<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Selera</title>
	<atom:link href="http://jsop.net/2007/09/selera/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jsop.net/2007/09/selera/</link>
	<description>Gerakan Kepatutan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Feb 2010 16:23:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: jsop</title>
		<link>http://jsop.net/2007/09/selera/#comment-681</link>
		<dc:creator>jsop</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Oct 2007 10:22:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jsop.net/selera/#comment-681</guid>
		<description>nah..sudah mengkerucut (*pinjam istilah soegeng saryadi*)

Ini yang saya maksudkan , &quot;ambigu&quot; .
Idealnya masyarakat yang sudah mengaku menjadi masyarakat modern memahami betul itu , hitam / putih dan abu-abu . Jangan merasa ekonomi mampu , bisa beli mobil sampai 5 tetapi.... seleranya celelek&#039;an hehehe... 

Almarhum Benyamin S pernah bilang : &quot;muke&#039;kampung rejeki kota&quot;

Jadi dalam konteks membangun mesin budaya , &quot;selera&quot; harus dicondongkan untuk berpihak bukan? Tidak sehat juga kan kalau diserahkan pada mekanisme yang mengatas-namakan kesukaan , apalagi pasar .

mas toni.radex , tengkyu</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>nah..sudah mengkerucut (*pinjam istilah soegeng saryadi*)</p>
<p>Ini yang saya maksudkan , &#8220;ambigu&#8221; .<br />
Idealnya masyarakat yang sudah mengaku menjadi masyarakat modern memahami betul itu , hitam / putih dan abu-abu . Jangan merasa ekonomi mampu , bisa beli mobil sampai 5 tetapi&#8230;. seleranya celelek&#8217;an hehehe&#8230; </p>
<p>Almarhum Benyamin S pernah bilang : &#8220;muke&#8217;kampung rejeki kota&#8221;</p>
<p>Jadi dalam konteks membangun mesin budaya , &#8220;selera&#8221; harus dicondongkan untuk berpihak bukan? Tidak sehat juga kan kalau diserahkan pada mekanisme yang mengatas-namakan kesukaan , apalagi pasar .</p>
<p>mas toni.radex , tengkyu</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: {toni.radex}</title>
		<link>http://jsop.net/2007/09/selera/#comment-679</link>
		<dc:creator>{toni.radex}</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Oct 2007 08:55:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jsop.net/selera/#comment-679</guid>
		<description>Ambiguitas kata &#039;selera&#039; ini yang kadang membuat sedikit polemik. Bermakna &#039;kesukaan&#039; atau kah &#039;cita rasa&#039;. Kalo &#039;kesukaan&#039;, berarti ini tak berujung &amp; tak bertepi kecuali punya masing-masing pribadinya. Sedangkan &#039;cita rasa&#039; dibangkitkan dari pola ukur tertentu dalam lingkup perbandingan (tertentu juga).

Tetapi keduanya (saya setuju) memang mengalir dari jejak hidup budaya dari tiap individunya, karena pengalaman memegang peranan penting buat menentukan rasa masa depannya.

Nuwun.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ambiguitas kata &#8217;selera&#8217; ini yang kadang membuat sedikit polemik. Bermakna &#8216;kesukaan&#8217; atau kah &#8216;cita rasa&#8217;. Kalo &#8216;kesukaan&#8217;, berarti ini tak berujung &amp; tak bertepi kecuali punya masing-masing pribadinya. Sedangkan &#8216;cita rasa&#8217; dibangkitkan dari pola ukur tertentu dalam lingkup perbandingan (tertentu juga).</p>
<p>Tetapi keduanya (saya setuju) memang mengalir dari jejak hidup budaya dari tiap individunya, karena pengalaman memegang peranan penting buat menentukan rasa masa depannya.</p>
<p>Nuwun.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
