Toleransi

toleransi.JPG

Mengerjakan sebuah konsep kerja dengan latar belakang gagasan yang berkadar ‘besar’ atau merencanakan sebuah strategi berkategori hulu , bila dilakukan serta diterapkan ditengah-tengah kondisi masyarakat yang sudah ‘mapan’ memang terasa sangat menyenangkan dan membanggakan. Sebab itu adalah areal pembuktian bahwa kita sudah berfungsi sesuai profesi dan harkat kita sebagai makhluk sosial yang hidup / bernyawa .

Apa jadinya bila rencana dari pikiran-pikiran besar tersebut di-implementasikan ditengah masyarakat yang sesak dipenuhi dengan berbagai persoalan ketimpangan ?
Ternyata sangat dibutuhkan pengertian dan toleransi dengan kadar ‘luar biasa’ untuk bisa kita terhindar dari jebakan-jebakan yang menjorokkan kita menuju ruangan yang dipintunya tertera tulisan “kontra -produktif “.

Semangat jiwa yang lebih muda memang secara natural akan bereaksi dengan lebih gesit , lebih cepat dan bersifat seketika saat dihadapkan pada berbagai realita persoalan yang pragmatik . Celakanya bila semangat positif tersebut hanya didominasi oleh semangat ber-reaksi yang reaktif reaksioner maka jelas arah dan hasilnya akan menuju ke-lorong ruang yang saya sebutkan diatas .

all-about-me.jpg

Oleh karena itu dibutuhkan orang-orang yang tidak hanya pintar namun juga memiliki kesadaran serta sensitivitas yang tinggi untuk bisa me-realisasikan sesuatu dengan lebih tepat agar konsep kerja tersebut bisa betul-betul berguna bagi masyarakatnya.

Membangun pusat-pusat kegiatan ekonomi modern ditengah hunian kelompok masyarakat miskin dan kumuh , adalah satu contoh yang paling mudah untuk di-analogikan .

Menyelenggarakan sebuah pesta berkadar nasional ditengah jeritan orang-orang yang berkesulitan juga berkadar nasional , sungguh bukan suatu sebutan kegiatan yang bisa dikatakan bijaksana . Diperlukan kematangan serta kedewasaan berpikir juga akal sehat untuk memilih kata atau sebuah judul , agar bisa terhindar dari dugaan-dugaan yang manipulatif tersebut .

bodoh-dan-miskin.jpg

Kita semua ingin bersama-sama keluar dari berbagai kemelut persoalan yang selama ini menenggelamkan kita dalam kubangan kemiskinan dan kebodohan . Oleh karena itu juga seyogyanya kita juga harus bersama-sama meletakkan dasar-dasar ber-etika serta toleransi kepada sesama , agar langkah-langkah positif yang direncanakan tidak berbalik menyerang dan merugikan diri kita sendiri .

Semoga artikel ini bermanfaat .

wass.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

13 Responses to “ Toleransi ”

  1. Metro TV hari ini:
    Product baru seluler merk @ telah diluncurkan , dengan fasilitas bla..bla..bla..dan telah menggalang komunitas dunia maya bloger seluruh Indonesia dan bla..bla..bla .
    (menampilkan wajah-wajah bloger bintang iklan dadakan tersebut)

    selamat & sukses mas jsop , telah punya profesi baru.

  2. ^-^ terimakasih berarti wajah saya cukup pasaran (marketable)

    berdoa tanpa kerja , kerja tanpa rencana , pakai rencana tapi orang lain yang memetik hasilnya .

    Kalau benar demikian , masuk katagori terakhir kali ya?

  3. saya juga tau kalo sampeyan gak datang apa emang gak diundang?

    Tp sy cuman kesel jg liat iklan celular tsb. kesannya kaya mereka yg paling berjasa bs ngumpulin bloger se Indonesah.

    yah..namanya jg politik dagang..sepertinya emang mereka2 yang selalu menang ya bos.

  4. Mas sultan sebaiknya kalimat “…..gak datang apa emang gak diundang?” tidak perlu muncul dan gak usahlah dipermasalahkan. Karena saya juga bisa bikin acara serupa tanpa mengundang tetangga saya . Ya sah-sah saja…itu juga hak saya kan ?

    Saya memahaminya dunia maya atau komunitas blog ini kan bukan sebuah lembaga struktural yang formal . Bukankah ini adalah sebuah bentuk partisipasi masyarakat luas / bebas dan yang independen , namun secara kultural ada keterkaitan yang membuat kita interdependen ?

    Apakah akan dilembagakan? hingga perlu ada ketua atau direktur dan sebagainya . Perlu SIUP juga ?

    Jadi concern saya hanya pada tataran judul saja koq , saya yakin tujuannya pasti menuju sesuatu yang positif .
    Namun itulah gunanya kita bermasyarakat , untuk saling mengingatkan dan saling diingatkan .

    Tidak ada kebenaran yang absolute yang bisa dijadikan teori-teori ataupun alasan , kecuali saling bertanya kiri dan kekanan . Sebab salah-salah dan lagi-lagi tanpa disadari kita sedang melakukan rasionalisasi penyesatan pikiran juga .

    ok terimakasih tanggapannya .

  5. ok’ sorry mas

  6. Sebelumnya saya ucapkan salam kenal buat Mas JSOP dan semua penggemar yang sering nongkrong disitus Mas JSOP.

    Saya menyoroti masalah kemiskinan dan visi dari bangsa kita yang semakin tidak jelas arahnya. Kalau saya menganalisa karena terjadinya perang ideologi, dan kita diobrak-abrik oleh yang namanya faham naturalisme dan idealisme (maaf istilah ini tidak sama dengan yang digunakan/ditulis/diucapkan kebanyakan orang,saya lebih senang menggunakan “pola berfikir” dari pada idealisme yang biasa digunakan orang agar tidak rancu), yang mana kedua faham itu yang terus melahirkan faham materialisme, kapitalisme, liberalisme, individualisme dan masih banyak lagi.
    Globalisasi itu hanya alat bagi desainer ulung untuk mencapai tujuan akhirnya,tak jauh beda dengan renaisance, yang melahir revolusi industri dan era modern dengan kapitalisme dan individualisme sebagai tujuan akhirnya.
    Untuk membangun bangsa yang sudah mulai tidak jelas ideologinya, perlu suatu tempat yang nantinya sebagai prototype dari bangsa yang sangat komplek dan majemuk ini.
    Seluruh bangsa kita ini sebenarnya aset yang sangat besar. Kalau kita ibaratkan komputer otak kita ini, diisi dengan “software” yang tepat, pasti kita bisa jauh lebih hebat dari negara2 yang kaya. Sayang beribu sayang “software” yang terinstall sudah tidak utuh lagi, sudah tidak steril lagi dan memang sengaja dibuat sang desaigner. Mereka kawinkan dengan faham2 yang menyesatkan. Buktinya adalah manusia menjadi tesegmentasi menjadi 7 lapis,penguasa, feodal, teknokrat, bangsawan, pedagang, petani, buruh. Kemiskinan identik dengan buruh jumlahnya. Kita punya keinginan mengentaskan kemiskinan, logikanya kita hancurkan struktur sosial dalam bentuk sosial piramid tersebut, kita tidak menunggu sampai revolusi sosial datang. Yaitu melalui pendalaman ideologi pada masyarakat prototype, ini penting untuk membentuk karakter bangsa dimasa mendatang. Akan mudah mentransformasikan ideologi kepada masyarakat lainnya bila sudah ada contoh komunitas yang sudah jadi. Dalam komunitas tersebut harus steril dari faham atau ideologi yang lain, tidak ada toleransi dalam hal ideologi.Seorang Nabi menggunakan pendekatan ini untuk membangun Madinah Munawarah, bukan langsung satu area yang luas. Prototype ini ga perlu banyak, mungkin 50 – 100 orang yang punya tekat kuat untuk mewujudkan.Makmur bukanlah tujuan, tetapi penerapan konsep itu yang paling penting,makmur, sejahtera, kaya itu efek dari berjalannya suatu sistem.Maaf Mas saya tidak menggurui, ini hanya pemikiran yang perlu diuji.
    Salam.Isa

  7. Salam kenal kembali , walaupun sepertinya saya mengenali (who u r) dari sentuhan kalimat-kalimat yang anda ucapkan .
    Akan saya baca dengan seksama .

    Terimakasih telah berkenan berbagi disini .
    selanjutnya:

    Konsep membangun masyarakat prototype , saya sependapat dan saya pikir itulah yang sedang giat dikerjakan oleh berbagai kantong-kantong kebudayaan diberbagai kelompok masyarakat kita .

    Kebanyakan dari mereka memang bersifat informal non struktural , namun sepertinya ada satu kelompok yang mem-formalisasikan dirinya menjadi sebuah organisasi yang ter-struktur yakni sebuah partai . Kita semua tentu paham partai apa yang saya maksudkan .

    Sekali lagi saya setuju dengan konsep membangun kekuatan atau dalam bahasanya WS.Rendra Grk.Pemberdayaan Warga Negara. Walaupun sekali lagi juga banyak yang jatuh bangun lalu…jatuh lagi dan terlungkup …..laaammaaaa *(tambahin ah: sekaleee’*)…….lho koq lama…..eh’ ternyata sudah mati karena itu ngga mampu bangun lagi .

    Kekuatan serta penetrasi yang selama ini berlangsung akan tercatat dalam sejarah yang tak akan mampu direkayasa untuk dirubah-rubah agar manis dan elok dilihat serta sedap dipandang mata , renyah gurih dirasakan jilatan lidah kita.

    salam.

  8. Mmmmm… pesta yang mana nih? Kayaknya bukan pesta kawinan tetangga saya yang Mas JSOP mangsud.

    Tentang toleransi, saya punya contoh.
    Dulu sebuah grup penerbitan membatalkan pestanya, dengan sajian utama musik, karena sebelumnya Tempo, Editor & Detik dibredel.

    Grup yang sama juga beberapa kali membatalkan pesta internal yang “full music” (kayak angkot aja), karena sebagian masyarakat lagi kena musibah.

    Lantas adakah yang salah dengan sebuah pesta? Lihat kayak apa dulu pestanya, dan untuk apa. Karena kere pun, dalam batas kemampuannya, juga suka pesta.

    Menyebut diri pesta, untuk acara tertentu, kayaknya justru lebih jujur. Akan menjengkelkan kalau bungkusnya adalah sidang, kongres, muktamar, atau apalah, bahkan mungkin malam keprihatinan, padahal isinya malah pesta, foya-foya, dan haha-hihi, lalu bagi rezeki — baik rezeki langsung maupun rezeki jangka panjang.

  9. Tahun-tahun lalu beberapa rejeki nomplok lewat berseliweran didepan hidung saya , dan cuman mengumbar bau sedap layaknya bumbu masakan jepang .

    Bagaimana tidak bisa saya sebut sebagai rejeki nomplok , lha wong bebas berekspresi dan kitapun diapresiasi dengan begitu tinggi . (bayarannya okeeehhh .. kata manager saya) *okeeeehh = oke’oke’oke lho…bukan terjemahan bahasa lokal,walau bermakna mirip-mirip hampir serupa*

    Salah satunya adalah hajatan surprise yang akan diselenggarakan bagi seorang Y.O pemilik sebuah harian besar di Ibukota . Namanya juga surprise…jadi yang bersangkutan tidak tahu menahu perihal perencanaan dan lain-lainnya .

    Menjelang semakin mendekat waktunya .. terciumlah rencana tersebut oleh hidung yang bersangkutnya . Cilakaknya…yang bersangkutan malah uring-uringan , atau dengan bahasa lain mungkin mengatakan “masihkah kalian merasa punya perasaan & nurani , bikin pesta dihare’ gene”

    Ya bener sih…, tapi yang merugi jelas saya…hiks!

    Disaat perut ini lapar dan minta diisi , wanginya bumbu Tepanyaki cuman berseliweran dan mengundang ngiler yang keleleran halahh..biyungggg.

    Saya peluk dan dekap manager saya , lalu saya hibur dia semaleman . (*lha wong bini saya sendiri je’*)

  10. Untuk Om Tyo: kena sekali tuh uriannya tentang pesta kemarin, saya juga suka bingung baca postingan yang sinis sama acara itu, katanya hanya untuk orang kayalah, untuk anak ibukotalah. Padahal saya datang sebagai kere dan masuk gratis. Memang sebaik apapun acara itu dikemas tak akan bisa menampung semua aspirasi, so jalan terus… ;-)

    Untuk Om Jockie: Saya suka cara Om menjawab, tapi tentunya turut prihatin dengan dibatalkannya acara Y.O itu. Memang industri musik identik dengan entertainment yang dekat dengan hura hura, padahal kan gak mesti begitu yah Om?

  11. hehe itu hanya guyonan sebatas semeter dari bibir koq’ , aktualnya saya mah setuju-setuju aja dengan keputusan yang lebih bijaksana . btw terimakasih atas atensinya .

  12. bos.. apa tolak ukur toleransi?
    apakah dgn aku menghargai kamu, maka kamu harus menghargai aku juga..bahkan lebih?

  13. Toleransi secara universal terukur serta muncul dari bentuk partisipasi sosial hasil interaksi antar sesama makhluk hidup yang namanya manusia .

    Seberapa luas jangkauan toleransi menyentuh masalah-masalah didalam kehidupannya , dikembalikan pada kualitas peradaban yang menyertainya .

    Namun dari sisi legalitas formal , diciptakan hukum positif untuk melindungi dan memagari lingkar luarnya .

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara