Flying_to

Satu lagi hobby saya semenjak usia remaja hingga sekarang “Dirgantara” .
Saat saya masih duduk dibangku SD saya sering diajak sama pak alwi (semoga beliau masih ada) salah satu pengabdi di rumah tangga orang tua saya di kota Semarang . Saya disering dibonceng naik sepeda dari rumah disekitar jalan Pandanaran sampai lapangan terbang Achmad Yani .
Disana kita berdua nontonin turunnya DC 3 atau biasa disebut Dakota yang hendak landing ataupun hendak lepas landas / take off. Tak terbayangkan rasanya exciting yang menggelora sambil termangu melamun…..kapan ya…saya bisa naik besi gede yang bisa terbang itu .. begitulah kira-kira mimpi orang dari dunia tertinggal saat itu .
Hingga beberapa puluh tahun sesudahnya saat menginjak remaja di Jakarta terkabul keinginan saya untuk menyentuh tepian mimpi besar tersebut , yakni dunia aero modelling . Disana saya juga berkenalan dengan komunitas swayasa dari terbang layang hingga becak yang bisa mumbul / ultra light yang kalau mesinnya failure.. tanggung sendiri .
Sayang saya tidak diijinkan istri untuk lebih jauh menggeluti olahraga tersebut , mengingat trauma yang membayangi dia semenjak remaja . Ya..sudah..saya cukup bahagia dengan bermain diwilayah modelling saja . Dari pesawat jangkrik sampai semi jet (ducted fan) sampai helicopter pernah saya kuasai dengan relatif cukup baik .
Hingga datangnya saat-saat resesi menimpa kita semua yang mengakibatkan nilai tukar mata uang rupiah kita anjlok semena-mena, maka terpaksalah secara semena-mena saya juga diberhentikan dari hobby tersebut . Sebab biaya perawatan serta biaya persiapan terbang sungguh sudah tidak manusiawi lagi . Nggak tega rasanya mengeluarkan rupiah hingga puluhan juta hanya untuk perasaan terbang selama 30 menitan saja , sementara di sebelah kiri dan kanan saya menggapai seratus ribu saja setengah matinya luar biasa .
Maka semenjak tahun 2002-2003 semua hal yang berhubungan dengan aktivitas tersebut saya grounded , satu demi satu pesawat model saya saya kecilkan alias saya jual.
Tahun-tahun berikutnya ditemukanlah saya dengan tehnologi simulasi lewat komputer ini. Wah…pucuk dicinta ulam tiba kata pepatah lama . Saya bisa kembali terbang bahkan keliling ke seluruh penjuru dunia , mampir diseluruh airport diseluruh dunia . Dengan peralatan terbang navigasi yang sama seperti sebenarnya serta waktu jarak tempuh yang real time seperti kondisi jarak tempuh sesungguhnya .
Gambar diatas adalah cockpit dari Boeing 737-300 yang sudah saya modifikasi sendiri , sesuai kebutuhan saya . Jadi buat saodare-saudare semua kalau pas ketemu sama saya dalam kabin penumpang sebuah penerbangan jangan merasa takut dan ragu . Sebab kalau pilotnya error saya siap mengambil alih hehehe…. kecuali sayapnya lepas , kita loncat aja rame’ rame’ barengan .
“Ok’ jsop G102 Ur’e cleared to take off “, begitu kata tower maka langsung saya ongke’l…eh ‘tancap ….wwuuss : “60 knot…..100 knot…..140 knot…..180 knot…V1…..V2…..Up…and …mumbul…maintenance to 250 knot sampai crusing level .
ah….saya bisa ngintip rumah sampeyan semua…hi hi .. ada yang lagi mandi dan lagi be’ol
Popularity: 88% [?]
Your IP Address is:
38.103.63.60
























Dulu saya malah cita2nya jadi pilot pesawat tempur. Biasa waktu masih kecil2 suka ditanya “le cita2 mu opo?” langsung aja kujawab pilot pesawat tempur.
bicara dirgantara kadang sedih juga lihat dirgantara indonesia, beberapa kali kapal terbang negara asing masuk wilayah indonesia. Kita gak bisa berbuat apa2 karena memang sarana dan prasarana kita gak memadai. Sedihnya lagi sudah pesawat tempur sedikit eh yg laik terbang juga cuma beberapa. Radar2 udah pada Tua sedangkan pesawat asing tekhnologinya udah semakin maju. Beli pesawat yg harganya gak seberapa demi negara ini aja para “cecunguk2 kursi empuk” udah ribut [gak kebagian jatah amplop kali]. Tapi yg bawa kabur duit rakyat yg berkali2 lipat dari harga pesawat gak diributin.
Ah sekali lagi saya cuma bisa berteriak huuuu.. haaaaaa… aaaaaaaahhhh.. maklum sebagai penonton cuma bisa teriak tapi skenario tetap di tangan sutradara. Bukan begitu Pak Dokter JSOP?
hehe..sampeyan ini manggil saya pak dokter terus..nanti penyakit sampeyan nggak sembuh-sembuh lho.., lha wong datengnya ke dokter-dokteran.
Pertama pesawat tempur F16 kita itu banci , kalau nggak salah type c alias nggak punya peralatan tempur yang memadai seperti lazimnya F16 yang selalu dilengkapi dengan optional-optional lainnya (peralatan untuk perang)
Dia hanya bisa mumbul lalu jungkir balik segala macem , tapi begitu berhadapan dengan musuh dengan pesawat yang sama , katakanlah negara tetangga kita , maka sudah pasti kita kelabakan duluan sebelum memutuskan mau duel / dog fight di-udara .
Begitu juga dengan radar-radar thomson kita yang ada di Ujung Pandang dan Surabaya , jangkauan pencapaian deteksinya hanya lokal . Kita nggak punya fasilitas seperti satelit untuk memonitor seluruh pagar-pagar di wilayah Indonesia dari udara . Sampai sampai ngukur batas wilayah saja jangan-jangan mau pake meteran dan dipatok pake patokan cangkul dan lainnya .
Sementara negara-negara ditetangga kita udah bisa ngintip kita dari langit lewat satelitnya .
Apalagi Amerika , sampeyan masuk wc pun washington bisa tau kalau dia mau .
~
~
Nah..sebagai dokter gadungan saya perlu mengatakan : sutradara yang ditunggu itu nggak akan dateng-dateng .
Sebab apa?
Sebab “DIA” itu ya kita semua…, ya..mosok sampeyan nunggu sampeyan sendiri…heehe..
sorry mas oot
lagu Yang Esa Yang Kuasa sampeyan ternyata yang aransemen. Wah ngilu mas dengernya, enak banget lagunya. Sempat blogwalking2 akhirnya ketemu juga list LCLR yg jelas sejelas2nya. Saya cuma ada yg 77-78 itupun mp3. Kalo mas berkenan disini nih alamatnya http://musiklawas.blogspot.com
lah kok saya mas… lom sanggup jadi sutradara.. mungkin anak cucu ku nanti ada yg sanggup [semoga]
~
hehe.. maksud saya sutradara yang bisa merubah skenario nasib Indonesia itu ya rakyatnya sendiri , termasuk sampeyan dan saya yang uwong super cuiiilliikkk ini .
mas jsop
maksudnya gimana sih dan kriteria sutradara diatas itu yang harusnya bagaimana ? wah saya menjadi pasien juga deh
salam
hehe..nggak apa apa mbak kita jadi pasien pasienan kan dokternya juga dokter dokteran jadi fair enough.
Sutradara dalam perspektif saya disini adalah bagian dari diri kita semua seluruh penghuni republik ini yang memiliki keinginan sama yaitu merdeka dan menjadi makmur serta sejahtera.
Keinginan itu di sah kan dalam sebuah referendum yang kemudian menunjuk serta diwakilkan pada satu orang yang disepakati sebagai pemimpin dan kemudian dalam tatanan sebuah republik disebut presiden.
Jadi presiden itu adalah wakil dari sutradara ‘besar’ yang sedang menjalankan tugasnya mengawasi serta mengontrol ‘referendum’ diatas tersebut .
Nah..dalam konteks Indonesia saat ini , flow atau jalannya proses bernegara sekarang ini menjadi sangat membingungkan sebab siapa bicara atas nama kepentingan siapa . Sementara kepentingan yang utama (masyarakat besar tadi) dianggap seolah-olah sudah sama dan sudah ditangan dpr hingga sampai ke presidennya.
Padahal nyatanya semenjak Sumpah Pemuda hingga berhasil membuahkan deklarasi kemerdekaan , kita semua (wakil-wakilnya) belum pernah secara tuntas duduk bersama untuk membicarakan dan menyepakati berbagai aturan dan kesepakatan tentang hak-hak dan kewajiban masing-masing wilayah , yang tadinya otonom berdiri sendiri-sendiri atas nama kedaulatannya masing-masing .
Sebut: jawa , bali , makasar , sumatra / aceh , kutai dayak , ambon , irian dan lain-lainnya .
Semenjak merdeka 17 agustus tahun 1945 , persoalan ini diredam dengan pendekatan ‘tangan besi’ agar tidak mencuat dan menjadi hambatan atas nama “pembangunan” .
Setelah saat ini muncul era demokrasi yang lebih condong ke dinding liberal , maka ramailah hiruk pikuk masing-masing lokalitas tadi berteriak menuntut hak-hak nya yang selama ini seolah hanya dikuasai oleh orang-orang yang ada di Jakarta .
Pusing kan..? perjalanan bangsa ini masih sangat panjang untuk bisa menggapai cita-citanya . Namun itulah faktanya dan untuk bisa sampai pada tujuannya ya harus dimulai dengan segera dan secepatnya . Apa itu ?
Menyatukan dulu keiinginan besar bangsa-bangsanya tersebut . Jangan lagi sekedar atas nama atau seolah sudah “locked” tak bisa di ganggu gugat .
Sulit..? ya memang sulit … tidak ada yang mudah dan gratis untuk menjadi makmur dan sejahtera .
[selanjutnya mohon topik di artikel ini kita kembalikan pada isu nya yakni masalah hobby, terimakasih]
Wah..sampean dulu di Semarang tinggal di Jl. Pandanaran (?)… itu kan daerah super elit.
Jadi sampean ini bener2 dateng dari keluarga kelas menengah. Jarang lho…kalangan tersebut memiliki rasa kepekaan sosial yg tinggi. Biasanya ‘rasa’ itu hanya sebagai bungkus …..
hehe..seusia 15 hingga 23 tahunan saya keleleran di pulau jawa sendirian mas , nunut sana nunut sini bahkan menjadi anggota keluarga besar dari beberapa komunitas radio amatir . Artinya waktu itu saya anak radio amatiran yang makannya belum tentu tiga kali sehari hehe..
Sementara orang tua saya bertugas dan dinas di Balikpapan Kaltim semenjak saya masih dibangku kelas 4 SD , ngga ada itu yang namanya kiriman atau subsidi silang hehe
Resiko sendiri tanggung sendiri .
Justru karena kleleran itu, malah mempertajam ‘rasa’ yg mungkin sudah anda miliki wiwit bayek…….gawan bayi gitu lho….!
which’is nasib!
Setiap orang hidup memiliki anugerahnya sendiri2 tergantung kemampuan orang tsb mengelolanya , gitu kan boz?
wah tadi malam lihat film gak dok, film lama sih iron eagle. jadi ingat pesawat favourite ku dulu mig 29 foxbat dan f14 tomcat. kalo pak dokter pesawat tempur favouritenya apa?
wah film asik tuh saya juga suka , kalau pesawat tempur yang klasik yang saya suka mustang hehe sangar! . Kalau yang modern tentu saja F22 gantinya generasi F15 dan F16 . Kalau yang ditengah-tengah mirage .
Kalau yang sipil klasik tetap DC3 dakota , yang modern masih 747-400 , yang tengah-tengah ATR72
lah kok sama mustang yah.. Seri P-51 D bukan pak? seru dah tuh pesawat, pas di film pearl harbour mereka pake itu kan pak. Saya dulu sampe punya maenan nya, kalo gak salah moncong depan dikasih gambar gigi hiu kalo gak motif catur. hohohoho. kecil lincah tapi mematikan
saya kalo pesawat sipil masih megang antonov an-225 pak, kagum ma tuh badan pesawat yg segede kingkong C-5 galaxy punya us aja kalah gede pak. Ban nya kalo gak salah 28 biji. Bisa nelan 2 helikoper ato 2 buah menara pengeboran minyak lepas pantai.
Saya Dulu waktu kuliah di malang kalo ke jkt tiap kamis naek hercules AL, bayarnya 70 ribu rupiah dari abdurahman saleh turun di halim. Enak pak seminggu 1x ke jkt. Duduknya kayak angkot. yang lucu pak moso pernah saya pas duduk trus ada orang naik sambil ngomong ” permisi mas bisa digeser duduknya” hahahahahaha ini pesawat ato angkot pake geser2 duduknya. SKrg udah gak ada lagi pak pesawat itu, udah gak boleh lagi.
Koleksi Maenannya yg keluaran Tamiya gak pak? Saya ada beberapa cuma karena sayang keponakan, pas diminta ya saya kasihkan aja. Gak tau dah gimana kabarnya. Padahal saya punya 2 Kapal induk kelas kitty hawk, tank m1 abrams, bradley. Kalo pesawat mustang, tomcat ama mig 31. cari yg mig 29 gak dapat2.
he he ini mas saya nampangin AN.225 milik saya , yang saya pake buat ngangkut sayur mayur dirumah , sebentar saya upload dulu
~
Nah ini panelnya
beuh… itu flight simulator bukan pak? ato asli bener2 di juanda? kalo bener2 di juanda wah kehilangan kesempatan ke 2 setelah F16. Duh AN 225 si Paus Biru kapan yah bisa naik itu
Kalo helikopter udah pernah naek pak? Saya dulu jaman [alm] papa masih aktif di terjun payung, saya suka ikut. naik Helikopter tapi puma ama bell doang.
Antonov
An-225 Mriya
ASCC codename: Cossack
Heavy Transport
DIMENSIONS:
Length 275.58 ft (84.00 m)
Wingspan 290.00 ft (88.40 m)
Height 59.67 ft (18.20 m)
Wing Area 9,742 ft2 (905.00 m2)
Canard Area
WEIGHTS:
Empty 628,315 lb (285,000 kg)
Typical Load unknown
Max Takeoff 1,322,750 lb (600,000 kg)
Fuel Capacity 661,375 lb (300,000 kg)
Max Payload
internal: 440,925 lb (200,000 kg)
external: 551,150 lb (250,000 kg)
PROPULSION:
Powerplant six Lotarev D-18T turbofans
Thrust 309,540 lb (1,377 kN)
PERFORMANCE:
Max Level Speed at altitude: 530 mph (850 km/h)
at sea level: unknown
cruise speed: 495 mph (800 km/h)
Initial Climb Rate unknown
Service Ceiling unknown
Range typical: 2,430 nm (4,500 km)
ferry: 8,310 nm (15,400 km)
g-Limits unknown
ah benar2 Super Aircraft. Kapan negaraku bisa membuat pesawat seperti ini dengan harga murah ya?
~
itu Flight Simulator dengan optional ‘adds on’ seperti: scenery dan lainnya . Saya punya scenery lapangan terbang yang besar2 diseluruh dunia .hehe
Kalau sampeyan pengguna simulasi ini kita bisa terbang sama-sama (dng pesawat yang berbeda) namun saling berkomunikasi dan saling bisa melihat secara virtual pesawat kita masing-masing . Misalnya saya menggunakan cessna dan anda menggunakan pswt dengan crusing speed yang sama (80 knot’an) maka kita bisa terbang secara konvoi . Ke Bali sama-sama atau menado hehe..kalau anda nyungsruk saya juga bisa melihat pesawat anda ‘diving’ sambil kita tetap bisa on line mengatakan “mayday…mayday” hehehe..
Dan yang lebih menarik lagi cuacanya atau weather bisa kita “set” real time juga (koneksi on line ke wheather report yang biasa digunakan oleh pilot sungguhan saat mereka mau terbang) . Jadi kalau di dunia nyata sedang ada hujan dan badai misalnya , maka di simulasipun akan terjadi hal yang serupa . Kita oleng / bumping nggak keruan kalau kebetulan pakai pesawat kecil .
Wow keRen bgt deh mas simulatornya..Gak nYangka sibapak ini juga seorg pilot kekkeke..!!
wah enak banget yah… sayang sarana dan prasarana ku gak memadai, kalo bisa kan enak dok, saya ajakin dog fight aja daripada konvoi. F-14 saya lawan P-51D mustang nya pak dokter. Udah bisa ditentuin siapa yg menang ya dok… jelas2 saya pasti menang. Cukup bawa 6 Sea Sparow he he he.
Armed Active… Target Lock… Fire… whuzzzz… P-51 JSOP was down. Target Eliminated. Over
Duh gara2 pak dokter cerita “Dirgantara” Jadi kepingin hunting lagi dah. Ntar dah sorean kalo gak hujan mau ubek2 Tunjungan Plaza + Galaxy, mau cari Mig 29 Fulcrum kalo gak mig 25 Foxbat. Ntar kalo dapat saya poto dah, sapa tau pak dokter ngiler hihihihihi
eiittss..biar P-51 tapi saya dilengkapi radar jamming dan cluster bomb yang bisa ngeles dari sea sparow sampeyan . Saya juga punya sidewinder buat ngebales buntut tomcat sampeyan , sampek “meong..” bunyinya kedengeran di headset saya .
hihihi…seru!
wah jgn lupa pak… Buntut “kucing” saya udah bukan buntut standard loh, udah dimodifikasi dipasangin
AN/ALQ-167 electronic countermeasures pod and is provided with Tracor AN/ALE-39 chaff/flare/expendable jammer dispensers in the lower rear fuselage.
bakal susah pak mendengar suara “meong” di headset pak dokter ha ha ha
wah.. terpaksa saya landing dulu , saya cari utangan dulu buat beli peralatan tambahan. Ngutangnya ke Anthoni Salim hehe.., lalu modifikasi peralatan tempur lainnya . Saya pasangin P-51 saya dengan:
Internal:
M61A1 Vulcan 20 mm Gatling Gun
Feed System: 270 lbs
Gun: 252 lbs
Ammunition: 319 lbs
Total: 841 lbs
External:
External Camera
Air-to-air missiles:
AIM-7 Sparrow
Primary Function: Air-to-air guided missile
Contractor: Raytheon Co.
Power Plant: Hercules MK-58 solid-propellant rocket motor
Thrust: Classified
Speed: Classified
Range: Classified
Length: 12 ft
Diameter: 8 inches
Wingspan: 3 ft, 4 inches
Warhead: Annular blast fragmentation warhead
Launch Weight: 500 lbs
Guidance System: Raytheon semiactive on either continuous wave or pulsed Doppler radar energy
Date Deployed: AIM-7F, 1976; AIM-7M, 1982
Unit Cost: Approximately $125,000
Inventory: Classified
AIM-9 Sidewinders
Primary Function: Air-to-air missile
Contractor: Raytheon Co.; Ford Aerospace and Communications Corp.; Loral
Power Plant: Thiokol Hercules and Bermite MK 36 Mod 11; single-stage, solid-propellant rocket motor
Length: 9 ft 6 inches
Diameter: 5 inches
Fin Span: 2 ft 1 inch
Speed: Supersonic
Warhead: Blast fragmentation (conventional) weighing 20.8 pounds (9.36 kg)
Launch Weight: 190
Range: 8.7 nm
Guidance System: Solid-state infrared homing system
Unit Cost: $41,300
Date Deployed: 1956
6 AIM- 20 AMRAM
Primary Function: Medium-range, air-to-air tactical missile
Contractor: Hughes/Raytheon
Power Plant: High performance, directed rocket motor
Length: 12 feet
Launch Weight: 335 lbs
Diameter: Seven inches
Wing Span: 21 inches
Speed: Supersonic
Warhead: Blast Fragmentation; high explosive
Unit Cost: $386,000
Date Deployed: September 1991
AIM-54 Phoenix
Primary Function: Long-range air-launched air intercept missile
Contractor: Hughes Aircraft Co. and Raytheon Co.
Unit Cost: $477,131
Power Plant: Solid propellant rocket motor built by Hercules
Length: 13 ft
Weight: 1,024 lbs
Diameter: 15 inches
Wing Span: 3 ft
Range: In excess of 100 nm
Speed: In excess of 4,800 kmph
Guidance System: Semi-active and active radar homing
Warheads: Proximity fuse, high explosive
Warhead Weight: 135 lbs
Date Deployed: 1974
Air-to-ground weapons:
AGM-65E Maverick
Seeker: TV with
magnification
Speed: Mach 0.65
Length: 8 ft 2 in
Weight: 464 lbs
Warhead: 125 lbs
shaped charge
Range: 0.6 to 14 nm
Diameter:
Drag factor: 46
AGM-84D Harpoon
Primary Function: Anti-ship cruise missile.
Contractor: The Boeing Company
Power Plant: Teledyne Turbojet
Thrust: 660 lbs
Length: 12 ft, 7 inches
Weight: 1,145 lbs
Diameter: 13.5 inches
Wing Span: 3 ft
Range: Over-the-horizon, in excess of 60 nautical miles.
Speed: High Subsonic
Guidance: Sea-skimming cruise monitored by radar altimeter, active radar terminal homing.
Warhead: Penetration high-explosive blast at 488 lbs
Unit Cost: $720,000
Date Deployed: 1985
HGM-88 HARM
Primary Function: Air-to-surface anti-radiation missile.
Contractor: Raytheon
Power Plant: Thiokol dual-thrust, solid propellent, rocket motor
Length: 13 ft, 8 inches
Launch Weight: 800 lbs
Diameter: 10 inches
Wing Span: 3 ft, 8 inches
Range: 57+ nm
Speed: 1,216 kmph
Guidance: radar homing
Warhead: Blast fragmentation; warhead weight 150 lbs
Unit Cost: $284,000
Date Deployed: 1985
Mk82
Type: 500 lb class general-purpose iron bomb
Length: 7 ft 2 in
Weight: 531 lbs
Warhead: 275 lbs H-6 high-explosive
Drag factor: 40
Mk82HD Snakeye
Type: 500 lb class high-drag iron bomb
Length: 7 ft 6 in
Weight: 570 lbs
Warhead: 275 lbs H-6 high-explosive
Drag factor: 40
Mk83
Type: 1,000 lb class general-purpose iron bomb
Length: 9 ft 11 in
Weight: 985 lbs
Warhead: 416 lbs H-6 high-explosive
Drag factor: 50
Mk84
Type: 2,000 lb class general-purpose iron bomb
Length: 12 ft 9 in
Weight: 1,972 lbs
Warhead: 945 lbs H-6 high-explosive
Drag factor: 60
GBU-15 Guided Bomb Unit
Type: TV guided bomb
Length: 12 ft 10 in
Weight: 2,510 lbs
Warhead: 945 lbs H-6 high-explosive
Range: 5 miles
Drag factor: 46
CBU-84 Cluster Bomb Unit
Type: Sub-munitions dispenser
Length: 7 ft 8 in
Weight: 960 lbs
Warhead: 202 combined-effect bomblets
Drag factor: 50
BLU-107/B Durandal
Type: Anti-runway cratering bomb
Length: 8 ft 2 in
Weight: 450 lbs
Warhead: 330 lbs high-explosive
Drag factor: 40
Dan jangan lupa…! saya juga bawa menyan dan sesajen secukupnya untuk bikin sampeyan bisa mabok udara . Gimana mau nembak saya…wong sampeyan sudah keliyengan…nggak keruan ..hehe
loh kan sebelum terbang tak adusi pak karo kembang 7 rupo, wes gak iso maneh disantet pesawat ku.
North American P-51D Mustang (Technical Specification)
Role Single-seat long-range escort fighter, fighter-bomber
Manufacturer North American
Maximum Speed 716 kmh (445 mph)
Combat radius 525 km (326 miles)
Ceiling 12,770 meters (41,900 feet)
Weight
Empty 3,232 kg (7,125 lbs)
Maximum Takeoff 5,265 kg (11,607 lbs)
nah ketok kan pak, mek iso gowo beban 2,000kg ato 4,000 Lbs. kalo sampeyan ngutang trus beli kabeh kui wah gak iso mumbul pesawat e sampeyan.
AIM-7 Sparrow
Launch Weight: 500 lbs
AIM-9 Sidewinders
Launch Weight: 190
6 AIM- 20 AMRAM
Launch Weight: 335 lbs
AIM-54 Phoenix
Weight: 1,024 lbs
Air-to-ground weapons:
Weight: 464 lbs
AGM-84D Harpoon
Weight: 1,145 lbs
Mk82
Weight: 531 lbs
Mk82HD Snakeye
Weight: 570 lbs
Mk83
Weight: 985 lbs
Mk84
Weight: 1,972 lbs
GBU-15 Guided Bomb Unit
Weight: 2,510 lbs
CBU-84 Cluster Bomb Unit
Weight: 960 lbs
BLU-107/B Durandal
Weight: 450 lbs
Hayo pak bingugn kan mau pasang apa… hahahahahah.
lha mulakno iku…awak-awak yo agek tenger-tenger ndek ujung runway..pesawatku tak gas poolll…mek’ grunjulan thok bokonge’…hehehe asem tenan..
asli ngakak baca komen yg ini, kocak abis hahahahhahahahahhahahahahaha. Mbayangno pesawat mek munyer2 tok nang landasan tapi gak iso mumbul mergo ke abotan.
Ayo Pak Dokter jgn menyerah… Gas Pol,Rem Pol
hehe..soale’ jarene’ komandan pangkalane’ “tunggu pak…ini lagi mendung..tunggu agak panasan dikit baru ada ‘lift up’…”
Tak enten’enteni’ malah udan pisan…dasar komandan pangkalane’ yo gemblung..hehe..
wah kalo ngono gak sido Dog Fight iki, ya wes lah Pak mending cangkruk an ae nang kantin bandara, Ngopi sambil rokokan sabal sebul. Pokok e ojok rokok klobot ae, ngkok sak bandara semaput malah dadi gawe.
sek yo pak tak markirno pesawat ku sek, ngkok keudanan diseneni aku karo komandan, mari di umbah kok diudan2no maneh.
ancene kalo udan iku enak e kopi+rokok an sueeeeggggeeeeeerrrrr [ sby saiki udan deres.. bakal banjir wes koyok wingi]
wuahahaha..hahahaha..teruss..mas…terus..pantang mundur!!!!!
haayyaaahh…sampeyan iku wenak ae’ teras terus teras terus..awak-awak iki kuyuban udan ambek’ soro rasane’ di geguyu arek suroboyo.., mbok sampeyan ngrewangi aku…wuntalen bayem seng wakeh’ jek’ isok ngrewangi awak-awak nyurung P-51 tekok runway mlebok’no garasi’ne iki lhoo..
*nyurung P-51 rasane’ koq koyok nyurung bemo ae’ yo.*
ayo mas Sultan, ikutan ta? Iki pak dokter lagi cari Pinjeman mau beli F-22 Raptor. Mumet ndas e Pak Dokter, P-51 ne gak iso mumbul mergo ke udanan busi ne basah. Mbrebet wes mesin e akhirnya kepekso nyurung.
hehe..pak sultan seh gak mudeng tehnologi hehe..sori boz..ini forum cewawak’an lan jujur 100 persen nggak bole’ nesu tapi tersinggung boleh asal di rasa rasain sendiri aje’ hehe…,
Beliau itu ngertine’ numpak montor ‘njagong ndek mburi trus mesam mesem tingak tinguk ..wah wes jan mulyo temenan..
wah keluar varian baru lagi pak
F-35 Street Fighter. Bisa landing vertikal dan horizontal. wah seru juga nih, jadi ingat Av-8 Harrier. Pas perang malvinas kan jadi Bintang nih pesawat. gara2 nya ya itu tadi Short Takeoff and Vertical Landing (STOVL).
kira2 mampu gak ya pemerintah beli nih pesawat kalo lihat harganya, ya itu $35jt. Duh kalo 1 pesawat ini ditukar ama krupuk dapat berapa yah?
ya..ya..ya..ya..beginilah nasib orang gaptek.., saya terima dengan tulus koq mas. ..duhh ..lorone’ ndek’ ndjero rekkk’..
lho kan sudah janjian nggak boleh loro ati …hehe..
@mas gandhi , F-35 itu keliatannya untuk mengantisipasi kontak pendek sama dog fight jurus ngeles ya? sama seperti generasinya harrier , saya belum ngikutin tuh.
Saya koq lebih seneng sama pesawat-pesawat sipil nya ya.., kalo ngliat yang gitu-gitu itu (army) rasanya kemerungsung.., ngebayanginnya bentuk srigala dan gendruwo buto ijo .
Kalau yang sipil-sipil itu…mahkluk-mahkluk halus nan indah dipandang dan harum wangi baunya hehehe… balik lagi ke masalah “celutak”
Pesawat sipil yg berkesan sama saya :
1. DC 10 karena pertama kali saya naik pesawat ya dc 10 ini
2. Concorde bentuknya unik, sayang produksinya udah di stop
3. Twin Otter : Ah pengalaman mendebarkan karena sempat Kehilangan daya angkat, untung gak apa2 walau sempat bikin isi perut hampir keluar. Selama perjalanan isinya cuma berdoa aja
4. Ya apalagi kalo bukan AN-225 Si super jumbo dengan kekuatan super.
sedikit buat pak dokter JSOP
Airbus terbaru

Additional Flight Simulator terbaru
next Dog Fight
semoga berkenan
hehe.jadi getol ngomongin pesawat nih.., ini mas saya upload dulu…sebentar …, DC.10ER saya sebelum dipretelin mesinnya satu satu lalu dijual eceran sama pemerintah Indonesia hiks..lagi parkir di WRRR (ngurah rai)



Sayang bule semua isinya , melayunya nggak kebagian sit..
iya pak kan dalam rangka celutakan hahahahaha
Pak punya Boeing VC-25A gak? he he he kalo ada berarti bapak sekelas president amerika, karena itu pesawatnya presiden america Air Force One hohohoho.
ntar malam ada iron eagle 3 ACES pak. Mayan buat hiburan, dan kayaknya P-51D bakal muncul nih hahahahaha.
Dua DC-10 Binasa Gara-gara Pintu Cargo
Penulis: RB Sugiantoro/Angkasa
Lewat serangkaian penyelidikan, ternyata ditemukan jejak serupa dalam dua musibah DC-10 yang terjadi dalam waktu dan tempat berbeda. Keduanya terjadi akibat mekanisme penguncian pintu kargo yang tak sempurna. Dan, kedua musibah uniknya berawal dari perkara sederhana. Yakni, karena petugas tak mengecek kembali posisi pin grendelnya…
tuh pak hati2 kalo terbang pake DC 10, grendelnya jgn lupa di periksa, ntar lagi enak2 manuver copot lagi pintunya he he he
~
ah themes nya berubah tapi asik juga jadi kayak lebih lebar. Pak pesanan “torpedo” saya mana? ha ha ha
nonton gak pak tadi malam? ada P51, Zero ama spitfire, mayan lah sebagai pelipur lara.
awas makan daging kambingnya jgn banyak2 ingat umur pak dokter *kabuuuuuuurrrrr*