Penutup
Saat fakta yang mengejutkan menunjukkan pada saya , bahwa ketika dia yang 34 tahun lalu saya kenal dan layaknya sudah seperti kakak saya sendiri . Namun ternyata hari ini seolah saya berhadapan dengan orang sama namun dengan sifat yang tak sama , perilaku tak sama , standard sopan-santun / nilai yang juga tak sama , hanya raut diwajahnya saja yang masih sama .
Maka bukan lagi kekecewaan dan kesedihan atau bahkan kemarahan yang membakar perasaan . Semenjak peristiwa itu sayapun mengalami masa-masa mental ‘breakdown’
Betapa tidak … saya berhadapan dengan figur besar popularitas dan figur panutan bagi generasi musik rock Indonesia yang paling tidak saya juga turut membangunnya lewat beberapa karya-karya saya sendiri…lalu..kini harus berhadapan…dengan kondisi berseberangan seperti ini..?
Bagaimana mungkin saya akan memenangkan opini yang sedang atau apalagi bisa saya perebutkan…?
Oleh karena itu pula , tak ada statement atau kalimat apapun yang mampu keluar dari bibir saya kecuali diam bisu seribu bahasa , tanpa bisa bicara apa-apa…sambil menyaksikan teman-teman lainnya kembali melakukan aktivitasnya tanpa saya…. seolah-olah tidak ada sesuatu ‘apa’ yang terjadi dan sedang menimpa diri saya……saya kembali lagi …..sendiri…..cuman bisa geleng-geleng kepala sambil garuk-garuk tanpa ada yang gatal…….persis seperti dulu ….ditahun 1975…,pelengkap penderita .
Padahal mereka juga tau selama itu mental saya juga cukup terganggu…pekerjaan lain bahkan pengelolaan pada studio milik saya pribadipun saya hentikan , karena saya enggak mampu konsentrasi …hingga enggak mampu pula membiayai maintenance rutin disetiap bulannya . [bangkrut...bahasa kasarnya]
Selang beberapa waktu kemudian hingga hitungan beberapa bulan yang lalu …beberapa kali salah satu dari mereka bertemu dengan saya …dan sekali lagi mengharapkan agar sudi kiranya saya kembali lagi bergabung disana ….menge’rek kembali bendera kebesaran Group bersama dan lupakan saja semua apa yang pernah terjadi………[???????? ]
(itu bukan dilakukan oleh dia sendiri ybs terhadap saya , namun oleh teman-teman lainnya) Yang bersangkutan sendiri masih terlihat cuek ‘acuh dengan ke-masa bodohan-nya .
?……..setelah selama itu juga mereka dengan enteng mengatakan pada publik terbuka ……
?……..bahwa selama ini hanya masalah ketidak cocokan antara saya dengan irama kerja bersama …..
?…….atau bahkan secara langsung menyebut …..tidak ada kecocokan antara jsop dengan gitarisnya…….
atau entah dongeng apa lagi yang akan dikarangnya nanti ….
Padahal mereka tau..dan bahkan jadi saksi hidup dari ceritera yang sebenar-benarnya secara kasat mata .
Sekali lagi…lebih baik mengorbankan seorang jsop ….dari pada satunya.
Karena apa…?…..karena “nama besar”….dan dia adalah panutan…dan lebih..
(maaf…….:lebih jualan , mungkin demikian pikir sang produsernya juga)
“jsop..?” siapa sih dia……paling cuman rt/rw yang dikenalnya.
Lalu…saya diminta lagi untuk membangun image GB ….?
setelah dua kali mereka mencampakkan muka saya kedalam tumpukan kotoran ?
Mas…mas yang disini….sekali lagi…saya prihatin melebihi dari rasa prihatin yang anda rasakan saat ini…., percayalah . Saya juga nggak ngerti lagi bagaimana lagi caranya saya harus berlaku yang disebut “bijaksana”…itu seharusnya
NB: Sudah beberapa kali saya utarakan , kalau dia sudah tidak lagi terlibat hal-hal semacam itu …maka jangan/nggak perlu minta pada saya , saya sendiri yang akan menemuinya dan bicara dari hati ke hati . Serta saya yang akan memulai kalimat “maaf” sebelum dia sempat mengucapkannya …(itupun kalau)
Sudahkah ‘dia’ seperti yang saya minta dan katakan tadi ..?
…..hanya diam termenung….sambil menghisap rokoknya dalam-dalam…..
Jelas….diapun bimbang serta ragu …dan seperti sudah saya duga..the show must go on .
Pertanyaan saya yang terakhir ; benarkah sah-sah saja serta bisa dibenarkan perilaku melanggar semua kaidah-kaidah kesetia-kawanan sosial demi melanjutkan kebutuhan hidup kita yang nggak boleh berhenti … , disitulah posisi saya mereka tempatkan .
Namun saya sudah terlatih untuk menjadi karang bagi lautan .
























Situasi sulit bisa menjebloskan masing-masing pihak, bahkan di antara kawan lama, menjadi saling berseberangan. Apa yang bisa dilakukan oleh orang luar selain berharap akan adanya rekonsiliasi?
Paman tyo, sebelum berharap pada orang luar yang terpenting insidernya sendiri punya kesadaran. Bahwa jangan memelihara budaya mitos dan punya kemauan untuk introspeksi diri . Dari sanalah mereka bisa dihargai dan dihormati hingga oleh generasi yang lebih muda .
Saya sendiri melihat ini sebagai sebuah cermin yang retak , belum hancur menjadi luluh lantak . Masih bisa di lem (suatu saat) walaupun tampilannya kemudian miring-miring..itu soal lain , namun sebagai cermin dia masih bisa bermanfaat bagi orang banyak .
salam.
eh..denger2 secara info tv bahkan mas’ybs , jeblosin anaknya sendiri..??? sebelom police dtg dia pindahin dulu barangnya kekamr anaknya , kali’ sangking parnonya dia sebutn punya anaknya…gilaaaaa yaa . koq ada seh…ortu kayak begitoooh!
maassss koq maaseehh monyetttt avtarrnayaaaa
itu namanya orang nggak sadar , nggak sadar tuh artinya nggak inget , nggak inget itu artinya lupa , sering lupa itu artinya linglung , linglung tuh artinya orang stress kebanyakan nyimpen bingung , stress itu bisa bikin gila .
Sebelum gila dan bunuh diri makanya perlu dokter untuk ngobatin . Kalau kedokter saja sudah nggak mau ya..silahken saja … hidup sendiri hanya berteman amrozi di-bui [sama-sama terkenalnya]
Gara-gara harus register, jadi telat nih mau ikut ngasih comment. Masih boleh ya……Please.
Dalam sebuah komunitas, biasanya akan ada banyak kepentingan. Namanya juga komunitas, pasti orangnya lebih dari satu yang masing-masing bawa kepala sendiri. Dan ndak jarang, antara satu kepentingan dan yang lainnya akan saling bersinggungan, bahkan tidak jarang harus berbenturan. Nah kalau suatu saat terjadi benturan antara satu kepentingan dengan sebuah ‘hatu nurani’, baru ini ….problem masalahnya….Padahal ’show must go on’ (dari salah satu kalimat di atas). Kalau ngikuti kepentingan, maka kita harus siap ngorbanin ‘hati nurani’. Tapi kalau ‘hati nurani’ diikutin, komunitas bisa berantakan. Kalau udah begini, gimana Mas …..?
wah ini sudah menyalahi aturan nih…sudah tidak konstitusional …hayaahh,
Lha wong sudah di-closed koq minta dibuka lagi perkaranya. Kayak pengadilan republik Indonesyah saja mas….bisa ditawar-tawar.
Gini aja mas Gomby,kita anggep ini bonus perkara aja ya…,jadi ada pembenaran buat nge-bukanya kembali,setuju kan?
*setujuuuu…terdengar serentak koor anggauta dpr bersahutan*
Maka setelah mencapai quorums saya mempersilahkan pak kyai kanjeng sentul kenyut untuk memberi wejangan ,beginilah bunyinya:
Hati nurani bagi manusia adalah harta sesungguhnya “permata penghias jiwa” yang sungguh teramat mulia tempatnya bersemi didalam lubuk hati kita semua.
Manusia punya agenda kerja yang lebih bersandar pada naluri serta kepekaan intuitif.
Saat hasil kerja manusia tersebut tak sempurna apalagi terasa mengecewakan,maka sungguh tidak bijaksana me-nyeret sang “permata penghias jiwa” tadi (hati nurani)diturunkan derajatnya harus ber-urusan dan berhadap-hadapan agar bisa menyelesaikan perkara yang hanya sebatas urusan tata-krama manusia.
Hati nurani bukan untuk di-pertentangkan seperti layaknya juga perbedaan dalam meyakini agama atau kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa yang SATU.
Kekeliruan dan kesalahan ada diperilaku manusia dalam mengelola naluri dan kepekaan yang secara intuitif tersebut diatas.
Selama hal tersebut tak pernah mau disadari,maka hati nurani selalu dijadikan alasan untuk mengadu domba dan dijadikan sang kambing hitam.
Maka sungguh kurang beradab-nya kita bila terus menerus melakukannya . Sebab hati nurani adalah keberadaan Yang Esa didalam jiwa dan raga kita,dia adalah pelita hati bukan obor api untuk membakar nafsu dan amarah atau alat bagi ber-mufakatnya sebuah pembenaran yang dipaksakan.
Begitu menurut saya mas Gomby,saya sendiri juga belum merasa sudah mampu mengelolanya dengan baik. Namun Insya Allah kesadaran untuk menyadarinya sudah ada,sekecil apapun kadarnya semoga ada nilainya.
Maturnuwun mas.