ASSet_Kita!

tari_budaya
by:
James & Lia Sundah
Kebudayaan Indonesia yang sangat beragam, merupakan aset yang sangat mahal bila dikelola dengan baik dan benar. Bahkan, kebudayaan dapat dipergunakan sebagai bargaining chip di dunia internasional. Namun, sebelum menjadi bargaining chip, kebudayaan tersebut perlu mendapat perlindungan secara lebih serius.[baca selanjutnya]

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

20 Responses to “ ASSet_Kita! ”

  1. Saya punya opini bahwa konsep perlindungan intelektual (HaKI) ini agak kurang cocok dengan kultur (budaya?) kita. Mengapa kita harus menerima konsep yang alien ini? Kita akan kalah kalau dipaksakan mengakui ini. Pihak asing (notabene yang paling gencar adalah Amerika Serikat) akan memaksakan konsep ini ke kepala kita karena mereka sudah menang langkah.

    Tapi saya sadar juga bahwa kita tidak bisa menolak secara keras (seperti Cina). Kita harus bisa bermain elegan dalam koridor yang ada tetapi sebetulnya mencari celah yang menguntungkan kita.

    Sebagai contoh. Kita tidak terbiasa dengan mendokumentasi (tertulis) sehingga kita akan kalah kalau diadu data / dokumentasi. Hayo, kapan tarian XYZ pertama kali dipentaskan? Atau apakah ubi Cilembu memang memiliki karakter tertentu sehingga dia masuk ke indikasi geografis seperti Champagne.

    Tapi apa ya … saya sendiri masih bingung. Hanya saja saya yakin kalau kita maju terus dengan konsep HaKI, kita maju ke gelanggang (tinju kelas berat) yang sudah pasti kalah.

  2. Pengalaman memang seharusnya mengajarkan kita untuk bisa menghindari hal-hal yang ternyata disikapi dengan salah (paradoksal). Hingga menjeremuskan kita kedalam kamar-kamar kenaifan yang fatal .

    Perdebatan tentang hal ini memang bisa dikatakan masih membentur tembok kebuntuan . Hal yang bisa saya pahami dan membuat saya bisa mengerti adalah proses mengenali situasi serta kondisi global yang memang kita sudah jauh tertinggal.

    Ibarat , mau ikut dalam barisan global …’jadi salah’ , tapi mau melawan … ‘tak memiliki kemampuan’ , mau diam ditempat …. ‘menjadi malah semakin ketinggalan’ .

    Sementara peradaban kita semakin memberikan peluang secara semena-mena kepada kelompok oportunis ekonomi untuk mengangkangi hak-hak moral dan ekonomi orang lain lewat kekuasaan dan orang yang punya segudang uang.

    Bagi saya hidup adalah jabatan moralitas yang harus diemban bukan hanya sekedar masalah ekonomi untuk sekedar memikirkan isi perut . Mungkin kalimat ini terdengar basi atau kuno , ya..nggak apa-apa… inilah hidup saya yang harus saya pertahankan dan saya jalani sampai akhir waktunya nanti .

    Kembali ke topik diatas ,

    Benar kata mas Budi bahwa cina mampu membuktikan untuk tidak
    ikut menari dalam irama genderang tekanan global . Namun juga tak bisa dipungkiri bahwa mereka melakukan perlawanan tersebut bukan baru kemaren mulainya . Dan bukan dengan pendekatan ekonomi atau tehnologi mereka menterapkan hukum dan undang-undang serta aturan bagi warganya .

    Apalagi perlawanan tersebut dimulai semasih dunia dikuasai oleh dua negara adidaya artinya ada celah dimana cina masih bisa bermain-main diatas meja global itu sendiri .

    Kita , posisi Indonesia saat ini…sungguh betapa rumit dan sulitnya bila ingin menolak dengan pendekatan hitungan rugi atau laba saja . Harus ditemukan cara untuk bisa chemistries atau senyawa dengan irama padang dunia (bukan padang pasir).

    Bagi saya yang cuman seniman ini , memang tidak ada pilihan yang paling baik kecuali berani mereform strategi politik nasional maupun politik global kita . Itu berarti kembali lagi kepada masalah-masalah fundamental yang sering saya ungkapkan di posting-posting yang berbeda . (perundang-undangan dan hukum kita)

    Bila itu berani kita hadapi secara kolektif (bangsa-bangsa diseluruh nusantara) maka bukan tidak mungkin kita bisa ‘mbalelo’ pada petunjuk Washington yang semena-mena . Persis seperti negeri cina dahulu kala saat mereka memulainya .

    Namun siapkah kita dengan resiko serta konsekwensi yang akan ditimbulkannya nanti..?

    Jangan lagi bersikap seperti pemuda dan pemudi yang sedang melakukan akad nikah didepan penghulu :

    “siapkah kamu menerima si cemplu sebagai istrimu dalam keadaan suka dan duka hingga sehidup semati?” ; siap jawab si cemplo .

    Beberapa waktu berselang kemudian “lu mati..mati aja sendiri..jangan ngajak-ngajak gue'”

    Inilah Republik kita , merdeka!

  3. Saat sedang seru-serunya masalah ‘reog Ponorogo’ dikalim oleh Malaysia, ada sebuah posting yang menarik yang bisa kita baca. Terkait budaya sebagai Asset_Kita (asset bangsa)……..

    Dear all,

    Mohon maaf neh baru bisa komentar sekarang…

    Di satu sisi memang benar kita harus bisa lebih menghargai hasil karya bangsa kita sendiri. Namun demikian saya ingin menjelaskan dari sisi yang lain….

    Begini.. masalah warisan kebudayaan memang secara internasional saat ini belum jelas aturannya. Inilah celah yang dimanfaatkan oleh pihak Malaysia.

    Secara geografis harus diakui bahwa antara Indonesia dan Malaysia itu sangat dekat. Dulu, jauh sebelum ada negara yang ada sekarang ini, kebudayaan di nusantara ini bercampur dengan eksisnya beberapa kerajaan di nusantara sebutlah contohnya kerajaan Sriwijaya atau Majapahit.

    Nah, Batik Malaysia yang sudah masuk ke wilayah Malaysia sejak abad pertengahan dan berkembang hingga sekarang, apa tidak bolehdiklaim sebagai warisan budayawarga negaranya kini? Walaupun dulunya memang dibawa oleh orang Jawa, tetapiketurunannya yang sekarang adalah warga negara Malaysia.

    Bagaimana dengan tarian Rama-Shinta, atau cerita Wayang Baratayudha dsb, yang memang aselinya berasal dari India?

    Contoh lain: Orang Jawa yang dipindahkan oleh pemerintah Kolonial Belanda ke Suriname. Apakah Suriname sekarang tidak boleh mengakui kebudayaan Jawa yang ada di sana sekarang?

    Pun demikian pula halnya dengan Barongsai yang asalnya dari Cina. Di Indonesia, tarian barongsai ini juga ada pada Masyarakat Etnis Cina yang nota bene sekarang adalah WNI. Makanya kita juga boleh mengklaim tarian itu sebagai bagian dari kebudayan masyarakat kita sekarang.

    Coba anda bayangkan bagaimana cara menentukan siapa yang harus memiliki hak cipta atas alat makan “sumpit”: Cina, Jepang, Korea, atau siapa??? pusing ga loh…

    Jadi perpindahan penduduk yang disertai dengan perpindahan kebudayan adalah merupakan suatu hal yang lumrah terjadi di dunia. Oleh karena itu sekarang semua tergantung dari kita semua. Akan dibawa kemana kebudayaan kita yang sekarang ini.. mau dimatikan atau dikembangkan? Jangan keburu marah dulu… Sebaiknya kita lebih bijak sebelum berkomentar…. lihatlah dunia dari segala sisi…

  4. hehe.. memang begitu kan? saya juga memberikan informasi serupa pada teman-teman yang dengan galaknya berteriak anti malaysia (tapi internal by email saja) . Intinya ya itu .. memberikan informasi yang komperehensif serta holistik , apa itu budaya dan apa itu produk budaya , jangan main terabas atau nyama-nyama’in aja.

    Yang urgent adalah mempatenkan segera apa-apa saja yang harus di patenkan sekarang ini juga , jangan cuman ngurusin pemilu yang per-lima tahunan saja.

    Menyinggung kasus visit to malaysia taukah anda bahwa , mereka tidak secara sengaja juga mengklaim rasa sayange dan lainnya . Sebab yang membuat konsep design serta pelaksanaan film (audio visual dsb) adalah ‘EO’ dari Indonesia sendiri . Mereka terima jadi dan tinggal bayar , selesai.

    (itu informasi yang saya dengar dari beberapa pihak yang kredibel untuk bisa saya percaya) lalu menjadi pahamlah saya , mengapa tiba-tiba isu tersebut berhenti seketika , saat sudah sampai di ruang wacana para pejabat negara .

    Malu ah.. terus-terusan jadi masyarakat dengan perilaku histeria massa , yang kagak jelas juntrungannya.

  5. satu lagi mas Gomby yang saya hormati , sebaiknya cantumkan nama dengan jelas siapa yang memberikan komentar tersebut . Ini hanya untuk menjaga agar tidak menjadi preseden yang membingungkan nanti-nantinya.

    Sebab , karena itu pula saya memohon agar semua orang yang hendak berpartisipasi di jsop.net ini jelas identitasnya.

    Semoga anda tidak salah mengerti maksud saya :)

    salam.

  6. mas, inilah akibatnya lha wong pemerentahe’ dewe ‘ngerti’ budaya sebates joget2an plus situs2 sejarah masa lalu..(spt sampeyan pernah tulis seblmnya)

    ya..maklum kalo masyarakate yg tercipta jadi spt sekarang kan?

    rasane’ upoyo njenengan mmg nggak main2 sulite yo..hhaahh!

    yo wis tak dongakno terus sampeyan iso sehat2 walafiat.

    suwun.

  7. Mas Yockie, boleh kah kalau saya mengatakan bahwa ” Orang kita masih belum menghargai budaya-nya sendiri ” (dan ini termasuk saya sendiri). Bahkan untuk ukuran saat ini, bangsa Malaysia kadang lebih care terhadap budaya orang Indonesia. Contohnya, saya pernah nyari lirik asli dari lagu “Selamat Hari Lebaran”. Ternyata saya dapatkan di website-nya orang Malaysia. Padahal lagu itu ditulis oleh Bang Ma’ing (Ismail Marzuki) sekitar tahun 1950-an. Bang Ma’ing kan orang Indonesia, seharusnya lirik lagu tersebut saya temukan di website-nya orang Indonesia.

    apa bukan karena website dan fasilitas internet ini belum tersosialisasi dengan baik keseluruh instansi negara? artinya mungkin bukan karena nggak care tapi lebih ke gaptek…

    Yang tidak kalah pentingnya, seharusnya kita mulai mengajarkan kepada anak-anak kita untuk mencintai budaya-nya sendiri. Saya ingat waktu SD dulu, di sekolah saya ada seperangkat angklung (kebetulan SD saya di Bandung). Tapi tidak ada yang memberikan pelajaran atau mungkin sedikit pemaksaan kepada kami untuk menggunakan angklung tersebut.
    Nah yang lebih parah lagi kondisi sekarang, jangankan untuk mengajarkan, perangkat angklung-nya pun belum tentu ada di semua sekolah.
    Kebetulan saat ini saya berdomisili di Manado. Saya perhatikan, saat ini para siswa SD atau SMP lebih tertarik ikutan marching band ketimbang membentuk group kolintang (yang khas-nya Sulawesi Utara). Atau mungkin perangkat kolintang tidak tersedia di sekolah-sekolah dan yang tersedia malah perangkat marching band………?

    Salam,

    marching band memang seru sih mas… lekat dengan suasana semangat patriotik , sementara angklung dan kolintang sering ngajak orang jadi ngantuk…hehe . Artinya memang perlu dihidupkan lagi budaya berkolintang dan ber angklung ria , agar bisa ditemukan aransemen yang lebih energik ..

  8. betul bung Gomby , kemaren-kemaren pasca reformasi kita semua uphoria pada yang namanya ‘demokrasi baru’ hingga melupakan kenyataan bahwa dunia dibalik sana terus bergerak maju dan semakin meninggalkan kita.

    Akibatnya salah satu ya…masalah-masalah seperti diatas . (hak cipta dsb) karena ekonomi dunia berkembang dengan pesatnya setelah didorong oleh berbagai penemuan-penemuan baru dibidang tehnologi informasi .

    Jangankan kita yang di Indonesia , sebagian masyarakat Amerika sendiri juga “gagap” dalam menghadapi kenyataan ini . (baca postingan saya “Kaca besar”)

    Selanjutnya menyinggung masalah kolintang alat musik daerah anda . Sudahkah anda tau sekarang ini , bahwa akibat dari pemekaran daerah (yang asal otonom tanpa persiapan memadai) yang disebut otonomi daerah . Telah mengakibatkan antar daerah mulai rebutan berbagai hal .

    Seperti kolintang , mungkin didaerah asalnya sendiri sudah hampir punah orang-orang setempat mengunakannya . Sementara didaerah Salatiga mereka berupaya mengklaim itu alat musik asal daerah mereka .

    Demikian juga dengan keroncong campursari , diperebutkan antara wilayah solo dengan Yogya . Sebab si Manto penemunya (kebetulan saya kenal), tinggalnya ditengah-tengah wilayah antara dua daerah tersebut .

    Begitu banyak pe’er yang harus kita hadapi , karena itu sering-seringlah kita mendekatkan diri di kulkas , agar kalau kepala jadi panas … masukin saja sebentar melongok kesana .

    Dijamin setelah 2 jam ….pingsan hehe .

  9. Ya gitulah negara kita.. selalu ribut kalo sudah kejadian, dan gak pernah ada tindakan prevetif. Bukan di sektor Kebudayaan dan seni aja, di sektor lain juga gitu. Gedung2 bersejarah banyak yg sudah jadi mall, gedung2 perkantoran bahkan yg lebih ngenes jadi lahan parkir. Mungkin inilah yg dinamakan modernisasi keblinger sampe harus mengorbankan sejarah bangsa ini.

    ditempat kelahiran saya (demak) katanya bekas rumah saya sekarang sudah jadi wc umum , sedihnya saya nggak bisa napak tilas lagi..hehe *gembhagus mode:on*

    Di daerah saya sendiri surabaya ada kesenian yg namanya ludruk, jula juli ato parikan. Generasi terakhir setelah Kartolo Cs adalah Loedruk Tjap Toegoe Pahlawan. Tapi skrg udah gak ada generasi penerusnya dan belum ada tindakan nyata pemerintah daerah untuk menyelamatkan aset daerah ini. Semua terkesan diam dan tutup mata, berusaha untuk tidak tahu dan tidak mau tau :mad: Ntar kalo udah ada yg klaim baru ribut lagi dan langsung berkoar2 seperti pahlawan kesiangan [ saya juga termasuk kali ya ha ha ha ]

    mbok sampeyan yang nerusin mas…ayo tak kancani’ maen ludruk ludrukan.

    fiuh… Inilah Indonesia yg [masih] kucinta [walau udah sedikit benci]

    benci tapi rindu …oh kak Rinto Harahap..apa kabarmu hari ini..

  10. Oh ada yang lupa, komentar yang saya tulis pada comment di atas berasal dari salah seorang teman SMA saya di Bandung. Namanya Handi Nugraha, salah seorang staff di departemen kehakiman (kalau saya tidak salah di bagian yang menangani masalah HAKI).

    Salam,

    suwun

  11. Saya coba lagi. Saya kurang suka segala sesuatu di-haki-kan (dipatenkan, dicopyrightkan, dan seterusnya). Ada cara lain, yaitu di-public domain-kan. Ini menjadi milik umat manusia. Sesuatu yang public domain tidak bisa di-HaKI-kan. Sesuatu yang sudah dipublikasikan dan milik umum tidak bisa dipatenkan.

    bisa dipisahkan kan mas , yang berhubungan dengan hajat hidup ‘mendasar’ bagi orang banyak serta yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang tertentu saja. (yang mampu beli , tapi tidak menjadi mati bila dia tergolong belum mampu beli)

    Dulu saya bekerja di sebuah research center di Kanada. Ketika bekerja di sana, saya tidak bisa menuliskan hasil penemuan saya. Bahkan untuk dipublikasikan jadi paper di journal atau seminarpun tidak boleh. Kalau saya menulis paper, maka paper itu harus masuk tim review dulu. Ada yang bisa dipatenkan tidak ya? Kalau ada, maka patennya didaftarkan dulu baru setelah ada sinyal (patent pending, misalnya) saya boleh menerbitkan karya saya. Soalnya kalau sudah terlanjur saya terbitkan, maka kemungkinan dia tidak bisa dipatenkan lagi.

    Tahukah rekan-rekan siapa penemu WWW (HTML dan HTTP) yang kita gunakan saat ini? Dia adalah Tim Berners-Lee. Kalau mau, dia bisa kaya jika invention ini dia HaKI-kan. Apa yang dia lakukan? Dia – SECARA SADAR – membuat ini menjadi public domain, menjadi milik umat manusia. Tidak ada satu orang / satu perusahaan / satu negara pun yang bisa mempatenkan HTML dan HTTP ini. Nah, aliran seperti ini yang saya sukai.

    Lantas apakah dia menjadi miskin dengan menjadikan karyanya milik umat manusia? Tidak juga.

    sepertinya ini kasus yang berbeda deh mas

    Nah, lagu rakyat misalnya bisa juga menjadi public domain yang tidak dapat di-haki-kan oleh siapapun.

    nah ini saya tidak sependapat ..hehe kita berbeda pendapat mas ..it’s oke

    Oh ya, untuk menjaga agar tidak ada orang yang nakal menghakikan di kemudian hari, harus ada dokumentasinya. Nah, ini dia … kita paling lemah. he he he. Super semar saja udah gak ada dokumentasinya. hi hi hi.

    mengapa harus peduli dengan orang nakal yang mau meng-HaKI kan mas? kalau sudah nggak peduli dengan urusan HaKI?

    Sekedar pemikiran lain.

  12. Dalam beberapa hal saya sependapat dengan Pak Budi. Saya jadi ingat beberapa tahun lalu ada orang Indonesia menemukan sistem ‘satu spetic tank dipake bersama-sama’ (WC-nya banyak). Ketika ditanya apakah karyanya akan dipatenkan ? dia menjawab “tidak akan”, sebab dia tidak ingin orang memakai temuannya tersebut dengan harus membayar royalti terlebih dahulu. Untuk kasus ini dan kasus yang Pak Budi sampaikan, saya setuju untuk tidak menerapkan per-haki-an.
    Apabila suatu hasil karya intelektual bermanfaat untuk umat manusia (secara global) sebaiknya tidak diterapkan per-haki-an (baca : royalti), tapi pengakuan atas temuannya tersebut tetap harus di-legal-kan.
    Kalau saja Indonesia sekuat Cina untuk bisa menolak ratifikasi per-haki-an……?

    CMIIW, nyuwun pangapunten kalau saya lepat.

    Salam,

    hehe

  13. Ya sudahlah… memang masalah HaKI berkejaran serta seperti balapan di sirkuit untuk mengimbangi kemajuan tehnologi informasi dan juga masih bergumul dengan berbagai pendapat yang berbeda-beda dan biarkan saja . Kita menonton mereka saja dengan baik dan tertib . Dan sebagai sesama penonton saya hanya melihat banyaknya oportunis ekonomi (untuk kantong sendiri) yang ingin memanfaatkan celah-celah perbedaan tersebut , itu saja yang merasa harus saya jaga selagi saya masih bisa.

    Kalau toh nanti ada orang-orang yang berkompeten dibidang ini mau meneruskan bahasan ini … ya silahkan saja dengan senang hati saya akan memfasilitasinya .

    Namun kalau hanya sekedar debat kusir atau debat kaki lima atas nama riuh rendahnya huru-hara atau ber“Blog ria”, ya lebih baik jangan disini .

    Kita mengurusi saja HaKI diwilayah yang berhubungan dengan hak-hak profesi kita sendiri serta kedaulatan atas nama negeri kita sendiri . Sebab sebagai masyarakat warga negara kita semua punya tanggung jawab untuk peduli pada asset budaya seluruh bangsa-bangsa yang ada di Nusantara.

    Saat kaki berpijak di tanah yang semeter luasnya tidak bisa serta merta merasa bahwa kita sudah menginjak bumi keseluruhan-nya.

    Mawas diri lebih baik , paling tidak kita semua bisa menghindar dari jebakan-jebakan yang bisa membuat kita merasa menjadi seperti ‘dewa’.

    salam.

  14. gak nGerti ah..

  15. Saya sendiri kait-mengait dengan HaKI karena terpaksa. Ketika saya masih mengelola .ID domain, ada banyak masalah HaKI di situ. Pokoknya seru kalau diceritakan. Padahal ini hanya soal “nama”. Kebanyakan memang urusan trademark dan lokasi geografis. Itulah pada awalnya kenapa penggunaan nama daerah untuk domain tidak diijinkan. (Tapi saya ingin dibuka sebetulnya.)

    hehe saya pernah denger cerita..bahwa semuanya itu anda lakukan secara gratisan bertahun-tahun ya mas.., hebat

    Kemudian saya juga “terpaksa” menggeluti bidang HaKI karena dunia saya (IC layout). Ini juga seru (bagaimana intip mengintip antara Intel, AMD, dan seterusnya).

    Sampai akhirnya saya harus menjadi penguji 2 Doktor di bidang HaKI, di Fakultas Hukum UNPAD. (Sebetulnya lebih sih, dan masih ada satu lagi sekarang yang lagi penelitian.)

    Saya sendiri lebih seperti Richard Stallman (dari Free Software Foundation). Atau setidaknya … seperti Lawrence Lessig (pakar Hukum dari Stanford University). Pemikiran si Lessig ini luar biasa dan mempengaruhi alur pemikiran saya. Coba lihat situs webnya http://lessig.org deh. Bukunya “Free Culture” juga bisa didownload di situ. Bukunya – “Code” – juga saya punya dan sudah saya baca tuntas. Banyak pencerahan yang saya peroleh dari situ, mas. Cobain deh …

    mas.., jangan kecepetan oper persneling langsung tancap gas , orang-orang dibelakang masih baru nyari bangku duduk..

  16. wa..mas , ok saya akan liat situsnya tapi nggak janji baca sampai kelotokan ya..hehe.., bukan apa-apa mas saya hanya berupaya untuk konsisten dan menjaga focus direction saja.

    Sebetulnya gini lho mas Bud,
    Menurut saya (ini menurut subyektivitas saya saja lho..) , Orang-orang seperti anda itu ya.. seperti yang sudah pernah saya bahas di artikel-artikel sebelumnya (secara implicit).

    Misalnya saya pernah bercerita, bagaimana ya.. nasib anak saya nanti setelah saya biayain sekolah dengan mahal apalagi dengan harapan penuh semoga nantinya menjadi orang yang benar-benar pintar dan bisa duduk sejajar berdiskusi dengan bule-bule pintar lainnya .

    Namun jangan-jangan nanti pada kenyataannya anak tersebut bisa frustrated karena jauh ilalang dari ladangnya , hingga kalau dia memaksakan diri akhirnya terpaksa menerima julukan orang aneh dan bisa-bisa tidak diberdayakan oleh masyarakatnya sendiri , yang sebetulnya merekalah yang aneh.

    Supaya anak tersebut tidak bermuram durja sepanjang hidupnya maka terpaksa saya dukung dia untuk bekerja bagi kepentingan bangsa lain saja .., lha ini kan namanya sama saja dengan saya menyokong anak saya untuk menjadi agen kapitalis bangsa lain . Sesuatu yang jelas bertentangan dengan paham hidup didalam keluarga yang sedang saya bina? Persis seperti istilah buah simalakama .

    Nah.. kalau anak saya tersebut baru embrio yang bisa mengarah kesana .., maka anda itu bapak moyangnya..hehehe.
    Sebab anda sudah meniti perjalanan tersebut jauh sebelum anda sendiri tau bahwa akan seperti ini dunia global meninggalkan bangsa Indonesia (dari sisi berkesadaran ke ilmuan modern dan sebagainya)

    Maaf , jangan tersinggung kalau saya pernah mengatakan bahwa anda itu diciptakan untuk menjadi lokomotif-lokomotif guna menarik gerbong-gerbongnya . Yang ironisnya gerbong-gerbongnya sendiri belum punya roda … ya gimana mau sampai ke Surabaya mas? hehe..

    Karena itu saya kerapkali terhibur saat berjumpa dengan teman-teman dari berbagai disiplin ilmu yang jauh berbeda .
    Sebab saya merasa… oo..ternyata banyak yang seperti saya tohh..namun dibidang yang berbeda …, asikkkk.. punya temen ..hehehe

    merdeka mas Bud!

  17. mas jsop,
    bila demikian mohon dimaafkan anak saya yang tdk mau plg , padahal studynya sdh selesai.

    Kebetulan dia mendapatkan tawaran untuk kerja .

  18. Pengakuan yang jujur mbak , ya..itu yang saya khawatir apa anak saya nanti juga akan menempuh cara yang sama .

  19. Mohon maaf kalau di tulisan sebelumnya saya agak “pamer” hi hi hi. Orang Indonesia seringkali merasa rendah diri (dibandingkan dengan orang Londo). :) Kadang terpaksa saya harus mengeluarkan jurus pamer.

    Misalnya. Di depan kelas, saya kadang memberikan presentasi tentang bagaimana “kakek guru” saya adalah penemu transistor (William Shockley). Saya berguru ke alm. Prof. Samaun Samadikun, yang berguru kepada Shockley ini (di Stanford). Tidak banyak orang yang bisa berkata seperti itu. Kemudian juga saya cerita bahwa saya pernah kursus pemrograman IC design dari designer microprosessor yang pertama (Stan Mazor), meskipun waktu berguru dulu saya gak tahu bahwa dia orang hebat. he he he. Dan seterusnya. Saya menceritakan kepada mahasiswa saya bahwa orang Indonesia masih masuk ke first layer – atau setidaknya, second layer lah – dari elit dunia di bidang teknologi. Jadi jangan minder.

    Kadang orang Indonesia sendiri yang sering meremahkan orang Indonesia. Standar gaji/honor yang dikeluarkan oleh Bapenas, misalnya, merupakan penghinaan untuk saya. Mosok saya yang S3 dari luar negeri digaji lebih rendah dari S1 lulusan luar negeri gara-gara dia berpaspor asing sementara saya ber-KTP lokal. Secara kompetensi saya lebih baik dari dia dan ini di negara saya sendiri. Mengapa kok saya jadi second class citizen?

    Jadi mas Yockie betul. Yang lurus malah dianggap aneh di sini.

    Tapi tidak mengapa kalau anak-anak kita bekerja di luar negeri. Kita jangan berpikiran bahwa kita (hanya) mendukung luar negeri saja karena di luar negeri pun dia masih bisa membangun Indonesia. Lihatlah yang dilakukan oleh jaringan India, China, Vietnam, dll. di luar negeri. Mereka memboyong pekerjaan dari tempat mereka ke negara asalnya. Demikian pula profesor di perguruan tinggi di sono juga mengambil mahasiswa (dan memberi beasiswa) yang berasal … dari negeri asalnya.

    Nah, sayangnya, anak-anak kita yang di luar negeri malah dimusuhi dan dianggap tidak nasionalis. Ya kalau dimusuhi, ngapain mau membantu? Harusnya jangan dimusuhi tapi malah didukung. Ayo, kalian jadi presdir di perusahaan sana, jadi profesor di sana, jadi pimpinan institusi di sana. Nanti … inget kita-kita yang di Indonesia ya?

    Kembali ke soal kemampuan mendunia. Sebetulnya saya ingin mas Yockie mengambil posisi sebagai lokomotif juga, tetapi di dunia musik. Mas Yockie sebetulnya memiliki kapasitas / kemampuan yang levelnya mendunia. Mengapa tidak mencoba memberi contoh (sukses story) di level regional atau dunia. Bukan, ini bukan untuk mas Yockie pribadi sendiri, tetapi untuk contoh generasi beriktnya mas. [Nah, sekarang saya balas he he he. Saya beri beban tanggung jawab, amanah, ke mas Yockie. he he he. Rasakno!]

    Atau … untuk topik tentang HaKI dan musik, mas Yockie mempelajari “new kind of IPR” mas. Bukan yang konvensional (yang ujungnya adalah eker-ekeran soal duit royalty, maaf), tapi yang baru. Entah apa maksudnya “baru” itu?

    [nb: sebetulnya ada satu topik lagi yang mau saya angkat, yaitu artis itu nggak ada bedanya dengan dai/ustadz. nggak pantas kalau “hasil karyanya” di-haki-kan. he he he. tapi ini terlalu nyleneh. lain kali ah.]

  20. ….Nanti … inget kita-kita yang di Indonesia ya?

    Kalimat anda kurang sempurna , harusnya ditambah “awas..jangan lupa ya..” hehe

    …Mengapa tidak mencoba memberi contoh (sukses story) di level regional atau dunia. Bukan, ini bukan untuk mas Yockie pribadi sendiri, tetapi untuk contoh generasi beriktnya mas. [Nah, sekarang saya balas he he he. Saya beri beban tanggung jawab, amanah, ke mas Yockie. he he he. Rasakno!]

    hehe kalau toh bersedia , apa iya ada yang peduli.. Banyak contoh orang-orang besar yang didepan mata kita .. lewat berlalu begitu saja se-olah tidak ada harganya , masyarakat kita saat ini bukan lagi masyarakat yang bisa menghargai jasa-jasa orang sebelumnya . (apalagi bahasa slogannya ‘pahlawannya’ ). Kecuali ada duitnya ..

    lha..saya..? siapa saya…? mau ditarohin beban sama Budi Rahardjo?…., emoh..ah..mboten kiyat kulo mas
    Tapi kalau Budi Rahardjo sudah selayaknya memikul beban , apalagi pengabdian lain sebagai Dosen di perguruan tinggi terpandang yang disandang.., apalagi yang sudah membuktikan diri mampu mengelola domain bertahun-tahun secara gratisan ..(rasakno lagi.)

    [nb: sebetulnya ada satu topik lagi yang mau saya angkat, yaitu artis itu nggak ada bedanya dengan dai/ustadz. nggak pantas kalau “hasil karyanya” di-haki-kan. he he he. tapi ini terlalu nyleneh. lain kali ah.]

    Ada peranan seniman atau budayawan yang bisa dikatagorikan serta ditempatkan dengan cara seperti itu mas. Tapi kalau ‘artis’ yang ‘megal-megol aduhai..’ ya rasanya nggeh mboten lah mas..

    kan sudah ada juga artis jadi ustadz , sementara yang ustadz udah mulai bosan lalu pindah jadi artis . Tapi yang namanya “fuluzzz” ya jalan teruzzz .. ALias 50:50 kaya albumnya Iwan Fals..hehe

    akhir kata: rasakno juga..,*sambil berlenggang dan bersiul-siul..*

    fuiiii…fiiuui…fuuii..

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara