Selamat ah..

“SELAMAT HARI RAYA LEBARAN” buat semua-semua saderek lan sadoyo , maafkan segala kesalahan saya yang saya lakukan dengan sengaja .

Kalau tidak sengaja ya…ngga perlu minta maaf dan dimaafkan kan? hehe…namanya juga ngga sengaja…

Orang Indonesia itu kadang-kadang hyperbolic ngga nyadar , mungkin maksudnya mau rendah hati dan berharap orang lain juga akan berendah hati terhadap kita . Itu jaman dulu dimana ‘nilai’ masih seperti itu , sementara dijaman ‘aneh’ ini segalanya sudah berubah drastis .

Ternyata orang yang kita harapkan berendah hati tak ambil peduli .. akibatnya kita yang termakan dihati . Akibat selanjutnya orang menggunakan cara-cara tersebut diatas tak lebih hanya sebagai hiasan formalitas dan basa-basi belaka . Jauh dari ketulusan dihati . Lihat saja ucapan-ucapan yang sering beredar dimedia-media sms ataupun lainnya “Dengan segala ketulusan hati dsb…dsb…dsb” Ketulusan hati koq dianggap “cukup” hanya dengan ditulisan saja…, sementara dalam berbagai urusan kenyataan dikehidupan sehari-hari “.. sa’bodo’ te’ing “ . Hayyoo..jujur aja , kita sering kan terjebak tanpa sadar atau tanpa peduli kerap melakukannya…?

Yang lebih menjengkelkan hati , setiap orang saat ini cenderung ber-pretensi untuk membina hubungan dengan sesama lainnya .

Hubungannya .. ?

Orang cenderung jadi malas untuk membuat hubungan baru tanpa pamrih (etika sosial) sebab persoalan etika kerapkali mendulang ‘sakit hati’ . Lalu dibuatlah satu bentuk hubungan yang lebih formal atas dasar saling menguntungkan satu dengan yang lainnya , maka proses ‘sakit hati’ bisa cenderung dihindari , sebab ikatannya atas dasar kaidah-kaidah bisnis atau karena adanya sebuah kepentingan .

Untuk urusan pegembangan mitra dalam ber-usaha hal tersebut memang wajar-wajar aja , namun manusia juga perlu hubungan bathin antar sesama tanpa pamrih (materi) untuk menjaga kualitas peradabannya.

Tengok yang terjadi sampai hari ini , misalnya saat saya sholat ied kemaren diseantero bangunan Masjid berjejer spanduk iklan beraneka ragam .

Mereka seolah merasa perusahaan tersebut milik Tuhan , kalau tidak diwaspadai besok-besok iklan-iklan tersebut persis tepat diletakkan diatas kepala Imam yang sedang memimpin doa , sementara kita makmun’nya diwajibkan pakai stiker diatas sajadah kita masing-masing .

astaga..atas nama ekonomi rumah Allah pun tak lagi dihormati!

Sepertinya lebih baik kiblat mereka diarahkan menghadap ke wilayah Glodok saja deh!

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

4 Responses to “ Selamat ah.. ”

  1. rinengo sumunaring suryo wayah ratri cinodro resik ing wardoyo ngaturaken sugeng riyadi 1428 hijriyah. nyuwun pangapunten sedoyo kalepatan. ;)

  2. inggih mbahatemo , sami-sami nggeh wah sampeyan ngagem kromo inggil , jan marak’ake’ kulo gemryobos . suwun

  3. Mas Yockie, kepareng kulo nggih nderek ngaturaken “SUGENG RIYADI 1428 H,NYUWUN PANGAPUNTEN SEDOYO KALEPATAN KAWULO”….. ( ngidem Mbahatemo….he..he..)

  4. Bung Yockie.. nampaknya suasana Lebaran dan arus mudik, memang menjadi lahan beriklan yg siipp..
    Sepanjang jalur mudik..pasti ada spanduk ucapan yg “mendukung” dan juga peduli kpd para pemudik.
    Masih lagi para garda depan penjualan produk..dapet mudik secara gratis.. tapi baliknya gak ditanggung hehehe…
    Inilah peluang promosi dan beriklan pas..

    Tadi sore di KA ekonomi saya lihat seorang ibu dan anak balitanya sampe menempati toilet gerbong KA..hanya krn udah gak dpt tempat duduk dan ruang utk berdiri..
    Inilah wajah tradisi mudik dan balik kita..

    Btw, sorry lho cuman ngirim sms ucapan selamat..kalo mau ngirim parsel ntar dikira pejabat hehhe..
    Thx

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara