We’re_NOT

eksploitasi

We’re not building ; what happens is exploiting

While boys’bands flourish and compete with increasing intensity for a foothold in the local market , art in general and music in particular have seen little progress in the past several decades . And the mindset of our younger generation seem to be fixed on one exemplary only : MTV

That’s the state of affairs Indonesia’s modern popular music is currently in according to Yockie Suryo Prayogo , popularly known simply as Yockie – as well known mucisian and musical arranger who in the 1970s was a member of the popular band GodBless.
“I am utterly skeptical about the current development of our music because of this colonialism we have in music industry” , Yockie says.

Following are excerpts The Point had with the still young musician :

q: As a musician and an arranger, how do you view developments in our music?

A: There are two aspect that I see,and you can’t generalize . One aspect is industrial and second is art . And because I am inclined to involve my self in the art aspect, I personally don’t feel the boom , or the ups and downs , on the industrial side so much. My business is to create and to compose . But the thing we must pay attention to at present when we talk about music in the context of the industry , is the penetration of MTV , for whatever reason , including globalization .

It’s precisely what I was afraid of when MTV first came to Indonesia not so long after pak Harto (President Soeharto) signed the AFTA.

q: What was it you were afraid of?

a: At that time I already told my colleagues, including journalists, not to be too proud too soon , thinking that we would be taking off with AFTA . At that time the law of the jungle ruled in our world of music and it was traditional at the same time. We were living in a traditional environment , taking care of necessities of life of that time. Well,then the global industry of MTV came in , complete with their system of administration , money , and everything else that was needed. We didn’t have the infrastructure that could fit into their manner of working. From dealing with contracts to marketing , we just accepted everything they were offering. We did not have the knowledge of how to make industries run with fairness and at the same time represent and watch over the interest of our musicians .

q: What do you mean by the situation that you mentioned – traditional before MTV came in . And what after MTV came in .

a: Previously our music industry was controlled by the “glodok mafia” – those people who hunted for talent , did the recording and controlled the market and distribution at the same time But although the Glodok Mafia controlled the industry , the circulation of money remained local , it went back to production . For instance when Rinto Harahap’s album broke records , the money remained in circulation to find new singers and make new recordings of local artists. It still kept Indonesian music alive. After MTV came in , major label such as Sony , Wagner , EMI also came in big , but they did not contribute to the growth of local artists. There was no domestic investment . Those major label only use us as a market . So far example when an album breaks records-such as by Sheila on 7 or Padi with about 2 million records – most of the money goes to their headquarters , not to domestic production . The money goes out and we here do not build any music industry .

q: So what can our artists do to counter such a condition?

a: When Amien Rais was chairman of the MPR (People’s Consultative Assembly) I brought up this matter with him . We do need foreign investments , but if it’s like what happens in the music industry , then we’re not building any industry . What happens is exploitation . We’re being exploited to the bone because all the profit goes out . At the same time their penetration grow stronger . I mean , the aesthetics , feasibility , and trend , it’s all determined and penetrated through MTV and the existing pop culture . So , if people want to make music or write songs , that’s what they must refer to .

q: You worried?

a: Yes , because the directives for music making is also actively being disseminated by the music schools . For me , it’s not a matter of good or bad . But the fact that the mindset of our young people is being formed in that pattern , that is what makes be worry .

q: Are there many musicians who think like you do?

a: I don’t know . What I know is that music in unlike any other art form . In sculpting , dance , or painting for example , they have ideas that can be expressed , communicated and used to form communities. That’s not the case with music . What we have is musicians and listener. The musical environment is filled with people who don’t know that music is an art form , or even a struggle . It’s just something to be enjoyed – entertainment . That is what makes me a little bit skeptical about development in music .

The Point Edition (IGZ/HTP)

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

13 Responses to “ We’re_NOT ”

  1. Memang sangat menyedihkan ya Mas. Saya juga tidak tahu apa kita bisa buat inisiatif untuk memecah kebuntuan ini.

    Tadi malam saya nonton inovator-inovator muda yang cerdas dan kreatif di MetroTV. Beberapa bulan kemarin saya merasa terharu melihat adik-adik kita memenangkan sederet olimpiade sains di luar negeri.

    Sayangnya, Ladangku(bukan)Ladang yang Subur … :(

    Apa mungkin tinggal tunggu waktu saja hingga mereka dieksploitasi oleh kaum kapitalis (introspeksi mode:on).

  2. itulah kondisinya mas , orang-orang muda yang kreatif dan genuine tidak punya saluran untuk mengembangkan kecerdasannya bagi kepentingan masyarakat dan bangsanya .

    Akibatnya mereka kesepian dibelantara ilmunya sampai sang waktu menghampirinya untuk ‘terpaksa’ bekerja bagi kepentingan asing .

    Seperti buah simalakama , kesuksesan yang akan membunuh ibu kandungnya sendiri .

  3. Yeah, industri punya hukum sendiri. Masalahnya, kenapa khalayak mau digiring kan? Saya sempat berharap banyak pada internet, siapa tahu penikmat musik bisa mendapatkan dengaran yang lain yang di luar standar juragan media, lagian antara musisi dan pendengar bisa berinteraksi. Tapi ternyata, kuota dan koneksi jadi kendala sebagian besar orang.

    Yang kita perlukan adalah sebuah gerilya besar bernama penyadaran dan penyediaan atas nama “estetika” atau embuhlah. Memang, pada gilirannya, bisa mencuatkan tanya, “Lantas apa manfaat ekonomisnya bagi musisi? Biaya produksi belum kembali nih…”

    Ada solusi gombal. Berkiprahlah di dua jalur: ya industrial (untuk mensubsidi), ya “personal-bin-merdeka” (yang penting suka, pendengar juga demen). Syukur kalau ada jalan tengah. :D Tapi saya masih bingung, apakah yang dilakukan Peter Gabriel dengan world music-nya itu mendekati jalan tengah. Bagi musisi dunia ketiga, bisa jadi Gabriel adalah representasi Barat si pencengkeram dan pendikte. :P

    Kok dari tadi nggak ada kata “indie”? Lha ini kan juga industri, tapi tampangnya beda. Tempe juga industri, tepatnya industri rumah tangga, eh industri kecil. :D

  4. Dalam benak saya (*embuh mungkin bisa dibilang mengada-ngada*)
    Industri punya hukum sendiri itu jelas , namun kan bisa dibuat aturan / hukum agar hasil dari industrialisasi tersebut bisa merata menjangkau kepentingan orang banyak lainnya. Paling mudah adalah kontrol pada CSR misalnya.

    Karya-karya seni yang alternatif harus dilihat dari perspektif yang berbeda , yakni bagian dari strategi jangka panjang penguatan karakter serta indentitas orang Indonesia . Ini sudah menyentuh wilayah/domain pendidikan dimana pemerintah harus cermat dan peka memperlakukannya.

    Jadi bukan berarti lalu industri global harus dikekang seenaknya atau seni alternatif saya harap langsung diberi subsidi gratis juga . Namun peraturan dan undang-undang yang menciptakan keseimbangan-keseimbangan harus bergerak secara dinamis , jangan sampai bandulnya macet disebelah kiri atau mlengse’ kesebelah kanan saja.

    Musisi atau pelaku seni harus diberi penyadaran , bahwa seni sebagai bagian dari pekerjaan mencari nafkah juga halal dan legal (seperti yang sekarang terjadi , saya melihatnya orang nge-band atau nyanyi untuk mencari kerja , sebab kerja kantor tambah susah..banyak aturan dan gajinya semakin mengkeret)
    Juga contoh yang lebih konkrit lainnya seperti yang kita saksikan terjadi pada masyarakat di Bali . Mereka jelas mencari dan mengembangkan bisnis usahanya dari berdagang barang-barang kesenian . Namun semuanya itu mereka lakukan setelah penguatan karakter lokal mereka kuasai dan mereka miliki . Barang apa saja darimana saja datangnya begitu mampir diBali lalu keluar lagi dari wilayah Bali , dunia mengenalnya ‘itu Bali.’ Padahal bisa saja asal-usulnya dari India atau hawwai misalnya , ndak penting .

    Artinya yang saat ini dibutuhkan adalah ruang bagi generasi-generasi baru untuk mengembangkan perspektif seninya dari sudut pandang yang bukan hanya MTV atau asing saja , seperti yang dilakukan Dwiki / Indra dan banyak lagi lainnya . Karya-karya mereka dan generasi berikutnya nanti mau diletakkan dimana dalam konteks karya seniman Indonesia ? Apalagi perlakuan terhadap seni yang berfungsi sebagai alat kontrol sosial dari masyarakat kepada masyarakatnya sendiri …mampet!

    Jadi mimpi saya adalah : kepahaman pemerintah kita tentang mencermati pentingnya membangun arah bergeraknya mesin budaya , agar semua generasi yang melewatinya merasa terwakili dan happy..

    Indie label? saya melihatnya sebagai riak-riak kecil perlawanan yang hanya bisa ditemui dipinggiran pantai .
    Dia tak akan berarti melawan hantaman tsunami .

    Thank You Paman Tyo!

  5. Saya pernah denger di dunia musik Indonesia ada 2 kategori, pedagang dan musisi. nah Deddy Dorres dulu pernah ngomong kalo dia itu pedagang (lagu), jadi ga ngurus soal estetika dan harmonisasi musik segala macem, yang penting bisa laku.

    Sebenernya sih ga masalah ya, mau pedagang atau enggak. di amrik saya rasa dagang juga, tapi kan mereka dagang musik yang berkualitas. lha disini? Ini karena kuping masyarakat yang juga ga seneng musik bermutu. coba bikin musik yang enak tapi komposisinya njelimet, pasti ga laku hehehe

  6. lho blog saya kok malah jadi wordpess dot com ya, walah marai bingung iki onok login barang hehehe

    mas hedi , soal munculnya “…wordpress.com” buka salah kula…si mister snapi yang gemblung ..
    (*semoga dia gak paham boso indonesah ya.., wong udah dikasih gratis masih ngomel..bisa2 saya diblokir nanti*)

  7. emang udah jadi kenyataan kan mas..industri di Indo hanya menguras apa yg bisa dikuras habis-habisan . Gak cuman dimusik kan mas jsop? Memang perlu presure terus menerus dari masyarakatnya agar semua sistem bisa jadi lebih baik . Capeee dee…kalo ngikutin selera pasar tanpa punya daya bwat mengkritisi . Tapi kalo cuman ngliat negeri ini hanya punya kemapuan untuk berada diposisi pembeli , yaah..lain lagi lah ya….Artinya dengan sadar qt cuman bs berdiri dibalik pagar sambil nonton orang lain ngeruk seluruh isi bumi . Termasuk seninya , ya musik , ya batik , ya makanan dan akan smakin banyak lagi…huh

  8. emang udah jadi kenyataan kan mas..industri di Indo hanya menguras apa yg bisa dikuras habis-habisan . Gak cuman dimusik kan mas jsop? Memang perlu pressure terus menerus dari masyarakatnya agar semua sistem bisa jadi lebih baik . Capeee dee…kalo ngikutin selera pasar tanpa punya daya bwat mengkritisi . Tapi kalo cuman ngliat negeri ini hanya punya kemapuan untuk berada diposisi pembeli , yaah..lain lagi lah ya….Artinya dengan sadar qt cuman bs berdiri dibalik pagar sambil nonton orang lain ngeruk seluruh isi bumi . Termasuk seninya , ya musik , ya batik , ya makanan dan akan smakin banyak lagi…huh

    ini baru abg masa kini ..cerdas dan pintar hehehe .. bolehlah bangga sedikit (*jangan banyak-banyak*)

  9. mas hedi , ada perbedaan yang sangat mendasar dimana kita tidak bisa begitu saja membandingkan kondisi musik ditanah air dengan yang terjadi di amerika .

    1. Tingkat kualitas peradaban (pemahaman pada nilai dan estetika) antara kedua masyarakat sudah jauh berbeda jaraknya. Disana musik dengan katagori yang anda maksudkan (asal dagang) bukannya ngga laku , namun sudah hampir ngga ada orang yang berpikir untuk membuat musik asal (garbage), apalagi kalau melihat kondisi masyarakat di eropa yang notabene lebih mewarisi nilai-nilai kultural budaya dari para leluhurnya .

    2. Tidak bisa juga kita menyalahkan kondisi keterbelakangan tersebut untuk dibebankan dipundak masyarakat kita semata . Lha..mereka menjadi demikian karena memang kualitas peradaban kita yang seperti ‘demikian’ .

    Karena itu gembar-gembor suara para cendikiawan agar sektor pendidikan dipercepat pertumbuhannya , menjadi sangat penting. Sebab yang ingin dikejar bukan materi atau uang seketika , namun kecerdasan nasional yang bisa mempercepat kita mampu bersanding secara setara dengan bangsa-bangsa global . Uang atau materi dan kesejahteraan adalah implikasi dari sebuah sistem peradaban .

    Andaipun sudah sepakat menggenjot sektor pendidikan, itupun masih harus dipikirkan lagi masak-masak hasil yang akan dicapai . Jangan sekedar menghasilkan orang-orang yang hanya pandai menggunakan tools dan tekhnologi modern , yang begitu selesai lalu menyandang gelar S1 atau S2 , S3 dan sebagainya tetapi dalam mempraktekkan ilmunya mereka sangat bergantung pada tekhnologi import dan pada akhirnya hanya disebut user’s , namun seyogyanya diarahkan kepada pendidikan yang berorientasi pada manusia-manusia Indonesia yang mampu menciptakan alat-alat yang genuine bagi kemandirian hidupnya sendiri .

    Apalagi sekarang ini sudah ada suara-suara mau me-liberalisasikan pendidikan..,
    Kita mau kemana…sih?
    Dan apa sebenarnya yang ada didalam benak para penyelenggara negara ini ?

    huh.panjang kan pe-er bangsa Indonesia ?

    Saya pikir inilah makna globalisasi yang harus dipahami oleh kita semua.

    salam mas & terimakasih atas komennya .

  10. dunia kreatif yang salah satu ibu kandungnya adalah musik di era seperti sekarang ini memang selalu diarahkan untuk dua hal , kalo engga politik (pencitraan figur) ya ekonomi (menciptakan pendapatan sebesar-besarnya-revenue creation).

    Padahal ada tujuan yang lebih besar, selain ekonomi dan politik, yaitu bagaimana kreativitas bisa menciptakan nilai yang lebih baik (value creation-nya). Dalam hal ini ilmu pengetahuan dan kegiatan yang mencerdaskan harusnya lah yang menjadi tujuan akhirnya. Karena itulah sistem pendidikan yang baik menjadi kunci.

    Liberalisasi pendidikan sekencang apapun dihalangi, menurut saya tetap akan terjadi di indonesia. Seperti halnya sistem liberal ekonomi kita, tetap dengan liberalisasi pendidikan yang malu-malu. Dan hasilnya adalah generasi yang malu-malu juga..serba nanggung! dalam berkarya, dalam berbangsa, dan dalam keseharian juga.

    trus gimana lagi? kalo generasi kami sudah seperti ini, saya juga bingung mas (embuh), anak saya jadi generasi seperti apa nanti ya…?

    memang panjang mas pe er bangsa ini…
    optimis sih tetep!:D

  11. Ki KK mengatakan :

    Keterpautan (inter-twinning) seni, agama dan budaya yang saya percaya musti saling membangun (reconstruct) satu dengan lainnya membentuk sebuah triple-helix . // netsains.com

    hm,andai pengambil kebijakan politik kita minimal bisa berpikir seperti itu semua . 15 tahun paling lama saya optimis kita sudah bersanding dengan bangsa-bangsa di asia , 30 tahun Insya Allah sudah level dunia .

    Lalu kita dimana ? Ngga ada urusannya dengan kita , kita sudah diliang kubur , tetapi anak-anak kita yang akan ber-terima kasih kelak pada generasi kita sekarang ini .

  12. bos. kenapa musisi gak dianggap pahlawan? apa mereka tidak dianggap membawa perubahan dan perjuangan?

  13. Pahlawan? ….panduan untuk men-definisikan sebutan ‘pahlawan’ hanya mengacu pada peristiwa-peristiwa yang berkaitan langsung dengan perjuangan fisik yang mengorbankan jiwa dan raga . (misal: perang merebut/mempertahankan kemerdekaan dan sebagainya)

    Di-negeri ini parameter dari katagori tersebut dibuat menjadi rancu , saat seseorang yang dinilai berjasa bagi bangsanya , lalu dengan mudah dan merasa sah “me-rasionalisasikan penyesatan pikiran” , meng-anugrahkan sebutan tersebut . Misalnya : Pahlawan ekonomi , pahlawan kebersihan , pahlawan lingkungan hidup , pahlawan pembangunan dan banyak lagi pahlawan-pahlawan gratis dan otomatis lainnya.

    Musisi ataupun seniman = pahlawan ? kalau hanya sebatas di-lingkungan rt/rw , sayapun pasti menerimannya hehe..,sayang itupun tidak..pahlawan mereka adalah sinetron dan selebritis cetakan industri .

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara