerti.

    Pernah saya bertanya pada sebuah sekolah yang berhubungan dengan seni. Pak, apakah lulusan dari sekolah ini adalah “seniman”? Bingung juga yang menjawab. Mungkin lulusannya adalah orang yang paham “ilmu seni”, tetapi bukan “seniman”. Mungkin seniman malah dibentuk tanpa melalui proses formal?

    Kok saya malah bertanya ya?

  2. hehe iya..koq balik bertanya.. :)

    Musik sebagai media hiburan memang harus cair dan tidak “terlalu” teoritis , saya agree bos .

    Tapi ruang-ruang alternatif apalagi pencerahan semakin nyungsep , saya rindu Elfas muda/Chandra Darusman /Indra Lesmana muda dan lain-lain. Mana generasi baru yang kaya inovasi dan gagasan dalam 20 tahun terakhir ini ?

    Atau yang non akademis , dari mulai Iwan Abdurahman sampai Iwan Fals .

    Hiburan penting , tapi kalau kebanyakan dan sama semua ..ya mabok juga.

  3. dulu ituh sayah punya buku judulnya “Apa gunanya Sekolah?”
    hehehe.. (bener ndak ya judulnya itu..)
    isinya nyacat legitimasi sekolah dalam kehidupan real.
    seakan2 kalo ndak masuk jenjang sekolah resmi ituh ndak bisa idup dan ndak bisa makan..

  4. Saya sendiri saat ini masih dalam situasi bertanya2 pada diri sendiri.
    Dulu saya termasuk beruntung bisa belajar tinggi dan memperoleh gelar akademis. Namun saat ini ilmu2 yg dipelajari dulu tidak satupun yg saya gunakan. Sempat memanfaatkan walau hanya sekian tahun sebelum akhirnya hijrah ke dunia kerja yang bertolak belakang. Dunia itu adalah perdagangan yang kesannya tidak terlalu membutuhkan sekolah atau gelar yang tinggi.
    Orang bilang ini ilmu alam, berdagang itu menawarkan barang yg dibutuhkan, berkualitas, dijual dapet untung… selesai.
    Tujuan saya waktu itu adalah uang. Jujur saya mengakui uang mempengaruhi semua.
    Didunia kerja yg sesuai disiplin ilmu saya, ternyata penghargaan materi yg diterima jauh lebih kecil dari dunia yg sekarang.
    Lalu muncul pikiran (yg mungkin salah) kenapa dulu harus sekolah kalau hanya jadi seperti sekarang. Rekan2 bisnis saya malah banyak yg tidak lulus SMA, tapi mereka rata2 sukses.

    Pendapat saya, rasanya di sini (Indonesia) sebuah pekerjaan sesuai dg ilmu akademis yang dipelajari kurang dihargai. Persaingannya terlalu ketat dan rumit berkelit dengan birokrasi untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Sehingga banyak yang mencari jalan pintas mendapatkan hasil yg maksimal.

    Banyak kawan yg sekolah di luar negeri, setelah lulus mereka lebih memilih tidak pulang dan tinggal untuk bekerja disana. Sebab disana karya yang dihasilkan nilainya jauh lebih tinggi dan sangat dihargai.

    Kalau bicara takdir, kita semua memang tidak tahu akan jadi apa nanti. Tapi secara teori… rasanya kok ‘agak’ tidak berimbang bahkan menjurus tidak adil. Walaupun dari ‘ketidakberimbangan’ itu materi yang diterima sudah lebih dari cukup, tapi nilai kepuasan batin terasa masih kurang. Padahal setelah kita cukup secara finansial, tentu kepuasan batin yang dicari.

  5. Mungkin karena ‘hidup’ adalah komunal , jadi apapun ras serta bentuk penampilan yang dibawa sejak lahir , lingkungan dan komunitasnya adalah rahasia intinya.

    Macan bareng macan , gajah bareng gajah dan lain sebagainya.

    Macan atau gajah nggak bisa masuk sekolah , karena itu tempatnya dikebun binatang atau dihutan bagi yang liar.

    Manusia asalnya juga dari hutan juga , karena bisa sekolah lalu jadi cerdas hingga bisa ngerti perlu celana dan sebagainya untuk menutupi ‘titit dan anunya’.

    Dijaman ini dalam skala urusan purba , mengapa ilmu tidak bisa diaplikasikan nyata bahkan cenderung tak bisa dimanfaatkan komunalnya ?

    Anda-anda yang masih orang purba ? atau masyarakatnya yang ternyata pola berpikirnya masih purba ?

    saya bertanya lagi .. hihihi (ketawa gaya mas Budi)

  6. Salahsatu masalahnya, pendidikan sekarang memang sudah menjadi bagian dari bisnis perdagangan. Keuntungan/profit yang sepatutnya hanya menjadi satu konsekuensi logis, sekarang justru menjadi ukuran utama keberhasilan bisnis.
    Kalau mau jadi kapitalis ya nggak usah setengah-setengah (biar kita jadi oposannya juga nggak setengah-setengah). Kalau mau jadi kapitalis, bubarkan saja Depdiknas. Bikin saja direktorat baru di bawah Deperindag atau namanya diubah menjadi Deperdagindik :) alias departemen perdagangan dan industri pendidikan.
    Otonomi salah kaprah. Masyarakatnya setali tiga uang. Jalur duit menguasai 75% kursi PTN. Default mindset masyarakat setali tiga uang di 75% kursi tsb, karena sudah nggak pede untuk meraih posisi yang 25%.

    Saya manyun …

  7. Setuju 1000 puuersen dengan om Jusmin Sutanto diatas , kita-kita yang masih relatif muda jadi bingung ..ngung…ngung .

    Mau idealis …gak ada ruang apalagi reward / penghargaan .
    Mau ngikutin jaman , dibilang “anak muda sekarang seenak udelnya doang”.

    Oom..oom disini , hayo carikan kami jalan keluar ..biar bukan kami nantinya yang dikutuk sejarah sebuah jaman yang eduuaan..!

    Oom jsop , salut!

  8. Mas Jusmin, dari mana angka 75% itu? Setahu saya, di ITB, jalur “mahal” itu hanya 30% (atau 35%?) dari total mahasiswa yang masuk. Sebagian besar mahasiswa ITB itu masih miskin kok. Lha wong saya masih tanda tangan permohonan beasiswa mahasiswa. Di formnya bisa terlihat bagaimana gaji orang tua dibawah Rp 2 juta/bulan dan memiliki 3 anak yang sekolah misalnya.

    Namun saya setuju bahwa aspek uang ini mulai terasa kental. Bukan soal sogok-menyogok, tetapi memang terlihat bahwa uang sekolah resmi pun sudah mahal. Harusnya subsidi negara diperbesar, bukan diperkecil dan dipaksa untuk hidup sendiri.

    Ah sudahlah …
    ttd
    “Oemar Bakrie”

  9. Sudah bukan hal yang mengherankan kalau ada dokter bisnisnya jual beli mobil , insinyur jadi agen multylevel , ekonom bercocok tanam , sampai tentara jadi direktur .

    Yang belum adalah presiden mikirin rakyat bukan mikir untuk dipilih lagi.

    Payah dah

  10. Demokrasi yang selama ini kita anut, secara tidak sadar telah mengajarkan “kapitalisme” dalam kehidupan kita. Orang hanya memikirkan sesuatu sacara materi, tanpa memikirkan hakikatnya. Yang lebih menyedihkan lagi, “kepedulian” sudah mulai menjadi barang langka.

  11. Mas JSOP,

    Seperti negara kita ini layaknya benang kusut ya, pusing, apalagi kalau bicara masalah pendidikan kadang kita suka sedih, bangunan-bangunan sekolah masih banyak yg rusak eh…gedung wakil rakyat mo direhap, hik!memalukan. apa para wakil rakyat itu sudah pada budek apa ya! atau malas baca berita.

    apalagi kalau melihat nasib para pengajarnya, dari Zamannya ‘Umar bakrie’ sampai saat ini kayaknya nasib guru masih ada saja seperti itu padahal lagu itu sudah lama dibuat Iwan Fals (1981). lihatlah iklan layanan masyarakat di TV yang menggambarkan kejujuran seorang Guru kepala sekolah yg sering kita lihat akhir2 ini di TV, untuk biaya bersalin istrinya saja harus menjual sepeda motornya. gambaran seorang Guru dalam dunia pendidikan selalu sama (miskin!, kecuali di sinetronya).

    benar gak nya comment saya!
    wassallam

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara