Jurang_Pemisah

sepatu butut

Album ini adalah kumpulan dari sebagian besar lagu-lagu yang saya ciptakan untuk pertama kalinya . Banyak diantara lagu-lagu tersebut saya tulis di awal-awal tahun 70′an. Lirik-nya sendiri juga ada beberapa penggalan kalimat yang saya comot / temui dari buku-buku puisi atau koran/majalah disaat itu , yang memuat berbagai kolom sastra-puisi .

(selanjutnya..Page Lagu_Indonesia Artikel 1)

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

13 Responses to “ Jurang_Pemisah ”

  1. mantap nih review musik gini…
    oh ya, saya mau tanya kenapa hasil rekaman musik kita rata2 tipis (apa istilah aslinya ya?).
    setahu saya yg termasuk tebel sound-nya itu punya sampeyan (kantata atau god bless), Indra Lesmana dan kawan2nya, atau (cuma) sound gitarnya Eet Syahranie atau Dewa Bujana.

    Kata kawan sih, ada kurang kompaknya pelaku mixing dengan mastering (yang ternyata suka ikut mixing lagi). Padahal setahu saya, alat2 di sini top punya (orang Indonesia) kalo alatnya ecek2 ga semangat hehehe

    Kualitas suara yang tebal sebenarnya sebuah istilah tentang sebuah pilihan yang akan ditempuh .Saya sendiri lebih terdorong untuk mengembalikan suara-suara yang masuk dalam media pita / harddisk (terekam) kembali nature seperti suara aslinya . (disebut: flat) Dan bagi saya suara nature tersebut hanya bisa diharapkan dapat ditemukan ditahap-tahap awal (take) dengan menggunakan pilihan jenis microphone dan reverb room yang sesuai . Dalam pelaksaannya pekerjaan ini sungguh sangat menyita energi pikiran , karena dibutuhkan keahlian tehnis sekaligus wawasan .

    Di-periode digital seperti sekarang ini …, fase kerja diatas dilewati atau baca:’skip’ . Dengan telah disediakannya preset-preset yang sudah diciptakan oleh tekhnologi komputer . Namun nyatanya preset-preset tersebut sungguh jauh dari harapan yang diinginkan justru malah membuat orang semakin tidak kreatif dan malas mencari . Akhirnya atas nama industri semuanya itu diberi label legetimasi dengan nama ‘trend dan selera’ . Walaupun itu terdengar tipis mendesis-desis … tapi bersih …clean..dan sangat jernih…Padahal menurut saya sebetulnya hal tersebut adalah kegagalan / ke-belum berhasilan tehknologi digital menangkap frekwensi suara secara utuh dan menyeluruh .

    Aneh bin ajaib khan..? sesuatu yang salah namun justru dikagumi , inilah salah satu rekonstruksi budaya yang dilakukan industri .

    Indra Lesmana , memang salah satu dari musisi kita yang peka terhadap hal-hal semacam ini .

  2. Wow ….. asik maca tulisan sampeyan.
    Opo ape nulis artikel per-album ?
    Suwe2 rak isa nglumpuk dhadi buku.
    “Kedjudjuran” sampeyan iku sing nyenengke….!
    Ketemu wong djudjur djaman saiki angel lho….

    mas indrayana habis bertapa mas..?

  3. Sedaaaap! Tampaknya embrio Blog Musik itu sudah mulai bersemai… :)

    Lirik ”seribu sayap rindu dibalik baju berbulu…” itu ada di lagu “Dendam”. Mosok lupa, Mas, kan ceritanya lagi dendam sama si camer itu, hehehe… Dan album itu diproduksi tahun 1978 ya Mas, setelah Badai Pasti Berlalu?

    terimakasih infonya , dan sudah saya edit .

    Ini salah satu album favorit saya sampai sekarang. Tapi, sebelum bertanya tentang proses kreatif lagu lain satu per satu, saya kepingin nanya satu pertanyaan yang sejak dulu menggantung di kepala saya. Sebetulnya apa alasan mengajak Chrisye membuat album musik yang begini “keras” (liriknya penuh kritik sosial, melodinya ngerock, dan aransemennya njelimet)? Bukankah karakter suara almarhum cenderung manis, tipis, dan powernya kurang?

    Nanti disambung lagi. :)

  4. Album Jurang Pemisah memang diedarkan 1978 setelah Badai Pasti Berlalu. Namun proses rekamannya dikerjakan lebih dahulu . Tadinya saya juga sempat menjadi ragu apakah dia akan diedarkan atau sekedar hanya untuk disimpan sampai dilemari saja .

    (seribu sayap rindu….) Betul mas totot , “dendam” judulnya..dendam ame’ camer…

    Kerjasama dengan Chrisye sudah terjadi pada penggarapan rekaman sebelumnya , yakni LCLR yang pertama (Lilin-lilin kecil) . Jadi semenjak saat itu memang kami selalu kemana-mana berdua .

    Chrisye sewaktu di Gipsy , juga sudah kental dengan nuansa progresive , jadi nggak ada kesulitan untuk nyanyi dengan gaya yang lebih keras . Chrisye di saat berusia muda (25 – 30) memiliki suara dengan pencapaian oktave tinggi serta body timbre yang tebal disetiap range nada yang dijelajahinya. Perhatikan di album Badai saat dia berteriak tinggi menyanyikan Pelangi dan Angin malam .

    Memang usialah jua yang akhirnya membatasi … seperti pernah dia katakan pada saya di musica studio saat akhir-akhir kerja-sama kami bersama :”elu sih enak yok..ngandelin tangan dan jari , sampai kapanpun elu masih bisa mainin ….kalo gw niiiiih….(sambil memegang tengkok leher dibawah dagu..).”

    Dan…

    Album tersebut nongkrong cukup lama di lemari . Maklum.. mana ada produser yang ngerti atau mikirin kritik sosial . Demikian juga dengan Pramaqua saat itu . ya .. sama saja / naluri pedagang .

    Saya pikir album tersebut akhirnya diedarkan , lebih karena didorong rasa toleransi para produsernya kepada saya (sebagai bonus mungkin..) karena saya mungkin juga dianggap cukup memberikan keuntungan dari proyek2 rekaman yang lainnya .(misalnya LCLR dsb)

    Sebab kalau dihitung dari sisi honor profesi , rekaman baru setengah berjalan saja mungkin duitnya sudah habis …buat transportasi dan makan , ya naik scuter biru dan bayarin chicken teriyaki di restorant yuki itu..

  5. mas jsop, thanks a lot atas crita sejarahnya Jurang pemisah…waauuu..incredibles.! gak kebayang jaman itu ama teknologi yg sperti itu , mas uda mulai berbuat sesuatu…ck.ck..heibat and salut!
    Berarti waktu ituh umurnya brapa mas? , trus kupas jg dunk alat2 pianonya apa aja?
    * kekeekeke..aq banyak maunya ya.*

    *tadi sudah saya tulis lalu saya hapus lagi..intinya jangan muji-muji , hidung saya kenyut-kenyut sendiri*
    umur saya waktu itu 22’an kali ya..? soalnya kemaren barusan genap 29 . ok terimakasih ya..salam .

  6. Album apik. Aku suka. Untung dirilis ulang. Yang aku kurang sreg, Lesin ngerancang pakai gambar yang mirip sebuah poster di luar negeri.

    Satu lagi, untuk semua album yang dirilis ulang, dari artis manapun, mbok kreditasinya diulang selengkap yang lama.

    JSOP masukin Gambang Suling (dikit). Asik. Waktu itu Indra Lesmana kecil juga mainkan Gambang Suling.

    Sound? Emang JSOP termasuk rewel tapi telaten, dan itu pula yang aku tanyakan kepadanya waktu kopdar. :D

    Sekarang tinggal tunggu rilis ulang Musik Saya adalah Saya :)

  7. Waduuh komplit sanget Mas ” bedah” Juranng Pemisah nya. Karya Mas Yockie ini mengingatkan saya pada unen unen “men sana in corpore sano” artinya ” “dari jiwa seni yang hebat lahirlah karya seni yang hebat”

  8. wah aku baru denger neh albumnya ada di ipod papah.. keren bgt.. aku suka.. apa lagi papah bialng ini album dibuat sehabis lilin-lilin kecil… berarti masih awal” ya oom.. mantapppp…

    hehe..beno papahmu tuh suruh antar jemput om lagi..hayo..mau nggak! bilangin jangan somse , dulu sering om marahin ..telat ‘mulu :)

  9. Ruarrr biasaaaa…
    Sedikit demi sedikit akhirnya terkuak proses kreatif penciptaan album-album JSOP.
    Keep on writing Mas … !!
    Setidaknya ini bisa jadi bahan refleksi untuk para musisi sekarang. Atau barangkali suatu saat layak dikompilasi sebagai bahan literatur musikologi endonesya.

    Salam,
    JS

  10. salam kenal, mas…

    senang sekali saya bisa baca cerita di balik album “jurang pemisah” ini –salah satu album favorit saya waktu itu. hmmm… “dendam”. saya suka sekali lagu ini. pertama kali dengar langsung masuk. di mobil ada terus.

    ditunggu ceritanya untuk album-album yang lain, mas.

    salam
    pur

  11. terimakasih mas pur

  12. Mas..di majalah Rolling Stone edisi basa Ind. yg baru, ‘Jurang Pemisah’ adalah salah satu album terbaik bareng2 ambek “badai” ; “Guruh Gipsy”, dll.

  13. Mas Indrayana ,memang beberapa hari lalu saya dihubungi perihal berita tersebut. Dikatakan bahwa nama saya ada beberapa karya-karya album selain Jurang Pemisah .

    Syukur alhamdullilah kalau ada orang yang mau menghargai .

    Lalu menjadi agak berbeda…ketika saya diminta datang kesana untuk diliput serta diminta manggung nge-jamm (lewat sms lagi..)

    lhooo..? yang butuh wawancara tersebut , saya atau mereka?

    Koq saya yang disuruh datang ….,

    yah…kalau anda tidak bisa bersopan-santun , jangan harap saya juga akan bersopan santun .

    Begitulah..

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara