Matures

mature.jpg

Saya merasa terusik dengan perilaku dan kelakuan sebagian masyarakat elite kita dalam hal ‘senangnya mencampuri urusan orang lain’ , atau sebut saja USIL .

Ada dua perbedaan yang mendasar tentang kalimat memberikan ‘perhatian’ yang berkonotasi kebersamaan terhadap problema orang lain , yang hal tersebut biasanya muncul karena timbulnya rasa kepedulian dihati kita dan ingin berbagi pada sesama . Jadi jelas , bahwa bobot kandungan manfaatnya sudah harus terukur dan bisa diterjemahkan secara nalar dan logika .

Disisi lain , usil adalah sesuatu yang berbeda . Dia hanya muncul karena ketidak mampuan kita mengendalikan rasa iri , cemburu , sinis atau bahkan ada kepentingan dibalik batu yang tersembunyi lainnya . Rem atau intrumen pengendaliannya ya hanya lewat jalur pendidikan intelektual serta gawang terakhir adalah kualitas moral dan etika kita yang sandarannya ada pada nilai-nilai spiritual agama .

Saya contohkan kasus Dhani Dewa , koq ngga enak ya nyebutnya kasus? adakah lagi kalimat yang lebih pas sebagai pengganti ‘kasus’…? Ahh…“persoalan..!” .

Ya .. persoalan yang menimpa Dhani Dewa hingga sampai pada keluarganya . Kali ini saya justru mengkritisi masyarakat kita yang justru gemar berperilaku usil tersebut . Ngapain juga ngomongin serta mikirin persoalan orang lain sampai mulutnya berbuih-buih (kalau orang jawa bilang: nganti bacotmu suwek) , dan hasilnya hanya perasaan bangga sebab menjadi up to dated , yang otomatis seolah adalah pintar . Absurd!

Hanya masyarakat dari dunia terbelakang yang senang dengan kasak-kusuk tak juntrungan tersebut. Walau penampilan bisa saja terkesan modern , berkendaraan sambil nonton dvd dijok belakang , berhandphone , bercelana jeans , berambut warna-warni , mangkalnya di gerai-gerai ala mall atau bahkan punya yacht atau malah sering carter pesawat sendiri bila pergi ke bali . Dan pasti itu semua bisa terlaksana & terpenuhi bila duitnya bertubi-tubi kan ? artinya harus masuk katagori orang kaya dan ekonomi aman sejahtera. Orang miskin pasti ngga bisa! . Nah untuk ukuran Indonesia ..orang miskin tersebut tidak masuk dalam katagori orang modern .

Tapi ukuran modern apa hanya sebatas sampai disitu ..? tentu tidak …justru itu ukuran perilaku yang sebaliknya …kuno , katro dan ka…ka..ka..apalagi taukk……kancut.. kale’.

Orang modern itu berfikir lebih praktis / taktis dan justru tampak lebih mementingkan hal-hal yang bersifat ekonomis , bukan sebaliknya seperti ‘okb’ (orang kaya bentaran) yang minggu depan bisa jatuh miskin lagi .

Kita balik ke persoalan Dhani Dewa , seniman atau orang-orang yang dikaruniai talenta mengembangkan kemampuan spesifiknya , apapun namanya .. mau seni , atau sains , atau politik , atau agama sekalipun tentu memiliki berbagai sudut pandang pribadi yang tidak harus selalu sama dengan orang-orang awam lainnya . Karena itu dia menjadi spesial atau luar dari biasa-biasa saja .

Kita mengenal tokoh-tokoh seperti Beethoven , Lennon , Kurt Cobain hingga Iwan Fals di era Kantata & Swami serta lainnya didunia musik . Kita mengenal Hitler , Stalin , Soekarno dan lainnya didunia politik . Kita mengenal dokter zombie di-sains…siapa namanya tuh..yang coba ngebangunin orang mati lagi?…ah..saya jadi “blank”…tolong di’ingetin ya…(saya tulis menyusul nanti) *Hm… inget : frankenstein..hehehe*

Apakah kehidupan mereka semua normal-normal dan ideal seperti idealnya etika dan sopan santun yang terukur dari kehendak masyarakatnya.? tentu tidak … Namun jika ada perilaku yang menyeleweng dan pelanggaran pada norma-norma yang berlaku , HUKUM positiflah yang berhak untuk berbicara dan meringkus mereka , bukan kita atau masyarakatnya seperti layaknya jaman purba dahulu kala …diletakkan ditengah lapangan lalu dirajah beramai-ramai . Ini jaman peradaban yang lebih bermartabat bukan..? , lalu siapakah kita? …polisi bukan…jaksa dan hakim juga bukan.., perwakilan dari kekuasaan diatas langitkah kita? koq sok tau amat , mengomentari urusan diatas ranjang kasur orang lain .

Bila yang berkomentar tersebut kumpulan anak-anak ‘abg’ ..ya kita maklumi saja ..namanya juga anak kecil baru mau gede , tapi kalau sudah menjadi wacana dan topik berkaliber masyarakat luas …masya..alah , koq ngakunya intelektual tapi kelakuan mereka seperti sandal jepit produksi emperan pinggir jalan .

Artinya bila ada tindakan serta perilaku urusan pribadi mereka yang salah , masyarakat modern ngga perlu gelisah lalu panik kaya kambing bandot kebakaran jenggot .

Kita bisa menerima serta menghargai karya / hasil kreativitas yang lahir dari kemampuan otaknya dan apalagi karya tersebut juga paling tidak menyumbangkan sesuatu bagi selera dan pencerahan otak kita sendiri . Tapi koq kita menolak mentah-mentah segala kekurangannya yang notabene urusan internal dapur mereka , bukan urusan kita .

Kita dididik menjadi masyarakat yang egois , selfish yang mau enak dan menangnya sendiri. Mereka kan juga manusia …bukan kualitas Nabi apalagi Malaikat .

Bukan artinya juga saya ini ingin melakukan pembenaran bagi urusan serta persoalan seorang Dhani Dewa . Namun saya melakukan ini karena sayapun pernah merasakan bagaimana disudutkan pada persoalan yang hampir sama , yang masih untungnya tidak ada infotainmen dijaman itu dan media persnya juga ngga berani sekurang ajar serta macem-macem seperti pers sekarang . Lepas dari persoalan kebebasan berpendapat & berekspresi pers dijaman itu masih memiliki rasa santun dan kode etik jurnalis yang lebih bisa dipertanggung-jawabkan .

Orang bisa menghargai dan respect pada pengabdian kita didunia seni , tapi sekaligus mereka juga merasa berhak mencampuri urusan pribadi saya…., apaan tuh..!

Mbo..jhaayy kata orang cina semarang , tak u..’uk ya ..kata orang jadul , sialan lo ..! kate’ orang betawi. (makdikipret udah saya pake’ di-artikel sebelumnya sih..)

(nanti disambung lagi..ya , mau rekaman dulu)

ok’ berikutnya:

Saya selalu mengingatkan kepada istri dan anak-anak saya , saat menonton acara di-televisi kita , jangan terjebak oleh pesona tampilan fisik gambar yang menawan serta memukau mata semata . Namun content adalah masalah terpenting untuk dijadikan tolak ukur perlu dan tidaknya jari tangan kita menekan tombol switch / ganti chanel lainnya bila ada . Bila tidak ada yang lebih baik …ya matikan saja..! alias menghemat listrik .

Sebab tontonan ditelevisi kita hanya bersandar pada level gaya dan kualitas pemikiran serta selera asal remaja hip-hip-hura . Semua acara diberitakan serta disampaikan dengan pendekatan gaya remaja hip-hip-hura . Berita serius tentang informasi umum jadi terkesan cengengesan hip-hip-hura , sebab host-nya lebih sering menggunakan bahasa interaksi dengan pemirsanya dengan dialek remaja atau dipaksa-paksain harus terlihat remaja lagi-lagi hip-hip-hura.

Orang-orang yang harusnya tampil berwibawa karena menyandang predikat terhormat di-masyarakatnya , saat muncul dilayar televisi kita seolah-olah dikenakan ‘baju hip-hip-hura’. Mungkin agar tampak catchy serta tidak menggangu estetika gambar menurut ukuran selera mereka . Padahal substansi kehadiran orang tersebut bukan untuk masalah estetika pesona gambar semata . Namun semuanya itu dipukul rata harus diperlakukan sama oleh dunia per-televisian kita.

Dulu saya sempat pengen tahu lebih jauh , mencoba menengok kedapur produksi sebuah televisi swasta dan mengenali siapa-siapa saja sih…orang-orang dibelakang kamera tersebut . Hasilnya adalah kalimat “astaga” yang keluar dari dalam mulut saya .

Isinya didominsasi oleh orang-orang dengan selera dan gaya “nge’plek” , maaf agak-agak ben’ci ..mereka-mereka lelaki feminis tersebut yang berhak memutuskan beberapa tema acara yang layak atau dianggap tak layak tayang . Anjritt…! , Tengoklah hampir semua pelawak dan presenter sekarang senang bergaya rada-rada ben’ci . Kalau ngga gitu ngga bisa tampil & dapet job kali ya?

Ada beberapa produser yang mengeluhkan tidak mampu berbuat apa-apa untuk melawan sistem tersebut , sebab sang pemilik modalpun ikut-ikutan berbicara dilevel produksi . Hasilnya ….mereka lebih baik hengkang…dan pergi pindah ke televisi lainnya …. , eeehh disana ya sami mawon…! Kalau bertemu dengan mereka saya kerap bersapa : “selamat menikmati frustasi…dan tabah-tabahlah selalu”

Itulah sedikit gambaran tentang dunia televisi yang sebetulnya hanya masalah kecil dari sebagian besar masalah masyarakat kita . Namun disaat kondisi jaman menempatkan dunia Informatika berperan dengan begitu besarnya , maka konsekwensi yang ditimbulkan mereka tidak bisa hanya dikatagorikan “biasa-biasa” saja .

Perlu sebuah aturan main yang lebih keras dan tegas untuk membatasi ruang “cengengesan” mereka , sebab mereka bisa masuk rumah kita hingga kesudut kamar tidur anak kita tanpa diundang .

Kehadiran mereka sungguh paradoks , paling tidak untuk saat ini , hari ini dan dijaman ini dinegeri ini yang namanya Indonesia .

Artikel ini semata-mata hanya bertujuan untuk membuat kita bisa menjadi lebih dewasa dalam berpikir hingga berperilaku , paling tidak menurut ukuran saya sendiri .. ya jelas…lah.., siapa sih saya..?

Saya pemilik blog ini dan sesuka saya juga untuk berpendapat , bila bermanfaat..ya syukur alhamdullilah , bila tidak dan hanya menyinggung perasaan orang lain saja..ya maafkan saja…wong saya tidak berpretensi untuk bikin orang marah dan sakit hati .

Makanya kalau ada yang marah..ya..itu urusan mereka sendiri …bukan urusan saya . Saya ngga mau USIL mengomentari orang yang marah-marah .

wass .

 

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

6 Responses to “ Matures ”

  1. Barangkali memang cruel joke ini memang bener ya Mas …
    Menjadi tuwek itu pasti. Tapi menjadi mature itu pilihan.
    Susahnya ya itu … seperti yang pernah kita guyonin dulu, untuk ABG saat ini barangkali dunianya memang sudah diset untuk kacamata kuda, atas nama kapitalisme dan agama rating tivi.
    Orang yang punya pikiran sehat malah dianggap menderita disorientasi.
    Yang sudah PASTI banget, mengutip Al-Ghazali, kita semua bakal masuk kuburan.
    Bahwa kita mau mikir atau tutup mata tutup hati, itu mah pilihan.

    Salam

  2. Jadi teringat lagi pidato kebudayaannya Rendra .
    Ini jaman Kolobendu , dimana semua ukuran nilai / valeu berubah maknanya.
    Jaman edan berulang kembali di bumi Nusantara ini . Siapakah berikutnya yang mampu menyelamatkan kita keluar dari lingkaran kemelut ini…..

    Koq saya jadi takut mati kalo gini… neraka sudah penuh pastinya , dan banyak ‘okem’ nya disana … :(

    mengapa harus takut kematian kalau sampeyan senang menerima kelahiran , persoalan manusia adalah seberapa jauh manfaat yang dia berikan pada kehidupan . Untuk hal-hal yang berkaitan dengan dosa silahkan baca kitab agama , asal jangan bertanya pada kyai jadi-jadian saja , yang biasanya beristri dua atau tiga (meskipun tidak semuanya seperti itu) .

  3. harus ada penolakan berkesinambungan untuk mengatakan itu ‘bohong dan dusta’ serta sebuah kekeliruan yang besar , kepada segala bentuk upaya-upaya rasionalisasi hal-hal yang menyesatkan .

    Nampang (narsistik) atau nyari muka dianggap lumrah dan wajar karena itu hak azasi misalnya , atau mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain dianggap biasa-biasa saja / salah sendiri kenapa bisa dibodohin dan lain sebagainya.

    Ini jaman dimana semua kegilaan serupa muncul dan berkeliaran dengan leluasa . Bahkan mungkin kita harus berani dengan ikhlas menghukum anak kita sendiri apabila dia adalah bahagian dari kelompok tersebut.

    Sepanjang masih diijinkan bernapas , hanya itu satu-satunya upaya yang mampu saya lakukan . Insya Allah tak akan terjadi saya berkompromi dengan kezaliman , dilevel manapun juga.

    begitulah mas Jusmin..,

  4. Ada dering panggilan terdengar lewat HP saya , setelah saya terima terjadilah dialog :

    a: mas sy dari “..” (dia salah satu rekan pers senior disebuah media terkemuka) ingin ngobrol soal Fariz RM untuk disiarkan dalam acara di “…” (sebuah radio swasta) nanti malam , katanya.

    b: soal apa mas? (saya bertanya)

    c: yahh..bagaimanapun juga khan Fariz punya karya-karya yang besar bagi kita , jangan sampai masyarakat langsung melupakannya begitu saja , gara-gara keterlibatannya dalam soal penyalah-gunaan obat-obatan dan psikotropika .

    b: …..saya tertegun , lalu menjawab bahwa kebetulan nanti malam saya berhalangan .

    Satu lagi contoh kasus berharga bagi pembelajaran kita semua , untuk tidak mencampur-adukkan dua wilayah persoalan yang berbeda yang juga telah menuai konsekwensi/akibat berbeda .

    Kita berkarya dan berprestasi , jelas hasil / implikasinya adalah penghargaan serta apresiasi yang diberikan sesuai dengan apa yang kita kerjakan .

    Kita menyalahi hukum / aturan legalitas formal , jelas konsekwensinya berhadapan dengan hukum sosial serta akibat buruk sesuai dengan apa yang kita lakukan juga.

    Dua hal diatas adalah dua persoalan yang berdiri sendiri-sendiri . Tidak etis bila kita mencampur-adukkan begitu saja . Dia tidak akan menjadi gado-gado yang enak untuk ditelan dan dikunyah apalagi mengandung vitamin yang sehat , dia hanya akan merusak pencernaan didalam perut kita .

    Dulu semasa saya muda , gara-gara soal narkotika saya juga pernah dihukum hingga masuk penjara serta dikucilkan oleh masyarakat sekeliling saya …apa yang saya lakukan..? apakah saya menerima dan menyambut uluran tangan atau bantuan advokasi dari teman-teman? atau bahkan memintanya ?

    Yang saya tahu dan sadari bahwa itu adalah konsekwensi sosial dari perbuatan yang harus saya pikul sendiri . Bukan berarti membunuh karier saya atau bukan berarti masyarakat terasa telah meng-aniaya saya ..
    Secara pribadi jelas saya amat prihatin , karena dia juga kawan saya sekaligus generasi yunior saya .

    Sekali lagi , kita harus selalu ‘terjaga’ untuk harus terus belajar menempatkan berbagai persoalan sesuai dengan substansi dan relevansinya.

  5. Apakah yang mas Yockie maksudkan adalah Dr. Jekyll (and Mr. Hyde)?

  6. hehe..saya punya hak jawab dan hak tidak menjawab kan mas?
    kali ini saya pilih yang kedua ..:-)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara