Mr_VAI

steve vai

Orang yang satu ini memang luar biasa untuk bisa disebut memiliki kemampuan ‘lebih’ guna mengembangkan imaginasi . Sering membuat kita terpelongoh (untung kalo nggak ada laler yang lewat) karena ngikutin setiap tikungan nada yang dijelajahinya , selain saya suka caranya , saya juga cenderung punya naluri yang sama dalam menyusuri setiap jengkal ruang bilik suara [hehe..sama sama nyembah mbah Zappa] .Bahwa musik bukan hanya sekedar bunyi-bunyian indah yang akhirnya kerap kali membosankan karena ‘basi’ nya cara .

(*saya jadi inget eet syahranie , seperti itulah saya mengharapkan dia saat mengerjakan album Raksasa . Dialah gitaris Indonesia dimata saya yang memiliki cita rasa dan selera *)

Stip’pei , jelas kali ini berbeda dengan sewaktu dia tampil di HRC Jakarta beberapa tahun silam , kini dia diiringi komposisi orkes yang besar plus 4 orang perkusionis .

Disana …, mendengarkan pilihan-pilihan nada , seperti biasanya karakter si mas Vai ini selalu mengajak otak kanan untuk menjelajahi seluruh penjuru kemungkinan yang ada . Bahwa ada wanita-wanita cantik rupawan , namun juga banyak perempuan yang buruk rupa . Bahwa disana ada keindahan pemandangan , namun juga ada kerusakan alam beserta segala kekumuhannya . Disana ada kesucian dan kejujuran namun juga tak kalah banyaknya kemunafikan bersama kebohongannya.

Sementara otak kiri kita disadarkan , bahwa disiplin serta aturan bersosialisasi dengan musisi orkes lainnya harus selalu terjaga . (sadar seratus persen dan nggak perlu mabuk apalagi drugs mentang-mentang sudah tua ..hehe)

Mr.Vai seolah sedang berkata “musik saya adalah kumpulan persoalan manusia” .

Kalaupun ada sedikit catatan pribadi saya yang agak terasa kurang nyaman menyusup telinga , yaitu aransemen brass section yang terkadang nggak nge-blend saat unisono dengan lengkingan gitar Ibanez custom yang keluar dari rack Bradshaw accesoriesnya. Namun itu hanya terjadi disebagian kecil dari komposisi besar yang ada (anggap saja kurangnya pergaulan si scoring writer sama mas Pe’i)

Sedikit catatan lagi bagi musisi Indonesia bahwa usia bukanlah kendala untuk membatasi ruang berekspresi , sebab gemuruh suara yang mampu membangkitkan saraf adrenalin tersebut bukan hadir dari kelompok usia muda atau dalam bahasa trend Indonesianya , abg jola-joli atau jomblo muda . Conductornya aja opa-opa , pemain orkesnya sebagian besar juga sama . Tapi jangan ditanya bunyi yang dihasilkannya seperti apa… Musik nggak ada urusannya sama umur selama otak masih bisa berdaya , bah..tapi sayangnya itu nggak berlaku di Ngendonesyah.. yang selera musiknya dikelola sama encik encik dan engkoh engkoh itu.

Seandainya saja saya memiliki kemampuan untuk membiayai konser seperti itu . Karena mengharapkan donatur apalagi sponsor dagangan ‘kolang-kaling’ sama aja mimpi disiang hari bolong .

Selebihnya saya tak ingin berkomentar apa-apa lagi kecuali menyarankan bagi anda yang tidak ingin ‘mati’ rasa karena terlalu sering kuping dijejali oleh lagu-lagu dari televisi Indonesia, atau dari kaset bahkan CD produksi kelompok Industri mainstream yang sering menyesatkan selera.

Cobalah luangkan sedikit rupiah anda untuk membeli DVD nya , terserah mau asli atau yang bajakan .. sebab kalau sampai ditangkap polisi pun dosa serta resikonya ditanggung anda sendiri , bukan saya .

Steve Vai “Visual Sound Theories”
Live with Holland Metropole Orkest

keep’nRock
jsop

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

23 Responses to “ Mr_VAI ”

  1. Nah ini Postingan yg ditunggu2, Apresiai musik Pak Dokter. Sekali posting tau2nya Dewa Gitar yg terkenal dengan “Seven String” :cool:

    Dengan Senjata Double neck dan terkadang dengan Seven String keluaran Ibanez [Yg ternyata Buatan Anak Indonesia di desa Ngoro Pasuruan ] Berusaha Mengimprovisasi dan menjelajahi titik2 G Spot dari senjatanya tersebut.

    Senjata Steve Vai Sempat membuat saya Terkagum2. Bukan Karena DiMarzio nya, Edge Pro Bridge nya atau Nama Besar Ibanez tapi Gambar Flower yg ada di necknya [Dulu terkenal dengan nama Ibanez JEM Flower ]. Sempat Tertarik Melihat Esp Kirk Hammet dengan tengkorak di setiap fretnya tapi ternyata Green Flower mengalahkan segalanya. Kepingin jadinya punya senjata ini. Karena Dana yg terbatas akhirnya mimpi hanya tinggal mimpi.

    Kalo bicara steve vai saya selalu teringat jimmy hendrik, karena menurut saya pribadi [yg ndeso dan katrok soal yg namanya musik] ada kesamaan antara Pakde Vai dan Mbah hendrik yaitu sama2 menjadikan gitar adalah “Soulmatenya”. Pendengar seakan2 diajak untuk menikmati perasaan hatinya melalui “percakapan” mereka dengan gitarnya.

    How About Paklik Joe Satriani Pak Dokter?

    Oh Iya Pak DOkter ada hubunganya lho narkoba ama Gitar. Karena Teman yg Kecanduan Narkoba dan dia butuh uang buat nebus barang akhirnya berpindahlah ESP Kamikaze milik dia ke tangan saya dengan harga Gado2 ha ha ha .

  2. Nah ini Postingan yg ditunggu2, Apresiai musik Pak Dokter.

    ~
    hehe.. ini bukan review namun pendapat saya pribadi berdasarkan selera .
    Sebab sebagai musisi saya merasa dibatasi untuk tidak melanggar etika .
    (koq ada musisi me-review musisi)
    Sangking kagumnya saja saya secara spontan ingin mengeluarkan pendapat isi hati saya .

    (ps:*yang bilang review sapa ..hehe goblog tenan..*)

    Soal Joe Satriami .e salah Satriani (*satriami kayak buleknya pak atmo aja*) , saya pernah ngobrol dengan mas bradshaw di warehousenya (LA) , dia meng-istilahkannya de tri masketir .

    Satriani – Edie – Steve Vai , masing-masing punya bawaan lahirnya sendiri-sendiri . hehehe

    Satriani lebih konservatif , sementara Edie lebih anak manis dan si Pe’i yang anak jalanan alias revolusioner .
    Dari ketiganya tersebut , jelas semuanya adalah raksasa-raksasa di bidangnya dan saya kagum dengan semuanya.

    Namun kalau disuruh memilih siapa yang pas jadi panutan saya …ya si anak bengal itu ..hehe

    Udah ah…saya jadi tambah sok tau nih

  3. ney jenisNya aPa sheh mas.,pOp/rOck atow jAzz?

    gak ngeRti laGi..sebel

  4. Pokoknya jgn sampe jadi 5150 aja Pak dokter saking kagumnya he he he

    Namun kalau disuruh memilih siapa yang pas jadi panutan saya …ya si anak bengal itu ..hehe

    kalo saya kok lebih cenderung ke si botak berkacamata yg konservatif ya.

    (*saya jadi inget eet syahranie , seperti itulah saya mengharapkan dia saat mengerjakan album Raksasa . Dialah gitaris Indonesia dimata saya yang memiliki cita rasa dan selera *)

    Kalo menurut saya kok kayaknya eet malah gak ber cita rasa dan selera ya?, dari skill ama gaya bener2 edi banget hahahahaha.Tapi kalo gitaris indo saya suka Cak Toto Tewel, budjana sama andra. Permainan mereka di telinga saya “bersih” banget.

  5. kalau sy suka mulan mas.., bersih dan puih…putihnya..wakkakaka..

    boleh dong beda!

    hehe..sampeyan hanya mempertegas posisi usia .

  6. Kalo menurut saya kok kayaknya eet malah gak ber cita rasa dan selera ya?, dari skill ama gaya bener2 edi banget hahahahaha.Tapi kalo gitaris indo saya suka Cak Toto Tewel, budjana sama andra. Permainan mereka di telinga saya “bersih” banget.

    huss..sampeyan itu ..kalau orangnya denger bisa tersinggung lho.. dan nggak boleh ah.. kita mengatakan si ‘a’ nggak bercita rasa [jelas semua gitaris punya cita rasa] . Kalau nggak punya cita rasa nggak bakalan dia bisa main seperti itu , (atau jadi pemain gitar jadi2an , yang suka nguik…nguiiikk hehehe) . Yang membedakan hanya cita rasanya bagus atau jelek gitu khan..?

    Maksudnya menurut sampeyan yang tiga lainnya tersebut lebih bercita rasa sesuai cita rasa sampeyan gitu kan..? hehehe ..

    udah minum aspirin belum? lagi kena flu ya :)

  7. Dari skill, citra rasa, sampe aransemen, Vai emang jempolan, Pak. Tapi saya kebetulan ga suka karena kesannya terlalu canggih (terutama warna soundnya). Di lokal, saya lebih suka Eet yg berwarna Yngwie Malsteen, Budjana, Pay. Dari luar, saya seneng Satriani, Yngwie, Van Halen…manteb kalo dengerin raungan gitar mereka, bisa tidur nyenyak :D

  8. mas hedi , mohon maaf ya..saya nggak atu kalau akismet saya kadang kerjanya seperti polisi yang nerapin aturan tapi nggak pas hehe

    saya barusan tengok-tengok ke biliknya… lha koq ada barang dagangan sampeyan ikut nyangkut disana.. sori .

    Ini kasus ketiga setelah sebelumnya pak Dosen Budi Rahardjo juga bernasib sama . Lha.. gimana lagi .. akismete’ gratis dje’..

    ngomong soal mas pe’i , memang sepertinya dia bukan musisi yang diharapkan penikmat untuk menciptakan nada-nada melodius dan manis atau indah secara estetik . Seperti yang saya katakan ‘cara dia meng eksplorasi imaginasi , itu yang bikin saya suka . Persis seperti Frank Zappa atau Hendi eh hendi lagi…Jimmy hendrik (bukan adiknya Jimmy Manoppo hehe)

    Kalau meminjam istilahnya pak Gandhi “bersih” , ya di rinso atau di soklin saja .. beres!
    Tapi ya ini kan cuman sebuah ungkapan untuk mendefinisikan bedanya mas pe’i dengan gitar heros lainnya . Yang anda sebutin tadi juga orang-orang hebat semua .

  9. Kadang saya suka sedih karena gak punya teman yang seselera. hik hik hik. Kalau gitaris saya kok senang yang melodius (apa yang terminologinya yang pas?) hi hi hi. Hero saya saat ini adalah Roine Stolt (yang main di The Flower Kings, Transatlantic, Kaipa, dll.).

    Ya ini memang masalah selera sih. Tapi aneh aja, kok sulit banget nemuin orang yang selera. Jadinya kalau menemukan orang yang satu selerah, semangat banget. Kayak satu korps gitu.

    Saya baru bergembira hari ini karena dapat kiriman satu gepok CD lagu-lagu dari seseorang yang tidak saya kenal (hanya kenal via internet) tapi satu selera. Ternyata seleranya muantab banget (soalnya pas dengan saya). hi hi hi. Pernah dengar band Jadis, misalnya? Wah ternyata sedap juga. (Yang lainnya sih sudah terkenal seperti Porcupine Tree, IQ, Spock’s Beard, Neal Morse – yang gayanya main keyboardnya kayak mas Yockie, dll. pokoknya … bikin ngiri dah)

    Semalaman saya bakalan dengerin kiriman ini satu persatu. (Wah, tapi besok pagi harus ngajar? gimana ya? … nanti ngantuk? tapi gimana lagi nih. gak bisa ditahan. ngantuk, ngantuk deh … hi hi hi.)

  10. Saya dulu dipameri permainan stip’pei rada telat, karena saya sudah gandrung sama quartet gimbal (Jimmy Page, Brian May, Joe Perry & Slash), bukannya ndak suka permainan pei, tp karena susah buat diikuti akhirnya gak gitu sering nonton permainan beliau. Terakhir yang menarik perhatian saya cuman si John Petrucci, bukan karena shreddingnya, tp karena milih chordsnya yang kadang kurang ajar… jadi penasaran pengen ngulik terus hahaha..

    Untuk lokal, saya ngefans berat sama Eet waktu dengerin solo gitarnya di lagu Air Mata (Kantata), walau banyak yang bilang dia ngekor EVH (sejak bikin EDANE), saya bilang permainan beliau di Kantata & God Bless cukup membuat telinga saya mau dengerin setiap solonya. mas Yockie, saya pikir mas Eet ini bakal luar biasa kalo umpan tariknya ciamik ya mas?

    ah…sampeyan jeli juga mas Dino hehehe… kalau permainan bola ibarat “tergantung si dapit bikhamnya” hehehe..

  11. ohh suka ama Paklik Vai juga ya Pakde Yockie.. :lol:
    klao org awam yg gak ngerti komposisinya vai..lbh mudah bilang itu lhoh yg jadi musik openingnya gelar tinju indosiar… Liberty-Steve Vai..hehehe..

    bung Yockie, kalo musik instrumen rock spt Vai-Satriani-Malmsteen..bisa laku direkam dan dijual.. tapi kenapa di negeri kita ini susah bgt ya seperti itu..
    apakah krn gitaris kita yg gak mau mengeluarkan egonya atau ya krn pasaran dikuasai oleh cukong2 ??

    btw, ketik Eet bersama Edane..rada rumit dikit maennya..nyatanya jeblok di pasaran..
    lagi-lagi kuping kita lbh nyaman lagu ooo kamu ketahuan.. :oops:

  12. bung Yockie..kenapa kalo di negeri kita..instrumental rock kayak gito kok gak laku ya?? apa emang gitarisnya gak mikir ego atau emang cukong-nya gak mau produksi? selera pasar kan tetep ada.. atau
    masih lebih berkompromi dengan ouw ouw kamu ketahuan :oops:

    jadi inget temenku yg gak ngerti karyanya Vai ..tapi cukup akrab dgn lagu pembuka gelar tinju indosiar..
    itu kan sama.. Liberty – Steve Vai..

    Belum ada pemodal atau label yang tertarik untuk membuka lahan baru bagi dagangannya , semua lebih tertarik bermain dilahan lama . Walau desek-desekan tapi masih dianggap paling aman . Jadi memang urusannya ada disekitar fasilitas penyangga.

    Kedua , belum banyak juga gitaris Indonesia yang berani atau punya kemampuan untuk berbuat serupa , bujana paling tidak sudah mencoba.

  13. ada 4 sisi pandang yang bisa digunakan untuk mencermati perilaku karya seni seorang seniman (dalam hal ini khususnya gitaris)

    a. Kemampuan dia mengisi posisi rythm dalam memperkokoh basic aransemen yang dimainkannya . Hal ini adalah satu kemampuan khusus yang tidak semua gitaris bisa melakukannya dengan baik . (menyangkut pemahaman tentang freqwensi serta jenis gitar , akustik atau elektrik)

    b. Kemampuan dia untuk menjadi arangger bagi dirinya sendiri , yaitu kepekaan nalurinya untuk memilih nada yang akan dipakai serta akan dirangkai . Ini sangat bergantung pada cita rasa , bukan hanya masalah selera.

    c. Barulah kemampuan tehnis , yang bisa dipelajari di buku-buku atau bangku pendidikan musik. Yang semata-mata bertujuan agar punya ilmu agar jari-jarinya nggak kusut saat ber manouver dan juga agar bisa berkomunikasi dengan musisi lainnya .Serta bisa mendokumentasikan karyanya dalam bentuk tulisan (score atau note angka/balok)

    d. Terakhir sekali adalah attitude , atau perilaku pribadinya .. ini juga sangat menentukan pola dan cara dia menyikapi tiga hal tersebut diatas . Sebab bila diabaikan maka dia akan tergolong gitaris agak-agak ‘asosial’ yang cuman bisa main sendirian saja . Jagonya cuman waktu “solo” doank..hehehe

    Nah.. kalau kita melihat komposisi empat kebutuhan tersebut diatas , maka memang sudah sangat jarang saat ini ada gitar heros seperti jamannya george harisson dan lain-lain .

    Rata-rata gitaris sekarang menguasai level ‘c’ dimana secara tehnis memang menguasai , namun daya imaginasinya kalah memadai . Yang disebut oleh mas Budi Rahardjo adalah kelompok gitaris yang masih setia dengan kolom ‘a’ serta kolom ‘b’. Dia tidak harus ‘speddy’ serta akrobat jungkir balik .., namun cukup ‘merem melek’ hehehe..

    Itulah gitaris era 70’s yang belum bisa ditandingi dalam urusan how to play the music.

  14. Setubuh Pak Dokter…

    Awal2 suka gitar saya pikir jagoan gitar itu yg gerakan jarinya full speed kayak mobil F1 dan berputar2 di sekitar tehnik tapping, sweeping, dll. Ternyata gak sesederhana itu. Tehnik tinggi tanpa jiwa didalamnya sama aja seperti mayat hidup.

    John Petrucci DT yah? wah ini jgn diragukan lagi, sejak dengar metropolis dan Surrounded saya kepincut sampe sekarang, Termasuk juga paul gilbert dan santana. eh iyah Wes Borland nya limp Bizkit dan daron malakian nya system of a down keren juga kok

    wah sudah mulai banyak yang terkuak..nih…rupanya banyak jawara-jawara gitar disini .Band sampeyan namanya apa sih sebenernya ?

  15. walah sampeyan iki pak, saya gak punya band kok, maen gitar cuma bisa genjreng2 doang. Cuma karena saya suka nongkrong ama anak2 band sby aja kok [skrg udah pada ngetop dan gak mungkin lagi ingat hahahahaha] makanya sedikit [banget] paham soal bermain gitar. oh iyah dulu saya suka jam session [di kontrakan saya, bukan di panggung ]ama anaknya salah satu bassis GB yg dari surabaya loh, maen bass nya persis kayak bapaknya :smile:

  16. Suatu saat saya ke toko cd/kaset di Bogor. Ada kaset yg letaknya rada ngumpet-tertulis “Tjahjo Wisanggeni”, terus ta’ beli. Ternyata ini trio instrumental rock yg saya sangat suka dan Meneer Tjahjo tsb sbg gitarisnya. Sampai2 kaset tsb ta’ convert menjadi CD, ini oleh karena CD-nya gak ada dijual.
    Betul kata Mas Benny diatas. Lagu2 model gitu ora payuuuuuu…!
    Terakhir saya beli CD “Gugun & the bluesbug” di toko CD besar di jl. Mahakam, Blok M Jkt, ini juga keren banget. Saya ndak tau, apa cd tsb laris ??

  17. Mas Jockie nuwun sewu ….tulisan sampeyan diatas tentang “4 sisi pandang u/ gitaris…” ta’ print.
    Mau saya sampaikan ke anak saya supaya dibaca ……!!

  18. mas Indrayana , awal 90’an gitaris yang menonjol selain Eet ada Baron dan salah satunya lagi Tjahyo itu . Saya dulu sempat pengen bisa ketemu dia , sayang nggak kesampaian … Saya juga nggak tau lagi apakah dia masih main musik atau udah angkat kaki seperti kebanyakan yang lain-lainnya ,…males liat kondisi musik disini.

  19. Mas, dulu saya suka banget sama Mr. Pei, Mr. Satria, Mr. Ingwe, Om Edi dan sederet lagi nama top.
    Tapi lama kelamaan kok saya jenuh ya mendengar sekedar virtuosity atau ekspresi ‘frontal’.
    Apa mungkin karena umur dan otak sudah mulai harus berkompromi, atau karena ‘sudah cape hati’ ?
    Sekarang yang masih saya dengar dengan setia permainannya Pakde Latimer. Beliau ini tambah tua malah semakin touchy, dari permainan gitar, lirik dan komposisinya. Virtuosity bukan lagi hal yang sangat penting.

    Salam

  20. mas Jusmin, kalau saya suka dengan mas pe’i bukan berarti saya juga doyan sama semua lagu-lagunya yang akrobat tadi .

    Saya juga ngelu koq mas kalau dengernya lebih dari dua lagu hehe.., tapi ruang jelajahnya yang membuat saya kagum . Banyak inspirasi yang bisa didapat dari running notasinya.

    mas latimer ? tentu saja oks bangs

  21. Keren!!!Dalam dan Nyata…tengks atas infonya..jadi belajar lagi mengenai artist idola saya…Mr.Vai

  22. Penggemar Vai juga mas rupanya :)

  23. Steve Vai..
    JENIUS…
    Hypnotism…

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara