Iwak_piTek

chicken

Berpikir optimis adalah berpikir untuk merencanakan agenda kerja esok hari hingga sampai hitungan masa depan . Sebelum mulai merancang langkah awal seyogyanya peta perjalanan yang akan ditempuh juga telah tersusun dengan baik .

Barulah kemudian kita mempersiapkan segala aspek kemungkinan terobosan apabila rencana tersebut tak berjalan sebagaimana seharusnya seperti yang diharapkan .
Biasanya ada agenda alternatif atau opsi “B” bila rencana awal tersebut menemui kendala. Opsi kedua ini biasanya hanya mencari celah atau melakukan manuver yang ‘cantik’ bagi upaya penyiasatan agar rencana awal tetap bisa tercapai dengan baik .

Kalau opsi kedua atau alternatif “B” tersebut juga masih gagal maka kadang terpaksa kita harus menyusun alternatif “C” atau opsi ketiga. Opsi ketiga biasanya disusun dengan strategi cara yang lebih radikal , atau cara meng implementaskannya sering tidak berhubungan dengan cara rencana yang pertama . Alias dengan pendekatan yang total berbeda .

Apa yang terjadi jika kondisi yang ada tidak memberikan peluang yang cukup bagi orang untuk menyusun rencana dengan baik , atau apabila kondisi tak mengijinkan hidup untuk dilalui secara lebih terencana dengan baik .

Mengapa saya tanyakan..

Sebab bukankah rencana yang baik tak akan bisa dilaksanakan apabila tak ada dukungan sarana atau fasilitas-fasilitas struktur pendukung yang menopangnya . Lalu apa yang terjadi pada orang yang harus tetap hidup dan berencana , padahal pendukungnya tak ada .

Ya tak ada jalan lain selain berkata “mengalir saja..”

Membuat saya sering tersenyum kecut sendiri saat pemahaman kalimat “mengalir saja” diletakkan ditempat yang bukan semestinya . Sebab jika hal tersebut yang diyakini sebagai jalan keluar terbaik maka lalu semua-semua nya menjadi ,

Ya..mengalir saja .
Mau nabrak-nabrak etika .
Ya mengalir saja .
Mau berakibat menyusahkan orang lain .
Ya mengalir saja .
Bisa melanggar hukum .
Ya mengalir saja .
nanti ditangkap polisi dan diperiksa jaksa .
eiittss..!
nanti dulu kalau bisa damai saja , ini juga termasuk dalam konsep mengalir saja, katanya.

Itulah kondisi yang tengah saya alami hari ini mudah-mudahan hanya saya sendiri yang merasakan, mudah-mudahan anda semua diluar sana bahagia dan sejahtera tak kekurangan sesuatu apa . Kecukupan listrik , kecukupan bensin , kecukupan makan serta tidak kebanjiran tidak tertimpa bencana alam seperti sebagian besar masyarakat kita yang nggak ngerti apa-apa.

Saya memang tidak akrab dengan gebyar mengalir saja
Sebab saya emang ogah untuk diajak mengalir saja .

[lha.. siapa juga yang ngajak kamu untuk mengalir]
Ya alhamdullilah … nggak ada.

[kenapa “ogah” wong nggak ada yang ngajak]
Ya sekedar ngantisipasi saja , supaya jangan ada yang berpikir saya bisa diajak “mengalir saja” , emang saya iwak lele’ .

[kamu itu iwak apa]
iwak pitek’..

iwak itu ikan , pitek itu ayam artinya? ya nggak ada , hanya orang Jawa yang paham bahasa langit :wink:

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

12 Responses to “ Iwak_piTek ”

  1. hahaha.. iwak pitek,

    mas.. nah kulo nggeh remen lho..iwak sapi..hahaha

  2. hehe.. bangun pagi gw dikasih sarapan berita tV Indonesia tentang keluarga politisi . Menyitir sebuah tragedi keluarga Buttho di Pakistan yang secara turun temurun menjadi politisi , maka si reporter Indonesia mengambil analogi keluarga Soekarno dan sebagainya.

    Tidak ada yang luar biasa dari rentetan komentar-komentar sebelumnya sampai ketika sebuah keluarga anggauta de pe er kita dijadikan topik wawancara bersama anak-anaknya.

    Yang menjengkelkan saat si komentator pintar tersebut bilang bahwa politisi adalah sebuah profesi yang menjanjikan (kurang lebih begitu maksudnya). Karena itu pula si keluarga wakil rakyat tersebut sering mengajak anak-anaknya kekantornya berkenalan dengan fraksi dari partai-partai lain yang berbeda . Siapa tau anaknya kemudian bisa meneruskan bakatnya untuk menjadi politisi juga .

    Kalau kemaren-kemaren kita jengkel dengan sebagian ulah anggota de pe er yang seperti pedagang kelontong melaksanakan kewajibannya. Maka sekarang kondisi tersebut sepertinya dirancang lebih legitimate lagi .

    Menjadi politisi untuk mencari nafkah , marilah mengalir saja sebab cuaca angin memang sedang mendorong kesana .

    preet..!

  3. Baca tulisan Pak Dokter Iwak Pitek jadi ingat ama Segerombolan anak muda yg suka “ngamen” dari kampus ke kampus di surabaya. Namanya “Jangan Asem”

  4. hehe.. saya tau mereka , kalau nggak salah saya pernah kenalan juga.. tahun 2000’an

  5. serius Mode On [Ikut Pak Dokter ]

    Sebab bukankah rencana yang baik tak akan bisa dilaksanakan apabila tak ada dukungan sarana atau fasilitas-fasilitas struktur pendukung yang menopangnya . Lalu apa yang terjadi pada orang yang harus tetap hidup dan berencana , padahal pendukungnya tak ada .

    Ya tak ada jalan lain selain berkata “mengalir saja..”

    setuju kalo ini Pak, saya juga sering gitu Pak. Saya sering menghadapi situasi yg bener2 diluar rencana, dan akhirnya saya cuma bisa berkata dalam hati “biarkan mengalir saja” kalo gak “hadapi saja”.

    Ya..mengalir saja .
    Mau nabrak-nabrak etika .
    Ya mengalir saja .
    Mau berakibat menyusahkan orang lain .
    Ya mengalir saja .
    Bisa melanggar hukum .
    Ya mengalir saja .
    nanti ditangkap polisi dan diperiksa jaksa .
    eiittss..!
    nanti dulu kalau bisa damai saja , ini juga termasuk dalam konsep mengalir saja, katanya.

    setelah baca tulisan pak Dokter apalagi yg ini, kok sikap “mengalir saja” seperti sebuah pernyataan keputusasaan dan kepasrahan ya?. Sikap bahwa tidak ada jalan lain lagi untuk menyelesaikan rencana tersebut. Doh jadi selama ini aku gak nyadar kalo udah pasrah? Dan Sintingnya lagi setelah nyadar kalo kita gak boleh apsrah dan putus asa tapi gak tau musti berbuat apa, akhirnya ya keluar kata2 yg sama tapi seakan2 lebih intelek karena menggunakan bahasa londo “Let It Flow” atau ” the Show Must Go On” aaaaaaaahhhhh podo wae

    Serius Mode Off [pokoke ngawur poooll!!!]

    Isuk Isuk Jangan Asem ayo sem..
    semar mendem ayo ndem…
    ndemok silit gudik’en…..

    he he he itu lagu kebangsaan mereka Pak

  6. hahahahaha… topp!

  7. dalam perspektif musik:

    coba deh anda mainin “Alone Again” (naturally)nya Gilbert O’Sullivan. (1970’an) .

    In a little while from now
    If I’m not feeling any less sour
    I promise my self to treat my self
    And visit a nearby tower … dan seterusnya .

    Lalu stop nyanyinya tapi musiknya jalan terus (spt.minus one), Selagi suasana lagu tersebut masih terngiang dikepala cobalah bergumam sambil ngarang note baru ..

    Ini juga ilmu “mengalir saja” .

    nah.. itulah lagu Indonesia abad ini , atau dengerin album Koes Plus era “Bukan lautan hanya kolam susu” .

    Nyanyikan lagu tersebut sambil bayangin seperti apa wajah alm.Toni Koeswoyo atau bisa juga mas Yon dan mas Yok , lalu terusin mainnya tapi tanpa nyanyi/melody dan liriknya . Setelah itu … biassssssaaa…. bergumamlah sambil mengarang lagi …

    nah itu juga lagu Indonesia ter-kreatif sekarang ini .
    Memang “mengalir saja” itu ampuh nyatanya .
    anda mau ikutan nggak..? banyak duitnya tuh..!

  8. mas,karena itukah kalau mendengarkan lagu sekarang sepertinya berkaitan dengan lagu lainnya?

  9. ya walaupun tidak semua lagu kita seperti itu ya mbak.., tapi yang nguber setoran demi kelangsungan supply / demand ya begitu itu “mengalir saja” seperti comberan di got.

  10. makanya jarang sekali lagu indonesia sekarang yg melegenda, denger lagu orang.. mengalir saja, ganti lirik trus ubah nadanya dikit dan trus mengalir saja jadi lagu “baru”, diluncurkan mengalir saja mau laku mau gak yg penting utang kontrak terpenuhi, akhirnya sampe ke telingaku dan ternyata gak enak ya udah kubiarkan mengalir saja sampe hilang ditelan waktu. Kata Mbah Gesang “Air mengalir sampe jauh, akhirnya ke lauuuuuuuutttttttttttttt”

    Enakan Denger lagu2 lama, Mengalir saja masuk ke otak menghasilkan sentuhan2 lembut ke ujung2 syaraf dan akhirnya mengeluarkan perintah untuk menutup mata dan terlelap dalam kebahagian

    asal jangan sambil ngetit ya mas.., lupa bangun

  11. kalo “pitek walik sobo kebon”.. apa bung? beda lagi ama “pitek kampus” hehehe

    puncak kreativitas lagu Indonesia itu era 80-90..bener gak bung..
    kalo skrg ya kejar setoran dan pamer rupo
    selamatkan indonesia dari musik kacangan..

  12. “Pitek walik sobo kebon” dan “pitek kampus” wah..itu wilayah sakral yang tidak boleh dibahas disembarangan tempat .

    Pamali hukumnya .

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara