Ketetapan_Alam

Peradaban

Dua puluh empat jam dalam hitungan waktu satu hari yang disepakati oleh manusia dimuka bumi ini guna menghitung jalannya sang waktu yang bergerak maju kedepan.

Jumlah ukuran waktu tersebut kemudian dipahami berdasarkan ketetapan alam yang telah ditentukan oleh-Nya Sang Yang Maha yang Berkuasa. Yakni dua belas jam siang harinya atau saat terang benderang dan berikutnya dua belas jam sesudahnya yang disebut sang malam atau gelap .

Dalam perjalanan sejarah yang terciptakan, manusia telah ditempatkan sebagai mahkluk yang hidup disiang hari atau makhluk yang beraktivitas dan bekerja diwilayah benderangnya matahari yang sedang bersinar . Selanjutnya pada saat rembulan rebah disinggasana manusiapun menggunakan waktunya untuk melepaskan segala kepenatan keletihan , untuk butuh tidur istirahat agar mengembalikan stamina serta tenaga bagi melanjutkan hari-hari berikutnya.

Tentu ukuran tersebut hanyalah sebuah ilustrasi sebagai garis besar yang dapat digunakan bagi landasan cara berpikir serta berpijak yang normal bagi makhluk yang disebut manusia tadi . Tidaklah mesti dan harus ‘waktu’ diperlakukan secara ketat dengan ketentuan dan cara-cara tersebut. Namun hanya sebagai sandaran yang baku bagi manusia agar tidak mudah lupa akan kodrat dan sifatnya , juga perilakunya agar bisa disebut manusiawi seperti yang telah digariskan oleh Sang Maha yang Berkuasa diatas.

Sampai dimanakah perjalanan peradaban yang telah kita tempuh berdasarkan ukuran-ukuran dan ketetapan-ketetapan yang telah digariskan tersebut .

Dulu manusia secara komunal atau disebut masyarakat yang mengaku juga mulai beradab memanfaatkan hitungan dua belas jam ‘waktu siang hari’ yang diberikan bagi bekerja dan mencari nafkah untuk memenuhi kewajibannya menghidupi dirinya masing-masing.

Kebutuhan akan nafkah lahir serta bathin , sebuah kebutuhan yang berlaku bagi semua mahkluk hidup sejak dari jaman purba yakni : makan agar tidak lapar , minum agar tidak haus , menghirup udara bersih agar organ tubuh bisa melanjutkan tugasnya menopang fisik bagi hidup , kawin dengan sah agar berketurunan dan bukan sekedar memfasilitasi nafsu kesenangan yang hanya sebentar.

Untuk hal-hal diatas itulah pada hakekatnya manusia bertugas dan berkewajiban juga untuk menjaga hal-hal yang perlu dijaga , memelihara hal-hal yang harus dipelihara serta tunduk pada hukum alam sebuah ‘hukum absolute’ yang tidak bisa diubah-ubah ketentuan dan segala akibatnya. Hukum sebab dan akibat .

Manusia pernah ada difase cukup bijaksana untuk menjalani proses peradaban seperti yang ditetapkan oleh ketentuan dan kondisi diatas tersebut . Yakni cukup hanya mengusung satu atau dua aplikasi persoalan dalam hitungan seharinya (24 jam) .

Misalnya :

1. Mencari nafkah bagi kebutuhan lahiriah secara secukupnya (makan dan sebagainya)

2. Menjaga harmony pergaulan pada sesama , pada alam dan pada semesta raya secara bersama (melengkapi segala sarana fasilitas yang dibutuhkan dengan ukuran atau standard parameter yang relatif sama)

Bila hal-hal tersebut diatas dijabarkan secara lebih luas lagi maka bisa saja dia bermakna:

1.Makan secukupnya (karena kapasitas perut dan tuntutan sehat ada batas dan ukurannya) dan mengembangkan ilmu agar menciptakan tools bagi menopang dan mempermudah terlengkapinya kebutuhan tersebut juga secara seperlunya .

2.Memelihara value atau nilai-nilai ajaran yang baik yang diajarkan oleh agamanya masing-masing agar kehidupan umat yang menempati bumi yang sama , yang berteduh bernaung dibawah langit yang sama bisa berjalan dengan sebaik-baiknya.

Sampai dimanakah perjalanan peradaban manusia atau sebut saja kita .

Mengapa semakin hari semakin terasa kita kekurangan waktu (yang terasa semakin cepat berjalan meninggalkan kita) untuk kita bekerja bagi terlaksananya kebutuhan item pertama diatas . Apakah benar bahwa alam (dengan durasi waktu 24 jam dalam seharinya ) sudah tidak mampu memenuhi tuntutan manusia dan jamannya , atau manusia yang lupa diri yang merasa berhak menuntut diberikannya waktu yang lebih panjang dari sekedar 24 jam seharinya dan menjadi pongah terhadap alam dengan segala hukum dan aturan-aturan absolute-nya seperti yang sudah dijelaskan diatas .

Mengapa agama justru berpotensi kehilangan peran untuk bisa membuat sesama umat saling menjaga , menghormati dan mencintai bagi kepentingan kehidupan bersama-sama , apakah agama yang juga sudah jadul dan ketinggalan jaman serta tak sanggup lagi memfasilitasi kebutuhan manusia atau memang manusia yang semakin berperilaku kurang-ajar terhadap aturan yang telah ditetapkan oleh Tuhannya sendiri .

Sampai dimanakah perjalanan peradaban manusia yang beserta kita ada sana.

Semakin baikkah peradaban ini , atau semakin burukkah wajahnya?

Lalu apa yang akan kau atau aku lakukan bagi kualitas kehidupan kita masing-masing. Ini memang sebuah pilihan , pilihan untuk menjadi opotunis numpang hidup yang bodoh atau oportunis hidup yang ingin memperbaiki dirinya sendiri , sebelum dia bermimpi untuk berharap peradaban akan berbalik lagi menuju harapan akan kenyataan yang lebih baik dari hari ini.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

4 Responses to “ Ketetapan_Alam ”

  1. mas, mmg smakin Bnyk orang merasa paling benar krn tlh exist sesuai maunya jamannya,trus gmn donk?

  2. Butuh kesabaran yang luar biasa ya mas

    salam kami,
    andara

  3. sepertinya kita kekurangan waktu karena waktu yg ada kita hamburkan utk hal2 yg tak cukup perlu. saking banyaknya hal2 yg tak cukup perlu, sampai kita lupa apa yg benar2 perlu dalam hidup, yang membuat manusia benar2 hidup, bukan seperti zombie, atau mesin yg hidupnya hanya ditujukan untuk efisiensi, penciptaan nilai tambah dalam arti produksi semata dan tidak ada kaitannya dengan semangat dalam jiwa seorang manusia. bahkan seringkali produksi mematikan jiwa. semua ini krn otak kita sdh seperti mesin. segala sesuatu ditakar, diukur, dihitung, dst…, dst…
    memang hal itu ga salah. tapi kalau jiwa kemudian terkena dampak menjadi berpola efisien, siapa bertanggung jawab? jiwa efisien? hahahahahahahahahahaha….. indonesiaaaaaa!!!!! jiwa ragamu efisien…..!!!hahahaha….
    pantes saja indonesia kebal airmata
    jiwa ragamu telah dibuat efisien, indonesia…
    penjajahmu adalah pendudukmu sendiri yg berkolaborasi dgn investor2 lokal/asing yg hanya peduli keuntungan dan tak peduli lingkungan
    yang tak tahu lagi mana yg perlu mana yg tak perlu…
    hutanmu habis…
    air lautmu naik…
    gunung2pun mengeluarkan peringatan amarah…!
    bencana tak kunjug sirna
    di tengah kemelaratannya
    mahluk2nya bertingkah edan
    korupsi gila2an
    padalah air laut telah naik…
    padahal hutan2 sudah gundul…
    padahal gunung2 telah memberi peringatan
    padahal masih banyak yg kurang gizi dan kelaparan
    tetap saja engkau Top hit dunia tingkat korupsinya…!

    dan para petugas hukum yg sudah digaji lebih dari cukup oleh hasil kerja peluh dan keringat rakyatmu ternyata banyak yg kongkalikong terima suap dan sogok.

    mari, berantas zombie-zombie yg memang telah lama hidup, bercokol, bermukim dan berkeliaran di bumi persada…!!
    awasi terus proses pembangunan. tuntut terus transparani di segala sektor! mulai dari pengurusan ktp sampai tender2 pengadaan barang dan jasa oleh negara yang bernilai besar ataupun kecil. jangan sampai tercecer uang rakyat masuk ke pos yg bukan pada tempatnya. karena begitu banyak maling berdasi yg menunggu kesempatan setiap kali lengah pengawasan. karena begitu berharga setiap rupiah bagi org2 yg kelaparan, sakit, tak berdaya di pelosok bumi pertiwi. tagih informasi2 yg menjadi hak seluruh penduduk indonesia utk mengetahuinya. persempit ruang gerak kongkalikong segelintir org yg hendak memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari setiap proses pembangunan yg tengah berjalan!

    http://www.zulkarmen.blogspot.com/

  4. Pikiran kritis yang memotivasi tindakan-tindakan serupa hingga akhirnya melahirkan generasi muda yang progresif konstruktif yang dibutuhkan bagi semangat pemudanya sebagai kekuatan yang real kelompok menengah kita sekarang ini. Sadar akan kebutuhan prioritas mana yang perlu dan mana yang hanya akan menambah beban hingga menjadi tumpukan sampah .

    Kita tidak menolak segala kenyataan tentang keinginan untuk bisa mengekpresikan kemampuan otak atau kedigdayaan financial yang mungkin kita miliki secara perorangan , agar bisa berbuat serupa seperti yang dilakukan oleh berbagai masyarakat dari belahan dunia yang sudah sangat maju lainnya.

    Namun satu hal yang sering diabaikan begitu saja , bahwa mereka telah menempuh perjalanan proses yang cukup memakan waktu , pikiran , pengorbanan , serta upaya dan perjuangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat mereka sendiri hingga akhirnya mereka bisa tampak sedemikian rupa seperti yang kita saksikan hari ini.

    Indonesia, bisa di analogikan mulai ingin merdeka dengan sesungguhnya semenjak dimulainya reformasi 10 tahun yang silam . Itupun belum secara tuntas mampu meletakkan dasar-dasar pemahaman tentang arti dan makna kemerdekaan yang benar-benar merdeka dengan arti yang sesungguhnya , merdeka atas hak hidup , merdeka atas hak menjadi warga negara yang sama seperti yang termuat dalam konstitusi kita.

    Indonesia menuntut kesabaran dan kesadaran agen-agen perubahan disetiap jamannya untuk mampu menata ulang dengan baik aturan-aturan dan berbagai kesepakatan yang pada akhirnya dituangkan dalam kitab undang-undang . Agar Konstitusi-nya dan Pancasila-nya bukan hanya sekedar wacana atau seperti bernasib yang sama yang menimpa Sang Saka Merah Putih kita.

    Hanya dihormati secara seremonial bahkan seolah disakralkan ditengah lapangan saja . Setelah itu kain tersebut tak ada maknanya apa-apa kecuali hanya untuk disimpan di-lemari agar tidak keropos dan lapuk dimakan kecoak.
    Indonesia masih sebuah negara yang senang bermain-main dalam tataran simbol-simbol belaka.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara