Ruang_Waktu

manusia-dan-jiwanya.JPG

Ruang dan Waktu diberi label abad serta label tahun agar mudah dikatagorikan dan ditelusiri bagi kepentingan penelitian sejarah atas berbagai peristiwa yang pernah terjadi.

Tahun diisi dengan nama-nama bulan , agar mudah mengindentifikasi posisi rotasi rembulan dan matahari .

Bulan diisi dengan minggu , hingga seterusnya minggu dibagi menjadi tujuh dan disebut masing-masingnya adalah hari .

Begitulah sistem identifikasi berlaku bagi kehidupan ini . Ada yang aneh ?

Ada…

Ketika manusia menyebut berbagai periode tersebut dengan julukan “jaman” .

Lalu jaman dipahami dengan istilah “jaman dulu dan jaman sekarang” yang kemudian dikonotasikan dengan “jaman kuno dan jaman modern” . Yang kalau mau dipersempit lagi ruangnya bisa disebut menjadi jaman dimana berkumpulnya orang-orang yang relatif bodoh dan jaman dimana berkumpulnya orang-orang yang relatif lebih pintar .

Paling tidak demikianlah sebagian besar orang Indonesia menangkap makna jaman serta memahaminya .

Pertanyaannya , benarkah kita hari ini lebih pintar dari hari kemaren ? atau benarkah jaman sekarang ini lebih baik dari jaman kemaren ? Abad serta bilangan tahun jelas bergerak kedepan dengan jumlah angka yang akan terus bertambah , tak akan mungkin dia surut kebelakang dan menjadi berkurang ; misal 2007 lalu tahun depan menjadi 2006 kembali . Namun kualitas jaman tidaklah empiris demikian , dia bisa saja menjadi surut kadarnya kualitasnya ketika manusia salah mengelolanya .

Di-negeri ini parameter apa yang akan kita gunakan sebagai alat tolak ukurnya , kesejahteraan materi ? fasilitas yang dihasilkan tekhnologi ? Materi bagi siapa dan tekhnologi untuk siapa ?

Akankah kita akan terus mengabaikan otak dikepala yang seharusnya digunakan untuk berpikir lebih cerdas dan berkesadaran lebih realistik lalu menggantikan fungsinya seolah hanya cukup dengan membungkusnya pakai topi atau atribut lain yang sekedar menghiasi kepala agar nampak mewakili jaman yang semakin pintar .

Industri hiburan dan konsumsi kebutuhan (temuan tekhnologi) menjadi sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari ketika kita menempatkan dan menobatkannya menjadi ‘raja’ yang boleh saja me-ngangkang isis-isis seenaknya , seperti yang sudah kita saksikan sendiri mereka berkembang bebas merdeka sesuai mekanisme pasar yang pro ekonomi liberal , yang disepakati .

Karena itu kita dihalalkan untuk membangun menara Kentucky diatas genteng reot kandang ayam kampung mbok sariyem di-desa , sejauh kita merasa mampu meng-eksekusi lahan tanah warisannya .

Karena itu pula kita bebas dan sah-sah juga menyelenggarakan acara hiburan dengan membayar orang-orang asing dengan biaya total hingga puluhan milyard diatas kepala pelaku hiburan-hiburan seniman lokal yang hanya diwakili oleh mereka-mereka yang dengan cap puluhan ribu perak hingga ratusan ribu dan sebagian kecil yang berangka akhiran ‘nol’nya enam . Sah..! ini hiburan untuk orang kaya dan pintar , orang miskin dan bodoh nggak akan ngerti , terima saja nasibnya .

Karena itu pula bila kita menguasai ekonomi (baca:kaya) , maka kita juga bebas membangun perumahan mewah dengan menyingkirkan gubuk-gubuk kumuh orang-orang tak berdaya , bahkan kita masih berhak untuk bisa me-portali akses jalan melewati depan rumah-rumah kita agar tidak dilalui kendaraan umum bagi kepentingan orang-orang dengan katagori tersebut , mereka itu hanya mengganggu kenyaman hunian kita .

Bahkan kita juga berhak mengusir orang-orang miskin dari kampung dan desa yang mau masuk kewilayah kita , wilayah orang-orang kaya dengan penataan tata-kota khusus bagi orang kaya saja.

Apakah Indonesia itu diluar urusan kota Jakarta dengan orang-orang sombongnya ? bila tidak demikian lalu siapakah gerangan mereka yang berbondong-bondong migrasi ke Jakarta mau mencari kerja atau yang sudah menggelandang itu semua … orang-orang yang tak berhak hidup di-Indonesia? Mengapa tidak ditembaki dan dibunuhi saja semua… ,’dilarang agama’ ..ooh kita masih mengaku beragama hanya karena manggut-manggut dan sujud setiap lima waktu atau berkerumun di gereja-gereja atau ditempat ibadah lainnya , sementara pikiran hingga perilaku bebas boleh kemana-mana seperti difinisi liberal yang dipahami dengan undang-undang yang juga bisa dibeli .

Agama apa itu ? Tuhan yang mana yang mengajarkan ajaran seperti itu?

Dalam segala hal , rasa kepedulian serta solidaritas kepada sesama cukup kita sandarkan pada naluri dan rasa”belas kasihan”, itupun kalau kita masih mau berbelas-kasihan . Sebab Undang-Undang Dasar yang menyatakan perlindungan bagi warganya hanya teks diatas kertas yang tak memiliki perangkat hukum dalam pelaksanaannya.

Untuk itu cukup kita ucapkan “sepatah-dua-patah-kata” sebagai ungkapan perasaan atau kalau mau ya..sumbangkan saja sekadarnya secara suka-rela . Namun bila kita enggak mau atau malas ya nggak apa-apa …itupun sah-sah juga , emang gw pikirin..nasib elo.

Maka yang kita saksikan dijaman ini :

Orang-orang yang merasa terhormat karena merasa pintar , pintar yang hanya diukur dari topi yang dipakai dan berbagai atribut yang menghiasi kepala .

Sementara..dibelahan wilayah dibelakang rumah kita ..?

Semakin banyak kelompok orang bergumul berkubang dalam kemiskinan , mereka seolah terapung-apung ditanah leluhurnya sendiri …seperti ubur-ubur , mereka tak punya akar karena akarnya telah dicabuti bangsanya sendiri .

Benarkah kita lebih pintar , lebih cerdas , lebih berbudaya , lebih taat ber-agama dibandingkan dengan orang-orang yang hidup dijaman dulu ?

Apa kita bukan sedang di-ombang-ambing-kan oleh gelombang pembodohan , yang hanya menciptakan mindset dalam benak kita agar semakin kokoh memahami istilah jaman kuno dan jaman modern , yang sebenarnya hanyalah sebuah penjelasan tentang batas antara Ruang dan Waktu . Kita dibutakan seakan-akan yang modern itu pasti yang baik dan benar dan yang kuno itu pasti salah . Konspirasi jenis apalagi ini ? siapakah yang memainkan dan siapa pula yang memetik keuntungannya…ah…kita juga suka pura-pura nggak tau…

Apalagi ada pembodohan baru yang namanya globalisasi .

Bisakah hanya dengan modal kepala ditutupi topi atau berpeci mampu berdiri sama tinggi duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa yang jauh lebih maju , agar menjadi global .

Atau akan mengharapkan bangsa-bangsa maju tersebut berbelas kasihan pada bangsa kita? Bila demikian , ya sama saja kan?..apakah kita peduli dengan perlakuan kita sendiri kepada orang-orang lemah yang hak ekonominya kita hisapi setiap hari di negeri sendiri ini ?

Apakah berharap bangsa-bangsa kaya dan maju akan memikirkan nasib kita ? atas dasar solidaritas sesama manusia ?

What the hell.. ; they said . [globalism is dont fuck me , I’ll fuck U]

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

3 Responses to “ Ruang_Waktu ”

  1. Sebelumnya salam perkenalan ,

    Membaca artikel2 disini serasa aku mencubit badanku sendiri . Terimakasih atas tulisan dan posting yang mengingatkan mas. Sungguh tulisan mas menggambarkan sosok mas Yockie dengan jelas . Keras dan teguh bersikap , jujur saja sebuah sikap yang aku tidak pernah duga sebelumnya . Siapa sangka seorang jsop yang pemusik juga kritis pada urusan lain.

    Dulu semasa kecil orang tuaku lebih tenang dan menghadapi semua persoalan jamannya , tidak seperti aku sekarang dimana waktu / jam berputar dengan cepatnya . Sehingga hasil kerjapun jauh dari harapan yang hendak aku capai . Apalagi alat teknologi komunikasi telah membuat kita seperti kelebihan beban. Rasanya sudah nggak manusiawi lagi .Seperti saat hanphone kita tertinggal , duniapun terasa meninggalkan kita .

    Terimakasih atas usaha membangunkan kesadaran . Sayapun sependapat blog mas nggak perlu harus larut dengan arus paradigma blogger sekarang . Lagipula mas kan juga bukan abg atau sekedar ingin kumpul ramai2 . Yang aku yakin suara mas akan dibaca dan didengar banyak orang , meskipin hasilnya.. kembali lagi urusan mereka sendiri masing2.

    Salam dari ujung benua

  2. nb:emailku sudah diterima?

  3. andara email sudah saya terima , selanjutnya saya musti konsultasi dengan teman-teman serta instansi yang berwenang disana siapa? (contact person). ok’saya tunggu berita lanjutannya . Salam

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara