Train

lokomotif

Masih kenangan saat saya duduk dibangku sekolah dasar di kota Semarang . Saat itu saya ada diruangan kelas 3-5 . Saya masih ingat pak guru idola saya bernama pak Surjono (ejaan: y) Sedangkan kepala sekolah kami adalah Ibu Matullesi , seorang wanita setengah usia berdarah campuran peranakan Belanda dan Ambon. Seperti lazimnya guru-guru sekolah jaman dahulu sangat strength dan corrected . Seluruh murid disekolah tersebut “Sekolah Kristen Gergadji” memandang beliau sebagai guru yang paling disegani atau tepatnya ditakuti (maklum kita masih usia anak-anak).

Setiap pulang sekolah selepas meletakkan tas dan buku saya selalu pergi menghilang hingga kembali pada saat saat menjelang maghrib atau bahkan terkadang setelahnya . Maklum saat itu kedua orang tua beserta kakak dan adik-adik saya lainnya sudah mulai pindahan mengikuti tugas ayah saya sebagai polisi di kota Balikpapan – KalTim. Saya lupa kenapa saya tidak ikut pindah kesana ? saya yang tidak mau? rasanya nggak mungkin anak seusia saya tersebut berani menolak perintah atau melawan orang tua . Hmm…mungkin saya ketelingsut saja hehe..ya sudahlah nggak apa memang sudah nasib saya ketelingsut selalu .

Karena hampir seluruh keluarga tidak ada disana maka itulah sebabnya saya bisa menghilang sekehendak hati saya sendiri . Taukah anda kemana gerangan arah tujuan saya

Dengan berjalan kaki sendirian saya menyusuri jalan Pandanaran – Thamrin – Pemuda – melewati pasar Ya’ik terus lagi hingga sampai di ujungnya , di sebuah stasiun kereta api namanya Stasiun Tawang . Terkadang juga ke statiun lainnya yang bernama stasiun Poncol .

Sungguh luar biasa begitulah perasaan saya ketika saya sudah dewasa lalu mencoba kembali menyusuri napak tilas langkah kaki saya sewaktu berada di kelas antara 3 s/d 5 . Mengapa luar biasa? , jarak yang saya tempuh berjalan kaki tersebut tidak bisa dikatakan biasa-biasa saja jauhnya . Kalau anda pernah tinggal di kota Semarang mungkin bisa membayangkanya , jarak dari Mugas / Pandanaran hingga sampai kesana .

Perjuangan berjalan kaki hanya untuk menemui kereta api .

Sesampainya disana saya sudah hafal kapan jadwal kereta barang yang akan langsir antara stasiun Tawang dan stasiun desa Weleri . Diatas gerbong barang urutan pertama setelah lokomotif itulah saya biasanya selalu duduk dan mengamati bekerjanya masinis dan terpesona oleh uap asap putih yang keluar disela-sela roda lokomotif yang juga mengeluarkan suara memekakkan telinga ‘zzig..jaag..jig..jaagg..juugg..zaakk’ dan seterusnya . Sambil sesekali diselingi bunyi pluit yang terdengar keras mengagetkan telinga …“CcuuuuwwwWWWiiiiIIITTT…!”

Saya duduk didekat sambungan antar gerbong (tangga tempat pijakan kaki untuk naik) sambil mengamati juga pemandangan sawah maupun perumahan kumuh orang-orang miskin yang dilewati kereta tersebut . Hingga saat angin yang berhembus membawa aroma yang berbeda , maka saya sudah dapat memperkirakan kereta sudah hampir sampai di tujuannya . Aroma tersebut adalah bau ladang tanaman kopi alias bau aroma biji kopi yang tercium dihidung kita.

Di stasiun kecil tersebut kereta biasanya selalu berhenti selama 15 menitan hingga akhirnya kembali lagi pulang menuju stasiun Tawang dimana saya sebelumnya ikut menjadi penumpangnya . Lima belas menit saya gunakan untuk mengisi perut yang mulai terasa lapar , dan penjaja makanan yang tak pernah mangkir adalah seorang ibu setengah tua yang menawarkan dagangan nasi segumpal genggaman jari tangan yang tengahnya di isi dengan 2 atau tiga ikan wader kali kecil sebagai lauknya lalu diatasnya ditaburi bawang merah goreng secukupnya . Semuanya itu dibungkus diatas daun pisang lalu di lipat dan di tutup sedemikian rupa dengan menggunakan potongan lidi yang ujungnya diasah tajam sebagai jarum pengikatnya .

Tak ada kemewahan serupa , setelah saya mampu mencicipi berbagai hidangan hotel berbintang yang bisa menandingi kemewahan yang pernah saya nikmati saat itu . Pernah beberapa tahun silam saat saya berkunjung kekota Solo , ada makanan tradisional serupa yang masih bertahan hingga saat ini . Ya..kurang lebih seperti itulah rasanya .

gerbong-2

Akhirnya setelah saya dewasa dan mampu mencari dan menghasilkan uang sendiri , maka apalagi kalau bukan “Marklin” dendam kesumat saya . Saya pernah memiliki hingga nyaris sempurna (optional serta dummy mappingnya) Semuanya saya buat kerjakan sendiri (tiang-tiang listrik beserta kawat 12 volt dan lampu-lampu jalannya) atau juga taman serta rumput-rumput yang saya buat dari kertas koran yang direndam semalam dalam ember dan diberi pewarna hijau lalu esoknya dibentuk dengan jari tangan kita (ditumpuk-tumpuk spt bubur) lalu dijemur dan dikeringkan lagi .Namun sayang .. udara atau tingkat kelembapan suhu di negeri kita rupanya tidak cukup bersahabat untuk bisa mendukung perawatan pada hobby tersebut . Sebab dia hanya mampu bertahan selama 2 atau tiga bulan saja , setelah itu dia cenderung lapuk dan berdebu serta yang menyedihkan …dia menjadi sarang berbagai binatang kecil yang menjengkelkan . Dari semut , nyamuk sampai kecoak..!

Maka dengan berat hati terpaksa saya bongkar lagi semua jerih payah saya berbulan-bulan membuat maket dan design tersebut . Saya masukkan kembali satu demi satu gerbong / rel / lokomotif kedalam kotak dos nya , dan saat ini saya kembali bersedih lagi…..karena saya lupa menyimpan mereka dimana … Mengingat sudah dua kali saya berpindah alamat dan rumah , dan sementara itu sebagian barang-barang yang di pack oleh istri saya dititipkan diberbagai gudang-gudang saudaranya .

Dibawah ini jenis Marklin yang saya pernah punya ‘type HO’ , gambar ini saya ambil dari website mereka “http://marklin.com”

map

map-2
Masih adakah lokomotif yang bunyinya :

“CcuuuuwwwWWWiiiiIIITTT…!”

Ah … saya nggak yakin .

gerbong1

gerbong ayam

map-1

gauge-1

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

19 Responses to “ Train ”

  1. Wah … jadi mengingatkan saya akan masa kecil saya. Ayah saya dulu kerja di PJKA. Jadi waktu kecil banget (sebelum SD) saya sering main ke stasiun, naik kereta api, berjalan di rel kereta api, dan seterusnya. Suasana stasiun memang sangat berbeda waktu itu dengan sekarang.

    Yang terbayang oleh saya adalah keteraturan dan engineering yang hebat. Maklum masih anak kecil. Sekolahpun belum. (Rasanya sedih melihat kondisi perkereta-apian sekarang.)

    Marklin juga sempat jadi mainan saya. Meskipun kami hanya mampu membeli satu set lokomotif dan gerbong. Maklum mas, kami dari keluarga biasa saja sehingga tidak bisa beli maket yang komplit. Saya diberi majalah atau tepatnya katalog Marklin. Katalog itu saya baca bolak balik. Saya lihat gamabarnya satu persatu. Mimpi kalau punya kereta ini dan itu. Alangkah asyiknya jika digabungkan dengan gerbong yang sudah saya miliki. ah …

    Rasanya saya berhenti mainan itu setelah masuk SD. Hobi beralih ke tempat lain sebagaimana layaknya ABG yang lain. he he he.

    Senang juga menapaki jejak masa lalu. Sudah lama saya tidak dengar kata “marklin”!!!

  2. Tau nggak mas memori purba yang masih nempel di kepala kita..itu tuh konstruksi bangunannya (interior dsb).
    Lantainya dari keramik khusus kotak2 kecil yang kasar biar nggak licin , mungkin supaya orang nggak mudah terpeleset , biasanya warna merah muda atau abu-abu. Lalu tiang-tiang penyangga eternit dan sebagainya , unik dan khas.

    Juga suasana atau atsmosfir di ruang peronnya , dirancang seolah dengan pendekatan akustik tertentu sehingga terkesan “waspada” (hening walaupun banyak orang lalu lalang). Perasaan tersebut hampir sama saya rasakan ketika saya di dalam sebuah gereja sewaktu kecil .

    Di Eropa stasiun-stasiun dengan suasana seperti itu sampai sekarang masih ada dan terjaga dengan baik . :lol:

  3. Wah … kenangan manis ya Mas. Semasa kecil juga saya tinggal dekat rel dan stasiun di Cimahi. Sudah kebiasaan saya main sampai dikejar orang gila (disebut si ‘orat’, karena auratnya nongol ke mana-mana) di atas rel, atau nonton orang berjudi ‘unyeng’ (itu rolet ala teras stasiun), terus dibubarin polisi.
    Ketika mahasiswa, rejeki saya juga ternyata banyak datang dari proyek-proyek di kereta api.
    Di Jawa, anak-anak saya suka saya kenalkan dengan kereta api, dengan cara datang ke stasiun. Sayangnya sekarang di Sumatera nggak ada kereta api :((

    Nggak tahu kenapa ya … kereta api dan segala infrastrukturnya memang selalu punya tempat tersendiri. Apalagi ketika kita singgah di stasiun-stasiun kecil. Terasa seperti perjalanan mengunjungi leluhur dan masa silam.

  4. Sayangnya sekarang di Sumatera nggak ada kereta api

    ~
    lho..kereta api masih ada dong di Sumatra ..,kereta barang . Kalau kereta penumpangnya dulu kelas kambing adanya kan mas?
    ~

    Nggak tahu kenapa ya … kereta api dan segala infrastrukturnya memang selalu punya tempat tersendiri. Apalagi ketika kita singgah di stasiun-stasiun kecil. Terasa seperti perjalanan mengunjungi leluhur dan masa silam.

    ~
    wah..kalau sampeyan pernah naik kereta api khusus yang ada gardannya (ditengah rel) lebih asik lagi mas . Dulu adanya di stasiun Ambarawa menuju Magelang dan sekitarnya (berbukit-bukit) Kita menyebutnya “sepur kluthuk” hehe , mungkin karena bunyi rodanya tuk..tuk..tuk..sangking pelan jalannya. (nanjak)

    Yang pasti bukan karena “jambu kluthuk”

  5. Iya, di Sumatera Selatan ada kereta babaranjang (batu bara rangkaian panjang) yang kalau lewat bisa sepuluh lima belas menit kita baru bisa nyebrang jalan. Sementara di Sumatera Barat sudah ditutup.
    Di Riau sama sekali nggak ada kereta api. Yang banyak truk balak ilegal logging berseliweran :(

    Maksute kereta yang sekarang sekali naek mesti bayar ~2jt-an itu ya Mas ? Yang ketelnya musti dipanasi dulu dua jam sebelum berangkat ? Yang lokomotifnya pindah ke belakang untuk ndorong biar linknya nggak putus ? Yang sudah ditawar sekian miliar sama pemerintah Jerman itu ? Bisa naek kereta itu teh salah satu obsesi saya Mas … !
    Seperti juga pingin bisa naek lagi kereta tujuan Bandung-Ciwidey atau Pangandaran.

    Oh ya…apa Mas pernah naek kereta jenazah Sri Pakualam (ke berapa … lupa lagi)?
    Saya pernah. Letak persisnya sekarang di salah satu pojok gelap tersembunyi di Balai Yasa Yogyakarta. Auranya itu … wah … gimana ya susah diceritakan. Ada kesan angker, kuno, misterius, gothik, dll dll

  6. Hehe..ternyata sampeyan sudah ngicer kereta itu ya..?
    Saya mah dulu waktu kecil naiknya mas…..nggak nyampe dua jutaan buat numpaknya , murah tapi pastinya berapa ya ndak tau…wong yang bayar bukan aku hehe..

    Sekarang katanya mau dijadiin kereta pariwisata ? denger-denger sih..hmm.. 2juta? ..mending makan sego liwet sak wareg’ke mas..

    Kereta Sri Pakualam saya pernah ndeketin..waktu itu malam-malam persiapan mau konser di pagelaran Kraton. Saya mau pipis nyari WC nggak ketemu…lalu ada tempat agak gelap saya samperin…(biasa kaya anjing kampung lagi hunting lokasi)..
    Pas..mau “engage” tiba-tiba koq ‘mak..seerr’ rasanya nggak oks bgt! lalu saya pindah lokasi ..nyari tempat lain…ehh malahan ketemu wc yang beneran.

    Besok paginya saya kesana lagi… saya liat tempat semalem yang saya mau “engage” tersebut ternyata sebuah kereta Jenazah tua….Hiiiiiyyyyy…seraammm! :lol:

  7. Bapak saya dulu kerjanya membereskan persinyalan di kereta api. Jadi kerjanya harus pindah-pindah. Salah satu hal yang menarik adalah kalau naik kereta api ke Jawa Tengah. Di beberapa tempat kereta berhenti dan kita bisa membeli makanan lewat jendela. Masih ingat, ada telor asin, ada nasi apa gitu, wah pokoknya macem-macem. Asyik gitu. Meskipun kursinya keras (ada yang dari logam dan ada yang dari rotan lengkap dengan kutu busuknya he he he).

    Satu hal yang saya lihat dulu adalah adanya keteraturan dan keseriusan, meski dengan kondisi ekonomi yang terbatas. Sekarang bapak saya terheran-heran, geleng-geleng kepala, tidak mengerti dengan banyaknya musibah kereta api. Fail safe, merupakan mantra-nya (dulu mungkin?). Jadi kalau sebuah sistem gagal, dia masih tetap safe.

    Saya sempat diajak masuk ke ruangan pengendali yang banyak-banyak kabelnya … tapi teratur! Nggak kayak sekarang, di data center banyak kabel yang kayak mie atau spageti. he he he.

    Sekarang saya masih sering pakai kereta api dari Bandung ke Jakarta. Agak seram juga. Untuk itu harus banyak-banyak baca doa. :)

    Oh ya, di Kanada usaha kereta api juga megap-megap. Jadi tidak hanya di Indonesia saja yang susah.

  8. Ingat kereta api jadi ingat yg jelek2 saya pak dokter, kenangan buruk waktu saya sama mama naik kereta api dari jogya mau ke jkt eh tau2nya tas mama saya dicopet dari luar, tangannya masuk lewat jendela huhuhuhu. APes dah :mad:

  9. Naik kereta api sekarang ini harus pake helm (jendelanya suka dilemparin orang tertindas yang dari luar)

    Tas dan koper musti dirante’in pake gembok lalu diikat dikaki kita masing-masing biar nggak terbang .

    Sebab kalau tidak demikian jangan salahin keadaan , sebab keadaan kita pula yang turut menciptakan .

  10. Tiba’e sampeyan iku cilik’ane pancen wis seneng explore sana sini ya mas…lha wong kelas 3 SR wis piknik idjen ngluyur tekan ndi2 …. ndak isa duduk manis, anteng ….he…he…he….
    Ne’k tertarik alat musik wiwit umur pira sih mas…?

  11. hehe yo kelas telu iku mas .. ditekakno’ guru piano (klasik) ambek ebes wedhok .

    Aku karo kangmas ku (“sing gendheng”..hehe) nak sak wis’e gurune’ muleh , pianone’ di idek-idek mbek’ sikil …, ben suarane’ rame’ , ben iso koyo si bu guru unine’..hehehe..

    Aku langsung disawat sendal ambek’ ibu…, yo marakno rusak nho..pianune’.. wis djan… (kurang ajar temenan)

  12. Kalo bicara kereta api waktu kita masih kecil (bahkan s.d saat ini), memang ada suatu sensasi..melihat loko yg nampak gagah, garang menyeret rangkaian gerbong. Alangkah perkasanya ……Di perlintasan kereta, kita menunggu dg mata diarahkan ke si loko – yakin deh .. seisi mobil matanya pasti ke si loko.
    Kalo kita ke Bdg lewat tol Cipularang, selalu saya menengok ke arah jembatan kereta, siapa tahu ada kereta lewat. Saya juga kagum melihat struktur jembatan-nya, dari batang2 baja dirangkai sehingga mampu menanggung beban ratusan ton…!
    Kemudian lihat deh…struktur pondasi rel yg di permukaan tanah, sangat sederhana …cuma tumpukan koral + bantalan beton/kayu. Bila kereta lewat bantalannya nyut2an seperti ng-per, tapi ternyata sangat kokoh…..!

  13. “CcuuuuwwwWWWiiiiIIITTT…!” ; “sepur dua jurusan kuwait segera diberangkatkan .. para penumpang dipersilahkan segera menumpaki gerbongnya masing-masing .”

    (ya terang aja..numpak gerbong sendiri …, numpak gerbong tetangga mah ..sama aja ngajak berantem) hehe..

    *Gerbong tonggo ban serep’e luwih guwedhe soale’ mas..* :roll:

  14. Jam 04:02, stasiun-nya masih buka toh Mas…….?

    Sorry, OOT. Udah ada yang mbaca bukunya Gus Mus (KH A. Mustofa Bisri) yang judulnya “Membuka Pintu Langit”. Bagus juga isinya, kritik membangun buat kita semua (bukan promosi lho). Asli, saya tidak ada hubungan dengan toko buku ataupun penerbitnya.

    Salam,

  15. Jam 04:02, stasiun-nya masih buka toh Mas…….?

    stasiun buka setelah kerja di stasiun saya kukutan , bisa jam.04.00 bisa jam.05.00 bahkan bisa jam.07.00 , maklum saya pekerja atau kuli malam , beda tipis sama hansip .

  16. Duuuh mengena lagi nih nostalgianya Mas Yockie,…..aku jadi ikut terkenang masa kecilku, klas 5, pertamakali numpak sepur ke Banyuwangi, diajak Bapak nengokin Om yang tinggal di Bwi…bener – bener masa kecil yang indah, masih ingat persis saat mengantri tiket di Stasiun Tugu, Jogja, sampai turun di Rogojampi, didalam sepur bapak bilang : piye unine sepur thole ? aku jawab : cuwiiiit…ojo jajan, ojo jajan…cuwitttt ojo jajan, ojo jajan (untung bawa bekal) he he he

  17. hehehe… padahal justru jajannya yang melengkapi nostalgia ya mas..

    Wingkobabat panas…. panas..waahhh whenakkk’e’ , beberapa bulan lalu saya di oleh-olehin wingkobabat Tawang Semarang koq sekarang agak lain ya… lebih tebel dan bungkusnya juga ndak biru lagi kayak dulu . Rasanya jadi agak lain gara-gara bungkusnya nggak sama hehe

  18. jujur..kisah anda mengesankan:)


  19. vito: jujur..kisah anda mengesankan:)

    ah.. terimakasih mas vito

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara