hand holdblankme598andrewshould have used a narrower DOF...hah

Air_Mata

tikus_tertawa.JPG

Maling ayam sampai koruptor sekalipun satu saat bisa sadar dan melupakan tabiatnya yang pengen selalu mencuri . Layaknya tikus yang insyaf , sebab mereka kalau tertawa terbahak-bahak….., hingga meneteskan airmata . Airmata itu pulalah yang dikemudian hari nanti membuat mereka menangis karena menyesali semua tingkah laku buruknya. Itulah keajaiban dari ciptaan-Nya yang bernama ‘Air-mata’

Nah ini ada sebuah kisah yang tak harus berhubungan dengan tikus tadi .

Sebuah indirectly counseling.

Semalam saya sempat nonton Ekstravaganza yang kali ini meninggalkan banyak catatan mengendap dalam benak saya setelah acara tersebut selesai . Sebuah upaya yang nyata dari bentuk profesi hiburan yang memuat pesan-pesan sosiokultural .

Jelas itu adalah ’sesuatu’ yang sangat dibutuhkan bagi alat untuk merangsang berbagai imaginasi , guna membangun intelektualitas penontonnya .

Cukup mengagumkan ..

Dimulai dari cerita sekelompok anak Indonesia gaul dengan style R&B black-american yang sedang berjemur dipinggir pantai . Lalu datanglah kelompok gaul lainnya dengan rastavari movement dan reggae-nya. Kemudian dari sana dimulailah dialog-dialog yang mewakili slangnya masing-masing , mereka ber-acting layaknya negro yang nggak bisa diam bila bicara , yang selalu kayak orang ayan yang sedang blingsatan kegatelan dansa (yang kedua tangannya selalu bergerak-gerak keatas , seperti sedang ngusir kambing)

Dan lawannya adalah orang jamaica yang datang tak lupa dengan gitar akustik serta rambut gimbalnya (koq nggak disebutin nyimengnya ya..hehe takut di gep kali) , dan juga kata “man” [baca: man bukan men] yang selalu ada disetiap akhiran tiap-tiap kalimat .

Mereka memperankan dua kutub kultur tersebut tanpa menutup-nutupi nuansa orang Indonesia asli , yang memang sering bangga jika bisa mirip atau serupa , yang penting biar maksa asal gaya .

Potret dari kondisi ‘real’ anak muda ABG sekarang dalam menyerap budaya urban .

Kemudian kisah tersebut seolah disampaikan oleh kedua sub-cultur dipinggir’sebuah pantai ‘ yang lebih menyerupai danau sunter dimata saya .(lukisan background yang mungkin sengaja dibuat sedemikian rupa)

Sekilas tampak hanya sekedar lucu , memang . Karena begitulah orang Indonesia umumnya .. mereka akan tertawa ter-bahak bahak dan bahagia bukan kepalang kalau ada lelucon yang sekedar mentertawakan orang apalagi cukup bisa dimengerti maksudnya bila tanpa perlu menggunakan otak dan pikiran untuk mencernanya .

Saya nggak tau persisnya , apakah script lawakan Ekstravaganza tersebut ditulis khusus oleh ‘writers’ dibelakang layarnya sendiri , atau ada kolaborasi atau semacam interaksi bersama / diskusi dalam menyusun penulisannya dengan Tora Sudiro dan mereka-mereka yang lainnya . Apapunlah ..

Namun yang jelas tanpa disadari mereka terasa sedang membangun sebuah gerakan pen-cerdasan berpikir lewat media hiburan atau media lelucon serta lawakan khususnya .

Bandingkan dengan acara-acara lawakan serupa lainnya , yang hampir setiap harinya muncul diseluruh media kaca , dengan orang-orang yang juga sama . Mual rasanya ..

Menurut saya inilah gerak mesin budaya yang harus diharapkan , sebuah culture movement yang suatu saat mampu menemukan ramuan / racikan hasil percampuran berbagai budaya serapan dari seluruh penjuru belahan dunia . Hingga dia bersenyawa secara chemistries dengan paradigma kultur lokalnya . Karena menggunakan nalar dan logika serta akal sehat untuk menjalaninya . Tidak asal lelucon samber kiri atau samber kanan sekenanya .

Memahami globalisasi serta paradigma modernisasi haruslah dilewati dengan menggunakan kecerdasan seperti contoh proses diatas . Tidak mungkin trend atau gaya hidup hanya sekedar dicontoh mentah-mentah lalu diikuti perilakunya hanya lewat tampilan simbol-simbol dan lambang-lambangnya saja .

Demikian juga seyogyanya diberbagai bidang profesi hiburan yang lainnya , musik juga apalagi dunia sinetron dan film kita…Tontonan yang penuh kecanggihan tehnologi namun sama sekali mengabaikan cita rasa ber-estetika, apalagi konteksnya

Sah memang…, kalau hanya sekedar mengatas-namakan selera , namun selera ‘kampungan’ (istilah umum bagi:murahan) dengan selera yang lebih cerdas jelas bagai langit dan bumi .

Hayo..ah , sudah saatnya pulang kerumah masing-masing dan berkaca dikamar kita sendiri-sendiri . Sebab cermin-cermin yang berderet dijalan adalah dongeng didalam mimpi-mimpi yang tak akan pernah tercapai , sudah saatnya bangun .

Dan bangunlah dirumah sendiri jangan ditrotoar pinggir jalan atau dipinggir kali . Ayo mari kita lakukan segala upaya sesuai profesi kita masing-masing semoga semakin banyak tikus-tikus yang tertawa ….. biarkan hingga akhirnya mereka ingat caranya bisa menangis

Biarkan “Air-mata” bekerja sesuai kodratnya .

About the Author

jsop

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara.... wong cuman seniman . Ibarat sebuah cermin , cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa . Jangan membaca tulisan seniman bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

5 Responses to “ Air_Mata ”

  1. Saya juga suka extravaganza, tetapi khususnya skit yang bernuansa “black” atau “american”, saya agak risi dan tidak suka. (Bahkan saya merasa malu untuk menontonnya.) Ada kesan berlebihan dan sok tahu di sana, yang menjadi tidak lucu. (Di situ kesannya seperti orang Indonesia yang mau ngAmrik tapi tidak tahu esensi sesungguhnya. Apakah saya tahu? Tidak juga.) Atau mungkin karena ini merupakan cermin diri ya? Sehingga saya merasa tersinggung? ha ha ha. (None taken.)

    Yang paling saya suka justru pada porsi “sinden”. Isi yang dibicarakan tidak menarik (karena isinya adalah gosip selebritis), tetapi caranya itu yang menarik. Dia menghidupkan kembali kultur tradisional Indonesia. Coba isinya adalah kritik sosial, wah lebih suip lagi.

  2. Saya termasuk jarang nonton TV baik lokal maupun kabel, kecuali beberapa yang memang betul-betul bermutu. Bukan apa-apa, untuk saya sebagian besar isinya cuma tayangan nggak bermutu.

    Pernah saya nonton extravaganza, yang meledek musisi yang pemakai narkoba. Lagu plesetannya itu, memakai lagu ciptaan sang musisi. Kalau sang musisi itu adalah kita, apa kita akan anteng-anteng saja ?

    saya yakin dia nggak bisa anteng-anteng saja mas , seharusnya senewen dan jadi nggak nyaman . Tetapi kalau masih ada yang belagak bodoh..dengan anteng-anteng saja misalnya….hukum alam yang bekerja kan mas?

  3. Budi Rahardjo wrote:

    “Saya juga suka extravaganza, tetapi khususnya skit yang bernuansa “black” atau “american”, saya agak risi dan tidak suka. (Bahkan saya merasa malu untuk menontonnya.) Ada kesan berlebihan dan sok tahu di sana, yang menjadi tidak lucu. (Di situ kesannya seperti orang Indonesia yang mau ngAmrik tapi tidak tahu esensi sesungguhnya. Apakah saya tahu? Tidak juga.) Atau mungkin karena ini merupakan cermin diri ya? Sehingga saya merasa tersinggung? ha ha ha. (None taken.)”

    Justru disitu manfaatnya kan mas Bud? hehe.. membangun kesadaran penontonnya , sebetulnya hal serupa juga dilakukan oleh tukul , hanya saja segmentasi sasarannya berbeda . Tukul lebih mengarah ke level masyarakat bawah . Yang herannya …masyarakat menengah-ataspun masih teramat suka bahkan dengan bangga seolah mentolol-tolol-kan dirinya sendiri. hehehe..atau emang kita semua masih tolol kali ya..

    Selanjutnya… kasus yang berbeda soal pencurian benda-benda sejarah oleh orang -orang kaya raya .

    Itu salah satu yang saya maksudkan dengan ‘menangis airmata’, mereka sekonyong-konyong mengaku telah ditipu oleh para penjualnya. Contoh-contoh seperti ini akan membuat kelompok orang kaya (hasil ORBA) di Indonesia menjadi introspeksi diri . Untuk selanjutnya tau tentang apa-apa saja yang bisa dibeli dengan duitnya , dan apa-apa yang tidak bisa di-kangkangin lewat kekayaannya. (pelajaran untuk berperilaku bagi orang agar bisa disebut ‘berbudaya’)

    Indonesia , sepertinya sedang menggeliat bergerak bagaikan burung garuda yang sedang me-matoki sayap guna membersihkan diri dari kutu-kutunya.

  4. hiy..ternyata yg mcuri bukan cuman org Malingsya ya mas..kekekek..

  5. Kita ribut mempersoalkan hak cipta (dng malaysia dsb) namun didalam negeri sendiri kita ngga peduli bahwa kesenian hasil karya kultural budaya tidak pernah dihargai oleh anak bangsanya sendiri . Adakah kita menyaksikan tontonan lokal karya budaya sendiri diberbagai media informasi .

    Kalaupun ada seberapa prosentasinya dengan tontonan aplikasi asing yang dimanipulasi seolah ‘Indonesia’ dalam 24 jam seharinya .

    Sementara itu kita juga lupa atau memang nggak pernah tau atau diajarkan untuk tau , bahwa tidak ada yang asli di Indonesia ini .., semuanya adalah hasil mixed dari perkawinan berbagai jenis budaya asing yang pernah mampir di bumi nusantara ini . Bahkan agama yang ada di Indonesia-pun bagian dari budaya serapan dari berbagai bangsa .

    Islam / Nasrani / Hindu /Budha atau lainnya , wayang orang/ candi2 / kain lukisan batik, atau makanan seperti : tempe / tahu / martabak dan lainnya .

    Dijaman ini yang penting adalah mem-patenkan hak karya cipta yang orisinil (temuan dari modifikasi-modifikasi yang ada yang kemudian menjadi spesifik kultur budaya masyarakat kita)

    Bagaimana mau mam-patenkan kalau pemerintah & masyarakatnya sendiri tidak bisa menghargai .Sudah merasa kecolongan orang lain baru ribut padahal belum ada penyidikan secara men-detail apakah mereka copy&paste atau memang ada modifikasi .

    Dan satu hal lagi , Malaysia atau bangsa manapun juga punya hak yang sama untuk me-modifikasi apa-apa yang mereka temukan dari Indonesia , sejauh itu tidak plek ’sama’ namun hasil perkawinan dengan kultur budaya mereka . Contoh kasus : “kerajinan Bali” , darimanapun juga datangnya namun bila sudah keluar dari pulau dewata tersebut orang akan mengenalnya sebagai kerajinan karya orang Bali .

    Oleh karena itu , hati-hatilah bila kita ingin mengkritik orang lain , sudahkah kita sendiri beres menata diri sendiri . Malu lah kita bila nanti seluruh bangsa-bangsa dari berbagai pejuru dunia mentertawakan kita .

    Dengan julukan kumpulan makhluk aneh dari asia .

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>