Perubahan

perubahan

Tanpa disadari kita sudah ada di penghujung hitungan waktu yang sama seperti yang telah kita lewati di tahun-tahun sebelumnya . Kita bisa mengamati dengan seksama berbagai perubahan fisik yang ada disekitar kehidupan kita . Sebab kita melihatnya setiap hari dengan kedua belah bola mata serta melibatkan seluruh panca indera .

Perubahan pada pohon-pohon yang semakin tumbuh rindang , perubahan pada setiap dahannya yang semakin bercabang cabang dipenuhi sangkar sangkar burung yang liar .

Perubahan diladang rerumput yang semakin luas hijau membentang , yang disetiap sudut-sudut kelokannya bertabur jendela-jendela pintu kehidupan mahluk-mahluk yang beraneka ragam .

Perubahan pada lingkungan diseputar hidup kita sendiri , yang tadinya hanya ada kedua orang tua serta kakek dan nenek . Lalu diketemukan dengan seorang adik.

Lalu kita diketemukan dengan seorang teman ,

Lalu kita diketemukan dengan seorang kekasih ,

Lalu kita dihadapkan kenyataan bahwa kita memiliki anak ,

Hingga nanti ada saatnya mata kita dibuat takjub terbelalak.. , saat ada panggilan pada mahkluk yang mewakili kekuasaan “Yang Maha Besar” . Yang tak dapat dibayangkan betapa hal tersebut bisa terjadi . Kebanggaan tersebut adalah sebutan bagi hadirnya panggilan baru dalam kehidupan kita, seorang cucu .

Rasanya tak semua orang mampu meniti jalan setapak kehidupan tersebut hingga tuntas atau bahkan tak semua orang diberi kesempatan untuk dapat menapakinya.

~

Kembali lagi kita disadarkan akan hadirnya sebuah perubahan disekitar kehidupan kita . Perubahan yang membuat “rasa” lebih terasah lalu menjadi lebih tajam serta akhirnya menjadi lebih peka dari sebelumnya

Kita rajin dan cermat dalam mengikuti setiap detik detik perubahan tersebut . Sebab itu pula kita menjadi semakin cerdas untuk mampu memilah-milah mana yang baik dan mana yang buruk. Kita menjadi semakin pintar untuk bisa mengatakan “dia yang bersalah” serta ” merekalah lainnya yang benar “.

Sebab semua perubahan-perbahan tersebut tampak kasat mata kasat telinga dan kasat suara serta kasat cara oleh berbagai pendekatan dari sudut pandang kita menyerapnya .

Namun adakah kita sudah kasat pada kedua belah mata kita sendiri , untuk bisa mengatakan bahwa mereka telah kita gunakan ‘tuk melihat hal-hal yang baik dan menutup bagi hal-hal yang buruk .

Adakah kita kasat pada telinga sendiri , untuk bisa dibuktikan bahwa kita selalu mendengarkan hal-hal yang juga baik dan menutup bagi suara bising yang jahat .

Adakah kita kasat pada mulut kita sendiri , untuk bisa dibuktikan bahwa kita sudah cukup selektif untuk menggunakan kalimat serta kata-kata .

Adakah kita kasat pada perilaku kita sendiri , untuk bisa dibuktikan bahwa kita sudah berusaha untuk selalu sadar agar tidak melukai perasaan apalagi merugikan orang lain .

Saat ada kehadiran seorang cucu nanti… mungkin disaat itulah waktunya nanti segala ilmu yang telah kita kuasai bercampur dengan segala rasa kebanggaan hingga tumpukan malu , dosa , bersalah bahkan rasa kenistaan yang dapat membuat seluruh pertanyaan pertanyaan besar diatas mampu dijawab . Sebab sudah tak lagi ada batas ruang yang membedakan antara baik dan buruk . Hakekat serta makna hidup sudah tak lagi terukur dengan menggunakan pendulum-pendulum “bahagia atau sengsara”, “menangis atau tertawa” , adakah kalimat atau kata yang lebih tepat untuk meng-istilahkan-nya . Banyak kelompok agama atau kaum spiritual meng-klaim telah memahami dan menguasainya , namun ironisnya disisi lain mereka menghujat dan melecehkan keyakinan orang-orang lainnya yang tak sama dengan cara berkeyakinan-nya mereka . Sedangkan kita semua tahu bahwa Tuhan hanya ada Satu . Karena itu pula saya tak ingin mencampur adukkan hal tersebut dan memasuki wilayah-wilayah dimana urusan kita sebagai manusia adalah urusan vertikal kita kepada sang Pencipta .

Mungkinkah itu disebut Ketakwaan…

Kepasrahan pada Penguasa Semesta Raya yang bukan sekedar pasrah karena menyerah sebab menerima kekalahan . Terbayang seolah dia menggumpal… mengkristal menjadi sesuatu yang tak ternilai dalam ruang kalbu yang paling dalam .

Dan diruangan itu-lah mungkin nantinya , serta disanalah mungkin bisa kita temui Bunda kesabaran yang bisa menjawab berbagai kegelisahan .

Sejenak saya teringat berbagai kejadian , banyak orang yang gemar sekali mentertawakan dan menjadikannya sebagai bahan lelucon atau dagelan . Orang-orang tua tersebut diletakkan dalam perspektif mesin atau material benda tua yang sudah tak bernilai atau tak ada harganya .

Sungguh menggelikan , bukankah seharusnya dia bertanya ” mampukah meniti dan menyelesaikan perjalanan hidupnya sendiri serta akankah dia juga nanti dikaruniai kebanggaan serta mencapai tingkat kesabaran yang serupa .”

Oleh sebab itu pula saya juga ingin bertanya , tak terkecuali saya tujukan pada diri saya sendiri.

Sudahkah kita selama perjalanan dalam hidup ini kasat terhadap kualitas kehidupan kita masing-masing . Seperti sebuah contoh dari perilaku seorang manusia yang mampu membangkitkan kesadaran umat di seluruh penjuru dunia . Akankah getarannya mampu menyadarkan kita semua …terpulang kembali kepada diri kita sendiri .
Gandhi

1869-1948

Jangan pernah bermimpi untuk mendambakan kualitas kesejahteraan hidup bersama , apabila kita sendiri mengabaikan kualitas cara ber-kehidupan kita sendiri-sendiri .

Sementara waktu terus bergerak , mencatat setiap perubahan demi perubahan dan meninggalkan apa-apa saja yang harus ditinggalkan serta tak perlu dibawa-bawa .

Disebelah yang manakah gerangan kita berada…

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

4 Responses to “ Perubahan ”

  1. selamat IdhUl Adha mas,
    tulisan diatas bikin saya merinding..
    Mengingatkan betapa sombongnya kira.

    mas,orang2 yg suka melecehkan tersebut jangan2 sebetulnya adalah mereka2 yang merasa telah tersingkir dari jaman. Atau memang mereka adalah agen2 materi yg sdg melakukan tugasnya?

    maturnuwun atas pencerahannya.

  2. Saya setuju dengan mas Sultan , saat ini materi memang dipuja dan diletakkan dalam skala prioritas untuk mencapai kesempurnaan .
    Nyatanya memang itulah yang kita saksikan setiap hari di iklan-iklan dan setiap acara di televisi .

    Oh iya,
    Mengucapkan selamat hari raya Idhul Adha , mohon maaf lahir dan batin.
    salam hangat.

  3. Selamat Idhul Adha buat semua kawans
    Salam juga .

  4. Setuju (juga) ama Mas Sultan, mbaca tulisan di atas mbikin merinding. Apalagi begitu lihat gambar yang di bawah. Kok pas banget ama judulnya. Mungkin kita butuh tokoh seperti beliau untuk berubah…(Mahatma Gandhi—red). Salam.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara