Satoe

anak-indonesia.jpg

Tujuh puluh sembilan tahun yang telah lewat :

Kami , putera dan puteri Indonesia ,
mengaku bertumpah darah yang satu .
Tanah Indonesia

Kami , putera-puteri Indonesia ,
mengaku berbangsa yang satu .
Bangsa Indonesia

Kami putera dan puteri Indonesia ,
Menjunjung bahasa persatuan .
Bahasa Indonesia .

Ki Hajar Dewantara , Budi Utomo , Dr.Mohammad Hatta dan lain-lainnya adalah mereka yang telah mengisi semangat tersebut dan membuktikannya dalam pengabdian sepanjang hayatnya.

Doa-doa kami panjatkan sebagai ucapan rasa terima kasih kami atas segala pengorbanan yang diberikan bagi upaya menegakkan harga diri harkat dan martabat bangsa .

Manusia memang makhluk yang acapkali baru menghargai pengabdian besar sesamanya bila yang bersangkutan telah tiada .

Dijaman ini ada sekelompok makhluk yang masih mengaku berhati nurani manusia/orang Indonesia , mereka menghadirkan mimpi-mimpi yang dibawa oleh para ‘penjajah baru’ .
Mereka mengumandangkan lagu : “Jaman sudah berubah” , lagunya enak dan merdu sekali .

Sementara disisi yang lain tarik menarik mengadu issu “anti golongan usia” marak terjadi .
Mereka lupa bahwa sekedar usia bukanlah jawaban yang ditunggu , karena sejarah tidak hanya menandai kelompok senior atau yang lebih tua saja yang melakukan dosa dan korupsi pada bangsanya.
Sejarah juga mencatat anak muda yang mampu mengkhianati cita-cita yang diembankan dipundak mereka .

Satu lagi yang mereka lupa , saat ini yang dibutuhkan bangsa ini adalah kualitas seorang Pemimpin bukannya siapakah ketua yang akan menduduki jabatan pemimpin Republik Indonesia.

Prioritas “Pemuda Indonesia” saat ini adalah me-refresh kembali semangat sumpah pemuda tersebut kepada kelompok pemuda-pemuda yang tersebar dikota-kota besar di Indonesia.
Sebab mereka-mereka inilah yang saat ini kekeringan makna dan arti pentingnya menjadi merdeka. (satu bacaan sebagai bahan perenungan lainnya)

Mereka-mereka pulalah yang dijadikan ujung tombak kaum kapitalis untuk mencanangkan dan menancapkan kuku tajamnya dibumi Indonesia .

Mereka bukanlah pemuda seperti anda yang tinggal didaerah-daerah yang tersebar dipelosok Tanah Air Indonesia . Mereka tidaklah seperti anda didaerah yang dengan segenap kepedulian dan tanpa imbalan segera menyingsingkan lengan baju bagi toleransi terhadap sesama . Mereka adalah barisan zombie-zombie yang mengatas-namakan dirinya:

Tentara yang mengawal globalisasi
Tentara yang mengawal modernisasi
Tentara yang mengawal demokrasi

Memang .. jumlah mereka tidaklah signifikan dibanding dengan total seluruh jumlah rakyat Indonesia yang konon 250 juta lebih . Namun instrumen yang disandangkan dipundak mereka mampu menaklukan disparitas angka yang ada.

Sebuah mesin ampuh dengan dukungan tekhnologi tinggi yang mampu merusak dan membuat impotensi substansi semangat sumpah pemuda di tujuh puluh sembilan tahun yang silam .

Selamat berjuang! revolusi memang belum selesai.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara