Pembauran

mixed.JPG

Mungkin terdengar basi atau pemikiran yang setback atau yang kuno , pada pokoknya sesuatu yang tidak menarik untuk dibicarakan . Namun saya coba melirik dari sisi yang berbeda , yakni sisi dimana sebuah proses kebersamaan harus dijaga serta dicermati perjalanannya , seperti nasehat para orang-orang tua agar kita bisa memetik hasil sesuai dengan semangat dan rencana yang telah dicanangkan sejak semula . Seperti alkisah terbitnya sang Bhineka Tunggal Eka

Belum suksesnya cara berpolitik dengan baik dilevel nasional , hingga kegagalan demi kegagalan strategi geopolitik Indonesia dipelataran dunia , hal tersebut berakibat belum berhasil duduk dan berdirinya kita untuk bersanding secara setara dengan bangsa-bangsa lain di-planet bumi ini . Kita masih saja terus dijerat oleh dilemasi pragmatik persoalan-persoalan ekonomi , persoalan sosial , persoalan hukum serta lainnya didalam tubuh kita sendiri .

Deretan persoalan-persoalan diatas tersebut kerap ditanggapi sebagai persoalan yang independen berdiri sendiri-sendiri , tak ada kaitan / korelasi langsung antar satu dengan yang lainnya . Hal itu jugalah yang mungkin memicu tumbuh suburnya nya paham eksklusifisme disekitar kehidupan kita . Kondisi tersebut jugalah yang menyapa hidup sehari-hari kita , memojokkan kita dengan bahasa arogansinya , lewat difinisi-difinisi masing-masing domain yang mewakilinya.

Misalkan orang melakukan kompromi dagang atau bisnis , tidak ada urusannya dengan tata hukum sejauh pendekatan bagi hasil terpenuhi (baca:KKN) . Demikian juga bila orang duduk disinggasana kekuasaan , maka secara praktis hukum cenderung mudah ditundukkan atau bisa dikendalikan , asalkan bisa ‘cantik’ merancang design skenario dan memainkan peranan . Nggak ada hubungannya dengan moralitas ataupun ancaman-ancaman dosa dalam agama .

Mengapa “cantik”? sebab cantik adalah lambang kesempurnaan dan kesempurnaan itu indentik dengan kesucian , seperti lazimnya bila mata melihat wajah perempuan yang elok dan rupawan , berjuta-juta keinginan pasti dengan segera muncul membungkus berbagai harapan . Sayangnya kita kerap terkecoh , bahwa setan juga berujud dan berkedok serupa . Hukum yang bisa dikendalikan akan diperlakukan sesuka hati sesuai kebutuhan dan selera . Hukum disetir dibalik meja , diatas kursi atas nama kursi-kursi konstitusional yang sah .

Yang akan merasa susah dan sungguh menderita adalah orang yang ngga bisa kesana-kemari sebab tak memiliki sarana untuk memobilisasi cita-citanya sendiri , alias miskin . Yang pasti juga suatu saat dia akan mengamuk membabi-buta seperti banteng liar kepanasan karena kelaparan dan sebab dia dihinakan terus-terusan . *’dengerin deh lagu kesaksian‘.. , numpang promosi ah..*

Tak mengherankan bila masyarakat yang ada , terkondisi untuk diwakili oleh pribadi-pribadi yang berwatak individualisTIK , sebab kita dihadapkan pada permasalahan hidup yang juga dipahami harus dengan pendekatan materialistik , kita terpaksa menyikapinya secara parsialisTIK karena memang dipaksa oleh sistem bermasyarakat untuk hidup dengan keadaan yang seperti itik . Pokoknya yang akhiran katanya terdengar ‘tik..tik’..lah…

perut buncit melentik ..tik ..tik

gemercik gerimis hujan bersuara ..tik..tik

bertukar pasangan mengadu ..tik..tik

Kesejahteraan ekonomi adalah urutan yang paling pertama dari berbagai
bentuk keinginan dan harapan setiap manusia , wajar sebab memang tubuh makhluk purba kita perlu diberi makan , minum , bernafas , sehat dan sebagainya . Kita belum menjadi robot yang tidak perlu nasi , kentang , sayur mayur sampai singkong rebus .

Disaat kondisi serta tatanan yang carut marut seperti sekarang ini terjadi , maka setiap orang berlomba-lomba , setiap golongan berlomba , setiap kelompok berlomba untuk bisa tampil layaknya di-sirkuit atau balapan dipacuan kuda .

Bedanya bila disirkuit atau dilapangan kuda aturannya lebih jelas dan harus ditaati oleh setiap peserta . Sementara dialam yang lebih nyata ini aturannya cenderung bersandar pada hukum rimba . Bukan hukum rimba seperti jaman abad 18 , dimana senjatanya adalah pedang / golok atau birunya darah yang dianggap mengalir ditubuh manusia sehingga kita bisa dipatuhi /disegani karena dianggap turunan raja atau titisan dewa-dewa

Lalu apa senjatanya … masak sih harus dijelaskan , semua sudah tau tentunya .
*sini saya bisikin :…hepeng tuluull..*
Ooo…., dia manggut-manggut sepertinya paham
Ngerti ndak , sergah saya ..
tauk..ah..egepe katanya sambil melambai gemulai .
ih..jijay deh lo.., balasku tak kalah gemulai…..^_^

Melanjutkan maksud dari judul artikel diatas saya sadar betul , bahwa bila keliru cara saya menyampaikan isi pikiran saya tersebut , maka saya akan terjebak diruang dialog yang berbau sinistik dan rasialistik. Oleh karena itupula saya mencoba menggambarkan diatas , dasar situasi yang terjadi sesuai dengan batas-batas kemampuan saya menganalisa dan menyusun kata-kata . Sebab saya bukan pakar sosiologisTIK yang memiliki gudang rumusan ilmiah akademisTIK atau bukan juga jurnalisTIK yang terlatih menyusun kalimat dengan benar dan baik (paling tidak menurut selera masyarakat pembacanyastik..*lho maksa*

Saya lanjutkan ,

Saat saya berdialog dengan kaum ekonomi lemah perihal sulitnya mencari lowongan berbagai macam pekerjaan , selalu saya temukan jawaban yang menyudutkan kelompok minoritas cina sebagai penyebabnya . Ketika saya bertanya-jawab pada kelompok menengah juga sama hasilnya , hanya saja karena mereka menyandang predikat lebih intelektualistik , maka bicaranya selalu berbisik-bisik’tik . Mungkin takut ngga kebagian kalau ketahuan orang lain bahwa dia anti dominasi kelompok minoritas keturunan cina tersebut . Bertanya pada kelompok yang tinggi yang sedang melihat-lihat pemandangan dari menara gading ? ah..saya sama aja bo’ong sebab jawabannya sudah terdengar sebelum mereka sempat ngomong , sudah pasti retorikaistik dan …..byasa-byasi-istik.

Sebelum kepanjangan dan akhirnya malahan anti klimaks karena saya yang bertanya , menjelaskan dan seolah menjawab sendiri , maka saya ciptakan ruang dalam benak anda sebuah ruang pencerahan untuk bisa anda cerna dan renungkan dengan baik , tidak usah grasa-grusu mas , mbak , encik , engkoh apa engkongistik ..

Setelah itu bila anda merasa memiliki pendapat untuk disampaikan , silahkan anda tulis dan sampaikan .

Bila anda merasa cukup hanya dengan membacanya saja , ya tak apa-apa terimakasih dan kamsia sudah membaca . Yang penting anda tahu bahwa saya bukan kelompok rasisTIK atau apalagi disebut tidak demokratisTIK .

Demokrasi itu makanan apa sih..

ugh…saya harus minum air putih dan berhenti , sebab saya keselek biji democrazy..isTIK

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

3 Responses to “ Pembauran ”

  1. Saat saya berdialog dengan kaum ekonomi lemah perihal sulitnya mencari lowongan berbagai macam pekerjaan , selalu saya temukan jawaban yang menyudutkan kelompok minoritas cina sebagai penyebabnya . Ketika saya bertanya-jawab pada kelompok menengah juga sama hasilnya , hanya saja karena mereka menyandang predikat lebih intelektualistik , maka bicaranya selalu berbisik-bisik’tik

    Masa sih Om hasilnya pada nyalahin etnis Tionghoa? kalau pengalaman saya biasanya orang orang pada nyalahin pemerintah. Mungkin khalayak yang kita survei berbeda yah?

    BTW kenapa harus login Om untuk kasih komen? sebelumnya banyak yang spam yah? Memang sih kalo login dulu jadi lebih bertanggung jawab komennya gak asal jeblak.

  2. menurut pendapat saya itu sikap yang muncul dari kecumburuan sosial yang tinggi , tekanan tersebut semakin hari semakin kuat . Dan bila tak ada ruang sebagai tempat penampungnya maka dia berpotensi nebeng atau malah ditunggangi yang lain .

  3. Saya pernah baca, bahwa sesungguhnya rakyat tak terlalu mempermasalahkan bila ada orang yang sukses karena usaha kerja kerasnya sendiri tapi rakyat bakal marah besar kalau melihat orang kaya dari hasil korupsi.

    …hmm tapi kecemburuan sosial memang semakin tinggi karena angka kemiskinan meningkat sejak harga BBM naik sementara jumlah orang kaya terus bertambah.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara