Finally

finally

Setelah melewati hitungan satu tahun berkecimpung diruang maya ini akhirnya selain blog adalah sebagai ruang pendapat pribadi serta opini , saya pun berkeyakinan bahwa blog ini tempat bagi saya untuk belajar dan belajar serta terus mempelajari persoalan hari demi hari . Langkah yang saya ambil untuk berdialog langsung person to person menyangkut hal apa saja , persoalan apa saja yang melintas dalam kehidupan saya rasanya lumayan cukup terpenuhi .

Berbagai persoalan sosial ekonomi budaya serta politik sudah tersentuh (walaupun hanya secara substansinya saja) namun justru itulah hal terpenting bagi saya dan membuat saya berkeinginan bisa mengupas permasalahan tehnis yang seringkali dihambat oleh keterbatasan bahasa dengan pendekatan ilmiah serta akademis .

Setelah kita lekat kembali dengan semua permasalahan yang menyelimuti diri secara pribadi (personal) hingga permasalahan yang lebih lebar dalam bermasyarakat . Yang pada akhirnya menjadikan kita lebih tajam dalam melihat , lebih peka dalam mendengar , lebih sensitif dalam mencium , maka semakin terang pula kita memandang , melihat kondisi cuaca menuju jalan ke masa depan yang hendak kita tempuh bersama .

Banyak kelokan , banyak tanjakan dan turunan belum lagi badai dan hujan yang pasti akan datang menerjang kita semua . Ciutkah nyali kita?

Tentu harapan kita semua adalah jawaban : Tidak

Namun saat kita terbentur pada dinding terjalnya batu karang yang harus kita lalui sementara alas telapak kakipun belumlah kita miliki ? atau kita dihadapkan didepan gelombang samudra besar yang harus kita seberangi diatas sebuah biduk sekoci dari kayu yang bocor disana sini ? Kembali lagi pertanyaan datang , ciutkah nyali kita?

Tentu harapan kita semua adalah jawaban tegas : Berpikirlah Optimis

Cukupkah hanya berkata ‘Tidak’ pada nyali yang hendak menciut dan berpikir ‘Optimis’ untuk menyongsong masa depan dengan realitas kondisi serta kemampuan yang seperti ini .

Inilah gunanya kita berani berkaca diri , bukan untuk sekedar mencemoh kenaifan diri bukan pula untuk sekedar mentertawakan orang-orang disekitar kita sendiri . Namun yang lebih penting adalah untuk bisa mengenali serta mengukur kapasitas serta kemampuan diri kita masing-masing .

Membangun sebuah negeri yang kuat secara philosophy identik dengan mendirikan sebuah kerangka bangunan yang kokoh yang dimulai dari pondasi serta pilar-pilar besi baja pendukungnya. Disanalah kita bisa me-refleksikan diri kita serta dimanakah sebenarnya tempat yang seharusnya kita berada sebagai bagian dari konstruksi yang kuat yang akan kita bangun tersebut .

Lalu mari kita letakkan berbagai kebutuhan yang harus kita penuhi serta kita sejajarkan berbagai kenyataan hari ini yang terjadi . Maka ibarat joke atau guyonan jaman dulu “anak kecil juga tau..” atau “nenek-nenek juga ngerti..” negeri impossible kata Iwan Fals dalam guyonannya .

Padahal perangkat penopang yang dibutuhkan bukannya tak dimiliki sama sekali , lihatlah diberbagai milis yang tersebar didunia maya ini saja , bertebaran orang-orang muda dengan pemikiran yang brilian serta gagasan-gagasan advanced yang jauh lebih masuk diakal serta jauh lebih realistis dibanding para pekerja yang kita percayakan dan kita pekerjakan untuk mengurusi jalannya sistem pemerintahan negeri ini . Belum lagi yang berada diluar dunia internet dan sebagainya .

Dimanakah posisi mereka dalam kemelut serta krisis multidimensi yang sedang melanda kehidupan kita sekarang ini ? Saya berani mengatakan mereka tidak dalam posisi apa-apa , lalu bagaimana bisa kita membiarkan kapal besar republik ini terancam kandas sedangkan didalamnya bertebaran otak-otak pandai namun dalam posisi tangan serta kakinya dibiarkan terikat rantai .

Betapa bodoh dan dungunya bangsa ini akan dikenang oleh peradaban dunia nantinya , apabila mimpi buruk tersebut benar-benar akan terjadi . Betapa menyesalnya kita nanti apabila benar-benar kita menjadi jongos abadi lagi . Sebuah kekhawatiran yang harus kita tempatkan dalam skala prioritas saat ini sebab dia tak akan ada gunanya bila hanya untuk disesali .

Mari kita berkata ‘Tidak’ pada sesuatu yang bisa membuat nyali kita menciut . Mari kita berkata ‘Optimis’ pada cuaca buruk yang akan terjadi . Namun semua itu kita sikapi dengan cara yang lebih terencana serta terkoordinasi .

Tidak ada jalan lain terkecuali mulai saat ini kita “PAKSAKAN” diri masing-masing untuk merevitalisasi kesadaran serta membangun berbagai jaringan lintas disiplin serta profesi bagi terciptanya design konstruksi bangunan kokoh yang diharapkan .

Semoga bila disaat kapal besar ini terancam keberadaannya yang hanya disebabkan karena ulah nakhoda sableng beserta segelintir para perwira serta punggawanya , potensi anak bangsa tak akan menjadi korban percuma . Bahkan mungkin saja proses percepatan mereka menjadi juru selamat bagi kapal besar ini harus dilakukan dengan segera.

Dan untuk memulai langkah besar tersebut , hanya perlu langkah kecil sebagai awal mula gerakan tersebut bisa dimulai . Yaitu: Merdeka-kan dulu cara berpikir kita dari pola struktur lama . Apalagi namanya kalau bukan empat huruf yang menyebalkan itu .

Langkah tersebut sudah mewakili substansi / isi dari sikap yang harus dilakukan .

salam.

  

About the Author

bukan siapa2 ... hanya seniman yang berharap bisa ada dimana-mana

13 Responses to “ Finally ”

  1. tapi bukankah sudah teruji dan menjadi cukup kebal dengan gejolak moneter mas?

  2. Nama krisisnya kan multidimensi kan mas , artinya termasuk juga didalamnya kandungan moneter ekonomi .

    Sejauh pemahaman saya yang pas-pas an ini , yang bertahan dan mampu mengabsorf gejolak moneter adalah ekonomi rakyat yang disebut informal moneter. Mereka mereka itu adalah para pedagang kecil dari desa kedesa dari kampung kekampung untuk saling melakukan transaksi memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri.

    Mereka jauh dari urusan mall beserta super-super market besar yang ada dikota-kota besar. Merekalah juga sebenarnya para penyelamat yang telah menyelamatkan negeri ini sampai hari ini masih tegak bisa berdiri.

    Namun tekanan dan himpitan yang menindas keberadaan mereka bukannya semakin berkurang justru semakin berat bebannya . Terbukti sampai munculnya kasus tahu dan tempe dihari-hari ini .

    Dilihat dari perspektif ekonomi , kalau kehidupan moneter informal (rakyat kecil) bener-bener berhenti maka sudah bisa dipastikan negeri ini juga akan dengan segera moneter ekonominya berhenti . Alias kebangkrutan total.

  3. mas,spt dalam bbrp diskusi darat kita jenengan bilang kesulitan bangsa Indonesia adalah mengharapkan kesadaran individu bisa bangkit ditengah2 masyrkt majemuk dan sangat heterogen.

    Satu jenis saja sudah cukup susah (aku msh inget kalimat sampeyan itu)
    Lalu jaman yg semkn kaya sekrg ini,gmn ma s harusnya?

  4. Bukankah harus berpikir optimis kan mas Sultan?

  5. lhohh..td siang perasaan koment sampeyan panjang,koq diedit jd pandek sam?

  6. hehe sorry boz ane koreksi lagi soalnye’ ane keceplosan nulis nama-nama temen2 yang ane kagumin , salah-salah ntar dipikir ane punya interest dibalik udang …eh salah udang dibalik krikil (*hehe..kecil amat*)

    Pokoke’ pada intinya ane mau bilang , sekarang udah bukan jamannye’ lagi semangat membabi buta mengabdi pada negara tapi nggak jelas siapa yang mau “di-abdi” . Salah-salah kita disuruh jadi jongos yang mengabdi sama ndoronya .

    ane’ mah “emoh besar” kalau disuruh jadi kacuang , mending jadi pemberontak lebih terhormat kali ye’…, semoga nggak perlu.

    [hehe.. belagu.. , pemberontak bedilnya mana..mau pake bambu runcing? diketawain anak singkong sekampung..dikerubungin disangkain sirkus lewat…sedih amat yak..mau perang malah ditontonin..]

  7. waaakkks… pake pring lancip sing pucuke’ merah putih sam..
    jenengan niku mboten2 mawon hahahaha , asli kepingkel.. :lol:

  8. Pertama, selamat untuk mas Yockie yang sudah berhasil melewati tahun pertama blog ini.

    Kedua, mas Yockie ini kok *seriuuusss* banget. he he he. Meski tulisannya tidak garing – malah sering lucu – tapi isinya *berat*. Bingung mau komentarnya. Akhirnya hanya jadi silent reader.

    Ketiga, kapan mampir ke blog saya mas? hi hi hi. Setahun ini saya agak berubah. Jadi terlalu sensitif. Gara-gara diajarin mas Yockie juga. hi hi hi.

  9. Saya ingin mengkomentari kalimat sampean ….
    “Membangun sebuah negeri yang kuat secara philosophy identik dengan mendirikan sebuah kerangka bangunan yang kokoh yang dimulai dari pondasi serta pilar-pilar besi baja pendukungnya”.

    Mas…walaupun material sudah yahud2 (pasir, semen, koral, baja), tetap saja tergantung pada kualitas si desainer. Bahkan adakalanya si desainer yg pinter mampu menggunakan material yg kelas dua atau tiga tapi dapat menghasilkan bangunan yg oke punya.

  10. Betul mas Indrayana, sekarang komentar anda saya balik .

    Sekarang jangankan kualitas yang yahud-yahud seperti anda bilang , wong kualitas yang yahud nggak pernah dipake’ alias yang dipake sampai sekarang adalah kualitas jaman orla sampai orba …. ituuuu aja nggak ganti-ganti . Itu terjadi kan? di hampir sebagian besar orang-orangnya tapi yang pasti sistem nya masih sama , karena itu bentuk korupnya juga akan sama. Wong yang menciptakan potensi korupsi tersebut adalah sistem birokrasinya sendiri .

    Nah.. material nya memble’ designer nya memble’ .
    klop kan?

  11. material lama dan designer lama tetap dipertahankan sbg warisan orang2 lama :(

  12. kalo dulu kan korupsi, kalo skrg gak ada yg korupsi, yg ada menyisihkan “sedikit” untuk kepentingan pribadi tanpa ada pertanggungjawabannya.

    Material lama designer baru kalo ini :razz:

  13. so.? harus ada solusi konkritnya kan..
    Ini pasti pertanyaan hampir sebagian besar masyarakat kita.

    Bila kita dihadapkan pada hal tersebut apa yang ada dibenak kita masing-masing?

    Sebab kita harus punya kemampuan untuk menjawab sebelum hati kecil kita sendiri bertanya bukan? Hal seperti inilah yang bisa ditularkan bagi bangkitnya kesadaran kolektif masyarakat Indonesia.

    Mengenali secara akurat persolan hidup bersama lalu mengerti bahwa dibutuhkan ilmu untuk menghadapi dan menyelesaikannya.

    Kondisi sampai hari ini?

    Mau kenal aja udah banyak yang malas untuk mikirnya …

    Ilmu..? tengoklah kondisi intelektual sebagian besar masyarakat kita yang ada di daerah , kampung dan desa-desa lalu sejajarkan dengan 32 tahun yang silam. Seberapa jauhkah kualitas perbedaan yang telah dicapai .

    Lalu kualitas pendidikan disekolah-sekolah , sudahkah kita lebih baik dari 32 tahun silam atau masih sama atau malah mundur jika dihadapkan pada kebutuhan perubahan yang sebenarnya.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara