Ambigu

penguasa.JPG

Masyarakat profesional menuntut agar ruang-ruang profesionalisme mereka lebih dilindungi. Namun disisi lain baju yang mereka kenakan tidak juga mereka perjuangkan untuk memperkokoh identitas tubuh diri sendiri.

Disetiap kesempatan selalu berkata bahwa kita harus menghargai hak-hak orang lain serta berbagai pendapat yang berbeda . Namun terhadap anak buahnya sendiri atau posisi lain yang lebih rendah selalu menerjang aturan seenaknya  dan menempatkan dirinya seolah bagaikan raja yang paling berkuasa.

Harus berkesadaran tinggi membangun Indonesia yang berbudaya agar harkat dan martabat bangsa kelak bisa disegani masyarakat dunia . Namun pintu-pintu penetrasi asing yang bertentangan dengan nilai dibiarkan terus lebar-lebar terbuka .

Atas nama kepentingan ekonomi golongan ataupun ekonomi kelompok yang pasti jauh dari kepentingan ekonomi masyarakat , segala cara dan istilah serta pembenaran digunakan sebagai alasan kenyataan jaman modern atau pelaksanaan kesepakatan pasar bebas .

Lagi-lagi …penyesatan pikiran di-rasionalisasi-kan .

Menuntut tanpa kerja , kerja tanpa rencana , ada rencana namun orang lain yang memetik hasilnya . Kita hanya disisakan limbah bersama sampah-sampahnya .

Dibawah ini kalimat / tulisan yang sengaja saya kutip “copy & paste” sebagai penjelasan yang lebih disampaikan secara ilmiah . Semoga sang penulis tidak menuntut saya hingga sampai kemeja hijau . Bila anda ingin membaca tulisannya secara utuh disini linknya .

Secara garis besar, dalam budaya dikenal dua jenis: budaya material (fisik, simbol) dan budaya in/non-material (pemikiran, ajaran, kepercayaan, dsb). Penjajahan yang dilakukan dalam bentuk material akan cenderung mudah terdeteksi secara kasat mata. Sebab percampuran arsitektur antar kultur dalam sebuah bangunan atau hybridasi bentuk dalam wujud pakaian adat dengan cepat dapat diketahui asal muasal identitas mulanya.

Bandingkan dengan kolonialisasi yang masuk dalam ranah kognitif dan mentalitas manusianya. Siapa yang dapat mengukur kedalaman rasa seseorang secara tepat? Dan siapa pula mampu menimbang percampuran unsur-unsur pembentuk mind set seseorang?

Nampaknya, kondisi itulah yang sedang kita hadapi. Benturan budaya yang intens lama-kelamaan kian menghilangkan elemen asal budaya aslinya. Buktinya generasi muda kita rela menyerahkan tubuhnya untuk dilumuri “grafiti” dari negeri seberang. Mereka tak rikuh membebek pada industri fashion barat. Lantas memanjakan matanya dengan tontonan sinema maupun tayangan hiburan asing, layaknya produk MTv dan Holywood.

Lalu kemanakah tayangan-tayangan hiburan produksi pribumi yang dulu masih menghiasi layar kaca, macam serial si Unyil atau pementasan wayang dan ludruk? Semua luluh dalam aksi panggung Cristhina Aguilera dan akting menawan Brad pitt. Bahkan produk industri hiburan Indonesia modern justru datang dengan wajah ambigu: pemainnya tetap orang Indonesia, tapi ide dan konsep acaranya justru impor. Contoh aktualnya terepresentasi dalam AFI, Indonesian Idol, KDI, dan sejenisnya.

Artinya, status paling fundamental dari kita telah tergadaikan. Dengan sinis Afrizal Malna menyebutnya sebagai Amerikanisasi tubuh (Kompas, 21/08/05). Afrizal menuturkan Amerikanisasi tubuh berlangsung lewat politik globalisasi yang dijalankan Amerika dan negara kapitalis lainnya untuk melakukan hegemoni ikon-ikon Amerika (penjajahan) melalui sarana berbagai media. Amerika sengaja mengonstruksi ikon-ikonnya sedemikian rupa lewat wacana kebudayaan pop, teknologi, dan modal. Akhirnya propaganda itu tertanam dalam tubuh kita sebagai koloni identitas dan konsumsi.

Artinya globalisasi membuat kebudayaan (termasuk tubuh kita) seperti jalan raya. Berbagai jenis kendaraan bebas hilir mudik di atasnya. Akibatnya ikon tunggal tersebut (Amerikanisasi) cenderung tidak dilihat secara kritis. Bahkan identitasnya seperti terendam dalam keberagaman. Parahnya lagi, seakan-akan “kita adalah Amerika.” Tetapi sebaliknya “Amerika bukanlah kita.”

penulis : Mohammad Afifuddin peneliti muda di PaSKal (Pusat Studi Kebudayaan dan Politik) Jember dan pegiat SoAC (Sense of Aufklarung Community).

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

2 Responses to “ Ambigu ”

  1. Sebernya saya termasuk yang kesal dan sebel dengan masuknya pengaruh asing (yang negatif lho) ke Indonesia. Misalnya, saya paling sebel mendengar orang mencampurkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. (Silahkan lihat di acara TV yang berbau musik, misalnya.) Lebih berat lagi … ternyata saya pun melakukan itu tanpa sadar. Halah.

    Hanya saja, yang saya juga geram adalah orang yang kesal ini kemudian menyalahkan globalisasi. Memang cara yang paling mudah adalah menyalahkan orang lain. Atau singkatnya, cari alasan. Bukankah kesalahan sebenarnya ada pada diri kita? Mestinya kita membuat “anti-bodi” yang bisa meningkatkan kekebalan kita (secara biologis maupun psikis). Apa bukan begitu? Mengeluh dan menuduh globalisasi sebagai dalang tidak akan menghasilkan solusi. Emangnya Amerika akan peduli dengan masalah kita ini? he he he. Bagi mereka, itu bukan masalah. ha ha ha.

    Okelah kita boleh menunjuk bahwa globalisasi adalah salah satu penyebabnya. Lantas, apa yang kita perbuat? Diam? Mengeluh? Berbuat sesuatu? Atau hijrah saja ya? Ke Mars atau Venus? Yuk kita berbuat sesuatu? (Tapi apa ya?)

    Blog ini, menurut saya, merupakan sebuah contoh “berbuat sesuatu”. Setidaknya dia selalu menempeleng pipi kita ketika kita sudah mulai meleng. he he he. Setidaknya kita punya bacaan yang bermutu tanpa perlu harus keluar uang banyak untuk beli buku asing (yang masih saya lakukan juga, aduh!).

    Tapi … saya masih mau lebih. Antara lain, menunggu karya mas Yockie … ha ha ha. Mode kompor teruuusss.

  2. “Hanya saja, yang saya juga geram adalah orang yang kesal ini kemudian menyalahkan globalisasi”

    Mungkin maksudnya bukan menyalahkan mas , tetapi orang Indonesia ‘terlalu santun’ untuk berani menunjuk hidung orang lain. (ngono yo ngono nanging ojo koyo ngono) . Ini Jawa lho mas..bukan representasi seluruh Indonesia , tapi cukup signifikan mewakili karakter Indonesia hehehe..

    “Mestinya kita membuat “anti-bodi” yang bisa meningkatkan kekebalan kita”

    Setuju mas , justru generasi kita sekarang ini yang sedang mulai menciptakan serum anti body tersebut . Karena penyakitnya cukup kronis , rupanya juga butuh waktu yang ekstra panjang untuk merumuskan komposisi generiknya .

    “Emangnya Amerika akan peduli dengan masalah kita ini? ”

    Nah yang ini saya agak kurang setuju mas.., justru menurut saya mereka sangat peduli pada segala bentuk perlawanan yang bisa mengganggu hegemoni ekonomi mereka atas seluruh belahan penjuru dunia ini.

    “Lantas, apa yang kita perbuat? Diam? Mengeluh? Berbuat sesuatu? Atau hijrah saja ya? Ke Mars atau Venus? Yuk kita berbuat sesuatu? (Tapi apa ya?)”

    Bukankah kita sedang berbuat dan tidak diam saja mas..? Anda sedang berbuat , demikian juga semua orang sedang berbuat , termasuk juga saya . Menulis blogpun juga katagori sedang berbuat bukan ? Seperti yang sudah mas Budi katakan diatas . Namun hasilnya adalah perenungan dalam pikiran yang berharap menghasilkan pencerahan . Tapi kalau ada yang yang berharap ‘konkrit’ atau terlihat ‘ujud fisiknya’ … ya ngga mungkin kan? Karena mindset kan bukan benda / materi fisik yang bisa disentuh / diraba dan dipegang .

    “Tapi … saya masih mau lebih. Antara lain, menunggu karya mas Yockie … ha ha ha. Mode kompor teruuusss.”

    Nah kalau mas Budi berharap saya menghasilkan karya yang bisa dibanggakan … itu tugas berat mas ..tapi juga tanggung-jawab besar yang harus saya lakukan .
    Kelak kalau kondisi dan segala sesuatunya mengijinkan serta memungkinkan , akan saya buat lagi mas sebuah karya musikal dengan komposisi yang besar dan juga akan saya libatkan orang-orang “besar” di negeri ini .

    “Kantata Samudra” … pengennya sih gitu.. mengapa kantata samudra ? Kantata sendiri bermakna ‘nyanyian bersama’ , Samudra adalah issue dimana kita harus punya kesadaran baru , bahwa negara ini adalah negara maritim bukan negara daratan . Sebuah landasan pijak yang sangat mendasar untuk menata kembali / reposisi , tubuh kita sebagai sebuah bangsa.

    Tapi itu semua adalah cita-cita saya dan kerja saya dalam jangka pendek kedepan ini , semua sangat tergantung pada ‘berapa lama nafas masih diijinkan oleh-Nya’ , atau adakah orang kaya yang baik hati dan bersih kelakuannya atau mungkin pemerintah yang memfasilitasinya.

    Bila itu semua meleset dan tak terlaksana , berarti memang sudah kehendak-Nya saya harus bekerja lewat ruang-ruang studio musik dan ruang-ruang blog ini saja .

    Saya tetap bersyukur .

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara