Kaca_Besar

oprah_winfrey1.JPG

Selebrities mahluk apakah sebenarnya itu . Kita tidak perlu memaksakan diri hingga mempersulit diri sendiri untuk mencari arti secara filosofis atau apapun maknanya kecuali hanya perlu kita pahami sebagai kelompok orang-orang yang suka berpesta .

Pesta , adakah sesuatu yang salah dengan kegiatan ber-pesta tentu saja tidak semudah itu kita boleh mendiskreditkan arti sebuah kegiatan ber-pesta . Saya ingin langsung ketopik bahasan yang ingin saya tuju , yakni pesta selebritis itu sendiri .

Satu jam yang lalu saya menyaksikan sebuah siaran teve kabel tentang sebuah program talk show gaya Amerika yang berjudul Oprah Winfrey Show.

Menjadi cukup mengejutkan karena kali ini Oprah beserta warga Amerika pada khususnya sepertinya sedang menyelenggarakan sebuah tema ‘critic introspections’ pada diri masyarakatnya sendiri yakni masyarakat Amerika.

Polling masyarakat disana menunjukkan betapa dalam beberapa tahun ini saja telah terjadi pergeseran nilai perihal kepedulian sosial yang selama ini mereka banggakan sebagai negeri paling menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan serta hak azasi .

Nyatanya kini di Amerika lebih banyak orang menonton acara-acara selebrities seperti lebih mempedulikan Anna Nicole seorang model yang meninggal dunia akibat over dosis (drugs) atau juga Britney Spears yang digundulin rambutnya , dibandingkan dengan perhatian masyarakat Amerika terhadap kepedulian sosial dan kemanusiaan akibat perang Irak yang ternyata semakin hari semakin menuai ke-tidak jelasan nasib bangsa Irak itu sendiri.

Juga berbagai kecurigaan demi kecurigaan yang satu persatu muncul ditengah-tengah masyarakat sipil Amerika atas segala kekeliruan tindak-tanduk politik yang dilakukan oleh pemerintahnya sendiri yang selama ini juga berusaha mereka tutup-tutupi. Mereka juga menyebutkan bahwa seyogyanya bangsa Amerika juga mempelajari nilai-nilai yang diajarkan oleh agama lain seperti Muslim misalnya. Agar toleransi hidup bersama antar umat beragama diseluruh dunia bisa dilakukan lewat cara-cara yang lebih beradab,yakni saling memahami masing-masing wilayah kedaulatan dalam agamanya sendiri-sendiri.Serta bisa menghindari kesalah pahaman yang sebetulnya tidak perlu terjadi.

Oprah dan berbagai pendapat warga Amerika juga meng-kritisi secara tajam perilaku masyarakat Amerika dewasa ini yang semakin meninggalkan nilai-nilai kesucian dalam norma-norma ikatan perkawinan , dimana hal tersebut jelas hukumnya yang wajib di-junjung tinggi sesuai nilai-nilai dalam ajaran agamanya oleh sebuah bangsa yang mengatas-namakan masyarakatnya , dengan sebutan masyarakat yang beradab.

Disebutkan bahwa 51 persen dari warga Amerika saat ini lepas dari aturan lembaga perkawinan yang sah dimata agama dan Tuhan-nya. Hanya 49 persen yang masih mempertahan perkawinan yang sah sesuai aturannya. Belum lagi maraknya kawin dan cerai yang praktis meningkatkan jumlah angka anak-anak yatim piatu korban perceraian kedua orang tua.

Inikah Amerika hari ini ?

Demikian pertanyaan mereka pada dirinya sendiri yang dengan segera diprotes oleh seluruh peserta yang mewakili keberadaan rakyat Amerika disana.

Menarik untuk dicermati bagi kita yang berada jauh dibalik benua mereka,yakni di-benua asia dan di-negeri kita sendiri negeri Indonesia.

Oprah Winfrey dan warga Amerika sedang berusaha menghentikan dalang mesin perusak peradaban ini yakni hegemony Industri Hiburan yang berkembang amat pesat sebab secara kebetulan ter-fasilitasi oleh temuan-temuan tehnologi yang juga amat menakjubkan .

Dimata kita sepertinya mereka baru menyadari bahwa Tehnologi tanpa Humaniora (baca:science and retorika) yang berakibat melahirkan berbagai ketegangan barulah mulai mereka sadari dampaknya terhadap masyarakat mereka sendiri. Memang terasa bedanya dengan bangsa-bangsa di Eropa yang terkesan jauh lebih sigap mengantisipasinya , mungkin memang latar belakang budaya sebagai alat tolak ukurnya.

oprah_winfrey2.JPG
Sementara kita,bangsa Indonesia ini justru semakin menggebu-gebu dengan bangga menepukkan dadanya bila semakin fasih dan lancar menjadi salah satu penggunanya tehnologi canggih namun kering makna dan manfaatnya .

Demikian juga dengan budaya kawin cerai lalu kawin lagi lalu cerai lagi justru menjadi sumber berita tontonan yang memiliki value tinggi bagi mendukung perkembangan dunia industri informasi dinegeri ini sendiri .

Heran!

Bila diibaratkan seekor monyet yang tidak mau sedemikian bodohnya mengikuti perilaku keledai untuk terjerumus kedalam selokan kedua kalinya.

Disini di-negeri ini justru kita bangga dengan baju keledai yang dipertahankan sebagai identitas eksistensi diri.

Siapakah gerangan pengelola negara ini dan seperti apakah wajah mereka sebenarnya . Benarkah foto-foto yang terpampang ditembok-tembok dengan bingkai-bingkai megah itu adalah wajah mereka yang asli?

Apakah saya sendiri yang ragu ,

Adakah bukti dan hasil nyata yang jelas , yang telah mereka lakukan hingga nyata pula telah memperbaiki keadaan menjadi lebih baik dari kerusakan-kerusakan sebelumnya sehingga ada sebuah kepastian yang bisa anda katakan bahwa mereka adalah wajah aslinya?

Dan disisi yang lainnya,

Masihkah kita bangga dengan sebutan selebritis yang sebenarnya nggak paham betul apa maksudnya kecuali hanya sebatas memahaminya sebagai simbol-simbol profesi saja,lalu mengapa tidak dipanggil cukup dengan sebutan”artis” misalnya …kurang megahkah dan terasa kurang mewah-kah. Sedemikian pentingkah kemegahan dan kemewahan yang cukup diwakili keabsahannya dengan simbol dan istilah?

Nyatanya orang-orang yang mengaku pintar baik didunia politik maupun didunia bisnis industri hiburan kita tak lebih dari barisan orang-orang yang pandir.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

2 Responses to “ Kaca_Besar ”

  1. Hm..Begitu ya mas,saya sendiri terus terang tidak mengerti sebetulnya selebritis itu apa sih.Lalu bagaimana seharusnya sih mas aturan yang baik untuk di Indonesia ini.

    salam,andara

  2. hehe jangan tanya bagaimana seharusnya aturannya mbak..saya kan bukan presiden,ntar bisa mengundang celotehan orang lain “sape’elu” hehe..

    Tetapi menurut hemat saya,pada intinya kita semua masyarakat ini sudah harus bisa meninggalkan perilaku “mendadak terkagum-kagum” yang kemudian diteruskan dengan lahirnya kondisi dalam diri kita yang disebut euphoria.(mabok kepayang)

    Dulu tahun 1968 saya keranjingan the betel (beatles) hingga tahun 1997’an saya menonton video catridge (belum betamax) sebuah konser pink floyd dan elp dan genesis , gentle giant dan banyak lagi lainnya ,baru mulai ngerti bahwa bukan fasilitas yang membuat mereka menjadi tampil bagus.Tapi kualitas kerja otaknya yang bikin mereka memang jadi bagus luar dan dalam.

    Dulu tahun 1992’an saya sangat bersuka cita kalau bisa memiliki berbagai alat syntheziser yang menurut saya adalah segala-galanya….namun setelah punya dan menyadari fungsinya…dia bukanlah apa-apa tanpa gagasan cerdas dari pemainnya.

    Dulu tahun 1980 saya kegirangan setengah mati sampai-sampai merasa jadi orang yang paling modern saat itu,karena saya memiliki Radio Shack (pc) komputer yang ditaruh dirumah sendiri. wahh..mimpi indah, dulu itu komputer gede-gede dan yang punya cuman perusahaan-perusahaa asing seperti sclumberger dan lainnya. Tapi setelah saya kuasai operating systemnya..ternyata saya nggak bisa memanfatkan apa-apa dari sana kecuali main games kampungan (black&white) dan grafisnya sungguh sangat menyedihkan itu. Sebab apa,sebab saya nggak punya software yang sesuai kebutuhan real saya.

    Dulu tahun 1989’an saya terkagum-kagum melihat Setiawan Djody nenteng telephone mobile-nya yang bisa dibawa kemana-mana….sementara saya hanya bisa berhenti dipinggir jalan nyari telpon umum yang sangat sedikit jumlahnya.
    Ternyata setelah saya punya HP, dia nggak banyak memberikan kontribusi yang konkrit buat saya,kecuali malah lebih sering nambahin beban kerja dan membuat waktu jadi sangat singkat & semakin terasa cepat. Saya justru merasa dirugikan, karena kenyamanan saya hidup yang biasanya 5 jam sehari untuk santai sambil minum kopi , sekarang mungkin hanya 5 menit yang tersisa. Baru mau santai tiba-tiba “krirkrirki” sms bunyi…ada tugas lagi harus dipikir…gitu seterusnya..nggak ada habis habisnya…ngantri terussss.

    Sekarangpun demikian , ada program baru , system “OS” baru , chip baru , mobil baru , teve baru , alat memasak baru (microwave) , Coffe maker baru (bukan ceret lagi) , istilah-istilah baru seperti selebrities, mp3,ipod,dan segudang lagi yang baru….,

    Seberapa sih sebetulnya manfaat yang kita dapat dari sana agar sesuai cukup dengan kebutuhan kita sendiri?

    Yang sudah-sudah , manfaat yang kita dapat terkadang memang 100% namun konsekwensi dari biaya pembelian dan maintenance meningkat menjadi 300% sampai 400% . Lalu apa yang terjadi?

    Kita terpaksa harus kerja super keras lagi untuk memenuhi target income guna membayar maintenance tadi. Ngga peduli duitnya mau didapat dari mana..semua menjadi halal,atas nama pembenaran mencari nafkah dan kesejahteraan. Saya sering berbisik sendiri “gila..ya..waktu nggak terasa…udah sore lagi aja” atau “gila ya..rasanya baru kemaren hari senin..koq sekarang sudah mau senin lagi…dsb”
    Jawabannya mbak ” elu aje…yang bego…mau diperbudak oleh kebutuhan yang nggak perlu-perlu amat,sampai merasa kekurangan waktu..!”

    Nah…sampai disini saja mbak,nanti bisa panjang nggak habis-habis sampai jatah bandwidth terkuras habis tak tersisa,lalu komputer saya ‘lelet dan hang’

    Siapa yang pintar dan siapakah yang bodoh dalam hal ini.

    Saya memang dulu pernah bodoh dan lugu , sekarang nggak mau lagi mbak.

    salam

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara