Pedekate

nGOooohhh!

Dulu semasa saya belia , kerapkali saya jumpai suasana ‘kerendahan hati’ hampir diseluruh lapisan masyarakat kita .

Umumnya dimana-mana orang selalu mempersilahkan yang lainnya dahulu untuk memberikan pendapat apalagi untuk memutuskan sebuah langkah ataupun tindakan .

Ada juga sebagian kelompok lainnya yang mengatakan bahwa paradigma tersebut adalah cerminan dari masyarakat yang ragu-ragu dan plin-plan . Jaman dulu menyebutnya plintat-plintut . Padahal ternyata itu adalah sistem paternal yang masih sulit dipungkiri , lha wong dia sudah melekat dikulit dan dibawa sejak kita ‘jebrol’ lahir didunia Indonesia ini

Saya adalah orang yang turut mengalami kehidupan didalam sistem budaya yang seperti itu , dan saat-saat itu sayapun rada-rada sepakat dan menyetujui pendapat yang mengatakan masyarakat kita saat itu plin-plan dan ragu-ragu . Oleh karena itu segala perilaku saya semasa muda sering juga disebut oleh generasi orang tua saya sebagai generasi ‘sak enak wudhele’ dhewe’ . Jelas mereka merasa tak nyaman namun tak kuasa berbuat apa-apa , sebab “saya” adalah sebuah gejala yang sedang terjadi dimana-mana

Kini.., hari ini disaat saya menatap anak saya yang seusia saya waktu itu . Dan mencoba memahami apa yang sedang terjadi diluar sana , jiwa ini berbisik lirih ‘ah hanya sebuah perjalanan hidup’. Namun ada satu perasaan yang tak bisa saya pungkiri dan saya ‘amini’ begitu saja , yaitu mewabahnya sikap “sok tau” hampir disetiap pelosok tatanan masyarakat elite kita . Ini sudah berbeda dengan ‘sok tau’ yang dilakukan oleh generasi saya diwaktu itu

Karena ‘ke-sok’tau-an’ yang terjadi saat ini hanya bertujuan untuk menggembungkan kepentingan isi perut diri sendiri serta kembali menggiring masyarakat kita yang lainnya menjadi pelayan ‘bule’-bule’ lagi . Persis seperti jaman kite’ dijajah belande’

Sedangkan dulu kami tidak begitu..sungguh deh ..sumpah pocong..eh’ sumpah mati maksudnya . Dulu sesuai petunjuk pak Harto kita kudu “menjadi manusia Indonesia seutuhnya” demikian bapak pembanguan versi orang-orang yang suka jadi penjilat saat itu mengatakan .

Untuk semangat yang satu ini saya sangat setuju dan meng-amini beliau . Artinye kite’ harus jadi pinter dan maju tanpa lupa mempertahankan harga diri . “Semangatnya” lho.. kalau prakteknya menjadi “tidak begitu” itu soal lain lagi , paling tidak insya Allah saya ngga gitu-gitu amat. Maksudnya saya emang bodoh hehehe .. jadi ngga ada yang bisa dijual (harga dirinya kagak laku)

Masyarakat elite adalah masyarakat menengah keatas , dan jelas bukan masyarakat kelompok ‘rakyat’ yang masih asing dengan modernisasi apalagi globalisasi , saya perjelas ini sebab ternyata banyak diantara kita yang masih tidak merasa dan tak mau disebut elite , padahal sehari-hari bergumul didepan handphone dan komputer

Jelas budaya ‘sok tau’ ini adalah pengaruh dan dampak dari globalisasi dalam memahami bagaimana memanfaatkan perkembangan tekhnologi yang berkembang sepesat ini

Sudah pasti generasi orang tua kita bukan lagi ‘geleng kepala’ melihat kenyataan hari ini , seperti ayah saya kalau saya ajak ngomong soal ini selalu berakhir dengan ‘embuh..lah..nyoh..sak karepmu wae , pek’ en dhewe khono….atau aku ora urusan..!’

Nah..saya bukan mau menyetujui begitu saja opini para orang-tua kita yang biasanya lebih kuat dilatar belakangi oleh sosio-kultural dan budaya dibandingkan dengan generasi saya . Apalagi … kalau melihat cara pemahaman tersebut pada generasi anak saya… wah saya jadi sering garuk-garuk hidung yang padahal kagak gatel sama-sekali

Yang jelas output atau akibat yang dihasilkan oleh mesin budaya hari adalah sikap dan perilaku “SOK TEU” yang sudah berlebihan

Kalau saya hanya melihat dari kacamata dan sudut pandang saya sendiri ya ngapain juga…artinya saya bisa jadi sok tau juga , padahal memang rada-rada sok tau ..nyatanya

Coba ceritakan sedikit pada saya ke “sok tauan” anda , bagaimana persoalan-persoalan yang terjadi disekitar anda masing-masing

Name’nye juge pedekate’…bos!

[Koq tulisan gw kagak jelas neh maunya apa…, “ya biariinn..namanya juga lagi pede!”]

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

One Response to “ Pedekate ”

  1. saya kurang pedekate mas jsop, jadi gak bisa sok tau nih..
    ngomong2 theme yang sekarang ini ditempat saya berat lho mas loadingnya
    wassalam.

    ya ngga apa-apa juga , terkadang ngga pede juga lebih baik daripada sok pede :)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara