Detail

detail.JPG

Sepanjang hari ini saya gunakan monitor dihadapan saya untuk membaca kembali (reviewed) semua tulisan / artikel yang pernah saya buat , selama kurang lebih mendekati hitungan setahun lamanya . Tentu saja tidak semua postingan terbaca seratus persen namun sebahagian besarnya saja dan yang saya anggap perlu dibaca ulang .

Kadang saya sendiri merasa terkejut-kejut dengan spectrum loncatan emosi yang terasa meletup-letup , saya seperti merasa memutar ulang film documenter tentang potret diri sendiri .

Inilah gambaran sebuah energi yang mengagumkan yang dapat saya lukiskan dari sebuah media , wadah untuk meng-ekspresikan diri atau fasilitas yang namanya blog .

Mungkin orang-orang dahulu menyalurkannya atau mendapatkan suasana hati yang saya rasakan saat ini dari media tulis pribadi , yang biasa kita kenal dengan nama buku harian atau diary . Sayang saya nggak pernah melakukannya , jadi enggak pernah ngerti apa gunanya dan bagaimana sih rasanya ..

Kesimpulan yang terakumulasi dari perjalanan mundur kebelakang tersebut ternyata membuahkan sesuatu didalam pikiran saya untuk focus pada satu titik persoalan yang saya anggap mendasar .

Yakni sebuah kata : ‘detail’ dari berbagai aplikasi persoalan kehidupan .

Sepertinya memang dalam segala hal yang menyangkut perjalanan hidup kita (sebut:masyarakat) , ’kita selalu’ …, bukannya hanya cenderung …., namun jelas sangat mengabaikan persoalan detail .

Tengok saja berbagai masalah- masalah yang harus dipecahkan untuk diselesaikan . Orang cenderung untuk mengambil jalan tikus agar cepat sampai , efisien dan praktis .

Padahal masalah seperti apapun bentuknya / namanya serta katagorinya , tak akan mungkin bisa dicapai penyelesaian dengan baik apalagi sempurna jika persoalan ’detail’ diabaikan atau dilewati begitu saja .

Kita bicara hukum dan perundang-undangan…. , masih juga terus mencoba mencari jalan pintas yang bisa dilalui dengan cara meng-amandemen disana-sini yang justru malahan terkesan tambal sulam disana-sini , hingga orang sejagat ini pernah berpikir tentang Indonesia yang ganti orde lalu ganti juga hukumnya . Padahal kita semua juga tahu bahwa detail inti persoalannya ada di wilayah konstitusi .

Memang betul , akhir-akhir ini mulai ada suara-suara yang terdengar agar kita jangan takut apalagi sekedar malu-malu untuk mundur jauh-jauh dan menengok kebelakang . Tapi saya masih melihat itu semua sebagai hiasan pemanis untuk melengkapi merahnya warna bibir agar tampak bergincu yang ujung-ujung agar sekedar tampak seksi .

Yang tujuan lainnya hanyalah sekedar seperti petasan kaleng , bunyinya mengagetkan namun setelah selesai tak berdampak apa-apa , kecuali jantung kita yang deg-deg-plas dibuatnya . Alias hanya sekedar mencari muka ..namun kali ini menjelang 2009 mudah-mudahan kali ini saya salah duga .

Kita bicara politik , ya sama saja . Tanpa pemahaman yang mencukupi tentang detail kebudayaan mana mungkin bisa menghasilkan politikus-politikus yang berbudaya . Berbudaya dalam hal ini bermakna berperilaku sesuai ajaran yang baik dari nilai-nilai budaya leluhurnya , bukan berbudaya lalu bisa menari serta menyanyi …seperti apa yang selama ini mereka pahami tentang arti kebudayaan . (saya ngga nyebutin main film lho..biar pak Syaifullah Yusuf ngga tersungging dibuatnya hehe..)

Budaya bagi mereka tak lebih sebagai tontonan atau situs-situs sejarah yang sudah mati (berhenti) , karena itu katanya pula ..budaya itu perlu disubsidi agar lestari…. (?) . Mereka memang menganggap kebudayaan sebagai barang atau benda masa lalu yang hanya patut untuk dikenang dan sekedar untuk dipamerkan serta dibangga-banggakan , bahwa nenek kita dulu..begini….kakek kita dulu begitu…dan seterusnya . (*edited: ada sebuah lagu dijaman orba yang berbunyi “begini..ni…ni..niiiiiiiiiii , begitu…tu..tu…tuuuu..dst*)

Apalagi bicara ekonomi , mana mungkin berharap akan bertahan tanpa dukungan detail aspek kedua hal sebelumnya diatas , apalagi berharap akan muncul pengusaha-pengusaha dari kelas teri pinggiran jalan sampai pengusaha kelas milyaran dollar yang berbudaya , artinya yang peduli dan tega merelakan insting/naluri keserakahan manusiawinya untuk berbagi secara adil dan beradab menyisihkan sebahagian keuntungannya , diberikan pada orang-orang lain yang juga berhak menerimanya .

Ekonom-ekonom yang tak mengenal kata budaya hanyalah binatang-binatang ekonomi yang menjelma berujud makhluk manusia , rakus dan nggragas . Inilah potret wajah kita semua di hari ini .

Bicara agama ? untuk yang satu ini saya membatasi diri untuk tidak melewati batas dimana saya berhak untuk berpendapat dan berbicara . Sebab saya diatur dan harus tunduk pada hukum-hukum yang Mahkamah Agung – Nya bukan manusia .

Pada intinya , setelah saya membaca ulang hampir semua artikel yang pernah tertulis di blog ini , ‘detail’ adalah jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan yang muncul dihampir semua persoalan yang sering membingungkan saya .

Kita acapkali dan terus berulang kali menganggap segala sesuatu yang kecil itu remeh dan tak berharga atau tak bernilai untuk dibahas dan dibicarakan .

Kita selalu terpesona dan terkesan bersemangat membabi-buta untuk segera melakukan hal-hal yang ’besar’ sebab hal tersebut dianggap signifikan .

Padahal kita semua juga tahu , bahwa takkan pernah ada sesuatu yang akan menjadi besar bila tak ada sesuatu yang kecil . Tak ada hari ini bila tak ada kemarin .

Demikian juga , tak akan ada masa depan yang ’besar’ bila tak ada yang ’kecil’ dihari ini.

”Detail” .. sebuah persoalan yang terlihat remeh dan sepele , namun terbukti menjerumuskan setelah dia kita abaikan .

About the Author

jsop

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara....wong cuman seniman. Ibarat cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa. Jangan membaca tulisan seniman bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

Leave a Reply

Currently you have JavaScript disabled. In order to post comments, please make sure JavaScript and Cookies are enabled, and reload the page. Click here for instructions on how to enable JavaScript in your browser.

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>