Kualitas_hidup

lecture

Satu kali pasti anda pernah melakukannya , berpapasan dengan seseorang yang pernah anda kenal beberapa tahun silam . Namun karena kondisi yang nggak ‘pas’ yang disebabkan karena sesuatu hal atau ada alasan-alasan lain yang bersifat “gengsi” dan sebagainya maka anda melengos membuang muka seolah-olah tidak melihatnya .

Pernahkah terpikir oleh kita sesudahnya bahwa perilaku tersebut sungguh nggak ada manfaatnya sama sekali bagi hidup kita . Saya acapkali menyesal saat saya teringat bahwa sayapun kerapkali melakukannya . Walaupun saya memiliki berbagai pembenaran untuk bisa dijadikan alasan .

Namun apapun bentuk pembenaran tersebut tetap saja dia tidak bisa di tolerir begitu saja. Sebab kita ada bukankah untuk hidup bersama-sama dengan segala macam bentuk perbedaan yang ada.

Manusiawi..? ya… itulah jawaban yang paling mudah untuk bisa membuat kita berhenti bertanya . Kita sering membiasakan keadaan yang tak menarik perhatian kita , lalu menempatkannya dalam posisi ‘locked’ atau malas untuk ditindak lanjuti padahal masalah itu adalah masalah hakekat kita hidup bersama-sama tadi .

Kita memang sering tak bisa mengelak dan menghindar dari dampak yang tak menguntungkan yang ditimbulkan oleh posisi strata sosial . Strata sosial sendiri sudah turun menurun ada semenjak manusia keluar dari hutan dan kemudian mengenal peradaban . Hingga kemudian lahirlah berbagai ajaran agama yang juga untuk menjembatani serta menghambat perilaku agar tidak mudah terjerumus jadi asosial .

Kita sederhanakan saja agar mudah kita pahami dan bisa dijadikan tolak ukur bagi kehidupan sehari-hari.

Saat kita tidak bergelar apa-apa atau saat kita belum menjadi orang yang mampu hidup sendiri apalagi kaya , sepertinya begitu banyak sahabat yang bisa diajak bicara , kita bisa merasa mudah untuk saling berbagi pada sesama , kita bisa merasakan berbagai kesulitan juga secara bersama-sama .

Kita bisa membahas dan bicara apa saja tanpa ada rasa syak-wasangka atau curiga atau sungkan unggah-ungguh yang tidak pada tempatnya . Mungkin karena saat kita belum mengenakan atribut seperti sekarang , dokter , politisi , pengusaha , saintis atau apa saja .

Disaat itu kejujuran dan toleransi antar satu sama lainnya sungguh luar biasa , bahkan demi teman atau demi sahabat seringkali itu “lebih penting”  dibanding kepentingan pada diri kita sendiri.

Saya jengkelnya setengah mati , sebab beberapa hari lalu saya berjumpa dengan orang yang saya kenal secara dekat ketika dia belum menjadi seperti hari ini . Lalu saat kami berpapasan dijalan perilakunya menjadi tidak sama lagi. Terus terang awalnya saya gusar dan jengkel serta sedikit tersungging , namun saat saya renungkan lagi kemudian .. saya berubah pikiran .

Sungguh kasihan .. , betapa berat dan sengsaranya menjalani hidup dengan beban kepura-puraan seperti itu . Kita tidak menjadi bebas bicara… tidak menjadi merdeka untuk bisa tersenyum dan tertawa . Setiap detik kita harus mengatur gerak-gerik serta mimik raut wajah & muka agar nampak anggun dan seolah otomatis jadi berwibawa . Kalau dalam bahasa ilmu peran disebut “sadar acting” .

Benarkah gelar dan materi harus berimplikasi serupa . Bila demikian .. pantas gelar sering mengelabui mata . Pantas materi sering dituding biang kerok rusaknya solidaritas , padahal mungkin saja masalahnya ada di kualitas manusianya itu sendiri .

Rasanya untuk menjadi manusia yang berkualitas tidak harus kaya dulu , tidak harus bergelar insinyur dulu atau doktor dulu atau profesor bahkan polisi serta tentara .

Masih pentingkah menjadi berkualitas dalam perspektif tersebut diatas .
salam.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

8 Responses to “ Kualitas_hidup ”

  1. saya sampe skrg kalo ditanya lulusan mana, gelarnya apa? saya jawab aja gak kuliah, cuma sampe smu. Soalnya malu ntar pasang2 gelar tapi kemampuannya “dangkal” ha ha ha.

  2. Kalau mengambil contoh keilmuan atau gelar akademis , bisa ditiru tuh Pak Budi Rahardjo yang selalu humbled pada siapa saja hehe..

    Padahal waktu pertama saya ketemu , rada ragu-ragu juga *apa iya dia ini dosen dan lulusan kanada* jangan-jangan kaya cerita para bupati yang di recall lagi gara-gara ijazah palsu ..hehehehehehee…

    Abis tampangnya lebih ke seleb dibanding ilmuawan .
    *mumpet*

  3. Mungkin orang model tsb dulunya nggak dpt pelajaran “humaniora” atau mungkin dpt… tapi pontennya “E”. Sementara Mas Budi Rahardjo dapat “A” he…he..he…

  4. setuju sama komen di atas hihihihi

  5. Mungkin orang model tsb dulunya nggak dpt pelajaran “humaniora” atau mungkin dpt… tapi pontennya “E”. Sementara Mas Budi Rahardjo dapat “A” he…he..he…

    Maksudnya sewaktu mata kuliahnya ilmu sosial , yang lain pada merengut.. beliau malah main gitar sambil nyanyi-nyanyi hey jude gitu? hehehe
    *mumpet lagi ah*

  6. Saya malah minder waktu pertama kali ketemu mas Yockie. he he he. Gak bohong ini. Mau-maunya dia ketemuan dengan saya ya? (Who am I?) Waktu itu saya mau bawa kaset untuk minta ditandatangani lho mas. Serius. Tapi kok malu … hi hi hi.

    Kopdar berikutnya saya mau bawa CD untuk ditandatangani mas Yockie.

    hehe sama mas.. saya bawa ijazah kosong ya mas… tolong di tanda tangani ,

  7. Selalu ingatkah kita semua akan perilaku biorythm pada diri kita masing-masing . Bahwa jangkauan kurfa yang ditampilkan adalah konsekwensi equal dari apa yang kita pikirkan dari segala sesuatu yang mempengaruhi kerja otak kita .

    Bahwa saat otak tidak lagi digunakan untuk berpikir dengan sederhana , maka konsekwensi tinggi rendahnya pencapaian kurfa eq serta physical juga akan berada dilevel jangkauan sama .

    Artinya , dalam peristiwa sehari-hari kita sering mengelus dada misalnya , bila ada sesuatu yang mengecewakan kita lalu kita terbiasa berbisik pada diri sendiri “yah..maklumin ajalah.. soalnya dia kan orang hebat” (kaya atau pintar dsb)

    Menurut saya sikap seperti itu bukan sebuah sikap yang bisa dikatakan “sehat” , karena dia bukan sebuah ketulusan atau kepemahaman dari kesadaran kita . Namun lebih condong pada sikap karena perilaku pasrah menerima , padahal sebetulnya “terpaksa” .

    Kembali , setelah menyadari perilaku kurfa yang saya singgung diatas . Maka saya bisa lebih memahami atau menerima lebih ikhlas bila saya temui orang-orang yang sepertinya arogan / kaya atau bahkan sebaliknya .

    Maka sebetulnya saya nggak perlu lagi tersinggung atau heran kalau ada orang kaya (secara kerja keras dengan bener) yang perilakunya jadi berbeda . Atau orang pintar yang jadi aneh dimata saya . Ya karena hukum kurva tadi , menurut saya .

    Lalu kenapa saya masih sering tersinggung … ? ya karena saya belum cukup pintar .. hehe

    Karena saya juga bukan psikolog maka beginilah cara saya mengatakannya .
    hehe..

  8. ok, silahkan bawa blanko ijasah kosong untuk saya tandatangani. ini maksudnya ijasah SD kan mas? he he he … :mrgreen:

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara