Kronologis

Awalnya sekitar september tahun lalu (2006) saya buat kolom di 360* dan di MySpace lalu mencoba blogspot dan sebagainya . Kolom tersebut mulanya hanya sekedar ingin saya jadikan sebagai tempat dokumentasi bagi foto-foto / catatan saya pribadi beserta keluarga sendiri .

Lalu saat saya surfing / browsing halaman-halaman musik dan lainnya..saya temukan site-nya Budi Rahardjo . Disanalah juga secara iseng-iseng saya memberikan komentar sekadarnya .

Tanpa saya duga Budi Rahardjo mengenal nama saya….., jujur saja sebelumnya saya merasa nggak yakin ada komunitas di internet ini (generasi sekarang) yang tau siapa saya , bukan merasa rendah diri…tapi emang saya enggak punya keyakinan untuk gr yang seperti itu .

Lalu oleh Budi Rahardjo saya dikilik ..bisa jadi juga saya dianggap jangkrik , agar mau membuka situs pribadi yang lebih ber-orientasi untuk umum ..khususnya bicara tentang profesi saya sebagai pemusik. Maka terjerumuslah saya…dilembah ini , setahun kurang lebih lamanya saya berusaha mencari format dan ruang yang nyaman bagi ekspresi saya ber-blog musik maupun ekspresi atas pendapat pribadi sebagai seorang seniman dan seorang warga-masyarakat .

Sebagai seorang pemusik jelas tidak ada suatu hal yang perlu dicermati secara berlebihan agar bahasan serta dialog yang tercipta perlu ditanggapi dengan keseriusan yang berbobot lebih berat dan meletihkan .

Namun perjalanan karier saya sebagai pemusik juga harus saya sadari , bahwa bukan hanya sebagai pelaku yang meletakkan media harmony dan notasi guna melantunkan lagu yang fungsinya hanya untuk menghibur hati atau orang yang sekedar harus bisa fasih memainkan alat musik .

Apalagi dari awal karier saya sudah saya jelaskan dalam di-beberapa postingan , bahwa saya lebih cenderung memilih jalur yang berbeda dengan mainstream musik di Indonesia . Ini hanya masalah pilihan dan ‘panggilan’ saja bukan karena didorong oleh eksklusivitas diri yang ter-obses.

Ada kekhawatiran ? jelas ada kekhawatiran yang saya rasakan .

Bukan hanya saat ini ketika saya mengenal blog , namun sejak lama semenjak saya mulai lebih intens untuk menggauli wilayah-wilayah diluar dunia musik hiburan itu sendiri . Terutama area sosial_budaya dimana berbagai opini dan pendapat publik yang seharusnya sudah terfasilitasi oleh perilaku dan aturan bagi tujuan terciptanya kemaslahatan hidup bersama , ternyata semuanya itu adalah wilayah abu-abu yang masih mengambang , yang bebas mencari keseimbangan sesuai selera masing-masing dari kita .

Tidaklah menjadi sederhana jika kita meletakkan aturan bersama berdasarkan selera , meskipun saya juga memahami sepenuhnya bahwa tidak bisa juga kebenaran diciptakan atas nama satu pihak saja . Namun seyogyanya ada perangkat dan instrument yang bisa digunakan oleh semua level kepentingan masyarakat untuk dijadikan sandaran berpijak atau alat , sebagai langkah awal tolak ukurnya . Sayangnya standard pijakan tersebut semakin kabur dan buram tanpa meninggalkan bekas jejaknya .

Disisi inilah menurut saya friksi dan pergeseran-pergeseran yang acapkali tak mampu dikendalikan dengan baik sehingga berpotensi menjadi proses yang sensitif namun sensitif yang kontra produktif , karena hanya adu ngeyel … itu menurut saya .

Kembali lagi pada posisi kita masing-masing ,

Seandainya saya seorang jurnalis dengan disiplin seperti anda yang memang wajib menyediakan ruang publik untuk lebih terbuka , bebas berpendapat dan menfasilitasi perbedaan yang ada , tentu saja saya akan tau bagaimana saya harus menjalani itu semua.

Atau seandainya saya seoang politikus , tentu ada cara lain yang bisa saya tempuh untuk menggunakan blog ini sebagai media kampanye misalnya .

Namun sebagai seorang seniman musik yang bukan berada dijalur mainstream dan seorang warga-negara yang punya hak untuk berbeda pendapat saya perlu menggunakan pagar untuk membatasi ruang bicara , agar topik bahasan disekitar saya tidak keluar melenceng dan absurd bagi diri saya dan kepentingan yang saya yakini bagi profesi saya sendiri .

Tentu saja saya juga harus melayani pendapat dan opini yang juga beragam dan berbeda-beda , namun itu semua akan saya tanggapi secara serius dan bersungguh-sungguh bila saya tau dengan siapa saya sedang berkomunikasi atau sedang bicara .

Saya merasa tidak sanggup jika ditempatkan diruang terbuka seperti saat ini , yang bukan ruangan keberpihakan pada kepentingan yang saya yakini .

Terlebih lagi saya memahami media blog yang tercipta ini juga menyediakan tempat bagi hal-hal yang personal , individu dan pastinya juga ber-subyektivitas tinggi . Maka disinilah saya menempatkan subyektivitas saya .

Dari awal karier saya subyektivitas saya sudah saya mulai dari subyektivitas yang berseberangan dengan mainstream . Dimana generasi sekarang meng-akrab-i-nya dengan sebutan alternatif .

Ijinkan saya tetap dijalur alternatif yang saya yakini , hingga nanti saya merasa sudah menemukan jalur mainstream yang bisa saya ikuti . Saat itulah saya nggak perlu lagi menggunakan register aktif untuk semua orang agar bisa berkomentar dan berpendapat disini .

Itu juga kalau saya masih mampu dan bisa bayar internet atau memelihara kelangsungan hidup blog ini . [updated]

salam .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

19 Responses to “ Kronologis ”

  1. Ini soal pilihan. Sebetulnya Anda sudah berani jujur, buat apa membuka ruang diskusi kalau ternyata Anda sendiri akan kerepotan. Ya kan? Ibarat teras rumah, meski tuan rumahnya semanak semedulur, bukan berarti siapa pun boleh datang tanpa permisi lalu bikin teh sendiri, begitu barangkali. :D

    Teruslah ngeblog, Mas JSOP!

  2. Terimakasih paman tyo , juga terimakasih buat ndorokakung yang sudah membuka peluang saya bisa menjelaskan alasan serta motivasinya .

  3. terima kasih sam, untuk penjelasan sampean yang lengkap. dan tentu saja saya menghormati hak sampean untuk memperlakukan blog sampean sesuai aturan yang sampean bikin. blogmu [memang] harimaumu …. bisa mengerkah kepala. sekali lagi matur nuwun, sam.

  4. mas koq posting sebelumnya gak bisa komen sih?

  5. ah..itu tidak untuk dikomentari koq mas , itu dialog yang sedang saya ceritakan buat angin agar disampaikan keatas yang punya langit hehe , di multiply udah keburu dikomentari sebelum sempat saya closed..jadi ya terlanjur .

    itu cuman grundelan yang kalau di album jurang pemisah setara dengan lagu ‘gerutu_menggerutu’ .

  6. Mas Yockie, kemarin saya melihat anak-anak tetangga sedang mengilik jangkrik. Untung jangkriknya nggak dikasih nama. (Mengapa kucing diberi nama, sementara jangkrik tidak ya?)

    Terus terang bangga juga bisa mengilik mas Yockie untuk membuat blog (apalagi kalau nanti bisa buku konvensional – kompor terus). Banyak tulisan mas Yockie yang memberikan pencerahan kepada saya. Setidaknya saya punya tambahan “kacamata” baru dalam memandang sebuah isyu / topik.

    Itu yang bersifat non-personal. Di sisi lain saya juga bisa melihat (dan mudah-mudahan bisa belajar juga) dari peta perjalanan personal mas Yockie. Siapa tahu peta ini bisa dijadikan tambahan, selain spion itu ya mas. Saya seperti menumpang di truk bak terbuka yang dikendarai mas Yockie. Kadang-kadang nyetirnya bikin penumpang terkaget-kaget (dengan keterbukaannya). he he he. Tapi menyenangkan.

    Jadi, terserah mas Yockie mau bawa kendaraan ini kemana saja asal kami masih boleh ndompleng di belakang; kadang duduk diam, kadang ikut teriak-teriak (entah meneriaki siapa). Yang penting, tidak membuat keributan di jalan yang merugikan pengguna jalan lainnya. Itu saja.

    [Mau terkapar sebentar di bak terbuka ini. Jangan diinjek-injek ya.]

  7. Mas Budi yang budiman , begitulah seyogyanya hidup bersama ini dijalani . Silahkan generasi sekarang ini memilih jalur dan mengemudikan arah hingga sampai pada tujuan yang direncanakan.

    Generasi-generasi sebelumnya adalah cermin atau kaca spion masa-lalu yang memang banyak meninggalkan luka sejarah yang menyedihkan dan kadang memalukan , faktanya demikian .

    Namun jadikan mereka ilmu bagi petunjuk meraih serta melengkapi kecerdasan , jangan campakkan mereka seolah hanya masa lalu yang sekedar harus dibuang dan ditinggalkan (maksud saya kepada anak muda sekarang)

    Mereka adalah orang-orang yang lebih mengerti persoalan namun tak memiliki keahlian yang didapat dari kemajuan jaman seperti yang dikuasai generasi sekarang . (lebih updated)

    Karena itu , kita tempatkan masa lalu untuk mengkritisi hari ini . Kita upayakan jangan sampai penyakit ‘tipis kuping’ serta kekeliruan yang lebih parah turut menular hingga ke agen-agen perubahan hari ini .

    Fungsi saya adalah terompet masa lalu yang harus nyaring saya tiupkan…bukan untuk membuat bising suara namun berharap membangunkan agar tidak ketiduran .

  8. Mainstream atau alternatif itu pilihan. Kalau njenengan suka yang alternatif itu hak dan sah. Manusiawi.
    Wong bapak ibu kita, ketika berniat membikin anak juga perlu alternatif gaya, gaya nungging, gaya jongkok, gaya berdiri, salto, dsb, supaya hidup bisa lebih hidup dan si jabang bayi segera hidup.
    Kadang perlu ikut gaya mainstream umumnya, kadang ya dibikin ndak umum, semuanya soal selera dan pilihan.
    Paling aman buat saya adalah kadang-kadang. Seperti Embun, kadang kecil-kecil banyak, kadang ngumpul jadi satu pada telapak daun. Kadang hilang menguap, kadang mampu menetes.

    Seperti saya juga seringkali nyeleneh, setiap orang suka pecel Lele pedes… saya malah ndak suka sambel. Orang suka musik anak-anak baru, saya malah cari kaset loakan. Orang pada nyari pizza dan burger, saya blusukan nyari jemblem.

    Termasuk alternatif juga khan, saya? (*biar dianggap mirip sama JSOP*)

    hehe….sampeyan ini pasti temennya alm.gepeng atau malah jangan-jangan tokoh tersembunyi dibalik suksesnya srimulat .

  9. Lah.. kok mukaku jadi ninja / brewok?? Njenengan pake plugin avatar apa? kalau Gravatar mustinya wajah ganteng saya yang muncul…

  10. hahaha…itu bukan ninja mas kardjo..itu si amang , saya pakai gravatar yang biasa koq , pasti email anda yang nggak sinc dengan gravatarnya, coba sampeyan cek lagi .

  11. Penjelasan tuntasnya adalah:

    Blog ini ‘jsop.net’ bukan sarana tempat PR bagi profesi saya sebagai pemusik yang juga membutuhkan ruang-ruang seperti jumpa fans dan lain-lainnya .

    Namun lebih condong pada ruang private didalam rumah saya sendiri , dimana seperti dikatakan paman tyo saya juga menerima teman / sahabat dan lainnya untuk ngobrol soal harga beras , cabe merah , korban tabrak lari sampai bencana macam-macam .

    Yang belum tentu juga semuanya pasti setuju dan sependapat. Tapi selama berada dirumah saya mohon jangan buang hajat sembarang tempat ya..

  12. ahh terjadi lagi hal kaya gini…dulu s4 ada orang yg menutup blognya karena pesan yg dia sampaikan malah tidak ditanggapi secara benar oleh para komentator,topik ‘a’ malah menyeleweng ke ‘h’ :(

    err..asline saya selalu kagum ama orang2 yg sudah membuktikan mimpinya dan akhirnya memutuskan buat ngeblog, paling ga selalu ada pengalaman atau keluh kesah yg bisa diambil…

  13. ya ampun…saya juga tahu bung Yockie lhoh.. dulu waktu SMP aku udh beli album Semut Hitam God Bless dst sampe album Aku Bersaksi.. beranjak SMA udh nekad nonton Kantata Takwa di Solo..
    Kok bisa bung JSOP bilang kalo “jujur saja sebelumnya saya merasa nggak yakin ada komunitas di internet ini (generasi sekarang) yang tau siapa saya , bukan merasa rendah diri…tapi emang saya enggak punya keyakinan untuk gr yang seperti itu ”

    Dan bisa interview dgn Bung Yockie..ini sebuah kesempatan yg sgt berharga dan bermanfaat..

    mungkin skrg eranya beda.. skrg generasi Kangen Band atau Bunga Citra Lestari gito kali ya?
    ouw ouw kamu ketuaan eh ketahuan…he he..

    menyimak garapan bung Yockie..rasanya gak ada bosennya..
    sbg penyeimbang di tengah musik2 sampah!

    so, don’t give up Boss !

  14. Ternyata memang internet tidak memberikan barier apapun dalam ranah bersosialisasi. Saya bisa ketemu Sutradara terkenal, novelis idola, redaktur Majalah Ternama, Artis cantik menawan, hingga pemusik kawakan seperti Mas Yockie…

    Sementara bermimpi untuk bertegur sapa dengan mereka di alam nyata saja, mungkin hanya jadi mimpi2 saya sejak kecil sampai sekarang.

    Bagi saya itu salah satu kekuatan media ini dalam membangun komunitas sosial yang kuat, dibalik hiruk pikuknya suara-suara bebas tiap kepala kita.

    Senang Sekali saya bisa bertemu Blog Mas Yockie ini. :)

  15. ekowanz terimakasih , Leksa thanks juga .

  16. Panjenengan boleh kelihatan lesu pas di liputan 6, tapi di channel blog jangan kehilangan darah ya…kalo perlu saya jadi donor deh hehehehe

  17. bukan lesu lagi..itu sudah 2 hari 2 malam ngga nempel kasur . Jangan-jangan malah saya dipikir lagi giting hehe

  18. Mas..saya masih ingat saat2 awal sampeyan nulis blog. Tulisan2nya masih sederhana, lugu..tapi sekarang…makin serius.
    Persis seperti Beatles saat awal muncul dg lagu2 sederhana..lama2 makin serius.
    Tapi saya masih ngarep2 lho .. masih ada tulisan yg ringan2 alias rada2 norak, kampungan…seperti saat sampeyan ultah perkawinan ke 20(?)…udjuk2 Nyonya ngesun padahal sampeyan blon sikat gigi..he..he..he

  19. wah terimakasih ….itu sebetulnya bermakna kritikan positif juga buat saya mas , bagian sifat’diri’ yang norak , gebleg , ndesit , kamso , juga nggak boleh tertutup-tutupi , bisa jadi palsu nanti..

    Padahal rasanya saya udah mencoba supaya balanced lho..kadang saya nulis ngawur/nggak nyambung atau seenaknyalah…., pokoknya rasanya saya masih ‘eling’ untuk nggak mantes-mantesin / yak-yak’o…atau macak-macak gitu lhoo..
    Jadi masih kurang gemblung ya..dibandingin dulu?

    hehe..masa sih mas? wahh..bahaya..nih..berarti makin tua hehe.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara