OverdOsis

suharto.JPG

Segala kenikmatan yang berlebihan selalu akan menimbulkan dampak merugikan . Itu pasti dan sudah terbukti .

Apa itu kenikmatan?, dari santapan jasmani yang namanya makanan , material kebendaan sampai santapan rohani , dongeng dan khayalan seksual . Semuanya akan menjadi nikmat dan ‘pas’ kalau takaran serta ukurannya juga tak kebanyakan .

Satu hal yang penting sebagai orang Indonesia yang memang terkenal masih doyan overdosis tersebut . Menjadi overdosis karena kenikmatan tersebut hanya dikenali dari satu sisi saja , tak diimbangi dengan bentuk makna ‘nikmat’ lainnya . Yaitu bagaimana menyikapi kenikmatan yang muncul dengan wajah yang berbeda .

Kenikmatan tersebut namanya ‘keprihatinan’ atau sebuah perasaan yang bisa  membangkitkan rasa sedih atau duka . Orang memang cenderung mengingkari untuk tidak mau mengakui ‘kenikmatan’ jenis yang satu ini .. wajar , sebab bisa mendorong detak jantung kita lebih cepat berdenyut hingga kelelahan atau bahkan berhenti secara tiba-tiba . Semuanya itu bisa terjadi karena otak mengirim signal waspada kepada seluruh organ dalam tubuh kita . Seandainya otak tidak bereaksi seperti itu tentu hal serupa juga tak akan terjadi .

Jadi kuncinya ada di otak bukan? ada sebuah teori yang selalu mengatakan berpikirlah positif karena berpikir positif akan melahirkan perintah otak pada seluruh jaringan tubuh kita juga dengan signal yang positif .

Masalahnya adalah bagaimana bisa berpikir positif bila sesuatu yang terasa tidak nyaman (prihatin dan sebagainya) diatas tidak dipahami sebagai kelengkapan dari makna kenikmatan itu sendiri . Dia hanya dikenal sebatas kesusahan yang hanya sekedar menimbulkan kerugian saja . Padahal “menikmati” hati yang sedang sedih juga sebuah kemewahan yang bisa melahirkan berbagai manfaat-manfaat yang sering tak pernah kita pikirkan sebelumnya . Sebagai seniman justru hal-hal tersebut adalah energi kreativitas , atau sadarkah kita bahwa acapkali menemukan terobosan jalan keluar saat kita berada pada kondisi titik kritis tertentu .

Seperti apakah kondisi masyarakat saat ini .

Mengkritisi masyarakat kita adalah mengkritisi diri kita sendiri , bagaimana selama ini kita senang dibuai oleh kenikmatan jenis pertama diatas . Semua persoalan diperlakukan seperti cara kita memelihara kenikmatan mimpi . Semua persoalan dalam hidup disikapi dengan cara yang sama seperti kita menikmati makanan hingga sampai ranjang seksual / paha dada dan sekitarnya.

Sebagai contoh,

Lihatlah bagaimana kita senang dengan tontonan bencana alam (alam) yang ditampilkan dengan polesan-polesan diatas , sehingga berita bencana menjadi seperti gambar-gambar dalam berbagai kisah film-film melodrama. Bencana tsunami di Aceh misalnya .., hantaman gelombang air laut yang terekam kedalam kamera , koq bisa-bisanya sampai terpikir untuk diisi narasi lalu diselingi dengan alunan musik yang menyayat-nyayat telinga .., sehingga kesedihan yang muncul dihati kita bukan kesedihan yang melahirkan berbagai kesadaran . Tapi kesedihan “hyperboles” yang berkelebat sebentar saja untuk hinggap dimata lalu tak akan bertahan lama untuk mampu diingat apalagi bisa diharapkan melahirkan berbagai aksi konkrit yang nyata . Secara tak sengaja kita sudah dibuat untuk terbiasa menjadi barisan penonton , yang taunya hanya mengenal sebuah tontonan berkadar hiburan sandiwara .

Segala sesuatu diletakkan dalam frame “pemandangan bagi mata” dan “pendengaran bagi telinga” , tanpa melibatkan otak dan kalbu . Akhirnya kita memang hanya menjadi penonton yang baik yang pintar untuk mengatakan “turut berduka/turut prihatin” dan lainnya . Sekedar menjadi penonton yang pasif sekaligus juga sebagai penonton yang seringkali gagal bila ingin aktif , sebab memang otak dan kalbu jarang dilatih untuk diajak bekerja sama .

Hari hari ini betapa hampir semua media informasi kita memberitakan kondisi mantan penguasa orde baru yang sedang dirawat di rumah sakit. Saya tak ingin berpolemik di masalah hukumnya namun hanya sekedar mengingatkan diri saja . Bahwa sejarah seolah ingin diulang kembali , setelah kita berbusa-busa memaki-maki…. beberapa waktu kemudian kita menjadi seperti linglung karena kecapaiaan memaki …. , lalu hari ini kita dengan segala kesadaran baru ingin berbuih-buih memuji-muji. Heran…, kenapa ya….kita punya watak seperti ini . Atau nggak usah heranlah…..pertanyaannya saya ganti …, kapan ya kita berhenti berperilaku berulang-ulang terus seperti itu .
Lihatlah betapa hebohnya tampilan gambar demi gambar yang dikemas menjadi sedemikian rupa , acapkali melewati batas kebutuhan sebuah informasi yang patut diberitakan dengan kode etik yang universal . Tayangan-tayangan tersebut sudah masuk kewilayah yang saya sebutkan diatas dan bisa jadi akan lebih parah lagi (seperti biasanya) bila kondisi Soeharto benar-benar sudah diluar jangkauan kekuasaan manusia .

Wilayah hiburan selebrtis…, tak ada bedanya lagi sebuah berita tentang perlunya kesadaran otak dan kalbu bisa bekerja , dengan sebuah berita gosip emperan jalan yang hanya layak dikonsumsi oleh ‘abg’ belia yang masih gemar cas cis cus dan memang belum tau apa-apa .

Koq sepertinya melihat wajah kita hari ini dari media informasi yang ada , terlihat agak mirip dengan saat kita melongok kebawah dikala sedang mengeluarkan kotoran tinja.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

18 Responses to “ OverdOsis ”

  1. uDah bs dibaLikin blom err nYA?

    belum..hehe

  2. [ngomel babak ll] Tulisan ini juga gerundelan yang saya posting disebuah milis tertutup yang hanya diperuntukkan bagi member/anggauta-nya saja.
    ~

    Kalau bagi warga yang sudah mumpuni atau sudah melek hukum sadar
    politik , tontonon tersebut hanya menyita 1 persen dari perhatian
    pikiran , selebihnya akan ditempatkan di bak tong sampah .

    Tetapi bagaimana dengan masyarakat banyak yang masih buta hukum
    apalagi politik yang selama ini selalu jadi mainan paling asik “issue2
    politiking” .

    Kasus seperti soeharto bukan hanya ditempatkan sebagai hiburan
    infotainment saja tapi sudah jauh melampui batas akal dan nalar. Dan
    berpotensi mengulang catatan hitam sejarah Indonesia di era orla .
    Setelah soekarno dihujat habis-habisan sebagai antek pki , tanpa
    proses pengadilan yang jelas maka tiba-tiba disanjung lagi juga tanpa
    pembuktian dan alasan yang sama jelasnya.

    Demikian juga bapak pembangunan yang satu ini , sejarah seperti
    sengaja untuk terus diburamkan agar bisa terus dimain-mainkan seenak
    perut mereka.

    Orang akan dengan mudahnya menjadi simpati kembali lalu mengulang lagi
    mengikuti jejak “bapak petunjuk hari hari omong kosong” (menpen
    jadul). Makanya semakin tumbuh subur saja pameo: “emang enakan jaman
    dulu ya… dalam menjalani hidup sehari-hari semua-semua nya lebih
    mudah dan gampang”

    Betul juga kita hanya bisa memikirkan bagaimana agar anak kita sendiri
    tidak ikut terseret arus informasi yang menyesatkan tersebut . Tetapi
    kita juga harus ingat juga bahwa suara mayoritas penentu suara dalam
    sistem pemilu untuk menentukan kualitas masa depan adalah
    mereka-mereka yang “masih rawan issue” tersebut .

    Apa artinya segelintir anak-anak kita yang mungkin mampu kita
    selamatkan jika berhadapan dengan realitas seperti itu , lalu kapan
    akan bisa dilakukan perbaikan atau perubahan yang lebih signifikan .

    Bagi saya sendiri kesalahan soeharto bukan hanya terukur dari jumlah
    rupiah atau dugaan adanya kerajaan korupsi miliknya , tapi proses
    pembodohan yang dilakukan selama 32 tahun hingga kita semua menjadi
    jauh tertinggal dan semakin sulit untuk duduk sejajar dengan
    bangsa-bangsa lain didunia . Wong… sesama bangsa Nusantara sendiri
    saja kita terancam kembali untuk jadi rapuh lagi . Inilah kesalahan
    soeharto yang menurut saya terbilang “fatal”

    Untung bangsa nusantara pada dasarnya adalah masyarakat sosialis
    religius hingga mudah untuk diajak saling memaafkan sesama atas nama
    agama . Namun disaat yang sama ketika agama sudah masuk wilayah
    politik praktis disanalah kita kalang-kabut jungkir balik nggak
    keruanan dibuatnya . Maling dan penjahat dimaafkan atas nama keyakinan
    tersebut tanpa perlu proses hukum dan politik yang lebih beradab .

    Nikmat sekali jadi penjahat politik di republik ini , cukup pake
    sarung dan kopiah atau jilbab lengkap lalu rajin-rajinlah ke masjid
    atau bikin acara-acara ke agama-an , lalu pasanglah ‘muka sedih atau
    muka menyesal’ di berbagai kamera televisi maka kita langsung dianggap
    sudah “bersahabat” dengan Tuhan Yang Maha Esa , otomatis perilaku kita
    yang sebelumnya salah layak dimaafkan .

    Ada cerita miris dari rekan saya yang mengamati situasi di dunia
    Infotainment ketika mereka semua bergerombol ngumpul mencari berita di
    rumah sakit tersebut . Konon datang satu kiriman bunga … semua crew
    langsung berdiri menanyakan dari siapa . (bunga tersebut sedang
    digotong oleh beberapa petugas rs yang bersangkutan).

    tanya: dari siapa pak….?
    jawab: wah..nggak tau… sepertinya dari mantan menteri jaman beliau.
    tanya: siapa pak….?
    jawab: nggak tau…tadi kedengarannya seperti hasan..hasan..,
    gitu…ujarnya

    Langsung tersebar berita keseluruh crew infotainment “eh…ada kiriman
    bunga tuh…dari Fuad Hassan ex menteri jaman orba…

    crew 1: emang Fuad Hassan itu menteri apa ya..dan tahun berapa..?
    crew 2: nggak tau juga gw …., sahut rekannya .

    Begitulah yang terjadi di republik ini , informasi penting dikuasai
    oleh generasi MTV yang lahir dan ujug-ujug ada. Sementara generasi
    tuanya lebih banyak yang berkepala batu .

    Maaf tulisannya panjang dan “ngomnyang..!”
    *maklum lagi jengkel*

  3. Bagus sekali comment nya, lucu juga fuad hasan ngirim bunga dari akhirat :lol: . Tapi emang jaman soeharto sangat berat bagi orang yang berfikir dan menyukai kebebasan. tapi mungkin yg masih suka mengenang jaman soeharto adalah orang2 yang mementingkan, nyaman, bisa makan dan g mau berfikir. orang yg cari aman aja

  4. gitulah mbak, makanya saya juga nggak heran ketika dalam sebuah workshop sebuah konser bersama saya disodorin microphone sambil ditanya ‘sudah berapa kali ikut konser dan sebagainya’.

    apalagi cuman saya…wong tokoh sekaliber alm.fuad hassan saja mereka nggak mudeng..

    Kondisi nasional sekarang ini dalam suasana yang sangat krusial . Banyaknya orang yang menjadi terkagum-kagum pada soeharto lagi serta statement terang-terangan dari para politisi / penyelenggara negara , mengindikasikan bahwa proses peradaban kita sedang berhenti bergerak dan ada indikasi berputar arah menuju setback kembali .

    Proses ‘mandeg’ tersebut adalah komitmen untuk menjadi masyarakat modern yang demokratis atau balik kandang menuju masyarakat tradisional yang primordial , dengan segala kelengkapannya seperti paternalistik feodalistik.

    Hanya karena nggak mampu membendung serangan kapitalis liberal , para tokoh tua yang dibesarkan oleh orba tersebut memilih cara yang paling aman bagi dirinya sendiri . Walaupun harus menjilat ludah sendiri dengan menyembah lagi diktaktor serta tokoh otoriterian yang sebelumnya ‘sok’ mereka tentang sambil ikut-ikutan gelombang reformasi .

    Terkuak sudah…. siapa yang jenis srigala…siapa yang jenis domba ….dan siapa yang jenis anjing .

    Bangsa Indonesia semakin nggak jelas mau kemana arahnya..! sebab semakin nggak jelas juga para pemimpinnya tersebut wajahnya seperti apa …., berubah-ubah terus . Bunglon masih cantih dan elok sebab mereka habitatnya jelas ada dimana … kalau yang ini entah… katagorinya jenis makhluk apa…!

  5. gitulah mbak, makanya saya juga nggak heran ketika dalam sebuah workshop sebuah konser bersama saya disodorin microphone sambil ditanya ’sudah berapa kali ikut konser dan sebagainya’.

    ngakak baca paragrap yg ini Pak Dokter wakakakakkakaka *bener loh serius saya ketawa*. Kelihatan banget tuh orang begonya. Ketahuan juga kalo karbitan. jgn2 modal tampang doang trus jadi reporter hihihihihi

    Pakabar Pak Dokter? Sehat2 semua kan? Amin..

    Saya mau mengadu Pak Dokter, dari koran, televisi, bahkan blog semua ngebahas bapak pembangunan [kemelaratan dan kemiskinan] ini. mata, pikiran dan otak saya Teraniaya [istilah teman saya] huhuhuhuhu

  6. pertama saya alhamdulilah sehat , walau memang seminggu ini saya agak stress dengan kerjaan hehe..

    Tapi memang saya sendiri juga menganggap ini moment penting (bapak pembangunan tadi). Seperti yang udah saya grundelkan diatas . Selebihnya saya inget lagi isu grundelan saya beberapa bulan lalu tentang penjungkir-balik-an makna atau legalisasi penyesatan pikiran .
    a. Siapakah yang berhak mengomentari film itu bagus atau jelek
    jawab: penonton atau pemain beserta jajaran crew-nya
    b. Siapakah yang berhak mengatakan dia salah atau benar
    jawab: pengadilan atau karyawannya

    c. Siapakah yang berhak mengampuni dosa kita
    jawab: Tuhan Yang Maha Esa atau keluarga kita sendiri .

    Nah.. mas Gandhi kalau tiba-tiba sampeyan bilang bahwa “saya itu ngganteng lho..” ya wajar-wajar saja selama sampeyan ngomongnya sama nyonya atau keluarga anda sendiri .hehehe..

    Saya juga gitu ke istri saya…”saya ini suami paling oke’.”
    dia mah manggut-manggut ajah… entah kasihan … entah cuek. Tapi yang pasti begitu saya ngomong ke tonggo , “wong edan iku..”

    Selanjutnya “nggerundel babak lll”

    Diawal peristiwa reformasi kita sudah bisamemprediksikan bahwa melengserkan orba dengan hanya menebang batang pohonnya tak akan bermanfaat banyak , sebab akar serabutnya sudah tercipta dan menjalar kemana-mana. Kebetulan Soeharto adalah arsitek utamanya , dia sendiri mungkin paham ketika merasa dikhianati oleh orang-orang dekatnya , karena itulah dengan sukarela dia mundur legowo sambil mungkin dalam hatinya bergumam ‘rasain aja kalian nanti akibatnya akan seperti apa’ . Dan memang hari-hari berikutnya kita merasakan itu semua..,jangkrik tenan..!

    Secara eksplisit baik Soekarno maupun Soeharto memendam kekhawatiran yang sama .
    Yaitu hutang proses politik Nusantara yang belum ‘lunas’ .
    Artinya setelah seluruh komponen bangsa-bangsa nusantara ini bertekad untuk mengusir penjajah lalu menjadi merdeka , belum pernah ada debatable politik / bargaining antar masing-masing wilayah otonomnya menjadi kesepakatan bangsa-bangsa antar Nusantara , dan kemudian seharusnya itulah ‘ruh’ yang mengusung kelengkapan konstitusi Indonesia . (referendum)

    Bung Hatta lebih condong kearah negara dengan sistim federalisme , mengingat tidak ada diseluruh dunia ini contoh sebuah wilayah yang tersebar dan terpecah-pecah seperti Indonesia lalu mendeklarasikannya eksistensinya sebagai sebuah negara kesatuan yang terpusat .

    Sementara Soekarno bersikeras ingin , antara lain lewat sejarah perjuangan beratus tahun yang telah dialami bersama serta sumpah pemuda sebagai semangat sesama masyarakat yang tertindas , sebagai modal utama persatuan dan kesatuan tersebut

    Karena itu pula Soekarno gencar melahirkan jargon-jargon ganefo asia-afrika dan sebagainya bahkan pbb pun dilawannya , intinya dia berhasrat besar meyakinkan dunia bahwa Indonesia adalah negeri “mercu suar” yang bisa dijadikan contoh bagi bangsa-bangsa lain diseluruh dunia.

    Sayang proses yang ingin dicapai Soekarno mampu dipangkas musuh dalam selimutnya ditengah jalan.

    Soeharto pun demikian , semenjak repelita 1 sampai 5 adalah upaya dia untuk mengalihkan issue hutang politik diatas agar bisa menjadi bukti nyata bahwa ditangannya Indonesia mampu berkembang untuk menuju sejahtera. Namun sayangnya untuk bisa menciptakan stabilitas ekonomi tersebut dibutuhkan stabilitas keamanan yang absolut serta biaya pembangunan dengan jumlah besar.

    Dibutuhkan penanganan secara otorier tangan besi namun bijak bagaikan filusuf , untuk meredam pertentangan bila muncul perlawanan atas nama hak azasi dan lainnya . Secara kebetulan bangsa-bangsa nusantara adalah warisan keluarga monarki yang sudah sangat akrab dengan budaya sesepuh hingga menyembah paduka raja . Disanalah dia membangun pencitraan dirinya , sebagai presiden sekaligus sebagai seorang raja. Terbukti memang mampu duduk berkuasa selama 32 tahun lamanya.

    Kegagalannya lebih disebabkan karena selama itu biaya yang digunakan adalah hutang berkelanjutan yang tak pernah dipikirkan bagaimana caranya agar bisa melunasinya kembali nantinya . Sebab dia tidak berkesadaran untuk membangun mesin produksi bagi ekonomi bangsanya sendiri serta industri sendiri yang sesuai dengan karakter geography masyarakatnya sendiri , bahkan dia menutup rapat-rapat potensi sumber daya anak-anak bangsanya yang tak sejalan dengan design skenario politiknya . Celakanya yang ditutup dan di mampatkan itu adalah bidang “pencerahan” yang justru penting bagi pergaulan di arena global (politik / pendidikan) . Rakyat di nina-bobokkan untuk tetap jadi bodoh seperti semula . Yang hanya patuh dan takut pada rajanya.

    nb:walaupun harus dicatat juga keberhasilan dia menciptakan swasembada pangan (beras) , namun itu semua jauh dari cukup bila harus bersanding dengan konsekwensi lain yang ditimbulkannya.

    Satu lagi , yakni menekan laju angka kelahiran lewat keluarga berencana . Ngga seperti sekarang ini , banyak orang tapi sedikit manfaatnya . hehe

  7. Jujur aja Pak Dokter, Kalo masalah Pak Harto saya udah bosen, lha gimana gak bosen, rumah ortu saya ama rumah pak harto cuma sekitar 300 meter istilahnya tetangga gang, dan Eyang Kakung saya adalah gurunya Pak Harto, dan gedung yg digunakan untuk sekolah juga di halaman rumah saya. Jadi sepak Terjang Suharto sekeluarga dari dia kecil [dari cerita eyang saya ] sampe dia menjadi presiden, belum lagi sepak terjang keluarganya di jogya dll saya sedikit tau. Jadi kulo njaluk sepuro sing katah nggih Pak Dokter, Kulo bosen Karo sing jenenge Suharto hehehehehe.

    Nostalgia Mode On

    Saya juga salah satu dari puluhan bahkan ratusan ribu mahasiwa yg ikut melengserkan suharto, Saya ingat setiap Hari Berperang dengan Bapak saya, bapak saya mengamankan demo yg dilakukan anaknya.. gitu deh kira2 Pak dokter. Walau dirumah kami saling menyayangi tapi di jalan [pada saat itu ] kami “berperang”. Bapak saya berharap agar demo yg dilakukan jgn sampai disusupi oleh “oknum” dan menjadi anarkis kalo saya berharap lengsernya suharto akan membawa pengaruh positip terhadap bangsa ini. ah… ternyata peperangan bapak dan anak di jalanan malah membuat negara ini menjadi makin gak karu2an, mereka2 yg duluya keras terhadap pemerintahan dan partai politik, skrg setelah masuk ke dalam systemn malah jadi ayam sakit, ayam yg gak bertaji, ayam bisu.. *sambil dengerin lagunya system of a down yg judulnya F**k The System*

    gitu deh kira2 skrg yg ada di dalam benak saya Pak Dokter kalo lihat cerita2 tetang suharto, Entah harus menyesal ataukah harus bangga… bingung :shock:

  8. Perjuangan melawan sistem yang disebut orde apakah itu orde baru atau orde lama jangan ditafsirkan hanya menjadi perjuangan melawan soeharto secara personal . Dia sendiri adalah manusia sama seperti kita yang hanya mampu bertahan berumur dibawah angka 100’an .

    Namun perjuangan untuk merubah sebuah sistem yang salah . Dia sendiri membentuk sistem tersebut selama 32 tahun , artinya bisa berkali-kali lipat jumlah bilangan waktu yang mungkin dibutuhkan untuk memperbaikinya. Semuanya tergantung generasi berikutnya bagaimana mereka memelihara perjuangan yang dulu sudah dilakukan (semanggi / trisakti / seluruh Perguruan tinggi lainnya serta daerah2 lainnya diseluruh wilayah Indonesia)

    Memang harus diwaspadai adanya gerakan untuk menjungkir balikkan makna perjuangan itu sendiri . Kita bisa merasakan di waktu dan kondisi terakhir-akhir ini.

    Sering kita berharap , kita yang berjuang lalu kita juga yang akan bisa menikmati hasilnya . Banyak teman-teman saya yang kecewa karena hal tersebut . Namun saat usia merangkak semakin jauh … kita pun semakin menjadi lebih sadar dan mengerti , apa itu makna perjuangan yang dulu berkobar-kobar dikepala kita .

    Saya sendiri memiliki banyak teman-teman yang dari semenjak dulu sudah menjadi bagian kroni-kroni keluarganya. Sebagian besar sudah bangkrut lagi , sebagian kecil lainnya tunggang-langang berusaha menghapus jejak .

    Dari sejak tahun 70’an saya alergi untuk masuk dalam lingkaran tersebut . Karena itu saya tetap merasa merdeka , walaupun juga nggak pernah jadi kaya . hehe

    Akhirnya , jangan pernah merasa menyesal mas . Anda sudah melakukan apa yang harus dilakukan .Selebihnya tugas generasi berikutnya untuk menjaga serta meneruskan . Kita sendiri tetap berjuang namun dengan sudut pandang yang berbeda tidak bisa lagi dengan cara yang sama seperti dulu .

    Seperti halnya saya sendiri… apa yang bisa saya lakukan..? wong saya nggak punya barisan kekuatan apa-apa…dan juga saya bukan orang yang punya ambisi untuk berpolitik praktis.

    Tapi kalau anak saya ada yang nyeleneh…, pasti saya jewer kupingnya.

  9. kemaren sempat lihat tayangan di tv swasta, Bapak Hariman Siregar di wawancarai seputar Peristiwa Malari..

    Dipikir2 ternyata skenario kerusuhan jaman suharto kok selalu sama ya? alur2nya pun nyaris sama…

    Pagi ini baca koran, sedikit membaca soal win-win solution kasus suharto. Jujur aja muak banget dengan pengacara2nya suharto, dengan enteng meminta pemerintah mencabut semua dakwaan kepada suharto dengan alasan karena suharto sakit. Apakah pengacara memang harus membela clientnya sampai sebegitu naif kah? Ah seandainya yg menjadi korban adalah salah satu dari keluargamu wahai pengacara, apakah engkau akan masih bersikap sama? bagaimana dengan maling ayam yg digebukin massa sampai sekarat, adakah pengacara yg akan mengajukan kepada pemerintah untuk membebaskannya?

    Maap pak Dokter saya curhat di rumah pak dokter hehehehehe

  10. Inti dari issue yang saya dengar , yang sedang diangkat oleh Hariman Siregar adalah :

    Konstitusi kita telah dijadikan jebakan bagi kepentingan sektoral golongan atau partai untuk jadi loket bagi meloloskan calon pemimpin . Sedangkan partai sendiri semakin jauh dari kepentingan suara konstituennya . (masyarakat secara luas)
    Akibatnya pemimpin yang terpilih harus mengabdi pada juragannya (partai) bukan mengabdi pada kepentingan rakyat.

    Ini semua bisa disebut sebagai “disorientasi konstitusi” kita . Dan bila pemilu mendatang kondisi serupa masih terjadi , maka demokrasi kita terlalu mahal harganya . Serta kita semua yang hidup hari ini ikut menanggung segala dosa sejarah yang akan diakibatkannya nanti .

    Silahkan direnungkan dihati kita masing-masing , saya tidak ingin mempengaruhi pendapat anda masing-masing . Saya sendiri jelas punya opini yang sudah bisa anda baca di beberapa artikel di blog ini.

  11. Khusus mengenai “pengacara” yang anda sampaikan , menurut saya itu adalah satu bagian dari akibat dikuasainya semua lini dan sektor kehidupan kita oleh mesin industri liberal.

    Sebagai contoh , iklan pendidikan yang marak muncul dimana-mana . Yang ditawarkan bukan lagi esensi dari kualitas hasil yang akan dicapai , namun lebih kepada fasilitas belajar . Misalnya ber ac / gedung mewah / tempat strategis / bahkan S1 atau S2 bisa disingkat dan dipercepat cukup dengan separuh perjalanan waktu yang biasanya ditempuh .

    Ini semua akibat dari mesin budaya kita telah dikuasai oleh paham pedagang . Di negara maju yang paling demokratis sekalipun , hal-hal yang bersifat demi dan untuk kemaslahatan hidup orang banyak selalu dikontrol oleh pemerintahnya . Tidak dilepas diserahkan ke pasar bebas.

    Saya sendiri sependapat bahwa “demokrasi liberal” hanya melahirkan huru hara dan kegaduhan yang sama sekali tidak ada gunanya bagi hidup.

  12. mas, saya koq merasa semakin sedih.Sebab justru kondisi yang seperti sekarang ini ,orang justru malah terasa nggak perduli lagi.

    kenapa ya..saya juga bingung lho..

  13. Pendidikan Politik mbak , itu kunci dan jawabannya . Itu juga salah satu kesalahan yang fatal selama negeri ini dikelola ORBA . Rakyat atau masyarakat kita dibuat tetap berpikir bahwa ini adalah sebuah negeri kerajaan yang dikelola olah baginda sang raja yang maha terhormat dan mulia .

    Ilmu politik sampai hari ini sudah sampai mampu meramalkan dengan jitu apa yang akan dipikirkan oleh rakyatnya , bila strategi a atau b diterapkan . Sedemikian mudah dan sederhana selama masyarakatnya masih seperti ini.

    Saya ambil sebuah contoh mbak, sengaja diberikan ruang atau panggung bagi figur yang setengah blo’on atau rada-rada bego gitu… untuk ditampilkan menjadi tokoh (sengaja dikarbitkan) . Tujuannya mereka sudah tau … agar masyarakat menilai politik itu busuk dan sampah.! Lalu dengan sendirinya masyarakat yang tercipta adalah masyarakat yang dengan mudahnya mengatakan: ” ahh..saya benci politik… atau emang politik itu jahat… dan lain sebagainya. Prihatin saya pada sebagian besar anak muda kita yang nggak sadar bahwa dia sedang dipakai’in kacamata kuda .

    Padahal politik itu adalah “tools” atau strategi untuk menjalani hidup . Kita bertetangapun sudah menggunakan ilmu politik untuk bisa saling menghormati agar saling tidak merugikan antar satu dengan yang lainnya.

    Kalau saya sering bicara tentang politik , jangan diasumsikan saya ini politikus yang seperti terlihat di mimbar-mimbar televisi dan lainnya..hehehe . Saya hanya bicara mengenai hak-hak saya pribadi sebagai manusia dan sebagai warga negara .

    Dan itupun juga bisa disebut saya harus berpolitik , bukan berpolitik untuk masuk partai atau golongan . Namun berpolitik untuk melindungi kepentingan hidup saya sendiri . Sebab kalau tidak ..orang akan semena-mena memperlakukan hidup saya .

    Nah , masyarakat Indonesia sangat tertinggal jauh pemahamannya tentang hak-hak dan kewajiban sebagai warga negaranya . Yang dipahami adalah kita harus mengabdi pada negara , mengabdi diartikan seperti kita mengabdi pada “ndoro” kita , alias kita adalah jongosnya .

    Karena itu pula saya sering menulis artikel bahwa kita belum merdeka , sebab masih dijajah sama ndoro kita sendiri .

  14. Vote JSOP for president :grin: :grin:

    saya ingat dulu pelajaran PMP [pendidikan moral pancasila ] ada slogan “Dari Rakyat, Oleh rakyat dan Untuk Rakyat”. belum lagi undang2 dasar 1945 yg mengatakan “sumber daya alam yg menyangkut hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara”.

    pertanyaan saya adalah:

    1. Rakyat yg mana nih?
    2. Negara yg mana nih?

    jawabannya adalah : Rakyat dari yg berkuasa skrg dan negara dari para kroni2 nya :lol:

  15. Bukan main,ini pencerahan yang luar biasa bahkan sayapun juga seolah baru tersadar kembali padahal saya yakin banyak yang sudah mengerti.

    Mengerti namun belum tentu paham,mengerti dan memahami memang dua hal berbeda.

    terima kasih pencerahan politiknya mas,

    lam

  16. Sampeyan memang terkadang suka terlalu merendah mas

    Coba sudah berapa kali ada yg ngarep atow ngomong jsop for president? . Ojok digawe’ dulinan lho mas . Ini bisa serius kalau didenger ma para sesepuh dan kyai-kyai mas!! hahahaha…

    Ayo maju mas! bukan buat sampeyan sendirian tapi untuk kepentingan uwong akeh rek..

    merdeka !

  17. Salam perkenalan mas Yockie,

    Saya pembaca setia blog jsop dari sejak awal anda mutasi dari wp.com ,jadi kurang lebih satu tahun yang lampau.

    Saya tidak pernah comment tapi pembaca yang setia lho mas.

    Hari ini saya tergelitik untuk komen hanya untuk memastikan mas Jockie ,mungkin mas Jockie perlu tau bahwa ada orang2 seperti saya yang merasa harus ber terimakasih karena ada blog ini

    sekali lagi salam kenal,

    hariaja.

  18. Seperti sudah pernah saya katakan bahwa saya pernah ingin jadi presiden , sayang taxinya sudah kukutan . Dan sekarang jabatan saya memang sudah presiden , dirumah saya sendiri .

    Itupun belum bisa jurdil seperti idealnya presiden rt , apalagi presiden rw sampai presiden presidenan lainnya …

    Tapi kalau ada malaikat turun memberi wangsit sama saya , permintaan saya cuman satu untuk menyanggupi tugas saya tersebut .

    “Semua orang Indonesia harus dijadikan supaya pinter nge-band , paling nggak ngerti musik”

    hehehe

    @mas hariaja: terima kasih mas.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara