Hakekat

hakekat hidup

Masyarakat dijaman yang semakin modern ini terkesan cenderung mengabaikan makna judul artikel diatas .

Dimulai dari hal-hal yang sangat sepele hingga persoalan-persoalan besar yang muncul dihadapan , semuanya cenderung untuk mengingkarinya . Salah satunya adalah cermin diri yang mudah dengan setiap hari kita jumpai (mau tidak mau) yaitu tampilan potret masyarakat kita lewat media televisi .

Karena bulan puasa sudah kita lewati maka ‘protes’ boleh jalan lagi .

Seperti kita tau bahwa globalisasi ekonomi telah mengubah semua tatanan nilai dan komunikasi menjadi lebih terbuka , lebih luas serta lebih agresif mencari bentuk-bentuk nilai yang baru . Sebuah keniscayaan dari perjalanan sebuah peradaban .

Tapi menurut saya ada yang salah dengan ‘pemahaman’ dari sebuah cara untuk menuju kewilayah yang lebih modern tersebut . Selama bulan puasa seperti biasa bentuk-bentuk tontonan acara televisi kita menjelang imsak selalu bernuansa ‘dagelan lawak’ yang maksud tujuannya tentu agar ‘segar’ dan ‘ringan’ , sebab pada siang harinya orang sudah harus berpuasa .

Namun mereka lupa bahwa puasa bukan hanya urusan lapar dan dahaga saja , namun totalitas dalam menahan dan melatih diri untuk menguasai segala hawa nafsu duniawi . Bagaimana bisa iming-iming dapat hadiah seketika , dijadikan sebuah persoalan yang lumrah dan wajar , orang diteror untuk berebut nafsu hadiah hanya karena menelpon televisi yang bersangkutan demi rating . Apalagi masih disertai dengan pertanyaan-pertanyaan ‘bodoh’ yang harus dijawab . Ataukah karena pemilik station televisi tersebut bukan orang beragama Islam , makanya tidak tau aturan dalam agama Islam ? Kalau benar demikian belajarlah untuk lebih menghormati agama Islam bila agama anda sendiri ingin juga dihormati .

Orang ‘dilupakan’ tentang makna dan hakekat perilaku yang seharusnya dilakukan dibulan ramadhan , yakni mengendalikan hawa nafsu dan mengasah kembali kesadaran spiritual umatnya . Atas nama global ekonomi hal-hal tersebut diatas diterjang begitu saja. Ini bukan pembicaraan dari penganut paham fanatisme atau pikiran eksklusif yang muncul dari otak saya , namun sejujurnya adalah bisikan nurani yang keluar dari dalam hati kita semua.

Hakekat adalah sebuah kata yang tepat untuk menyambung kesamaan berpikir diantara kita , agar bisa kita menelusuri persoalan dari celah dan sudut dari angle yang sama .

Ketika globalisasi hanya dipahami sebatas mengejar dan menguasai ekonomi , maka inilah yang terjadi diseluruh lapisan masyarakat kita saat ini .

Dimanakah tidak kita temui perilaku opportunis yang menghalalkan segala cara demi penguasaan ekonomi tadi , dimanakah tidak kita temui politikus berbau busuk , pejabat negara yang korupsi , aparat hukum yang dihukum. Dan yang lebih parah intinya ada di “Hukum yang tidak beralandaskan Hukum” tapi berlandaskan pada kondisi dan kebutuhan segolongan kecil kepentingan tertentu.

Obrolan saya dengan mas Slamet Rahardjo semalam juga mengupas masalah hukum tersebut . Semua ada ditatanan hukum yang notabene bangsa kita tidak diteladani oleh para pemimpinnya . Sebagai contoh :

Orang tidak merokok dipompa bensin mengapa ditaati .. , karena jelas bisa meledak dan membunuh kita . Tapi bukankah merokok itu sendiri juga sudah merupakan proses pembunuhan lewat organ tubuh kita? koq kita tidak takut dan masih saja melakukannya (*termasuk saya*) Dan mengapa hukum negara bersifat ambigu dalam menjerat orang-orang yang merokok ditempat yang tidak seharusnya atau bahkan masih membuka peluang bagi ruang-ruang publik untuk digunakan sebagai media/sarana iklan merokok “Marilah kita beramai-ramai merokok” , bahkan sampai dihalaman sekolah-sekolah yang banyak muridnya mungkin belum tersentuh asap rokok. Ya jelas kan..ngga mungkin kalau tidak ada kepentingan ekonomi bermain disana .

Mengapa orang juga tidak merokok didalam Masjid , didalam Gereja , di Vihara atau dikuil lainnya… ? jelas takut! karena itu dosa .

Nah..jadi intinya bila ada sebuah “KETEGASAN” yang diterapkan oleh hukum yang beranjak dari landasan hukum yang pasti serta membawa “akibat” yang pasti juga dimasyarakatnya serta diteladani oleh para pemimpin-pemimpinnya . Bila itu konsekwen dilakukan maka rasanya semua tatanan kehidupan ini akan jauh dan lebih cepat untuk menjadi lebih baik dari hari ini atau sebelumnya.

Kembali ke-masalah HAKEKAT , hukum hakekatnya adalah panglima tertinggi yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun juga , bahkan presiden sekalipun wajib dihukum bila melakukan pelanggaran hukum . Lalu dimanakah posisi hukum kita saat ini berada ?. Sudahkah dia diletakkan diatas singgasana panglima tertinggi ? , atau dia masih terus disejajarkan dipangkat kopral yang secara hirarki bila dihadapkan didepan arogansi sang mayor saja manggut-manggut dan lari terbirit-birit sambil ter-kencing-kencing bila sang kolonel bersungut .

Kepentingan ekonomi telah membuat posisi hukum kita berjendela ‘tawar-menawar’ . Pelaksanaan hukum dinegeri ini sarat dengan bargaining oleh kepentingan pragmatik . Akibat lebih jauhnya memang sulit kita mengharapkan akan terjadi Revolusi Pikiran yang mampu merubah mentalitas sebahagian besar masyarakat Indonesia untuk bebas dan keluar dari mentalitas bangsa yang terjajah .

Mengapa? karena hukum bukan milik mereka yang miskin dan tak berdaya . Hukum adalah milik orang-orang kaya yang mampu membelinya dan penguasa yang sedang mendudukinya .

Lihatlah perilaku masyarakat kita sekarang ini , semakin anda mengendarai mobil mewah dan berpenampilan kaya anda akan segera dihormati oleh sekeliling layaknya “sudah pasti tokoh terhormat” padahal bisa saja anda hanya sekedar supplier produk asing tertentu satu-satunya di Indonesia . Artinya apa..? artinya hakekat Martabat dan Kehormatan ada di-genggaman sang “harta” , atau bisa dibeli dengan uang .

Jadi memang , mungkin saja bisa terjadi bahwa pengusaha-pengusaha kita saat ini adalah bagian masyarakat yang justru berperan besar menghambat proses “REVOLUSI PIKIRAN” tadi . Karena bisnis pada prinsipnya adalah meng-eksplorasi kemampuan kita untuk memanfaatkan situasi , menyiasati dan melakukan tawar-menawar demi tujuan ekspansi usaha dan lainnya.

Apa jadinya bila wilayah ekonomi diberi ruang tak berbatas demi mencapai tujuannya hingga sampai-sampai mampu bargaining dengan hukum yang berlaku .

Bukankah ini yang sedang terjadi dinegeri ini .

Saya sendiri sering dalam hati merasa justru sedih bila melihat kawan-kawan saya semasa remaja yang sekarang menyandang predikat orang kaya , yang setiap tahun mobilnya selalu diupdate dan terkini . Sungguh dimata saya perilaku penampilan mereka jauh dari decak kekaguman atas kesuksesan yang diraih . Menyedihkan .. mereka bahkan nampak tak lepas dari rasa bangga .

Soal ketaatan melakukan perintah agama? jangan ditanya..! sebagai kaum muslimin lima waktu mereka tak akan pernah lupa , bahkan berapa kali gelar haji / hajjah sudah disandangnya . Tapi apakah itu hakekat sebenarnya dari Umat Islam dalam berperilaku mengejar harta? Hanya untuk memenuhi selera duniawi pribadinya dan menutup mata pada persoalan besar “saudara besarnya” (*masyarakat luas yang masih miskin*)

Bagaimana dengan tokoh panutan yang seharusnya menjadi contoh .?

Dimanakah bisa kita temui , atau bagaimanakah dia bisa berpeluang muncul ditengah kondisi jaman yang opportunis dan penuh dengan bargaining tadi . Sebab yang dibutuhkan dan ditunggu adalah seorang “PEMIMPIN” bukan ketua organisasi atau bahkan ketua partai .Tokoh-tokoh yang lahir dan muncul melalui badan-badan organisasi adalah ibarat produk sebuah design pabrik yang sudah ter-indoktrinasi oleh pencetaknya. Selama pabrik-pabriknya masih seperti partai-partai yang sekarang ini ada ..artinya apa sudah paham sendiri kan?

Apalagi sudah menjadi ketentuan para penguasa dan elite negara ini bahwa mekanisme lahirnya tokoh harus lewat pabrik-pabrik butut tersebut .

Pemimpin adalah seorang yang mampu memahami “Hakekat” secara menyeluruh , bila dia sudah memahami maka tak ada sesuatu yang bisa ditawar-menawarkan atau bargaining-bargaining yang dilakukan diatas persoalan hakekat “HUKUM” yang pasti .

Selama tidak ada orang yang kembali memahami pentingnya / urgensi bangsa kita saat ini , maka jangan berharap terlalu banyak untuk bisa mengejar ketertinggalan bangsa kita diantara laju perkembangan bangsa-bangsa lain .

Nyatanya kita baru punya ketua-ketua belum berkadar dan berkarakter Pemimpin .

Dan masyarakat kita masih terus diajarkan “bagaimana melewati waktu” bukan bagaimana “mengisi waktu” . Dua hal yang jelas berbeda!

Sebab tidak ditemukan hakekat disana .

Sambil nonton DVD Diana Krall seseorang disebelah saya bertanya , koq dia bisa nyanyi dan bermain piano sebagus itu ya..

Jawaban saya masih sama , mereka tidak lagi bermain diwilayah estetika semata , tapi juga masuk ke ruang hakekat . Apa hakekatnya?

Hakekatnya adalah berekspresi dengan melibatkan persoalan jiwa , tidak sekedar memikirkan bagaimana raga harus menghasilkan gerak dan bunyi merdunya suara .

Adakah secuil intisari dari “musik” ini dimengerti oleh agen-agen industri yang merasa memiliki kemampuan 6 sense menilai “itu musik kuno dan ini musik modern masa kini”

Hasilnya ya seperti ini , jangan anda tanyakan kondisi musik di Indonesia!

Yuk.. bercermin diri dikaca yang bersih , termasuk kelompok petualang dan opputunis-kah kita atau golongan orang yang ‘malu’ disebut orang kalah . Dua-duanya bisa saja benar dan bisa saja salah , sebab :

Hidup hanya sebuah pilihan , tak ada kemenangan dan kekalahan kecuali sebuah pertarungan antara baik dan buruk .

salam.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

One Response to “ Hakekat ”

  1. WAW…

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara