Bagaimanakah

garuda
Sutradara dalam perspektif saya disini adalah bagian dari diri kita semua seluruh penghuni republik ini yang memiliki keinginan sama yaitu merdeka dan menjadi makmur serta sejahtera.

Keinginan itu di sah kan dalam sebuah referendum yang kemudian menunjuk serta diwakilkan pada satu orang yang disepakati sebagai pemimpin dan kemudian dalam tatanan sebuah republik disebut presiden.

Jadi presiden itu adalah wakil dari sutradara ‘besar’ yang sedang menjalankan tugasnya mengawasi serta mengontrol ‘referendum’ diatas tersebut .

Nah..dalam konteks Indonesia saat ini , flow atau jalannya proses bernegara sekarang ini menjadi sangat membingungkan sebab siapa bicara atas nama kepentingan siapa . Sementara kepentingan yang utama (sutradara besar tadi) dianggap seolah-olah sudah sama dan sudah ditangan dpr hingga sampai ke presidennya.

Padahal nyatanya semenjak Sumpah Pemuda hingga berhasil membuahkan deklarasi kemerdekaan , kita semua (wakil-wakilnya) belum pernah secara tuntas duduk bersama untuk membicarakan dan menyepakati berbagai aturan dan kesepakatan tentang hak-hak dan kewajiban masing-masing wilayah , yang tadinya otonom berdiri sendiri-sendiri atas nama kedaulatannya masing-masing .

Sebut: jawa , bali , makasar , sumatra / aceh , kutai dayak , ambon , irian dan lain-lainnya

indonesia.JPG

Semenjak merdeka 17 agustus tahun 1945 , persoalan ini diredam dengan pendekatan ‘tangan besi’ agar tidak mencuat dan menjadi hambatan atas nama “pembangunan” .

Setelah saat ini muncul era demokrasi yang lebih condong ke dinding liberal , maka ramailah hiruk pikuk masing-masing lokalitas tadi berteriak menuntut hak-hak nya yang selama ini dianggap hanya dikuasai oleh orang-orang yang ada di Jakarta .

Pusing kan..? perjalanan bangsa ini masih sangat panjang untuk bisa menggapai cita-citanya. Namun itulah faktanya dan untuk bisa sampai pada tujuannya ya harus dimulai dengan segera dan secepatnya . Apa itu ?

Menyatukan dulu keinginan besar bangsa-bangsanya tersebut . Jangan lagi sekedar atas nama atau seolah sudah “locked” tak bisa di ganggu gugat .

Sulit..? ya memang sulit … tidak ada yang mudah dan gratis untuk menjadi makmur dan sejahtera .

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

8 Responses to “ Bagaimanakah ”

  1. Semua pertanyaan dalam hatiku sudah mulai terjawab , maturnuwun kakang mas!

    salam

  2. serba salah juga sih, dulu saya ikut pergerakan melengserkan tirani tangan besi Suharto dengan harapan terjadi perubahan pada bangsa ini. Tapi apa daya ternyata yg diharapkan benar2 terbalik dari kenyataanya. Seperti kran air yg terkunci, dimana air peruahan tidak bisa mengalir. Setelah kran itu dibuka ternyata airnya mengalir tidak pada satu wadah yaitu ember kesejahteraan rakyat, tetapi mencari wadah sendiri2. Akhirnya ember kesejahteraan rakyat tidak pernah terisi, tapi yg terisi adalah got2 koruptor, saluran buangan kejahatan, kantong2 plastik pejabat negara yg mbeling, Botol2 bekas yg namanya globalisasi nyeleneh dan tempat2 kotor2 lainnya.

    Ya udah pak skrg saay cuma bisa memandang ember itu yg gak pernah penuh, karena air yg mengalir ke dalamnya cuma setetes2 dengan frekwensi yg sangat2 jarang. Dalam hati cuma bisa bertanya kapan kah ember ini akan terisi penuh?

  3. ya itu lho.., yang bikin hati gregetan sekarang ini .

    Masalahnya sebagian generasi sekarang ini (pasca reformasi) berpotensi menjadi generasi ngeyelan yang ‘fatalis’. Mereka nggak mau peduli urusan kran-kran tadi dan nggak mau peduli juga sama pengorbanan senior-seniornya yang dulu ‘njebol kran agar nggak mampet.

    Ada kecenderungan atas nama demokrasi mereka menjadi diktaktor dan fasis dengan penampilan dan ujud yang baru.

  4. skrg saya duduk manis aja pak, learn and see sambil nunggu ntar 2009 ada gak yah yg mau mengisi ember yg kosong itu.

    rindu indonesiaku dulu yg pernah kucintai dengan sepenuh hati

  5. Gimana kalau kita mulai dari diri sendiri, dengan berbuat sesuatu (biarpun kecil) yang bisa berguna bagi bangsa & negara. Sebenarnya ada cita-cita dalam hati kecil saya, misalnya hari Senin – Jum’at kerja di kantor terus hari Sabtu dipake untuk kerja sosial. Kerja apa saja untuk kepentingan sosial, tanpa diberi imbalan apapun. Atau membantu korban bencana dengan mendirikan dapur umum. Tapi semua itu masih dalam impian saya, karena sampai saat ini saya belum bisa merealisasikannya dan yang jelas kita perlu wadah untuk bisa melakukan kegiatan-kegiatan sosial.
    Di Indonesia, sangat jarang kita lihat lembaga atau wadah kegiatan sosial yang benar-benar sosial. Yang namanya lembaga sosial harusnya punya misi sosial, bukan sekedar tempat untuk mencari nafkah. Di Indonesia kita juga sulit untuk mencari sponsor yang bisa membantu memberikan biaya pendidikan (kalau pun ada biasanya dari kalangan akademisi saja), padahal banyak orang yang kaya & perusahaan-perusahaan besar yang seharusnya bisa menyisihkan sebagian keuntungan atau penghasilannya untuk membantu pemuda-pemuda kita agar bisa meneruskan pendidikannya. Atau pemerintah kita harus maksa para pengusaha yang ada di Indonesia untuk menyisihkan sebagian keuntungannya demi membantu dunia pendidikan. Atau mungkin hayalan saya ini keliru yah…..

    Siapa tahu melalui forum ini akan terbentuk ‘JSOP Foundation’ yang bisa ngasih sponsor bagi siapa aja yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. He…..he….

    Salam,

  6. Substansinya mulia mas Gomby , kalau mau kita perlu ketemu-ketemuan dulu (sosialisasi antar sesama teman disini) , setelah kita cukup saling mengenal latar belakang serta profesi masing masing yang bersangkutan , barulah kita melangkah setapak lagi untuk membicarakan segala kemungkinan,

    Namun yang sudah pasti kita semua akan merasa berguna memanfaatkan blog internet kalau memang bisa melakukan sesuatu dari hasil pergaulan di dunia maya ini .

    Dan tidak harus dengan atribut nama saya , tetapi sebagai awal langkah untuk membangkitkan motivasi saya setuju setuju saja

    Kita bisa bicarakan secara lebih terbuka untuk sampai kearah sana .

    salam.

  7. Mas, bagaimana dengan kami, … koreksi … saya, yang apatis? Memang ingin ada perubahan, tetapi malas untuk ikut berbuat. Nunggu aja. Atau malah nonton saja. Berubah, alhamdulillah … Tidak berubah, toh sama seperti sekarang. Mendingan status quo saja. (Ini mungkin terjadi pada kelompok yang sudah mapan ya? Mungkin beda untuk kelompok yang sudah terjepit.)

    Saya pikir perlu ada upaya juga untuk mengajak orang seperti saya untuk kembali percaya – setidaknya, berani mencoba percaya lagi – pada sebuah perubahan. Atau … biarkan kami nongton wae?

  8. Mas Budi Rahardjo yang saya hormati ,

    Anda dan juga teman-teman ilmuawan dan saintis lain yang saya temui di ‘technomedia maupun netsains’ dimata saya adalah jejeran lokomotif-lokomotif yang lebih sering stuck di balai-balai yasa atau tepatnya garasi-garasi pangkalannya.

    Mengapa semakin banyak lokomotif yang tak tau harus bergerak kemana , hingga banyak yang hanya bisa menunggu dan diam saja,

    Sebab mau narik gerbong yang mana ..atau bahkan tidak ada yang mau ditarik

    Disisi lain lokomotif tersebut juga berkendala tinggi lainnya , yaitu jalur rel yang berubah-ubah . Tak ada sebuah kesepakatan dari stasiun demi stasiun yang akan dilewati untuk mengatur jadwal serta joblist para masinisnya .

    Belum lagi kalau rel nya anjlog karena sudah tua atau terkena tanah longsor .

    Barisan gerbong yang saling terikat yang saya maksudkan adalah wilayah-wilayah lokal diseluruh bumi Nusantara ini [sabang sampai merauke]

    Sedangkan stasiun-stasiun tersebut adalah daerah-daerah yang telah otonom dengan baik serta teratur. Pemerintah berkewajiban membangun jalur-jalur rel serta memeliharanya .
    Saya dan masyarakat lainnya adalah para penumpangnya .

    Saya membaca di postingan anda tentang upaya anda menggalang solidaritas masyarakat Bandung agar membersihkan got-got dan sampah-sampah yang mengakbatkan genangan banjir .

    Bagi saya , apalagi kalau bukan bisa disebut “pen-jungkir balikkan makna” yang di negeri ini dianggap sudah terlalu biasa .

    Bagaikan lokomotif yang sedang maju mundur maju mundur diam lagi lalu bingung sendiri , alih alih lebih baik membersihkan garasinya sendiri daripada diam tak berfungsi. Padahal sebetulnya sudah ada yang bertugas untuk membersihkan garasi . Tetapi kemanakah mereka yang seharusnya bertugas tadi ?

    Negeri ini sudah terlau banyak mengabaikan hingga mengorbankan peranan lokomotif-lokomotif yang seharusnya bisa mempercepat terjadinya perubahan tadi. Mau sampai kapan bangsa ini selalu akan tertumbuk..tertumbuk tembok lagi .

    Seorang negarawan dan tokoh besar yang juga tercatat sebagai lokomotif bangsa .

    Sebagai lokomotif saat sekarang ini memang tidak banyak yang bisa anda lakukan mas , apalagi seperti saya juga profesi-profesi lainnya .
    Namun sebagai kelompok masyarakat anda bisa berperan / bahkan sudah bersama-sama membangun kesadaran-kesadaran agar terciptanya fasilitas-fasilitas bagi terselenggara-nya semua kebutuhan profesi kita diatas , salam .

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara